"Kamu, Istriku! Namamu Senja, Aku ingat itu."
Naurally Senja Hafidza. Seorang santri Wati yang pernah mondok di salah satu pesantren dekat pesisir Pangandaran. Merasa terkejut tatkala seorang pria berwajah tampan namun berambut gondrong dan berpenampilan bak berandal, yang memang pernah la temui beberapa kali di pantai tempat ia menghafal Al-Qur'an ketika sore hari. Tiba-tiba hadir di depannya dan mengakui bahwa Senja adalah Istrinya.
"Maaf, kita baru beberapa kali bertemu dan dalam ketidak sengajaan. Mana mungkin saya adalah Istri Saudara."
Sedangkan di posisi laki-laki tersebut, yaitu Keindra Alif Hibridzi, saat ini ia sedang mengalami amnesia, pasca bangun dari koma, akibat kecelakaan motor beberapa bulan yang lalu. Di dalam ingatannya, hanya menyisakan seorang nama saja yaitu Senja. Parahnya lagi, di ambang halusinasinya, Senja adalah seseorang yang pernah ia nikahi dan saat ini adalah Istri Sah nya.
UJUNG OMBAK DI KAKI SENJA. Mari mulai baca saja, Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kesempatan untuk Arka.
..."Seiring berjalannya waktu dan semakin lama kau mengenalku. Berarti kamu akan lebih banyak tahu tentang kekuranganku. Maka dari itu, turunkan ekspektasi mu tentang Aku..."...
...-Naurally Senja-...
...🍃🍃🌷🍃🍃...
Sabrina sudah nampak tenang dalam pelukan Mami. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya wajahnya saja yang nampak.
"Jadi... Syabie ini, Adik kandung kamu Wil?" tanya Mami.
"Betul Bu! dulu saya menitipkan Syabie di panti asuhan agar aman. Karena Ayah saya berniat menjual Syabie. Lalu saya bekerja sebagai pengamen serta sesakali mencopet. Hasilnya di berikan kepada Ayah saya untuk modal main judi dan mabuk-mabukan." Terang Willy.
Arka menyimak masih di dekat pintu kamar mandi, duduk di lantai masih bertelanjang dada. Namun, kedua tangannya ia silangkan menutupi dadanya, handuk yang ia bawa entah kemana.
Tadi sewaktu Arka hendak mandi dan sudah membuka kemejanya, Arka yang hendak masuk ke kamar mandi berbarengan dengan Sabrina yang juga baru selesai mandi keluar dari kamar mandi.
Karena sama-sama panik ada orang lain berbeda jenis kelamin di depan kamar mandi, mereka sama-sama berteriak. Sabrina betul-betul panik karena tidak memakai kerudung dan juga hanya menggunakan bathrobe yang menampilkan bagian paha hingga kaki.
Terlebih lagi Sabrina yang memang polos, melihat Arka tidak menggunakan pakaian yang mengekspose bagian atas tubuhnya, maka Sabrina refleks mendorong Arka berniat pergi ke tempat tidur mengambil selimut untuk menutupi tubuh dan kepalanya.
Namun, entah nasib baik atau ketidak beruntungan. Maka Sabrina dan Arka malah jatuh bertumpuk dengan posisi Sabrina menimpa tubuh Arka.
"Mami... memangnya tidak ingat tadi. Saat mengiyakan Arka masuk kamar ini, bahwa Mami menyembunyikan seorang gadis di sini?" tanya Papi.
"Ish, lupa Pih...sungguh! lagi pula Mami tidak bermaksud menyembunyikan Bina, Mami menyuruh Bina menginap di sini dan beristirahat di kamar ini. Nah sedangkan Mami, kemudian sibuk menenangkan Senja di kamarnya." tutur Mami.
"Memangnya, apa yang terjadi dengan Senja, Mih?" tanya Papi penasaran.
"Jadi gini loh Pih! Senja sedang merajuk, melihat Kei di peluk calon mantu gak jadi, tuh model kesayangan Papi, si Rhailla." ujar Mami dengan sedikit mendengus kesal. kentara sekali jika Mami tidak menyukai Rhailla.
"Astaghfirullah! Mam, sudah dong, itu kesalahan terbesar Papi. Papi menyesal, tapi kan Alhamdulillah, dengan Kei kabur maka kebenaran berpihak pada kita akhirnya, hingga Kei selamat dari perempuan itu. Dari perjodohan yang mereka rencanakan. Papi pun merasa di bodohi oleh mereka Mam." terdengar nada penyesalan dari Papi.
"Ouh Papi ma'afkan Mami, tidak berniat menyinggung hal itu, Mami hanya kesal. Perempuan itu dulu yang menyebabkan Kei jauh dari kita, sekarang Senja merajuk karena ulahnya. Maka Mami esmosi Pih!" Mami menghampiri Papi.
"Emosi Mamiiii."
"Oh ia Pih, sudah ganti ya? bahasanya?"
"Dari dulu gak pernah ganti Mamiiii." protes Papi dengan menggertakan gigi.
"Hehe, ia ia Pih! Mami tahu koq." Mami merangkul lengan Papi.
"Lalu... sekarang Senja dan Kei ?" tanya Papi
"Kei sedang membujuk Senja dengan meluruskan masalahnya. Bahwa itu bukan keinginan Kei, tapi perempuan itu kegenitan. Main peluk-peluk Kei." Mami langsung menjawab pertanyaan Papi.
"Oh, syukurlah! semoga saja marahnya Senja, tidak terlalu lama." Ucap Papi dan di Aamiinkan oleh semua.
"Bina, ma'afkan Mami ya? Mami betul-betul lupa ada Bina di kamar ini!" akhirnya Mami meminta maaf kepada Sabrina.
"I~ia Mam, tidak mengapa. Itu kan unsur ketidak sengajaan." jawab Sabrina dengan sedikit senyum.
"Arka! jangan mesem-mesem kamu ya. Mentang-mentang baru dapat rezeki nomplok!" peringatan Mami dan di anggukan kepala oleh Arka dengan binar bahagia yang tidak dapat ia sembunyikan.
"Setelah Isya Mami harap semua berkumpul di taman! kita akan membahas hal ini." sambung Mami. Mereka serempak mengangguk.
"Will!" panggil Mami.
"Ya Bu!" jawab Willy.
"Apa perlu, Arka dan Bina kita nikahkan malam ini juga? Mami dengar aturan di pondok tuh seperti itu, jika ada laki-laki dan perempuan single ketahuan mesum maka mereka harus menikah?" tanya Mami dengan tegas.
Tentu saja Arka sumringah dengan pertanyaan Mami. "Siap Mam!" celetuk Arka.
"Hais," ucap Mami jengah. Segitu antusiasnya Arka. Lalu Arka mendapatkan tatapan tajam dari semua kecuali Sabrina, dia mulai menangis karena takut.
Krik!
Krik!
Krik!
"Syabie tidak mau. Hiks...hiks." suara Sabrina akhirnya memecah sunyi.
"Maaf Bu. Mereka kan, sedang tidak berbuat mesum. Itu hanyalah kecelakaan kecil." bela Willy. Sedangkan Ethan dan Papi hanya diam ikut alur dari cerita tersebut.
"Heem, baiklah ini sudah hampir maghrib. Arka, sebaiknya kamu naik ke kamar lama Kei saja." pinta Mami.
"Baik Mam!" ujar Arka berdiri dengan lesu. Ethan berinisiatif mengambil kemeja Arka dan memberikannya, Arka meraih kemeja tersebut dengan berterima kasih.
Padahal Arka berharap ada kelanjutan dari kasus ketidak sengejaan tersebut, yaitu menikah dengan Sabrina malam ini juga. Perempuan yang ia dambakan dan ia cari-cari setiap waktu selama beberapa bulan ini. Tidak perlu tiga rangkaian menuju halal, Jika ada kesempatan untuk langsung halal, kenapa enggak! Pikir Arka.
"Untuk Bina, jangan takut ya Sayang. Nanti kita selesaikan masalah ini, dia tetap harus bertanggung jawab kan?" tanya Mami dan di anggukan pelan oleh Sabrina.
"Jangan lupa yah! nanti setelah Isya berkumpul di taman dekat kolam. Ka! beritahu Kei dan Senja juga."
"Baiklah Mam. Loh tapi..."
"Kei tadi sudah WA Mami. Katanya mereka sudah baikan, kesalahpahamannya sudah terselesaikan. Mungkin sekarang lagi mesra-mesraan tuh! enak benar si Kei, di sini sedang ada kejadian menggemparkan, mereka malah enak-enakan mojok." ucap Mami.
"Ah Mami, seperti tidak pernah mengalami mudah saja!" protes Papi dengan menoel dagu Mami.
"Ish Papi. Yuk, kita lanjutkan yang tadi. Mami belum lupa loh untuk yang satu itu." bisik Mami pada Papi, dengan mengedipkan mata. Papi tersenyum tipis, kepalanya sedikit menggeleng sembari merangkul bahu Mami dan mengajaknya ke kamar.
Sampai kamar, Mami dan Papi mandi bersama. Hanya mandi karena jika mandi sendiri-sendiri akan memakan waktu, sedangkan di Mesjid kompleks sudah terdengar Kumandang Azan.
Begitu pun dengan Kei dan Senja di kamar atas, mereka baru saja mandi janabah. Pantas Saja Kei dan Senja tidak tahu insiden Arka dan Sabrina, ternyata setelah mereka kembali berbaikan, Kei menutup perdamaian itu dengan berbuat nakal pada Senja dan tentu saja Senja ikhlas menuruti kemauan Kei.
**
Selepas isya', semua berkumpul ditaman yang Mami sebutkan tadi.
"Ok!" Mami membuka suara. "Coba, ceritakan mengenai Sabrina. kok bisa...Mami tidak tahu kamu memiliki Adik?" tanya Mami kepada Willy.
"Selama ini, Mami pikir kamu anak tunggal." ucap mami kembali, menatap willy dengan kesungguhan.
Willy terdiam lalu, dia menelan ludahnya sebentar dan kemudian berbicara.
"Iya Bu, jadi waktu itu Sabrina masih teramat kecil, dan Ayah saya berniat menjualnya untuk biaya judi. Namun, Saya mempertahankan Sabrina dengan memberikannya ke Ibu panti untuk sementara. Setelah itu saya kembali ke Ayah saya dan saya bilang sabrina sudah saya jual." Willy terdiam sebentar.
"Jujur saja, diusia yang masih 15 tahun itu, saya melakukan perampokan. Uangnya saya serahkan kepada Ayah Saya dan berkata bahwa saya sudah menjual sabrina. Ayah saya tidak banyak bicara. Yang terpenting mendapatkan uang." tutur willy kemudian.
"Baik, lalu?" tanya mami kembali karena Willy diam.
"Setelah itu, di usia ke enam belas, tanpa sengaja saya menodong Bapak, berniat..." Willy menunduk sebentar ia ingat kejadian itu. Lalu bercerita kembali.
Malam itu, mobil Papinya Kei mengalami sedikit kendala di bagian roda. Kebetulan berhenti ditempat sepi. Willy belia memanfaatkan kesempatan itu untuk menodong Papi kei, berniat merampoknya. Papi kei dapat melawan Willy dengan kemampuan bela dirinya.
Willy berfikir Papi Kei akan memasukkannya ke penjara. Namun, Papi kei tidak melakukam itu. Entah apa yang dilihat dari dirinya, sehingga Papi kei bilang 'Anak ini memiliki potensi. Sebetulnya dia anak yang baik! hanya saja salah pergaulan. Saya lihat dia pintar, cukup cerdas. kalau dia tidak pintar, kalau dia tidak cerdas! tidak mungkin dia menodong saya seorang diri dijalan, dengan tenang seperti itu' itu yang Willy dengar saat Papi bicara kepada sopirnya.
Papi Kei nampak tersenyum dengan wajah yang tenang, menyimak cerita Willy, ia mengingat kembali kejadian malam itu.
Malam itu Willy di bawa Pulang oleh Papi Kei. Willy tersentuh dengan kebaikan Mami dan keluarganya, tidak menganggapnya aib masyarakat. Membuat Willy nyaman dan menceritakan semua keadaan diri serta keluarganya.
Sejak saat itu, Willy yang memiliki dasar hati yang baik, ia berjanji akan melindungi keluarga Papi. Maka ketika Papi menyekolahkannya, mendidiknya secara baik Willy hanya bisa menurut dan berusaha menjadi yang terbaik dan lebih baik. Terlebih ketika Mami menganggap willy seperti anak sendiri.
"Ooo seperti itu." Mami menganggukan kepala.
"Jadi begini Bu, setelah Saya memiliki uang yang cukup, Sabrina juga sudah cukup besar, kala itu SMP, saya mengambil sabrina dari panti dan sabrina memiliki pilihan ingin masuk pesantren." Willy diam sejenak.
"Akhirnya saya membawa sabrina keluar kota. Di sana aman, keberadaannya tidak akan terdeteksi oleh Ayah saya. Maka dari itu, dari sejak masuk panti saya menyamarkan nama Sabrina menjadi nama Syabie. Tujuannya, agar Ayah saya tidak menemukan keberadaan Sabrina. Namun, tahun ini saya membawa Sabrina ke Jakarta untuk kuliah, saya ingin menebus segalanya dengan membawa sabrina untuk lebih dekat dengan saya. Maka dari itu, saya menguliahkannya dijakarta. Ibu tahu sendiri Ayah saya sudah meninggal, maka tidak akan ada lagi yang mengganggunya." Tutur Willy Kembali.
Walaupun Arka terkejut mengenai masa lalu Willy, ia tetap diam dan seperti yang lainnya setia menyimak. Sesekali Arka melirik Sabrina dan Sabrina pun melirik Arka namun, saat pandangan mereka bertemu dan Arka tersenyum padanya, maka Sabrina segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
***
Disalah satu bar, nampak Rhailla sedang minum-minum dengan dua kawannya. Ia amat kecewa dengan kelakuan Kei tadi siang. Hingga membuat Rhailla tidak bisa tenang seharian itu.
"Arrggghhh kei sialan! dari dulu aku tidak pernah bisa menguasai tubuhnya apalagi memenangkan hatinya." ucap Rhailla amat geram, sembari mengetuk-ngetuk gelas minuman ke atas meja bar.
"Sudahlah, kenapa sih masih mikirin dia, orang kei juga tidak tertarik denganmu. Lupakan saja, carilah laki-laki lain. Banyak laki-laki yang suka dan cinta terhadapmu." ucap Lyra sahabatnya.
"Gak, aku maunya kei. Dari dulu kamu tahu sendiri kan aku sukanya sama Kei. tapi sayang, kei selalu begitu. menghindar dan selalu bersikap kasar, berbicara dingin. Apa kurangnya aku Lyr? aku cantik, aku baik, seksi. laki-laki lain banyak yang tertarik. Mengapa Kei tidak?" Rhailla menangis.
"Mungkin gak sih, Kei itu penyuka sesama jenis?" tanya Ersa.
"Sembarangan! aku rasa enggak, hanya memang sifatnya itu dingin. Dan justru aku suka!" ucap Rhailla dengan cengengesan karena sudah mulai mabuk.
"Awas aja kamu Kei. Aku belum gagal untuk mendapatkan kamu." senyum iblis dari wajah Rhailla.
**
Kembali ke rumah Mami.
"Syukurlah, kamu memiliki pemikiran yang Masya Allah luar biasa." Papi kei nampak begitu bangga kepada willy.
"Alhamdulillah, Pak!" ujar Willy, Papi Kei juga mendidik Willy dari segi Keagamaan, bukan hanya di bidang bisnis.
"Baiklah, lalu saat ini bagaimana? ingat lo, arka sudah menyentuh Bina. Mami lihat kok, tangan arka sedang memegang malah memeluknya." ucap mami, sepertinya Mami sedang memanas-mansi suasana.
"Eh, tunggu! ini maksudnya apa sih?" Kei tiba-tiba menyela pembicaraan itu. ia terlihat bingung, Senja pun sedikit bingung. namun, ia dapat dapat mengontrol diri dengan diam menyimak.
Kei dan Senja hanya nyimak belum tahu akar permasalahan yang sedang di bahas dari sejak ia duduk bersama mereka.
"Huh, mesra-mesraan saja sih. jadi tidak tahu kan ada insiden antara Arka dan Sabrina." ucap mami dengan wajah malas.
"Insiden apa sih Mih? tanya kei kembali.
"Uh, tadi Mami lupa sih, tidak photo-photo. harusnya bawa ponsel deh biar bisa selfi-selfi." Mami malah menyeringai. Sabrina menunduk malu. Arka sih cuek-cuek saja. Malah dia bersantai, nampak duduk bersandar pada bangku disamping willy dengan senyuman yang tidak juga lepas dari bibirnya.
Akhirnya Mami menceritakan kejadian tadi sore kepada kei. Dan tanpa disangka kei malah terbahak."Serius Mih? tanya Kei.
"Ya serius dong." jawab Mami.
"Sudah-sudah, ini kesepakatannya belum tercapai loh," kata Papi ikut bicara.
"O iya yah!" kata Mami sambil garuk kepala yang tidak gatal. "Will, bagaimana?" tanya mami kembali, willy diam.
"Willy ikut pendapat terbanyak dan terbaiknya saja, akan tetapi Sabrina baru masuk kuliah, masih teramat muda, jika harus menikah." Willy menatap Sabrina tidak tega. Namun, sabrina masih menunduk. Sepertinya sabrina hendak menangis kembali akan tetapi, dia bertahan.
"Ya sudah, nikahkan saja. tidak mengapa kok meski masih kuliah juga." ujar Papi.
"Boleh saya berfikir terlebih dahulu?" Akhirnya sabrina berbicara dengan nada bergetar. Senja menghampiri Sabrina yang duduk terpisah seorang diri. Kini ia sudah mengerti situasinya.
Mengapa dari tadi, Sabrina duduk terpisah dan nampak tertekan seperti terdakwa yang sedang menunggu putusan hakim. Lalu Senja merangkul Sabrina.
"Syabie kalau memang tidak siap, Syabie boleh menolak kok." bisik senja, berniat membesarkan hati Sabrina.
"Coba pikirkan kembali, jika menuruti perkataan orang yang lebih tua itu, di anggap lebih baik, aku pikir! tidak ada salahnya kan. Kak Senja juga masih muda kan? tapi sudah nikah. Justru akan menghindari kita dari fitnah dan dosa." itu yang senja katakan.
Akhirnya pembicaraanpun terjeda. mereka sedang berfikir ke arah mana Arka dan Sabrina ini akan mereka bawa, ke pernikahan atau ke melupakan kejadian tersebut?
"Sa-sa-Syabie...coba lihat aku, kamu lupa dengan wajah ku? Aku Arka yang di rumah sakit itu. ketika kamu membaca doa untuk kesembuhan Kei pagi dan Sore." tanya Arka memberanikan diri untuk bisa mempertahankan Sabrina. Arka tidak mau Sabrina kembali pergi dari hidupnya.
"I-iya Aku ingat! Kak Arka." jawab Sabrina terbata.
"Jujur saja, Saya merasa tertarik padamu, sejak dari pertama kita bertemu di rumah sakit. Hingga hari ini Saya mencari mu, akan tetapi Saya tidak berhasil menemukan kamu. Hingga sore tadi Saya anggap sebuah anugerah, karena Allah mempertemukan kita kembali dengan cara yang unik, sesuai yang kamu bilang. Kita akan bertemu lagi dengan ijin Allah dalam situasi yang lebih siap. Saat ini ku pikir situasi yang lebih dari siap Bie." ujar Arka. (Ciee panggil Bie)
Pernyataan Arka sungguh mengejutkan setiap orang yang ada di situ. Tidak ada yang tahu bahwa Sabrina adalah salah satu orang yang turut andil dengan doa-doa untuk kesembuhan Kei ketika koma di rumah sakit.
Kei pernah mendengar cerita dari Arka namun, ia tidak tahu bahwa wanita yang selalu mendoakan Kei itu adalah Sabrina.
"Jadi...?" tanya Kei.
"Yups Kei. Inilah dia salah satu orang yang mendoakan kesembuhan lo, setiap pagi dan sore hari dan hanya gue yang tahu karena setiap Sabrina datang. Tidak pernah berpapasan dengan Papi ataupun Mami." jawab Arka cepat.
"Masya Allah." Senja memeluk Sabrina lebih erat lagi.
"Jadi...kamu Nak? terima kasih," Mami Kei mulai berkaca-kaca tidak selang lama, air matanya berjatuhan, sembari menghampiri Sabrina dan ikut memeluk Sabrina diantara Senja.
Ketiga perempuan itu menangis haru, tidak terkecuali dengan Papi, Kei, Arka, Willy dan Ethan, yang juga menitikkan airmata haru. Terlebih Willy yang sangat amat bersyukur. Tanpa ia tahu, adiknya telah ikut andil dalam menolong Kei dengan doa.
"Terima kasih, Sabrina!" ucap Kei.
"Terima kasih, Nak!" sambung Papi.
"Sayang, terima kasih! Bina mau ya, tinggal di sini sama Mami? anggap Mami dan Papi ini orang tua Bina. Mami dan Papi juga akan menganggap Bina sebagai anak perempuan Mami, gimana?" tanya Mami dengan mengelus lembut kepala Sabrina.
Sabrina tidak langsung menjawab, ia menatap Willy terlebih dahulu. Willy pun sedikit mengangguk dengan tersenyum, tanda menyetujui.
Akhirnya Sabrina pun mengangguk. Mengiyakan perkataan mami. disambut senyuman oleh yang lainnya.
Setelah keadaan kembali normal, Senja sudah kembali duduk di rangkulan Kei dan Sabrina tetap dipelukan Mami. Maka kesepakatan akhir Sabrina memberikan kesempatan kepada Arka untuk mereka mengenal kembali sebelum pernikahan dilaksanakan dan Arka berjanji untuk mengenalkan Sabrina pada orang tuanya, dalam waktu dekat ini.
**
Satu bulan kemudian.
"Sayang! kamu mau ya tiap hari ke kantor aku?" tanya Kei.
Kini keduanya sedang bersantai di balkon kamar rumah mereka, bukan rumah Mami.
"Loh Memang kenapa,
Ay?" tanya Senja. Mulai bergelayut manja di lengan Kei.
"Hem, makin lama aku merasa kewalahan menghadapi Rhailla yang sering datang ke ruangan ku! aku tidak mau dia merasa memiliki harapan dalam mendekati ku!" jawab Kei.
"Lalu.. fungsinya aku, di sana apa? sedangkan Rhilla sendiri tidak tahu kalau aku ini istri kamu Ay!"
"Tidak mengapa, setidaknya Jika kamu ada di dalam ruangan ku! mungkin dia akan merasa segan bertindak seenak hati, nyelonong begitu saja ke ruanganku." tandas Kei.
Lama akhirnya mereka diam. Hanya gerakan jari jemari Kei yang aktif, mengusap lembut punggung Senja. Senja sendiri sibuk dengan segala pertimbangan dengan merebahkan kepalanya di bahu Kei.
"Aku tidak tahan lagi Sayang! ingin mengakui, bahwa kamu istri ku, istri shalihah ku di depan khalayak, termasuk Rhailla. Kamu yang terbaik, yang paling cantik di mataku. Aku ingin dunia bangga bahwa aku memiliki wanita Shalihah juga cerdas. Aku yakin, kamu memiliki berbagai kelebihan, melebihi yang terlihat saat ini."
"Ay....jangan berlebihan seperti itu. Dalam memujiku, tidak baik." tegur halus Senja. "Seiring berjalannya waktu dan semakin lama kau mengenalku. Berarti kamu akan lebih banyak tahu tentang kekuranganku. Maka dari itu, turunkan ekspektasi mu tentang Aku..."
"Loh mengapa? kamu tidak mau aku sanjung? di banggakan suamimu?" tanya Kei.
"Tidak seperti itu. Aku hanya takut, lama-kelamaan saat perkataan kamu tidak sesuai ekspektasi, terlebih saat aku mulai menua dan tidak nampak cantik lagi. Maka kamu akan bosan padaku." ujar Senja dengan sendu.
Kei menghela nafasnya pelan. "Jadi kamu lebih rela jika suatu hari imanku goyah karena Rhailla?" tanya Kei dengan nada agak meninggi. Senja diam, kepercayaan dirinya mulai memudar. Saat ini Kei makin fashionable, makin melebarkan bisnisnya dan makin bertambah juga pundi-pundi rupiahnya, perempuan mana yang tidak tertarik terhadap Kei.
Senja menggeleng kepala sembari menitipkan air mata namun, berusaha menyembunyikannya dari Kei. Apakah Kei mulai berubah? dia tidak selembut biasanya.
Bersambung...
bikin nge drop dan malas bacanya...
walau ujung cerita nya bahagia...
TERNYATA QYANA BKN 11-12 DGN RHAILLA, TTPI 1-100,, SEMUANYA ULAH LICIK ILLA RUPANYA..
BETUL KATA SENJA, MASA KLO UDH NIKAH MSH NONGKRONG DI CLUB BRSAMA LKI2 YG BKN MAHRAMNYA, MMG HRS DISELIDIKI...
KOQ KEI PELUKAN MA RILLA, ADA APA...??