NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4. langkah di seberang

‎Hidup ini memang tak pernah berjalan lurus seperti yang direncanakan. Seolah ada skenario tersendiri yang ditulis oleh takdir, mengubah arah jalan yang semula terlihat jelas menjadi berkelok dan tak terduga. Begitulah yang dialami oleh Rendra setelah bekerja sebagai kuli bangunan selama hampir dua tahun di kota tempat Zahra berkuliah. Meski pekerjaannya jujur dan halal, penghasilannya terasa belum cukup untuk menutupi biaya pengobatan ayahnya yang semakin lama semakin membutuhkan perawatan rutin, serta kebutuhan sehari-hari ibunya di desa.

‎Berulang kali ia memikirkan cara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik tanpa harus melanggar aturan. Hingga suatu hari, datanglah kabar dari seorang kenalan lama yang sudah merantau ke luar negeri. Kabar itu menyebutkan bahwa ada kesempatan kerja di negeri seberang, Malaysia, dengan bayaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan apa yang bisa ia peroleh di dalam negeri. Tentu saja, itu bukan pekerjaan yang ringan, namun bagi Rendra, yang terbiasa dengan lelah dan keringat, tantangan itu bukanlah hal yang menakutkan.

‎Setelah berdiskusi panjang lebar dengan keluarga dan mempertimbangkan segala risikonya, akhirnya Rendra mengambil keputusan besar. Dia akan merantau menyeberangi lautan. Ia ingin mengumpulkan tabungan yang cukup banyak dalam waktu singkat agar beban hidup keluarga bisa terangkat, dan suatu hari nanti ia bisa pulang dengan keadaan yang lebih mapan.

‎Maka tibalah saat keberangkatannya. Dengan membawa satu koper berisi pakaian seadanya dan doa restu dari kedua orang tuanya, Rendra meninggalkan kota itu tanpa sempat berpamitan kepada siapa pun. Ia tak tahu bahwa di kota yang baru ia tinggalkan itu, ada Zahra yang masih melanjutkan hari-harinya, sama sekali tak menyadari bahwa sosok yang pernah menjadi bayangan di masa lalunya itu pernah hidup di tempat yang sama dengannya.

‎Sesampainya di Malaysia, kehidupan baru segera menyambutnya. Ia mulai bekerja di sebuah perusahaan pengolahan kayu di daerah pedesaan yang cukup jauh dari pusat kota besar. Pekerjaannya berat ,harus mengangkat balok kayu, mengoperasikan mesin penggergajian, dan bekerja di bawah atap pabrik yang panas. Namun, seperti biasa, Rendra menjalaninya dengan penuh ketekunan. Sikapnya yang jujur, pekerja keras, dan tidak banyak bicara membuatnya segera dipercaya oleh atasan dan disegani oleh rekan-rekan kerjanya, baik sesama warga Indonesia maupun pekerja lokal.

‎Seiring berjalannya waktu, rasa rindu pada kampung halaman dan kesendirian di negeri orang perlahan terasa semakin berat. Di tengah kesibukan bekerja, ia pun mulai mengenal lingkungan sekitar tempat tinggalnya yang sederhana. Di sanalah ia bertemu dengan Siti, seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, warga lokal yang bekerja sebagai penjaga toko kelontong tak jauh dari asrama tempat ia tinggal.

‎Siti adalah wanita yang cantik menurut ukuran setempat, berkulit sawo matang, ramah, dan pandai bergaul. Ia sering melayani Rendra dengan senyum, dan karena seringnya bertemu, lambat laun obrolan mereka menjadi lebih akrab. Siti tahu keadaan Rendra, ia tahu pria ini datang dari jauh hanya untuk mencari nafkah, bekerja keras demi keluarga. Berbeda dengan wanita-wanita yang dulu ada di sekelilingnya saat sekolah, Siti tidak menilai Rendra dari masa lalunya atau statusnya. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana sikap dan perilaku seseorang saat ini.

‎“Kau bekerja sangat giat, Rendra. Jangan terlalu memaksakan diri sampai jatuh sakit,” ucap Siti suatu hari sambil menyerahkan sebungkus makanan yang ia buatkan sendiri.

‎Perhatian sederhana itu terasa sangat berarti bagi Rendra yang hidup jauh dari sanak saudara. Di hatinya yang kesepian, perlahan tumbuh rasa nyaman dan ketertarikan. Ia merasa dihargai bukan karena penampilan tampannya yang dulu, bukan karena ia populer, melainkan karena dirinya apa adanya, seorang pria pekerja keras yang ingin berbuat baik.

‎Setelah beberapa bulan saling mengenal, akhirnya Rendra memberanikan diri menyatakan perasaannya. Dan di luar dugaannya, Siti menerimanya dengan senyum tulus. Maka terjalinlah hubungan asmara di antara mereka. Bagi Rendra, Siti adalah anugerah di tengah kerasnya hidup perantauan. Ia merasa beruntung telah menemukan seseorang yang mau menerima segala kekurangannya, yang mendukungnya dan memberinya semangat untuk terus melangkah maju. Ia pun mulai membayangkan masa depan. Setelah mengumpulkan cukup uang, ia akan melamar Siti, membangun rumah yang layak di kampung halaman, dan menjalani hidup yang tenang bersamanya serta keluarga.

‎Namun, di balik hubungan itu, ada satu hal yang selalu Rendra sembunyikan dengan sendirinya dimasa lalunya. Ia tak pernah banyak bercerita tentang masa sekolahnya, tentang dirinya yang dulu menjadi pusat perhatian banyak wanita. Baginya, itu adalah bab yang sudah tertutup rapat. Ia ingin membangun hidupnya dari nol, dengan identitasnya yang sekarang, bukan lagi sebagai pria populer yang disukai banyak orang, melainkan sebagai pria sederhana yang bertanggung jawab.

‎Sementara nasib membawa Rendra melintasi lautan dan menjalin kisah baru, kehidupan Zahra tetap berjalan di jalurnya sendiri di kota itu. Ia kini sudah memasuki semester kelima perkuliahannya. Nilai-nilainya tetap terjaga dengan baik, dan hubungan asmaranya dengan Raka pun terasa semakin dekat dan serius. Raka semakin sering mengajaknya pulang ke rumah orang tuanya, memperkenalkannya sebagai kekasih yang akan ia bawa ke jenjang pernikahan nanti.

‎Melihat Raka yang sopan, punya masa depan yang jelas, dan selalu memperlakukannya dengan baik, hati Zahra dipenuhi rasa syukur. Ia merasa hidupnya kini sudah berjalan sesuai harapan. Masa lalu yang kelabu, rasa rendah diri, serta bayangan Rendra yang dulu terlintas sesekali di pikirannya, perlahan benar-benar ia kubur dalam-dalam. Baginya, masa itu hanyalah bagian dari cerita yang sudah selesai, tak ada gunanya lagi dikenang. Ia merasa takdir sudah memberikan jalan yang lebih baik untuknya, menjauhkannya dari dunia yang dulu terasa mustahil untuk dijangkau.

‎Teman-teman sekampus sering kali memujinya, mengatakan bahwa Zahra beruntung mendapatkan pasangan sebaik Raka. Meskipun penampilannya masih tetap sederhana rambut terikat polos, wajah bersih tanpa riasan, dan pakaian yang apa adanya ,ia mulai terlihat lebih percaya diri. Kepercayaan itu bukan datang dari luar, melainkan dari dalam hatinya yang merasa aman dan dicintai.

‎“Zahra, kau terlihat makin bersinar belakangan ini,” kata salah satu temannya suatu hari sambil duduk di kantin kampus.

‎Zahra hanya tersenyum malu sambil menggeleng. “Ah, tidak juga. Aku hanya bersyukur hidupku berjalan lancar saja.”

‎Namun di balik ketenangan itu, siapa pun tak tahu bahwa benang takdir masih terus terjalin, meski terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan lautan luas. Zahra tak tahu bahwa pria yang dulu menjadi pusat perhatian itu kini sedang merantau jauh dan memiliki kehidupan baru. Rendra pun tak pernah membayangkan bahwa gadis pendiam yang selalu berdiam diri di pojok kelas itu kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang sedang membangun mimpinya sendiri di kota lain.

‎Selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mereka berdua melangkah di jalur yang terpisah jauh. Tak ada kabar yang saling tersampaikan, tak ada pertemuan yang terjadi. Setiap hari terlewati dengan urusan masing-masing: Rendra bekerja keras di negeri orang sambil menjaga hubungannya dengan Siti, sedangkan Zahra menyelesaikan pendidikannya dan semakin dekat dengan masa depan yang direncanakannya bersama Raka.

‎Kedua dunia ini terasa begitu terpisah, seolah tak akan pernah bersinggungan lagi selamanya. Rendra merasa ia sudah memiliki arah hidup yang pasti, begitu pun Zahra yang merasa hidupnya sudah tertata rapi. Namun, manusia hanya bisa merencanakan dan menjalani apa yang ada di hadapannya. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa rencana takdir sering kali memiliki jalan yang tak terduga.

‎Jarak yang kini memisahkan mereka lautan luas dan batas negara, tidak berarti menjadi penghalang selamanya. Cerita mereka belum sampai pada titik akhirnya. Hubungan yang sedang dijalani masing-masing pun belum tentu menjadi jalan terakhir yang akan ditempuh. Semua masih dalam proses, semua masih bisa berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!