Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ustadz Imam dan Bu Maya tersenyum lembut sebelum akhirnya memutuskan untuk pamit. Namun sebelum pergi bu Maya menawarkan sesuatu lagi.
"Nin maaf sebelumnya. Apa kamu keberatan jika Gendis saya asuh. Saya prihatin melihat keadaannya."
Nina memandang putrinya yang semakin kurus. Ada rasa tidak tega menyelimuti hatinya.
"Saya akan pikirkan penawaran ibu untuk itu." jawabnya lembut.
Mereka memahami sepenuhnya keteguhan sikap Nina yang enggan menyusahkan orang lain.
“Baiklah, Nina. Saya akan kembali lagi jika kamu mengizinkan Gendis kami asuh.,” kata Ustadz Imam dengan nada suara yang hangat dan penuh ketulusan.
Bu Maya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menatap kondisi Nina dan bocah kecil itu. Mereka paham betul, Nina memilih jalan yang amat terjal ini bukan karena menolak kebaikan, melainkan demi membentengi orang-orang baik dari imbas kejamnya fitnah yang menimpanya.
Setelah mengucapkan salam, Ustadz Imam dan Bu Maya melangkah pergi menyusuri jalanan setapak yang membelah rimbunnya pepohonan. Nina berdiri di depan gubuk reotnya, memandangi langkah kedua orang itu sampai menghilang di balik rimbunnya hutan dengan perasaan penuh rasa syukur.
Di tengah kejamnya dunia yang membuangnya, fakta bahwa masih ada manusia berhati lurus yang memercayainya telah memberikan kekuatan baru bagi Nina untuk terus bertahan hidup.
*
Sore semakin merambat. Udara di dalam belantara hutan terasa kian menggigit tulang. Awan hitam pekat bergulung-gulung rendah di atas langit, menutup rapat berkas sinar matahari sore. Cuaca seolah memberi pertanda bahwa malapetaka yang amat kelam sedang merayap mendekat.
Di bagian hutan yang sedikit lebih dalam, suara ranting kering terinjak langkah kaki. Dua orang pemuda tampak berjalan mengendap-endap sembari memanggul senapan angin berburu. Mereka bergerak perlahan, sesekali menghentikan langkah untuk mengamati semak belukar di sekeliling mereka. Tiba-tiba, mata salah satu pemuda bernama Reyhan menangkap sekilas pergerakan di balik akar pohon tua.
"Eh, Johan! Lihat tuh! Ada musang besar di balik semak itu!" bisik Reyhan penuh semangat, menyiku lengan temannya. Matanya membelalak tajam menatap hewan buruan yang sedang berlindung.
“Ayo, Rey! Hati-hati, bidik yang pas! Jangan sampai lepas!” bisik Johan memanasi sembari menepuk pelan bahu Reyhan. Ia tahu betul betapa gesitnya hewan liar jika terkejut oleh derap langkah kaki.
Reyhan mengangkat laras senapannya perlahan-lahan. Ia menahan napas, memfokuskan pandangan di sepanjang garis laras metalik tersebut, mencoba mengunci sasaran di balik rimbunnya dedaunan dengan penuh konsentrasi.
Tanpa pernah disadari oleh Reyhan maupun Johan, hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi mereka berdiri, Nina dan Gendis sedang berada di tepi alur sungai kecil yang airnya mengalir bening. Nina sedang membungkuk, mengisi sebuah wadah plastik sederhana dengan air bersih untuk kebutuhan minum mereka. Sementara itu, Gendis sedang duduk di atas batu kali yang licin, dengan polosnya menepuk-nepuk permukaan air sungai yang dingin memakai jemari mungilnya, tertawa pelan menikmati sejuknya air.
Nina sama sekali tidak menyadari keberadaan dua pemburu liar di sekitar situ. Bagi Nina, alur sungai kecil ini adalah nadir kehidupan mereka, satu-satunya tumpuan harapan untuk menyambung nyawa di tengah keterasingan hutan.
Namun, nasib buruk berputar tanpa di sangka. Jarak antara laras senapan Reyhan dan posisi Gendis berada dalam satu garis lurus yang mematikan.
DORRR!
Suara tembakan senapan angin meledak nyaring, menggelegar memecah keheningan belantara dan mengejutkan kawanan burung di atas tajuk pohon.
Seketika itu juga, Nina memutar kepalanya ke arah sungai dengan dada berdebar hebat. Namun, detik berikutnya, sebuah jeritan yang begitu menyayat jiwa meluncur dari tenggorokannya, merobek kesunyian hutan.
"GENDISSSS!"
Nina melompat dan berlari histeris menghampiri tepi sungai. Di sana, tubuh kecil Gendis sudah terkapar tak berdaya di atas tanah basah, tersungkur memeluk batu kali. Tembakan peluru timah panas yang menyimpang dari sasaran musang itu telah menghantam tepat di bagian kepala bocah polos tersebut.
Dengan air mata yang mengalir deras, Nina merengkuh dan memangku tubuh kecil Gendis yang terkulai lemah.
"Gendis! Bangun, Sayang! Ini Ibu, Nak! Gendis!" jerit Nina histeris. Tangannya yang gemetar berusaha menahan cairan merah pekat yang terus mengalir deras membasahi jemarinya dan pakaian lusuh sang anak. Suara tangisannya dipenuhi kepanikan, rasa tidak percaya, dan keputusasaan yang tak terukur oleh apa pun di dunia ini.
Namun, mata bulat Gendis tidak lagi berkedip. Tidak ada napas, tidak ada suara mungil yang biasa memanggilnya 'Ibu'. Bocah polos yang tak berdosa itu telah merenggang nyawa seketika di pangkuan ibunya.
Dari balik semak-semak, Reyhan dan Johan berdiri membeku. Wajah keduanya seketika pucat pasi bagai kertas saat menyadari kesilapan mematikan yang baru saja terjadi. Suasana hutan yang tadinya dingin kini berubah menjadi panggung penderitaan yang begitu mencekam, dipenuhi raungan tangis seorang ibu yang jiwanya telah dihancurkan hingga tak berbekas.
Panik yang teramat sangat menyergap dada Reyhan dan Johan. Suara raungan tangis Nina yang melengking tak kunjung berhenti meledak di tengah hutan, membuat seluruh saraf ketakutan mereka tegang. Mereka membayangkan jika jeritan ini terdengar hingga ke pemukiman, warga desa akan datang dan menyeret mereka ke penjara atas tuduhan pembunuhan.
Kedua pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa di desa sana, tidak ada satu pun warga yang peduli atau sudi mencari tahu nasib Nina dan anaknya.
Reyhan, yang tangannya masih memegang senapan berburu, berbisik dengan napas terengah-engah dan mata liar, "Han! Kita tak punya pilihan! Kalau wanita ini selamat dan melapor ke polisi, kita habis! Kita bisa membusuk di penjara!"
Ketakutan akan hukuman membuat pikiran mereka menjadi sangat pendek dan kalap. Reyhan merangsek maju menghampiri Nina dari belakang. Dengan tenaga pria dewasa yang tak seimbang, ia langsung menyergap dan membungkam mulut serta hidung Nina menggunakan tangannya yang besar dan kasar, mengunci jeritan wanita itu seketika.
Sementara itu, Johan dengan tangan gemetar hebat dan wajah berkeringat dingin, membungkuk mengambil tubuh kecil Gendis Kinanthi yang sudah kaku tak bernyawa. Ia membopong jasad bocah itu tergesa-gesa menuju gubuk reot tempat tinggal Nina, berusaha menyembunyikan bukti pertama dari aksi kejam mereka.
Nina yang berada dalam cengkeraman Reyhan mencoba meronta dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, tubuhnya yang sudah terlampau lemah tak sanggup memberikan perlawanan berarti. Bekapan tangan Reyhan kian mengencang tanpa belas kasihan, menutup rapat setiap celah pasokan udara menuju paru-paru Nina.
Dalam dekapan kejam itu, air mata Nina terus meleleh membasahi kulit tangan Reyhan. Nina tidak lagi meratapi nyawanya yang berada di ujung tanduk, di dalam hatinya yang hancur, ia hanya menangisi nasib tragis putri kecilnya. Pandangan Nina perlahan-lahan mulai mengabur dan menggelap. Kesadarannya meredup, rasa sakit di dadanya berganti menjadi sensasi dingin yang melayang.
Hanya dalam hitungan menit, perlawanan lemah dari jemari Nina berhenti total. Tubuh wanita yang terzalimi itu terkulai pasrah dalam dekapan Reyhan.
Reyhan, yang berada dalam kepungan rasa panik luar biasa, awalnya tidak menyadari bahwa gerakan rontaan Nina telah terhenti sepenuhnya. Ketika ia perlahan melepas bekapan tangannya, kepala Nina terkulai terkulai miring ke atas tanah lembap tanpa ada reaksi.
Johan yang baru kembali dari gubuk terperanjat melihat pemandangan itu. "Rey! dia tidak bergerak sama sekali!" teriak Johan berbisik dengan suara yang bergetar hebat.
Reyhan mendekatkan jarinya ke bawah hidung Nina. Tidak ada hembusan napas. Tidak ada denyut nadi di lehernya.
Kedua pemburu itu membeku bagaikan patung di bawah naungan pohon-pohon raksasa. Keheningan hutan yang mematikan seolah menghujat kejahatan mereka. Panik yang merayap kini berubah menjadi horor yang mengerikan. Mereka tidak hanya bertanggung jawab atas terbunuhnya seorang balita, tetapi juga telah merenggut nyawa ibunya.
"Gawat... Dia sudah mati, Han! Dia mati!" igau Reyhan dengan napas memburu, pikirannya liar mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Johan mencengkeram rambutnya sendiri, hampir gila oleh rasa takut. "Bakar! Kita bakar saja tempat ini! Bakar gubuknya, masukkan jasad mereka ke dalam! Biar semua orang pikir mereka mati terbakar!" usul Johan dengan suara serak.
Tanpa membuang waktu, dengan gerakan panik dan tangan yang gemetar, kedua pemuda itu menggeret jasad Nina masuk ke dalam gubuk reot tersebut, membaringkannya di samping jasad Gendis. Mereka mengumpulkan dedaunan kering, ranting pohon, dan jerami pelapis dinding gubuk. Reyhan merogoh pemantik api dari saku celananya dan menyulutnya pada tumpukan jerami kering.
BZZZZ... KRAKK...
Lidah api merah keemasan dengan cepat berkobar, menjilati jalinan daun kelapa dan susunan kayu reot gubuk tersebut. Dalam hitungan detik, api membumbung tinggi memakan tempat perlindungan terakhir ibu dan anak itu.
Reyhan dan Johan melangkah mundur beberapa langkah, menyaksikan kobaran api besar yang melahap habis bukti kejahatan mereka dengan raut wajah yang tegang dan ketakutan. Asap hitam pekat membumbung tinggi menembus rapatnya tajuk pepohonan hutan, membawa pergi jasad Nina dan Gendis yang kini menjadi abu dan menyatu dengan alam.
Kedua pemuda itu berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan area hutan tersebut, berharap kobaran api itu akan menghapus seluruh dosa mereka.
Namun, di dalam kedalaman jiwa mereka, rasa bersalah dan bayangan jeritan Nina telah menancapkan cakar kegelapan yang akan menghantui setiap detik sisa hidup mereka.
Sementara tragedi berdarah membakar belantara hutan, kehidupan di desa berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Sejak Nina dan Gendis dibuang ke dalam hutan, keberadaan mereka dianggap tak pernah ada. Warga desa yang terhasut sama sekali tak sudi memikirkan bagaimana nasib wanita yang mereka cap pezina itu.
Di rumah peninggalan Nek Nilam yang kini telah dikuasai sepenuhnya, Roni dan Hana hidup dalam gelimang kenyamanan. Roni, yang otaknya telah tumpul total oleh susuk emas dan pelet dosis tinggi milik Hana, menjalani hari-harinya tanpa sedikit pun mengingat Nina maupun anak kandungnya sendiri.
Usaha penggergajian kayunya makin berkembang pesat, mendatangkan keuntungan finansial yang melimpah.
Hana pun kian leluasa menjalankan profesinya sebagai rentenir di desa. Pada mulanya, ia menawarkan pinjaman modal dengan bunga amat rendah untuk memikat hati para warga.
Namun setelah jebakan utang terpasang rapat, Hana menaikkan suku bunga secara mencekik, menguras sisa-sisa harta warga desa yang tak berdaya melunasi utang. Hana menikmati kejayaannya di atas penderitaan orang lain.
Namun, hukum alam tidak pernah tidur.
Malam itu, hembusan angin dingin yang janggal merayap memasuki celah-celah jendela rumah Roni. Roni yang sedang berbaring di atas ranjang empuk mendadak merasa dadanya sangat sesak dan gelisah. Tidak ada alasan yang jelas, namun suasana kamar yang biasanya hangat kini terasa mencekam dan begitu dingin menembus selimut.
Roni membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, berusaha memejamkan mata, namun rasa tak tenang terus mengusik kesadarannya. Bayangan samar, bisikan-bisikan tanpa wujud, dan detak jantung yang berdebar kencang membuat tidurnya terganggu hebat. Sebersit perasaan bersalah yang amat dalam, sebuah panggilan dari belahan jiwanya yang terikat pada darah dagingnya, mencoba mendobrak selubung sihir hitam yang mengurung otaknya.
Hana yang terganggu oleh gerakan Roni yang terus gelisah di sampingnya seketika membuka mata dan mengomel kasar.
"Kamu kenapa sih, Mas?! Dari tadi bolak-balik terus! Aku jadi tidak bisa tidur!" bentak Hana dengan suara kesal.
Roni terduduk di tepi tempat tidur, memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri dan hampa. "Entahlah, Han. Aku merasa aneh sekali. Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata malam ini," sahut Roni dengan suara parau dan pandangan kosong.
Hana mendengus keras, membelakangi Roni dan kembali menarik selimutnya tanpa rasa peduli sedikit pun.
Karena tak kunjung bisa menenangkan pikirannya, Roni bangkit dari ranjang, merogoh sebungkus rokok dan pemantik, lalu melangkah keluar menuju teras rumah.
Di luar, angin malam berhembus cukup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon di pekarangan. Roni menyalakan rokoknya, menghisap dalam-dalam lalu menghembuskan asap putihnya ke udara malam yang dingin. Ia berdiri bersandar pada tiang teras, menatap lurus ke arah kegelapan pekarangan.
Namun, setiap isapan tembakau itu sama sekali tak mampu mengusir gumpalan gelisah yang kian menghimpit dadanya. Udara malam seakan-akan membawa hembusan aroma kemenyan yang samar, bercampur dengan wangi bunga melati.
Saat pandangan mata Roni yang sayu bergeser ke arah pohon mangga besar di sudut pekarangan rumah, dadanya seketika berhenti berdetak.
Di bawah bayang-bayang rimbunnya pohon mangga itu, berdiri tegak sosok seorang wanita tua berpakaian kain jarik kusam dengan rambut putih panjang yang terurai acak-acakan. Wajah tua itu pucat pasi bagai mayat, dan pasang matanya yang merah melotot tajam menembus lurus ke dalam manik mata Roni!
Sosok itu tak lain adalah penampakan Nek Nilam!
Roni membeku di tempatnya. Seluruh bulu kuduk di tubuhnya berdiri tegak, rokok yang diapit jemarinya terlepas begitu saja jatuh ke atas lantai teras.
"Si... siapa itu?!" bisik Roni dengan tenggorokan yang mendadak kering dan suara gemetar hebat. Jantungnya berdegup liar dihantam ketakutan yang teramat sangat.
Roni mengucek matanya berkali-kali, menganggap penglihatannya hanya halusinasi akibat kelelahan. Namun, saat ia kembali membuka mata, bayangan sosok wanita tua itu mendadak melayang mendekat beberapa tapak, menatapnya dengan raut wajah penuh amarah, sebelum akhirnya memudar perlahan dan lenyap ditelan pekatnya malam.
Aura mistis seketika mengepung teras rumah itu. Tubuh Roni gemetar hebat dihantam rasa takut yang luar biasa. Tanpa membuang waktu lagi, ia berbalik arah, membuka pintu depan setengah berlari, dan menguncinya dari dalam.
Roni merebahkan tubuhnya di samping Hana, menarik selimut hingga menutup seluruh kepalanya. Namun, meski matanya dipejamkan rapat-rapat, bayangan wajah murka Nek Nilam terus terbayang di dalam kepala Roni.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭