Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Yang Mulai berubah
Sret! Cret!!
Lucien sudah menarik pedangnya. Gerakannya begitu cepat sampai Eve hanya sempat melihat kilatan bilah sebelum pedang tersebut menebas leher pria yang terikat.
Kepalanya terlepas dan jatuh menghantam lantai batu sebelum bergulir beberapa jengkal dari kursi. Darah mengalir dari leher yang terputus, membasahi lantai di bawahnya.
Eve membeku dalam gendongan Vins.
Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Keempat ksatria menundukkan kepala. Tidak seorang pun terlihat terkejut dengan tindakan Lucien. Sementara Eve hanya menatap kepala yang kini tergeletak miring di lantai.
'Gila.'
Sebagai dokter forensik, Eve sudah melihat kematian dalam berbagai bentuk. Dia tahu seperti apa tubuh manusia setelah kehilangan nyawa, dan kematian tidak selalu datang dengan adegan dramatis seperti dalam film. Namun melihat seseorang dibunuh tepat di depan mata, tetap membuat tubuh kecilnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.
Jari Eve mencengkeram pakaian Vins. Disisi lain,Lucien mengibaskan sedikit darah dari bilah pedangnya sebelum memasukkannya kembali ke sarung.
Eve menatap punggung pria tersebut.
'Jadi begini cara seorang Duke Valois menyelesaikan masalah.'
"Tidak ada lagi informasi yang bisa kita dapatkan. Otaknya sudah dicuci." Lucien mengucapkannya sambil menatap pria yang kini tidak lagi bergerak. Kemudian pandangannya beralih kepada keempat ksatria dan Vins.
"Pastikan kejadian ini tidak bocor keluar," lanjutnya dengan suara dingin. "Kalau sampai terdengar ke luar mansion, kepala kalian yang menjadi jaminannya."
Keempat ksatria langsung menundukkan kepala.
"Baik, Yang Mulia," jawab salah seorang dari mereka.
Lucien tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Cipratan darah masih terlihat jelas pada pakaian hitamnya, bahkan beberapa titik merah menempel di wajahnya.
Vins segera menyusul sambil tetap menggendong Eve.
Begitu mereka keluar dari ruang interogasi, Vins menatap punggung Lucien dengan ekspresi yang sedikit cemas.
"Yang Mulia," panggilnya setelah beberapa langkah. "Dengan segala hormat, seharusnya Anda menahan diri. Nona Aveline masih berada di sana."
Lucien tidak langsung menjawab. Eve yang berada dalam gendongan Vins justru mengangkat kepala.
"Acu dak apa-apa," katanya polos.
Vins langsung terdiam. Dia bahkan sempat menoleh kepada Eve dengan wajah terkejut.
"Nona..."
Eve mengedipkan mata. "Tenapa?"
Vins belum sempat menjawab ketika langkah Lucien berhenti.
Pria tersebut berbalik, tatapan merahnya langsung jatuh kepada Eve. Lucien berjalan mendekat. Eve memperhatikan wajahnya yang masih terkena cipratan darah. Bahkan ujung jarinya pun masih berwarna merah.
Tanpa mengatakan apa pun, Lucien mengangkat tangannya, Eve sedikit terkejut ketika telapak tangan yang penuh darah tersebut justru menyentuh pipinya.
Jari Lucien mengusap lembut sisi wajah Eve, meninggalkan noda merah tipis di kulitnya.
"Aveline," panggil Lucien dengan suara rendah. "Apa kau tidak takut?"
Dia sebenarnya ingin menjawab jujur.Tentu saja takut.
Tubuh kecilnya bahkan masih terasa kaku sejak melihat kepala pria tersebut jatuh ke lantai. Hanya saja, rasa takutnya tidak cukup besar untuk membuatnya menangis atau berteriak.
Eve akhirnya menggeleng pelan.
"Tida atut."
Lucien menatapnya beberapa detik, kemudian sudut bibirnya bergerak tipis.
"Bagus," katanya. "Begitulah seharusnya seorang Valois."
Eve terdiam.
'...Orang gila.'
Dia melirik noda darah di pipinya.
'Kalau gue bukan orang yang sudah pernah bekerja sebagai dokter forensik, mana mungkin anak empat tahun bisa santai setelah lihat kepala orang dipenggal tepat di depan mata?'
Eve menghela napas dalam hati.
'Anak kecil normal pasti sudah nangis dari tadi.'
Setelah kejadian yang baru saja berlangsung, Lucien memutuskan tidak melanjutkan pemeriksaan apa pun.
"Aku akan membersihkan diri," ujar Lucien sambil menatap Vins. "Antar Aveline kembali ke kamarnya."
Vins menundukkan kepala. "Baik, Yang Mulia."
Lucien berbalik menuju sayap kediamannya, sementara Vins membawa Eve melewati lorong mansion. Eve sendiri tidak banyak bicara. Kepalanya masih terasa penuh, tetapi dia tidak tahu harus mulai memikirkan bagian mana lebih dulu.
Begitu sampai di depan kamar, Vins baru saja hendak mengetuk ketika pintu terbuka dari dalam. Cecil muncul dengan senyum kecil yang langsung menghilang ketika melihat wajah Eve.
"Nona?" Cecil mendekat dengan kening berkerut.
"Kenapa pipi Nona ada darah? Nona terluka?"
Eve menyentuh pipinya sendiri. Ujung jarinya menyentuh noda merah yang masih tertinggal di kulit.
"Papa yang kacih," jawab Eve polos.
Cecil membeku.
"Yang Mulia?"
Eve mengangguk. "Tadi Papa potong kepala oland."
Cecil langsung menoleh kepada Vins dengan wajah terkejut. Vins menghela napas sebelum menjelaskan kejadian di ruang bawah tanah secara singkat. Semakin lama mendengarkan, ekspresi Cecil semakin tidak senang.
"Yang Mulia seharusnya tidak membawa Nona ke tempat seperti itu," gerutu Cecil setelah Vins selesai.
"Nona masih kecil. Bagaimana kalau Nona ketakutan?"
Eve menatap Cecil.
'Nah, mulai.'
Cecil memang sudah seperti seorang kakak yang terlalu protektif. Kalau dibiarkan, dia mungkin akan terus mengomel mengenai Lucien sampai Eve selesai tidur.
Eve akhirnya mengulurkan kedua tangannya dan memegang pipi Cecil.
"Cecil jangam malah," bujuknya.
Cecil masih terlihat kesal. "Tapi, Nona-"
"Ape dak apa-apa." Eve maju sedikit lalu mengecup pipi Cecil.
"Cecil bantu Ape belcih-belcih, ya?" Eve tersenyum polos, kemudian menarik tangan Cecil.
Wajah Cecil perlahan melunak.
"...Baiklah, Nona."
Vins yang melihat perubahan tersebut hanya tersenyum kecil. Dia menurunkan Eve dengan perlahan, kemudian menundukkan kepala.
"Kalau begitu saya pamit. Semoga malam ini Nona tidak mengalami mimpi buruk."
"Daah, pin," jawab Eve sambil melambaikan tangan.
Vins pergi meninggalkan kamar.
Cecil kemudian membantu Eve membersihkan diri. Noda darah di pipinya dicuci sampai tidak tersisa, rambutnya dikeringkan, lalu pakaian tidurnya dikenakan kembali. Setelah selesai, Cecil memastikan Eve sudah nyaman di atas ranjang sebelum merapikan selimut sampai sebatas dada.
"Sudah bersih," ujar Cecil sambil mengusap kepala Eve.
"Nona tidur yang nyenyak, ya. Jangan memikirkan kejadian tadi." Cecil mengambil gelas air dan meletakkannya di meja samping ranjang.
"Iya," jawab Eve patuh.
Cecil tersenyum.
"Kalau Nona membutuhkan sesuatu, panggil saya."
Setelah memastikan semuanya beres, Cecil berjalan menuju pintu.
"Selamat tidur, Nona," katanya sebelum keluar.
"Mayam, Cecil."
Pintu tertutup perlahan.
Eve masih duduk di ranjang beberapa saat. Tatapannya tertuju pada pintu sampai suara langkah Cecil semakin menjauh.
Barulah wajah polosnya menghilang. Eve merebahkan tubuh dan menarik selimut sampai ke pinggang.
'Hufft, capek banget. Akting sebagai anak kecil ternyata lebih sulit dari yang gue kira.'
Pikirannya kembali pada kejadian hari ini.
'Bau lilac itu bener-bener ingetin gue tentang Mrquess Guzman, apa benar Marquess Guzman punya hubungan dengan pencuri tadi?'
Pertanyaan tersebut terus berputar di kepalanya.
Dia memang memiliki beberapa alasan untuk curiga. Marquess Guzman datang ke mansion dan berbicara dengan Lucien mengenai kabar pasukan Kekaisaran. Tidak lama kemudian, Eve menemukan seorang penyusup yang mengaku sebagai bagian dari gerakan pemberontak.
'Yah.. tidak ada bukti langsung.'
Aroma yang dia cium dari Guzman ternyata berasal dari bunga lilac yang dibawanya. Jadi kemungkinan aroma serupa pada tahanan tadi bisa saja berasal dari sumber lain. Eve tidak bisa begitu saja menghubungkan keduanya hanya berdasarkan penciumannya.
'Kalaupun benar Marquess adalah dalang di balik pencurian ini, tapi kenapa?'
Eve memejamkan mata.
Bagi seseorang yang sudah membaca The Rose and the Crown, dugaan tersebut terasa aneh.Di dalam novel, Marquess Guzman dikenal sebagai salah satu bawahan Duke Valois yang setia. Dia bukan tokoh yang digambarkan sebagai pengkhianat. Bahkan orang-orang di kediaman Duke juga menganggap Guzman sebagai bawahan Lucien yang sudah lama berada di pihak keluarga Valois.
'Jadi kenapa sekarang malah muncul kecurigaan seperti ini? apa cerita berubah tanpa gue ketahui atau sejak awal ini hanya dunia yang mirip, tapi bukan cerita asli?'
Eve membalikkan tubuh dan memeluk bantal.
Mungkin dia memang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Atau mungkin ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan dalam novel.
Eve mengingat kembali kalimat tahanan tadi.
Mahkota yang membusuk tidak layak memerintah. Anjing yang terikat tidak layak melindungi sang Kaisar. Saat keduanya jatuh, Elarion akan terbebas.
Kalimat tersebut jelas merupakan ancaman terhadap pemerintahan Kekaisaran. Namun apa hubungannya dengan keluarga Valois? Kenapa seorang penyusup di kediaman Lucien mengucapkan kalimat tersebut?
'Satu satunya jawaban mungkin, karena Valois itu anjing kaisar? tapi jelas-jelas di dalam novel Valois dan kaisar itu bermusuhan?'
Eve menarik selimut sampai menutupi bahunya.
Ternyata pengetahuan yang dia miliki hanya sebatas cerita yang pernah dibaca. Ada begitu banyak kejadian yang tidak pernah muncul di halaman novel, termasuk apa yang terjadi sebelum kisah utama dimulai.
Dia tidak boleh gegabah. Apalagi sekarang dia bukan Amelia yang bisa bebas bergerak dan bertanya kepada siapa pun. Tubuhnya masih kecil, dan terlalu banyak rasa ingin tahu justru bisa membuat orang dewasa mulai memperhatikannya.
Eve menguap.
Kelopak matanya mulai terasa berat, tetapi pikirannya masih belum benar-benar tenang.
'Sebenarnya berapa banyak hal yang gak gue tahu?'
Pertanyaan tersebut menjadi hal terakhir yang berputar di kepalanya sebelum Eve akhirnya tertidur.