NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 4_BERCAK DI BALIK KERAH KEMEJA

_BERMAIN API DENGAN CINTA_

BAB 4_BERCAK DI BALIK KERAH KEMEJA

Hari pertama bekerja sebagai sekretaris pribadi Maxim ternyata tidak semudah yang Cinta bayangkan. Pria berusia dua puluh enam tahun itu benar-benar seperti patung es yang hidup. Sejak jam delapan pagi, Maxim tidak memberikan perlakuan khusus apa pun.

Dia hanya melempar instruksi-instruksi dingin tentang jadwal rapat, laporan keuangan, dan berkas analisis pasar proyek Kencana Property Group. Jangankan tergoda, melirik Cinta dengan pandangan memuja pun tidak.

Hal ini mulai menyulut rasa frustrasi di dalam dada Cinta. Sebagai penipu ulung yang terbiasa melihat pria berlutut hanya dalam waktu beberapa jam, sikap acuh tak acuh Maxim memicu ego dan jiwa pemburunya.

Jika dalam tiga bulan dia harus membuat pria ini menceraikan Valen, maka dia tidak bisa membuang waktu dengan menjadi sekretaris yang patuh. Dia harus mulai menebar umpan.

Pukul empat sore, suasana di lantai teratas gedung pencakar langit itu mulai sepi. Asisten manajer dan staf luar baru saja meninggalkan ruangan setelah menyerahkan draf akhir akuisisi lahan. Ini adalah kesempatan emas bagi Cinta.

Cinta berdiri dari meja kerjanya, sengaja merapikan rok pensil hitamnya agar menempel ketat di pinggul. Dia mengambil map kulit berisi draf kontrak yang sengaja dia tandai di beberapa halaman yang sebenarnya tidak bermasalah. Dengan langkah anggun yang ritmis di atas stiletto Louboutin-nya, dia mengetuk pintu ruangan CEO lalu melangkah masuk.

Maxim sedang duduk di balik meja mahoninya, menatap layar komputer dengan kacamata baca berbingkai perak yang bertengger di hidung mancungnya. Ketampanannya saat sedang serius justru meningkat berkali-kali lipat.

"Tuan Maxim, ini draf kontrak akuisisi lahan untuk proyek Sentul. Ada beberapa poin klausul hukum yang menurut saya membutuhkan perhatian langsung dari Anda," ucap Cinta dengan nada suara yang sengaja diturunkan satu oktav, terdengar lembut dan mendayu.

"Letakkan di meja," jawab Maxim tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Suaranya datar, tanpa emosi.

Cinta tidak mundur. Sesuai rencana opsi pertamanya, dia justru melangkah memutari meja besar itu, memposisikan dirinya berdiri tepat di samping kursi kebesaran Maxim. Dengan gerakan yang sangat halus dan sensual, Cinta membungkuk di dekat bahu Maxim, meletakkan map terbuka itu tepat di hadapan sang CEO.

Gerakan membungkuk itu membuat jarak di antara mereka terkikis drastis. Cinta sengaja membiarkan aroma parfum black opium-nya yang manis, pekat, dan memikat menguar bebas, menginvasi indra penciuman Maxim. Rambut gelombangnya sengaja dia sibakkan ke satu sisi bahu, mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang putih mulus di balik kerah kemeja putih yang sengaja dia buka agak rendah.

"Di bagian ini, Tuan," bisik Cinta. Jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku merah bata bergerak menunjuk baris tulisan di kertas.

Saat memberikan pulpen mewah ke tangan Maxim, Cinta sengaja membiarkan ujung jemarinya menggesap telapak tangan kokoh pria itu selama dua detik penuh. Sentuhan yang lambat, intim, namun terasa profesional di permukaan. Kulit Maxim terasa hangat, membuat jantung Cinta sendiri sempat berdesir aneh.

Maxim menghentikan gerakan tangannya. Dia tidak langsung membaca berkas. Di balik kacamata bacanya, sepasang mata hitam Maxim yang tajam perlahan bergerak, beralih dari kertas kontrak, menyusuri jemari Cinta, naik ke lengan, hingga akhirnya berhenti tepat di area leher jenjang sang sekretaris.

Dari jarak sedekat ini, dengan posisi Cinta yang sedang membungkuk dan kerah kemeja yang sedikit melonggar, mata tajam Maxim menangkap sesuatu. Di atas kulit putih mulus di dekat tulang selangka Cinta, terdapat sebuah bercak samar berwarna merah keunguan yang belum sepenuhnya pudar. Itu adalah tanda kepemilikan yang Maxim cetak dengan sangat agresif di hotel dua malam lalu, saat Cinta yang mabuk terus mendesah di bawah kungkungannya.

Sebuah seringai tipis yang sarat akan kemenangan dan ejekan muncul di sudut bibir Maxim. Wanita ini benar-benar tidak tahu siapa yang sedang dia goda. Dia mencoba memancing singa dengan tubuh yang masih membawa bekas terkaman sang singa itu sendiri.

Maxim bersandar di kursi kerjanya, melipat kedua tangan di depan dada, lalu mendongak menatap langsung ke dalam manik mata Cinta. Tatapannya begitu intens, mengunci pergerakan Cinta hingga wanita itu mendadak merasa seperti ditelanjangi.

"Nona Cinta," suara berat Maxim memecah keheningan dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan.

"Ya, Tuan Maxim?" Cinta mempertahankan senyum profesional terbaiknya, mengira umpan sensualnya mulai bekerja memicu gairah pria ini.

"Apakah di kamar apartemen Anda banyak nyamuk?" tanya Maxim tiba-tiba, sambil menunjuk ke arah leher Cinta dengan ujung pulpennya.

Pertanyaan absurd itu membuat senyum di wajah Cinta seketika membeku. "Maaf, Tuan?"

"Bercak merah keunguan di leher Anda," Maxim mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas hangat Maxim yang beraroma mint menerpa wajah Cinta. "Kelihatannya gigitan nyamuk malam itu sangat ganas. Sampai meninggalkan bekas yang cukup dalam di kulit Anda yang indah."

Darah Cinta rasanya berdesir hebat, menjalar ke seluruh wajahnya yang kini memerah padam karena malu dan terkejut. Otaknya mendadak macet. Dia secara refleks menegakkan tubuhnya, tangannya bergerak cepat merapikan kerah kemejanya untuk menutupi bercak tersebut.

Sial! Itu adalah tanda yang ditinggalkan oleh si gigolo sialan di klub malam itu. Bagaimana bisa dia seceroboh ini sampai membiarkan target utamanya melihat bekas tanda dari pria lain? Ini benar-benar merusak citranya sebagai wanita elegan yang sedang mencoba memikat hati sang CEO.

Cinta berdeham pelan, mencoba mati-matian menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tidak terlihat panik.

"Ah... itu... Anda benar, Tuan Maxim. Akhir-akhir ini cuaca sedang buruk dan apartemen saya sepertinya kemasukan beberapa serangga," jawab Cinta berbohong dengan senyum yang dipaksakan, berusaha mengalihkan topik. "Saya akan memastikan untuk memakai losion anti-serangga mulai malam ini."

Maxim terkekeh rendah—sebuah kekehan dalam yang terdengar sangat seksi namun menyimpan bahaya pekat. Dia tahu persis Cinta sedang berbohong dan salah tingkah. Rasa terluka pada harga dirinya karena tidak diingat oleh Cinta perlahan terbayar oleh kepuasan melihat wanita manipulatif ini berada dalam kendalinya.

"Baguslah kalau begitu," ucap Maxim, kembali mengambil pulpennya dan menandatangani berkas kontrak dengan gerakan tegas. "Karena saya tidak suka sekretaris pribadi saya terlihat... tidak rapi di depan klien. Anda boleh kembali ke meja Anda, Nona Cinta."

Cinta menarik map itu setelah selesai ditandatangani. Dia mengangguk kaku, lalu segera berbalik dan melangkah keluar dari ruangan Maxim dengan terburu-buru. Begitu pintu kayu besar itu tertutup di belakangnya, Cinta menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan. Jantungnya berdegup sangat kencang.

Kenapa pria itu tiba-tiba membahas soal uang saat wawancara, dan sekarang membahas bekas di leherku? batin Cinta kebingungan, memegangi lehernya sendiri yang terasa panas.

Cinta menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis rasa takut yang mulai merayap. Dia pikir Maxim hanya tipe bos yang suka menyindir secara sarkas.

Cinta sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam ruangan, Maxim sedang menatap pintu keluar dengan pandangan posesif yang gila. "Nyamuk" yang menggigit leher Cinta malam itu sedang duduk di kursi CEO ini, dan dia tidak akan berhenti sampai seluruh tubuh Cinta sepenuhnya menjadi miliknya.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!