NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sean melirik sejenak ke arah tangan Sera yang masih menempel di lengannya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya menatap lekat ke mata gadis itu yang tampak sendu dan ketakutan—atau lebih tepatnya, berpura-pura terlihat ketakutan.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini... Tapi siapa pelayan yang menyuruhmu tidur di lantai bawah?" Tanya Sean pada Sera.

"Dia..."

Sera menggantung ucapannya sejenak. Ia tiba-tiba lupa nama pelayan yang tadi menghadangnya.

Sera terus berusaha mengingat dalam hati, sementara Sean masih berdiri diam menunggu dengan sabar.

Apa... Tuan Sean tidak marah sama sekali saat dipegang oleh wanita ini? Apa mataku yang salah lihat? Tidak mungkin! Dulu dia pernah memecat dan mengusir pelayan lain hanya karena tidak sengaja menyentuh sedikit dibagian lengannya!

Tapi lihatlah wanita murahan ini... dia memegangnya begitu saja dan Tuan Sean malah membiarkannya. Ada apa dengan Tuan Sean hari ini? batin Martha mengepalkan tangannya erat-erat, hatinya bergejolak karena apa yang ia harapkan ternyata sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di depan matanya.

Nama pelayan itu tiba-tiba terlintas jelas di ingatan Sera—nama yang pernah disebutkan kakaknya.

"Bianca! Pelayan yang bernama Bianca itu," ucap Sera.

"Martha, panggil Bianca kemari sekarang juga!"

"Ba-baik, Tuan..." Martha menjawab dengan suara gemetar ketakutan, lalu segera berbalik pergi memanggil Bianca.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa Bianca yang tampak gemetar hebat.

"Bianca, katakan dengan jujur. Apa benar kau yang menyuruh Sarah tinggal dan tidur di bawah?"

Bianca semakin ketakutan. Sebelum masuk ke kamar, ternyata Martha sudah lebih dulu mengancamnya—jika ia berani berkata jujur, maka dia akan dihukum.

Sehingga mau tidak mau, Bianca terpaksa mengakuinya.

"I-iya, Tuan..." Meremas ujung bajunya.

"Apa maksudmu? Kau pikir ini rumahmu? Sehingga kau seenaknya melakukan apa saja kepada orang yang tinggal di sini?" Dingin Sean membuat Bianca menciut.

"S-saya minta maaf, Tuan... Saya benar-benar minta maaf. Saya khilaf, Tuan... Saya khilaf..." Bianca langsung bersujud di hadapan Sean, memohon ampun agar tidak dipecat. "Tolong, Tuan... Maafkan saya, jangan pecat saya... Tolong Tuan, saya benar-benar khilaf, Tuan..."

Sera yang berdiri di belakang Sean tersenyum tipis melihat Bianca yang bersujud ketakutan. Kena kau... Batin Sera.

"Martha, berikan semua gajinya. Cukup dia bekerja sampai hari ini. Suruh dia keluar dari sini sekarang, aku tidak mau melihat mukanya lagi," ucap Sean tegas.

"Tidak... Tolong jangan, Tuan..."

Sera ikut terperanjat kaget mendengar keputusan pria itu ingin memecat bianka.

"Paman..." Sera sedikit mengeratkan pegangannya pada lengan Sean, membuat pria itu kembali melirik ke arahnya.

"Jangan dipecat dulu, Paman... Kasihan dia. Kita tidak tahu seperti apa keadaannya. Mungkin dia punya anak atau suami yang sedang dinafkahi, atau mungkin ibunya yang harus dia hidupi. Kalau Tuan memecatnya dari sini, di mana lagi dia akan mendapat pekerjaan?" Ujar Sera berwajah sedih berpura-pura simpati pada Bianca.

Enak saja kau mau pergi. Aku belum puas bermain-main denganmu. Aku ingin kalian semua yang sudah menyakiti Kakakku mendapat balasan setimpal. Tidak ada satu pun yang boleh keluar dari lingkaran permainanku sebelum aku benar-benar puas... batin Sera, tapi wajahnya tergambar raut memelas dan memohon seolah dialah wanita yang paling rapuh di dunia.

Sean menatap sejenak ke arah Bianca yang masih gemetar.

"Baiklah... Beruntung Sera masih kasihan padamu. Kalau tidak, sudah lama aku mengusirmu."

Sialan... Aku tidak menyangka Sean begitu mendengar perkataan wanita jalang ini. Sejak dulu dia memang sering peduli pada Sarah, tapi aku tidak menyangka saat Sarah bermain-main api, dia percaya begitu saja!

Seandainya saja Sean bukan penyuka sesama jenis, aku pasti sudah mengira dia sudah jatuh hati padanya... batin Rika mendengus kesal, lalu berbalik keluar dari kamar. Martha dan Bianca juga segera menyusul pergi.

Hanya tersisa Sean dan Sera berdua di dalam ruangan itu.

Sean perlahan menoleh kembali ke arah Sera.

Sera yang sadar masih memegangi lengan Sean, segera melepaskan pegangannya dengan tergesa-gesa.

Sean sedikit heran saat tak sengaja melihat lengan Sera.

Kalau tidak salah ingat, Sarah punya tanda lahir di bagian lengan. Tapi wanita ini sama sekali tidak memilikinya... batin Sean mulai meragukan Sera.

Sera menelan ludah dengan susah payah merasakan tatapan pria itu. Jangan bilang dia mulai menyadari kalau aku bukan Kak Sarah.

Tanpa sepatah kata pun, Sean berbalik dan melangkah keluar dari kamar. Sera seketika menghela napas panjang, merasa sangat lega.

Syukurlah... Dia tidak bertanya lebih jauh...

Ia mengusap dadanya yang berdebar kencang. Namun tak lama kemudian, senyum licik kembali mengembang di wajahnya.

Bagaimana menurut kalian dengan permainanku, wanita-wanita ular? Enak rasanya bukan melihat kalian semua berkeringat ketakutan di depan Tuan Sean?

Tiba-tiba senyuman itu kembali tenggelam di wajahnya saat mengingat sesuatu.

Sekarang... Aku harus mencari cara. Bagaimana supaya agar aku bisa menahan Sean Vergantara agar tetap berada di sisiku.

_____

Sean masuk ke dalam kamarnya. Pria itu melepas jas yang ia kenakan, lalu merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku dan lelah.

Tiba-tiba bayangan Sarah kembali melintas di benaknya.

Sean melangkah berdiri di depan cermin besar, teringat kembali perbedaan yang mencolok dari sosok yang baru saja ia temui.

Dulu, Sarah adalah gadis yang lugu, polos, lembut, dan selalu tampak penuh ketakutan setiap kali berhadapan dengannya. Dan Sarah hanya akan bicara seperlunya, meminta tolong jika benar-benar terpaksa, dan tak pernah berani mengadu atau berbicara seberani tadi.

Selain itu, tatapan Sarah juga berbeda. Sarah yang tadi lebih berani mengangkat pandangannya, dan dari dalam matanya terlihat jelas ada sesuatu yang tersembunyi.

Tatapan itu jauh lebih tegas, seolah menyimpan banyak teka teki.

"Apa mungkin aku yang terlalu banyak berpikir?" Gumam Sean berusaha membuang kecurigaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!