Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ( Mencintaimu Sungguh Menyakitkan )
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Edrik kali ini pulang cepat, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit mengobati tangannya yang terluka, dari tadi kerjanya tidak fokus karena tangannya sudah mulai terasa sakit, dia takut terjadi infeksi.
"Loh, Bang Ed mau kemana?" tanya Riana.
"Aku mau ke rumah sakit, mau mengobati tanganku."
"Tangan Bang Ed kenapa? mau aku antar?"
"Tidak usah aku pergi sendiri saja, kalau begitu aku pergi dulu ya."
"Oh ok."
Edrik pun segera pergi, sesampainya di parkiran Edrik segera melajukan mobil sport miliknya menuju sebuah rumah sakit. Tidak butuh waktu lama, Edrik pun sampai di rumah sakit tempat Icha bekerja.
Disaat Edrik masuk ke dalam lift, ternyata Icha pun baru saja keluar dari lift yang disebelahnya sehingga mereka tidak saling bertemu.
"Cha, kamu sekarang pulang ke rumah Raka ga?" tanya Rima.
"Enggak Rim, aku pulang ke rumah aku saja. Memangnya ada apa?"
"Tidak, aku cuma mau titip salam saja buat ayang beb ku."
"Idih lebay."
Tiba-tiba sebuah ambulance datang dan mengeluarkan blankar dengan pasien yang sudah kritis.
"Tolong bantu..." teriak salah satu perawat.
"Apa Dr.Zaki atau Dr.Rizky masih ada di rumah sakit?" tanya perawat itu.
"Sepertinya mereka sudah pulang."
"Astaga, bagaimana ini dia korban tembak kondisinya sangat kritis harus segera dioperasi."
"Tolong suami saya Suster," seru wanita paruh baya yang sudah menangis dengan deraian airmata.
"Aduh bagaimana ini."
Semua suster yang ada di depan pintu IGD merasa bingung juga.
"Cha, itu kenapa?"
"Ga tahu, yuk kita samperin."
Rima dan Icha pun menghampiri kerumunan orang itu.
"Ada apa ini?" tanya Icha.
"Dr.Alisya, Bapak ini korban tembak kondisinya sudah sangat kritis harus segera dioperasi sementara Dr.Zaki dan Dr.Rizky sudah pulang," sahut salah satu perawat.
"Rim, tolong hubungi Dr.Zaki suruh segera ke rumah sakit."
"Baik Cha."
Rima pun segera menghubungi Dr.Zaki, sementara Icha berusaha menolong Bapak itu.
"Tolong selamatkan suami saya Dokter."
"Iya Ibu, Ibu tenang dulu ya kami akan berusaha menyelamatkan suami Ibu," sahut Icha.
"Cha, Dr.Zaki sedang dalam perjalanan dia menyuruh kita bawa ke ruangan operasi langsung," seru Rima.
"Baiklah, ayo Suster kita bawa pasien ke ruangan operasi," seru Icha.
Disaat para Suster akan membawa pasien, ternyata pasien mengalami kejang-kejang dan denyut jantungnya pun mulai melemah.
"Bagaimana ini Dr.Alisya, pasien semakin kritis," seru suster dengan paniknya.
Edrik pun baru selesai mengobati tangannya dan pas keluar dari dalam lift, dia melihat kerumunan orang dan salah satunya orang yang selama ini Edrik rindukan ada disana.
Edrik terdiam mematung memperhatikan Icha yang saat ini tampak panik.
Sedangkan Icha yang tidak menunggu waktu lagi, tiba-tiba naik ke atas blankar pasien membuat semua orang terkejut. Icha memasangkan oksigen dan menekan-nekan dada pasien.
Tidak lama kemudian Zaki pun berlari menghampiri semuanya dan Zaki pun merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Icha.
"Cepat bawa pasien ini, biar aku berusaha menanganinya sampai detak jantungnya stabil," teriak Icha panik.
Tidak menunggu lama, suster, Rima dan Zaki pun mendorong blank itu sedangkan Icha berada diatas blankar dengan terus menekan-nekan dada pasien.
"Bertahanlah, aku mohon," gumam Icha.
Blankar itu melaju melewati Edrik yang dari tadi tampak memperhatikan Icha sampai blankar itu pun masuk ke dalam ruangan operasi.
Satu jam berlalu, Edrik masih diam disana duduk sendirian dengan tatapannya tidak lepas dari pintu ruangan operasi itu. Icha belum keluar juga. Tapi tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka menampilkan wajah Icha dengan senyumannya yang mengembang.
Jas putih kebanggaannya tampak penuh dengan darah pasien yang tadi dia tolong. Icha pun berjalan bersama Rima dengan perasaan lega karena operasi pasien berhasil.
"Dr.Alisya..."
Icha pun membalikkan tubuhnya...
"Dr.Zaki."
"Terima kasih ya, kamu memang hebat."
"Itu kan sudah tugasnya seorang Dokter menolong pasien."
Zaki mengacak-ngacak rambut Icha karena gemas.
"Ya sudah, aku masuk lagi kamu hati-hati dijalan."
"Ok."
Zaki pun masuk kembali ke ruangan operasi, sedangkan Icha dan Rima melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Edrik tampak mengepalkan tangannya karena merasa marah melihat Zaki memperlakukan Icha seperti itu.
Tangan Edrik yang baru saja selesai di jahit tampak mengeluarkan darah kembali karena Edrik mengepalkan tangannya terlalu kuat.
"Cha, mau aku antar kamu pulang?" seru Rima.
"Tidak usah, aku naik taxi saja."
"Serius, kamu ga mau aku anterin?"
"Rumah kamu sama aku itu berlainan arah, kalau kamu nganterin aku pulang kasihan kamu terlalu jauh. Sudah sana pulang aku naik taxi saja."
"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati ya."
"Iya."
Rima pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan Icha, Icha segera memberhentikan taxi dan masuk ke dalam taxi menuju rumahnya.
Edrik terlihat masih mematung ditempatnya memperhatikan Icha sampai Icha pun hilang dari pandangannya. Dengan langkah gontai, Edrik pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
***
Malam pun tiba...
Di kediaman Abraham, semuanya sedang makan malam bersama. Tidak ada yang bicara sama sekali.
"Edrik kamu kenapa, kok wajah kamu pucat?" tanya Niken.
Semua orang pun menoleh ke arah Edrik dan benar saja Edrik tampak pucat bahkan perban ditangannya pun sudah hampir semuanya berwarna merah.
"Astagfirullah Edrik," pekik Mommy Aqila.
Mommy Aqila mendekat dan memegang kening Edrik.
"Astaga, badan kamu panas banget mana tangan kamu berdarah lagi," seru Mommy Aqila panik.
Daddy Raffa memdekat dan membungkukkan tubuhnya.
"Raka, bantu Abangmu naik ke punggung Daddy."
"Iya Daddy."
Daddy Raffa pun menggendong Edrik yang saat ini sudah tidak berdaya dan lemas. Daddy Raffa merebahkan tubuh Edrik diatas tempat tidurnya.
"Mommy, hubungi Icha suruh cepat datang kesini dan bawa obat-obatan," seru Daddy Raffa.
"Baik Dad."
Mommy Aqila pun dengan cepat menghubungi nomor Icha. Saat ini Icha sedang duduk termenung di kamarnya, Icha terkejut dengan suara ponselnya yang berdering.
Icha menghapus airmatanya dan dengan cepat mengangkat telponnya.
"Hallo Mommy."
"............"
"Apa? baiklah Icha akan segera ke rumah Mommy."
Icha pun mengakhiri panggilannya dan dengan cepat mengambil jaket dan tas kerjanya yang berisi lengkap semua obat-obatan. Icha memesan taxi online dan segera menuju rumah Mommy Aqila.
Tidak lama kemudian, Icha pun sampai di rumah Mommy Aqila. Icha cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar Edrik.
Ceklek...
"Icha..." seru Raka.
Icha melihat Edrik terbaring di atas tempat tidur dengan Niken yang duduk di samping Edrik dan itu membuat hati Icha terasa sakit tapi Icha berusaha tegar dan tersenyum dihadapan semuanya.
"Ada apa Mommy?" tanya Icha.
"Ini sayang, Edrik badannya panas banget dan tangannya pun berdarah."
Icha melihat kearah Edrik dan Edrik pun sedang menatapnya tapi Icha memalingkan wajahnya berusaha tidak memperdulikan Edrik karena Icha tahu kalau Icha terus menatap Edrik, Icha akan menangis.
Perlahan Icha mendekat ke arah Edrik dan Niken pun berdiri mempersilahkan Icha untuk memeriksa keadaan Edrik.
Perlahan Icha memegang kening Edrik dengan tangan yang sedikit gemetar, kemudian Icha memeriksa denyut nadi Edrik. Edrik tidak pernah melepaskan pandangannya kepada Icha tapi Icha berusaha untuk tidak melihat kearah Edrik.
"Sepertinya jahitan ditangannya putus dan itu yang membuat Bang bule badannya deman karena efek luka itu," seru Icha.
Deg...
Edrik merasa terkejut karena Icha masih memanggilnya dengan sebutan Bang bule.
"Terus bagaimana?" tanya Raka.
"Sepertinya aku harus jahit ulang tangannya."
"Ya sudah, lebih baik kita keluar saja biarkan Icha konsentrasi mengobati Edrik," seru Daddy Raffa.
"Iya, Daddy benar," sahut Mommy Aqila.
Semuanya pun akhirnya keluar dari kamar Edrik, tinggallah Icha dan Edrik berdua. Icha segera mengeluarkan alat-alat untuk menjahit tangan Edrik.
Icha menarik tangan Edrik dan perlahan membuka perban yang sudah berubah warna menjadi merah itu. Edrik sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Icha.
Dengan telaten dan cekatan, Icha membersihkan luka Edrik dan mulai menjahit tangan Edrik. Tidak ada keluhan sakit yang keluar dari mulut Edrik, dia hanya fokus memandang wajah Icha.
"Maaf aku harus melukai hatimu dan maaf aku tidak bisa menepati janjiku," batin Edrik.
Akhirnya selesai juga Icha menjahit tangan Edrik.
"Sudah selesai, tolong jangan angkat beban yang berat dulu biar jahitannya tidak putus lagi. Ini obat pereda nyeri dan obat demam juga," ucap Icha dingin dan tanpa melihar ke arah Edrik sedikit pun.
Icha mulai membereskan peralatan dan obat-obatannya.
"Permisi, aku pergi dulu."
Tapi tiba-tiba Edrik menahan tangan Icha sehingga membuat Icha terkejut.
"Apa kamu sudah tidak mau melihat wajahku lagi?" seru Edrik.
"Bukannya kamu yang sudah tidak mau melihat wajahku lagi, jangan memutar balikkan fakta," sahut Icha dingin.
"Ada hubungan apa kamu dengan Dokter itu?" tanya Edrik.
Kali ini Icha berbalik dan memberanikan diri menatap wajah Edrik. Icha menghempaskan tangan Edrik.
"Apa maksudmu?"
Edrik mengambil amplop coklat dari dalam laci meja dan menyerahkannya kepada Icha.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Icha pun membuka amplop itu dan betapa terkejutnya Icha saat melihat isi didalamnya, disana banyak sekali foto Icha dan Zaki.
"Jadi ini alasan kamu Bang, tidak ada kabar sama sekali? dan kamu lebih percaya sama foto itu dibandingkan denganku? terus kamu pulang membawa wanita lain karena ingin membalasku, begitukah?" bentak Icha.
Tidak terasa airmata yang dari tadi ditahan-tahan oleh Icha pun akhirnya menetes juga.
"Asalan kamu tahu Bang, aku sama Kak Zaki hanya sebatas rekan kerja saja tidak ada hubungan apapun. Apa kamu tahu Bang, disaat Ayah meninggal orang yang sangat aku butuhkan adalah kamu, tapi kamu kemana? hanya Kak Zaki yang ada disamping aku, menguatkan aku, memberi semangat aku, tapi meskipun begitu aku sama sekali tidak ada perasaan apapun sama dia karena aku masih menunggumu pulang, tapi kamu malah membawa calon istri kamu kesini, kamu benar-benar jahat Bang, aku benci sama kamu," seru Icha.
Icha membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan Edrik.
"Walaupun foto itu tidak pernah ada, aku akan tetap menikahi Niken," seru Edrik.
Deg...
Icha menghentikan langkahnya, airmatanya kembali menetes tapi dengan cepat Icha menghapusnya.
"Kalau begitu selamat, semoga kalian bahagia."
Icha langsung meninggalkan kamar Edrik, sedangkan di luar kamar Edrik, Niken berdiri mematung karena tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Edrik dan Icha.
"Jadi Icha adalah wanita yang selama ini Edrik cintai, maafkan aku Icha gara-gara aku kalian harus menderita seperti ini," batin Niken dengan meneteskan airmatanya.
Sementara Edrik terduduk dilantai, pundaknya bergetar hebat, airmatanya pun sudah mengalir dengan derasnya. Hatinya begitu sakit melihat wanita yang sangat Edrik cintai harus menangis oleh dirinya sendiri.
"Aku sangat mencintaimu kancil burik, maafkan aku..." gumam Edrik dengan bibir yang bergetar.
👩🔬
👩🔬
👩🔬
👩🔬
👩🔬
Ayo guys jangan lupa ada pulsa untuk 3 orang pemenang yang memberikan gift terbanyak dan untuk 5 orang yang memberikan komen terbaik yang pastinya memberikan semangat untuk Author.
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU