Berpacaran dengan berondong sudah biasa dikalangan masyarakat akan tetapi tetap menjadi bahan perbincangan publik. seperti yg dialami Lyra dan Reyhan . Mereka terpaut usia 7 tahun. REYHAN 18 tahun, sedangkan LYRA 25 tahun. Bertemu dalam situasi yang tak terduga. Reyhan yg pendiam dan slalu menyendiri tiba-tiba menyukai Lyra yang sedikit tomboy dan ramah.
MAU TAU KELANJUTANNYA STAY TUNE YA GUYSSS
😉😉😉😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANA ANGGRAINI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH DAN CEMBURU
Alarm yang seharusnya berbunyi sejak subuh ternyata mati, membuat Lyra terbangun dengan panik. Ia buru-buru meraih tas dan mengenakan seragam, ketika suara langkah kaki berat terdengar di depan pintu kamarnya.
Tantenya berdiri di sana, wajahnya sinis.
“Ehm, sejak kamu masuk rumah sakit, aku nggak pernah lihat kamu ngantar laundry lagi. Semua serba pamanmu yang kerjakan. Ingat, di dunia ini nggak ada yang gratis. Hidup itu jangan sesukamu!” bentaknya.
Lyra menahan napas. “Maaf, Tante... Lyra buru-buru. Nanti saja kita bahas, sepulang kuliah,” katanya sambil meraih tas.
“Apa kamu bilang? Berani-beraninya membantahku!” teriak Tantenya, lalu tangannya melayang menampar pipi Lyra. Tak puas, ia mencengkeram rambut keponakannya itu.
“Tante... lepaskan! Sakit!” jerit Lyra, matanya berair.
“Anak sial! Seenaknya tinggal di rumah orang. Setelah membuat orang tuamu meninggal, sekarang kamu bikin suamiku menderita!” Suaranya melengking, tarikan rambutnya makin kuat.
Paman yang baru keluar dari kamar langsung berlari menghampiri. Dengan sigap, ia berusaha melepaskan genggaman istrinya.
“Cukup!”
“Biarin, Mas! Jangan ikut campur. Biar anak sial ini mampus sekalian!”
Melihat Lyra semakin kesakitan, Paman kehilangan kesabaran. Tamparannya mendarat di pipi sang istri hingga wanita itu tersungkur.
“Lyra, cepat pergi,” ucapnya tegas.
Dengan tubuh gemetar, Lyra segera berlari keluar rumah.
“Tega kamu, Mas! Demi dia, kamu berani menampar aku? Aku ini istrimu!” isak Tantenya.
“Hentikan omong kosong dari mulut kotormu itu. Mau sampai kapan kamu menyiksa Lyra? Selama ini dia yang banyak membantu. Kamu dan Vanes cuma tahu menghabiskan uang!” bentaknya penuh amarah.
Vanes keluar kamar, sudah siap dengan seragam sekolah. Ia menyaksikan pertengkaran itu, bahkan melihat ibunya ditampar. Namun alih-alih ikut campur, ia memilih diam dan berlalu. Bukan pertama kalinya rumah itu dipenuhi teriakan karena Lyra, tapi kali ini berbeda: ayahnya benar-benar sudah muak.
---
Di kampus, Lyra masuk ke kantin dengan wajah masih memerah. Siska yang melihatnya terkejut.
“Ya ampun, kok bisa sampai lebam begini? Itu kerjaan Tante kamu, atau Vanes?” tanyanya, segera mengambil tisu dan air es.
“Sudahlah, jangan dibahas. Nanti juga hilang,” Lyra mencoba menghindar.
“Kamu kok betah sih tinggal di rumah neraka itu? Tinggal sama aku saja,” desak Siska.
Lyra tersenyum hambar. “Aku nggak enak sama Paman. Dia sudah terlalu baik. Jadi aku harus tahan.”
Siska menghela napas, kesal sekaligus kasihan. “Oke, tapi janji ya. Kalau dua nenek sihir itu cari gara-gara lagi, kamu harus ninggalin rumah itu.”
“Iya, aku janji,” jawab Lyra pelan.
Belum sempat suasana cair, seorang lelaki menghampiri. Tinggi, berwajah dewasa, dengan senyum ramah. Fardan—senior mereka, sekaligus salah satu mahasiswa PPL.
“Hei, ternyata kalian di sini,” sapanya.
Siska dan Lyra serentak menoleh. “Kak Fardan?” seru mereka hampir bersamaan.
Fardan terkekeh. “Wah, kompak banget. Kalian memang sahabat goals. Kebetulan aku ditugaskan PPL di sini juga. Baru bisa masuk hari ini. Kalian ngajar di kelas mana?” tanyanya sambil duduk dekat Lyra.
“Oh, kami di IPA 1. Kalau Kakak?” tanya Siska.
“Mungkin aku di kelas IPS. Kalau saja kita bareng, pasti satu kelas. Iya kan, Lyra?” ucapnya sambil melirik penuh arti.
Siska langsung nyerocos. “Maaf, Kak. Kami sudah satu grup. Ditakdirkan bersama, hahaha.”
Fardan tertawa kecil, mengangkat tangan tanda bercanda. Suasana terasa hangat, sampai Lyra melihat sosok familiar lewat di depan kantin. Reyhan.
Bersama Erick, mereka dikerubungi siswi yang berebutan memberi bekal dan cemilan. Pemandangan itu membuat kantin gaduh.
“Wow! Aku kira adegan kayak gini cuma ada di drama Korea. Eh, ternyata beneran ada di Indonesia,” celetuk Siska heboh.
“Pantas ramai. Mereka memang populer. Yang itu Reyhan, dan satunya Erick,” jelas Fardan.
Siska melirik kagum. “Nggak heran sih, tampangnya kayak idola. Aura Reyhan beda banget. Bener nggak, Lyra?”
“Hah?” Lyra tersentak. Ia buru-buru menunduk. “Aku cuma mikirin... kasihan orang tua siswi-siswi itu. Cari uang capek-capek, malah dihambur-hamburin buat hal beginian.”
Fardan tersenyum miring. “Pemikiranmu memang beda, Lyra.”
Sementara itu, Reyhan yang melihat Lyra duduk dekat Fardan langsung mengerutkan kening. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganggu.
“Erick, suruh mereka pergi. Aku mau sarapan,” katanya dingin.
Erick mengangguk, lalu menoleh ke siswi-siswi yang masih menempel. “Cantik-cantik, maaf ya. Reyhan mau sarapan dulu.”
“Ya udah, tapi makan ya bekalnya. Itu chef terkenal yang bikin!” ujar mereka sambil mundur.
Reyhan hanya melirik makanan itu dengan sinis. “Buang semua. Aku nggak butuh.”
Erick tertawa kecil. “Siap, pangeran. Udah tahu mau diapain ini makanan.”
---
Waktu berjalan, hingga Lyra dan Siska masuk kelas. Saat mereka mengumpulkan tugas matematika, Reyhan maju ke meja Lyra. Gadis itu salah tingkah, sampai penanya jatuh ke lantai. Reyhan memungutnya, lalu meletakkannya di atas meja.
Tatapan mereka bertemu sejenak. Lyra buru-buru menunduk, pipinya panas. Siska yang memperhatikan hanya bisa mengernyit, curiga dengan tingkah sahabatnya.
---
Bel pulang berbunyi. Siska bergegas, tapi Lyra masih mencari kotak penanya. Ia kembali ke kelas dan menemukannya di laci. Saat hendak pergi, matanya tertumbuk pada Reyhan yang tertidur di bangku depan.
Jantungnya berdegup. Ia ragu mendekat, tapi langkahnya tetap maju. Tangannya nyaris menyentuh Reyhan—
Namun sebelum sempat, tangan itu ditangkap cepat.
Lyra terperanjat. Matanya membesar.
“Reyhan...” bisiknya, jantungnya berdetak kencang.
Bersambung.....
kren nda ceritanya yah