Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ikut Mudik
Beberapa hari ini Kamila sering termenung sendiri. Setelah lulus dia belum punya kegiatan yang jelas. Fikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata papanya.
"Nggak bisa, aku harus semangat. Aku harus buktiin sama papa kalau aku pasti akan menjadi wanita mandiri dan segera menemukan orang yang aku cintai," Kamila menatap lurus ke luar dari jendela kamarnya.
Terlihat sekali semangat dalam hidupnya untuk membuktikan dirinya bisa mandiri. Walau belum tahu caranya, selagi dia mau berusaha pasti ada jalannya.
Kamila kemudian beranjak untuk tidur lebih awal, karena besok pagi papanya akan kembali dinas di kantor pusat. Dia harus bangun lebih awal supaya bisa berpamitan dengan ayahnya.
Sementara itu diruang kerjanya, Pak Herman sedang menghubungi seseorang.
"Gimana keadaan disana? Sudah ada perkembangan?," tanyanya dengan serius.
"Baiklah, jaga diri baik-baik. Aku percaya dengan kemampuanmu. Aku akan memberimu kejutan setelah misi ini beres," lanjut Pak Herman.
"iya," Pak Herman mengakhiri panggilannya. Dia tersenyum tipis seperti ada sesuatu yang membuatnya bangga.
***
Pagi-pagi sekali Karina dan Kamila sudah berada didapur menyiapkan sarapan untuk mereka. Papanya harus berangkat pagi karena langsung menuju kantornya.
"Sudah siap Mil, sekarang kamu yang bawa dan ke meja makan ya? Biar kakak sama Bibi yang membereskan dapur," ucap Karina pada Kamila.
"Oke, siap kak,"
"Wah, baunya enak sekali. Papa nggak sabar untuk segera sarapan," Pak Herman muncul di pintu dapur melihat kehebohan yang terjadi disana.
"Udah papa tunggu saja di meja makan, biar Kamila yang siapin," Kamila mendorong tubuh papanya pelan supaya menunggu dimeja makan.
"Iya iya, papa bisa jalan sendiri tau," Pak Herman hanya tersenyum hangat dengan perlakuan anak bungsunya itu.
Walau mereka sering bersitegang, tapi hal itu pasti tidak pernah lama. Kamila selalu bisa saja mencairkan suasana.
Makanan sudah tersaji dimeja semua, mereka pun makan bersama dengan lahap. Walau hati Kamila sedang galau, tapi dia berusaha terlihat biasa didepan keluarganya. Apalagi papanya yang sebentar lagi berangkat dinas, dia tidak ingin papanya khawatir.
Ting
Ada chat masuk dari Veni. Kamila segera membukanya, siapa tahu sahabatnya itu akan mengajaknya keluar walau cuma sekedar nyari angin.
"Mil, hari ini kamu sibuk nggak?," tanya Veni dalam pesan singkatnya.
"Nggak Ven, aku nggak dirumah aja nih," balas Kamila cepat.
"Oke, nanti temenin aku beli kado ya? Sepupuku mau nikah soalnya,"
"Oke, see you,"
Kamila segera meletakkan ponselnya kemudian melanjutkan makannya.
"Siapa Mil?," tanya Pak Herman.
"Veni pa, ngajakin keluar. Mau cari kado katanya," jawab Kamila apa adanya.
"Ya udah, ati-ati. Sebentar lagi papa berangkat. Perginya pakai sopir aja ya? Papa belum tega kamu bawa mobil sendiri,"
"Yah papa, dari dulu gitu terus. Kapan Kamila dibolehin naik mobilnya," Kamila memasang wajah cemberut mulai merajuk.
"Nanti kalau kamu sudah benar-benar siap bawa mobil sendiri," jawab Pak Herman seadanya.
"Bilang aja Kamila nggak boleh bawa mobil, alesan aja nanti-nanti," Kamila semakin terlihat murung, apalagi sebelumnya memang suasana hatinya sedang kurang bagus.
"Nanti papa fikirkan lagi sayang, papa berangkat dulu ya? Jangan cemberut terus nanti cantiknya berkurang loh," goda Pak Herman mencoba menghibur Kamila.
"Ih papa kok gitu sih ngomongnya sama anak sendiri," Kamila mulai tersenyum malu-malu karena digoda papanya.
"Hati-hati ya pa? Kabarin rumah kalau sudah sampai," Karina mencium tangan papanya, kemudian diikuti Kamila.
Mereka pun mengantarkan Pak Herman sampai depan rumah. Karena sopir pribadi papanya sudah menunggu didepan rumah.
Setelah papanya berangkat, Kamila juga bersiap-siap untuk pergi dengan Veni. Sekitar 30 menit dia bercermin melihat penampilannya. Sekarang dia bukan mahasiswi lagi, dia sedikit merubah penampilannya.
Yang biasanya hanya dengan make up tipis, hari ini dia tampil lebih sedikit berani dengan sedikit menambahkan eye shadow dan juga blush on. Dia juga memilih lipstik yang lebih cerah dari biasanya. Rambutnya dibiarkannya tergerai supaya memberikan kesan lebih dewasa.
"Aku otewe nih Ven, kamu dimana?," tanya Kamila ditelepon.
"Aku sebentar lagi sampai di toko yang jual kado pernikahan nih Mil, kalau sudah sampai nanti aku share loc ya?," jawab Veni di seberang dengan diselingi suara klakson yang bersautan karena jalanan sedikit macet.
"Oke, segera kabarin ya?," Kamila kemudian mengakhiri panggilannya.
Sekitar 30 menit kemudian Kamila sampai dilokasi yang dikirimkan Veni. Disegera mendekat ke arah sahabatnya itu yang sudah menunggunya didepan toko.
"Wah, kamu kelihatan beda hari ini Mil," Veni terpukau dengan penampilan Kamila yang berbeda.
"Gimana? Jelek ya?," tanya Kamila ragu dengan penampilannya sendiri.
"Nggak kok, kamu kelihatan cantik banget malahan. Lebih terlihat dewasa dan anggun," puji Veni jujur membuat Kamila tersipu.
"Kamu bisa aja Ven, kamu juga cantik kok,"
"Ya beda lah, aku ya gini-gini aja Mil. Cuma pakai bedak murah," Ucap Veni merendah. Dia memang dari keluarga sederhana jadi nggak pernah dandan neko-neko.
"Tapi kamu cantik alami Ven, udah ah ayo masuk keburu tutup tokonya," jawab Kamila mengakhiri perbincangan mereka itu.
Mereka memutuskan untuk masuk dan memilih barang yang sekiranya dibutuhkan Veni. Banyak sekali pilihan kado pernikahan ditoko tersebut, bisa dibilang cukup lengkap. Tapi melihat harga yang cukup lumayan menguras kantong, membuat Veni berfikir cukup lama menentukan pilihannya.
"Kalau ini gimana Ven?," Kamila mengambil satu paket bedcover dengan corak warna cerah yang elegan.
"Nggak deh Mil, uangku nggak cukup. Coba lihat yang lain dulu aja deh yang cocok dengan kantongku," Veni kurang setuju dengan pilihan Kamila yang menurutnya kemahalan.
"Udah ambil yang itu aja, nanti biar aku yang bayarin. Aku udah capek Ven muter-muter. Udah laper," keluh Kamila memegang perutnya yang mulai keroncongan.
"Beneran Mil? Jadi nggak enak aku, ngerepotin kamu," Veni cuma nyengir senang karena dibayarin Kamila.
"Beneran, tapi habis ini traktir makan ya?,"
"Oke siap, kalau cuma traktir makan mah,"
Setelah selesai membeli kado, mereka pun makan siang bersama mengisi tenaga yang terkuras untuk muterin toko tadi.
"Oh iya, besok kayaknya aku mudik Mil. Soalnya lusa nikahannya sepupuku," Veni membuka obrolan di sela makan siang mereka.
"Mudik berapa hari Ven?," tanya Kamila.
"Belum tahu Mil, aku kan juga sudah lama nggak pulang. Dan kemaren pas melamar kerja juga belum ada panggilan. Mungkin agak lamaan lah, sekalian istirahat di kampung," jawab Veni santai.
"Aku ikut boleh? Pengen merasakan suasana didesa," Veni menghentikan makannya sebentar mendengar petanyaan Kamila tadi nggak percaya.
"Kamu yakin Mil? Rumahku jauh dari kota loh, takutnya kamu nggak kerasan nanti," tanya Veni meyakinkan.
"Nggak apa-apa dong, kayaknya seru. Bosen dengan suasana kota yang bising," jawab Kamila santai.
Veni hanya mengangguk pasrah, orang kaya mah bebas mau pergi kemana aja. Beda sekali dengannya, kalau mau pergi kemana-mana harus lihat dulu isi dompet. Kalau nggak cocok ya mesti ditunda dulu.