Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: JALAN SETAPAK MENUJU GARUDA
Bab 4: Jalan Setapak Menuju Garuda
Embun pagi masih menggantung di pucuk-pucuk daun puring ketika Valerie Vespera melangkah keluar dari pintu belakang kediaman Elrod. Jam dinding di koridor pelayan baru menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, namun bagi Valerie, dunia luar sudah lama terjaga. Suasana rumah utama masih sepi, terkunci dalam keheningan mewah yang angkuh. Di lantai atas, kamar-kamar ber-AC berukuran raksasa masih mendekap tidur nyenyak Victoria, Gilbert, dan anak-anak emas mereka.
Valerie membetulkan letak tas kanvas usangnya di bahu kanan. Seragam SMA Elit Garuda yang dikenakannya terasa sedikit kaku, kontras dengan kulit tirusnya yang pucat akibat kurang nutrisi selama bertahun-tahun di panti asuhan. Namun, sepasang matanya yang hitam pekat memancarkan ketenangan yang gila—ketenangan seorang jenderal yang tahu persis ke mana arah peluru pertama akan ditembakkan.
Langkah kakinya terhenti di pelataran parkir samping. Di sana, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam yang awalnya dijanjikan oleh Gilbert sebagai fasilitas antar-jemputnya ke sekolah, kini sudah menyala. Di dalam kabin yang sejuk, Alethea Belmont duduk manis di kursi belakang sembari bercermin, memulas bibirnya dengan pemerah bibir merah muda yang lembut.
Begitu melihat Valerie berjalan mendekat, Alethea menurunkan kaca mobil elektriknya perlahan. Wajahnya yang cantik menampilkan ekspresi pura-pura bersalah yang sangat rapi, jenis topeng yang selalu berhasil mengelabui seluruh anggota keluarga Elrod selama belasan tahun.
"Ah, Kak Valerie... maaf banget ya," suara Alethea terdengar begitu renyah, beralun manja seolah dia adalah korban di sini. "Pagi ini aku ada janji rapat OSIS darurat buat persiapan festival musim gugur sekolah. Supirnya harus mengantar aku duluan lewat jalan tol fungsional. Papa bilang, Kak Valerie bisa pakai taksi atau bus umum dulu untuk hari pertama. Kakak nggak marah kan?"
Valerie berdiri tiga langkah dari pintu mobil. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut, terluka, atau meledak marah seperti yang sangat diharapkan oleh Alethea. Sudut bibir Valerie justru terangkat tipis, membentuk seulas senyuman yang teramat hambar, hampir menyerupai sebuah penghinaan terselubung terhadap akting murah di hadapannya.
"Marah?" Valerie mengulang kata itu dengan nada suara yang rendah, renyah, namun sedingin embun pagi. "Untuk apa saya marah pada seseorang yang harus terburu-buru memesan tempat di barisan depan sebelum panggungnya runtuh? Silakan pergi, Alethea. Nikmati perjalananmu."
Alethea mengernyitkan keningnya, sesaat merasa terintimidasi oleh cara Valerie menatapnya—seolah Valerie sedang melihat seonggok barang rongsokan yang tidak berharga, bukan seorang putri angkat konglomerat yang berkuasa. Sebelum Alethea sempat membalas, kaca mobil kembali naik dan sedan mewah itu melesat membelah gerbang besi kediaman Elrod, meninggalkan kepulan asap tipis di udara pagi.
Valerie melihat arloji digital murah di pergelangan tangan kirinya. Jarak dari kawasan perumahan elite Menteng menuju SMA Elit Garuda di daerah Jakarta Selatan berkisar sekitar lima kilometer. Bagi seorang gadis remaja biasa, berjalan kaki sejauh itu dengan seragam sekolah yang rapi adalah sebuah hukuman yang memalukan. Namun bagi Valerie, lima kilometer ini hanyalah jalan setapak kecil yang harus dia injak sebelum dia membeli seluruh jalan protokol di kota ini.
Dia mulai melangkah dengan ritme yang konstan, mengabaikan tatapan heran dari para petugas keamanan kompleks yang melihat seorang anak berseragam sekolah elite berjalan kaki sendirian di jam segini. Sambil berjalan, jemari ramping Valerie bergerak lincah di atas layar ponsel pintarnya yang retak seribu.
Aplikasi sekuritas ritel basic miliknya telah terbuka. Sesi pra-pembukaan bursa efek Jakarta baru akan dimulai dalam tiga jam ke depan, namun antrean pesanan beli (bid) pada saham PT Inovasi Semesta Tbk (INOV) sudah mulai menumpuk di harga Rp50 per lembar. Uang tiga ratus ribu rupiah terakhirnya, seluruh modal hidup dan matinya, telah terkunci di sana sejak dua hari lalu.
"Hari ini," gumam Valerie pelan, matanya merefleksikan deretan angka digital di layar ponselnya. "Ledakan pertamanya akan dimulai."
Setiap langkah yang diambil Valerie di atas trotoar ibu kota yang mulai berdebu tidak diiringi dengan rasa lelah, melainkan dengan kalkulasi matematis. Dia mengingat dengan sangat presisi garis waktu dari kehidupan masa lalunya. Tepat pada hari Selasa ini, sebuah konsorsium teknologi raksasa asal Seoul, Korea Selatan, akan merilis pengumuman resmi di lantai bursa mengenai akuisisi raksasa terhadap proyek kecerdasan buatan tersembunyi yang patennya dipegang oleh anak perusahaan INOV. Rumor yang awalnya dianggap angin lalu oleh para analis institusional akan berubah menjadi kenyataan yang membakar pasar dalam hitungan detik.
Lima kilometer dilalui Valerie dalam waktu lima puluh menit. Ketika dia sampai di gerbang megah SMA Elit Garuda, peluh tipis tampak membasahi pelipisnya, namun punggungnya tetap tegak lurus. Gedung sekolah itu tampak seperti istana modern, dipenuhi oleh deretan mobil-mobil sport mewah dan kendaraan premium milik anak-anak orang kaya nomor satu di negeri ini.
Suasana di dalam kelas XI-A1 mendadak hening ketika Valerie melangkah masuk. Desas-desus tentang kepulangan "putri kandung yang hilang" dari panti asuhan pedalaman sudah menyebar seperti virus di kalangan murid-murid sejak kemarin, tentu saja berkat cerita-cerita setengah benar yang disebarkan oleh Alethea dengan gaya bicaranya yang penuh simpati fiktif.
Valerie berjalan menuju satu-satunya kursi kosong yang tersisa di barisan paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke arah lapangan olahraga. Di barisan depan, duduk sekelompok siswi yang mengenakan aksesoris bermerek yang dimodifikasi pada seragam mereka. Mereka adalah geng The Peacock, kelompok perundung paling ditakuti di sekolah yang seluruh anggotanya merupakan anak-anak dari kolega bisnis Gilbert Elrod, dan semuanya berada di bawah kendali pengaruh sosial Alethea.
Seorang gadis berambut ikal dengan anting berlian kecil bernama Cheryl melirik Valerie dari atas ke bawah dengan pandangan menjijikkan. Dia sengaja berbicara dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh seluruh penjuru kelas.
"Eh, kalian lihat nggak? Ternyata rumor itu bener ya. Ada anak panti asuhan yang mendadak punya akta kelahiran Elrod," Cheryl tertawa sinis, diikuti oleh kekehan dari tiga temannya yang lain. "Tapi kok kasihan banget ya, hari pertama sekolah sudah harus jalan kaki dari gerbang depan. Bau matahari lagi. Apa keluarga Elrod kehabisan uang bensin sampai-sampai mobil antar-jemput pelayan pun nggak bisa dipinjamkan?"
Alethea yang duduk di meja sebelahnya langsung memasang wajah panik yang dibuat-buat, memegang lengan Cheryl. "Cheryl, jangan gitu dong... Kak Valerie kan baru pindah dari kampung, mungkin dia belum terbiasa naik mobil mewah atau emang lebih suka jalan kaki biar hemat. Kita harus maklum."
"Maklum gimana, Thea? Sekolah kita ini standar internasional. Kalau ada satu murid yang penampilannya kayak gembel begini, bisa merusak reputasi angkatan kita tahu!" Cheryl mendengus, sengaja melemparkan sekotak tisu basah ke arah meja Valerie. "Nih, buat lap keringat kamu. Biar kelas ini nggak ketularan bau miskin."
Kotak tisu itu mendarat tepat di samping buku catatan Valerie.
Seluruh murid di dalam kelas menahan napas, menunggu reaksi meledak-ledak atau tangisan dari Valerie. Di sekolah ini, siapa pun yang berani melawan geng Cheryl akan berakhir dikucilkan secara sosial sampai depresi.
Namun, Valerie bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya di bawah kolong meja. Dia sama sekali tidak menyentuh kotak tisu itu, juga tidak memandang Cheryl ataupun Alethea. Wajahnya tetap sedatar permukaan air di dalam sumur tua. Bagi Valerie, ocehan remaja-remaja belasan tahun ini tidak lebih penting daripada suara bising lalat di tempat pembuangan sampah. Pikirannya saat ini berada ribuan kilometer di atas mereka, melayang di dalam sistem sirkuit digital bursa saham yang bersiap dibuka dalam waktu lima menit lagi.
Merasa diabaikan sepenuhnya, wajah Cheryl memerah padam karena merasa terhina. "Heh! Punya kuping nggak sih?! Orang tua kamu nggak ngajarin sopan santun ya kalau diajak bicara?!"
Tepat pada detik itu, jam dinding kelas menunjukkan pukul 09.00 pagi. Bel pembukaan bursa saham berbunyi di lantai perdagangan pusat kota.
Valerie mengabaikan teriakan Cheryl sepenuhnya. Ibu jarinya melakukan penyegaran (refresh) pada aplikasi perdagangan saham miliknya.
Teng!
Pasar resmi dibuka. Dan dalam fraksi detik pertama, sebuah anomali besar terjadi pada saham INOV.
Antrean jual (offer) di harga Rp50, Rp51, Rp52, hingga Rp60 mendadak lenyap dalam sekejap mata, disapu bersih oleh sebuah pesanan beli raksasa (market order) dari akun institusi asing yang masuk seperti air bah. Grafik saham INOV yang selama tiga tahun terakhir datar seperti garis kematian, tiba-tiba melonjak tegak lurus membentuk garis vertikal sempurna berwarna hijau pekat. Kenaikannya langsung menyentuh batas maksimal regulasi bursa dalam waktu kurang dari dua menit: +35%—Auto Rejection Atas (ARA).
Mata Valerie berkilat tajam di balik bayangan poni rambutnya. Saldo portofolio miliknya yang awalnya hanya berisi uang saku tiga ratus ribu rupiah, kini telah terkunci di dalam kepemilikan enam ribu lembar saham yang nilainya terus meroket naik tanpa ada satu orang pun yang bersedia menjual kembali saham mereka di pasar modal.
"Ini baru hari pertama," batin Valerie, seulas senyuman tipis yang sangat mengerikan mengembang di sudut bibirnya.
Hari Rabu, Kamis, dan Jumat berikutnya berlalu seperti mimpi buruk bagi para spekulan bursa, namun merupakan simfoni kemenangan bagi Valerie. Berita tentang akuisisi raksasa teknologi Korea Selatan akhirnya bocor ke media-media finansial utama pada Rabu siang. Saham INOV berubah menjadi monster paling diburu di seluruh lantai bursa nasional. Setiap hari, begitu pasar dibuka pukul sembilan pagi, saham itu langsung mengunci posisi ARA (Auto Rejection Atas) tanpa memberikan kesempatan bagi investor retail lain untuk masuk.
Valerie tetap menjalani hari-harinya di sekolah dengan rutinitas yang sama: berjalan kaki lima kilometer, mengabaikan segala bentuk intimidasi siber dan verbal yang diluncurkan oleh geng Alethea, dan duduk diam di pojok belakang kelas sembari mengawasi modalnya yang terus beranak-pinak di bawah tanah. Bagi geng The Peacock, keheningan Valerie dianggap sebagai bentuk ketakutan dan kepasrahan, membuat mereka semakin gencar meluncurkan ejekan-ejekan kosong setiap harinya tanpa menyadari bahwa gadis yang mereka sebut "gembel panti asuhan" itu sedang menghitung hari untuk membeli seluruh hidup mereka.
Hari Jumat sore, sesampai Valerie di kamar gudang bawah tanahnya yang pengap di rumah Elrod, dia mengunci pintu dari dalam. Dia duduk di atas ranjang lipatnya yang keras, menyalakan ponsel retak seribunya, dan membuka menu saldo akhir pekan dari akun sekuritas anonim miliknya. Kenaikan ARA berjilid-jilid selama empat hari berturut-turut dikombinasikan dengan transaksi opsi berjangka (options trading) jangka pendek yang dia ambil di sela-sela jam istirahat sekolah telah menghasilkan keajaiban finansial yang mutlak.
Angka digital di layarnya berkedip, menampilkan deretan angka baru yang bersih dari utang:
Saldo Akun Ritel: Rp52.450.000,00
Uang tiga ratus ribu rupiah pemberian Gilbert Elrod yang dimaksudkan sebagai penghinaan untuk mengukur harga diri putri kandungnya, kini telah bertransformasi menjadi lima puluh dua juta rupiah modal tunai bersih dalam waktu kurang dari lima hari di tangan Valerie Vespera.
Valerie menjatuhkan tubuh tirusnya ke atas bantal yang tipis, menatap langit-langit kamar gudang yang berjamur dengan pandangan mata yang sedingin es kutub. Pondasi pertamanya dari kamar pojok ini telah resmi berdiri kokoh. Langkah selanjutnya di dalam Master Outline takdirnya sudah menunggu: menarik seluruh keuntungan ini dan melemparkannya ke dalam pasar berjangka internasional berleverage tinggi untuk menciptakan mesin pencetak uang yang sesungguhnya.
"Lima puluh juta," bisik Valerie pada kegelapan malam yang sunyi, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman yang absolut. "Mari kita lihat, seberapa cepat uang ini akan berubah menjadi belati yang akan merobek jantung kesombongan kalian, keluarga Elrod."
Bersambung..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...