Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
BAB 4
Sorot mata aneh itu kembali kulihat hari ini.
Begitu kakiku melangkah masuk ke paviliun timur yang beralaskan permadani merah gelap, Tuan Mu'allim Harith sudah duduk bersimpuh di sana. Biasanya, pria tua bermata tajam itu akan langsung memintaku melantunkan ulang hafalan bait syair atau menguji ingatanku tentang silsilah Quraisy tanpa ampun.
Namun menjelang siang ini terasa berbeda.
Dia hanya duduk diam menatapku.
Sorot matanya bukan seperti seorang guru yang bangga pada muridnya. Tatapan itu terasa... kosong. Gelisah. Sesekali matanya melirik ke arah jendela anyaman di sisi ruangan, memperhatikan sinar matahari yang mulai terik menyengat halaman batu di luar. Jemarinya berkali-kali mengusap peluh di pelipis.
"Duduklah, Qatilah," ucapnya pelan.
Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya.
Aku duduk bersila di hadapannya sambil merapikan ujung gaunku, bersiap menyimak.
Kami baru saja mulai melisankan cabang silsilah klan Makhzum ketika langkah kaki terdengar mendekat dari lorong luar.
Seorang pelayan pria masuk membawa nampan kayu. Wajahnya tidak terlalu kukenal. Tubuhnya tinggi kurus dengan sorot mata yang terlalu tajam untuk ukuran pelayan.
Di atas nampan itu terdapat kendi tembaga kecil dan sebuah cawan berisi air dingin.
"Air untuk Anda, Tuan Guru," ucapnya datar.
Bagi anak kecil berumur lima tahun, pelayan membawa minuman tentu sama menariknya dengan melihat pasir beterbangan.
Namun bagiku... ada sesuatu yang terasa aneh.
Pelayan itu tidak menunduk hormat layaknya para budak di kediaman Umi Hindun. Tatapannya justru bertemu langsung dengan mata Tuan Mu'allim.
Sebuah anggukan kecil terjadi di antara mereka.
Lalu, saat cawan itu diletakkan di lantai, ibu jari si pelayan sengaja menggeser sesuatu dari balik telapak tangannya.
Sebuah kerikil hitam pekat.
Bentuknya kecil sebesar biji jagung.
Kerikil itu berhenti tepat di dekat kendi, tersembunyi dari arah pintu.
Dengan gerakan lambat yang sangat alami, seolah hanya sedang membetulkan ujung jubahnya, tangan Tuan Mu'allim menutupi batu itu lalu menyapunya masuk ke balik lengan bajunya.
Pelayan tadi mundur tanpa suara.
Lalu pergi secepat ia datang.
Aku menunduk, pura-pura fokus pada lipatan gaunku, padahal isi kepalaku langsung berputar cepat.
Tunggu... apa itu tadi?
Aku melirik diam-diam dari balik bulu mata.
Kode rahasia?
Curigaku langsung melompat ke mana-mana.
Jangan-jangan Tuan Mu'allim lagi nerima suap? Atau jadi perantara urusan rahasia antar keluarga Quraisy?
Aku hampir mendengus geli sendiri.
Rupanya kaum bangsawan zaman ini pun gemar menyembunyikan rahasia.
Karena terlalu lama hidup di dunia yang aman dan teratur, otakku sama sekali tidak menganggap kemungkinan yang lebih berbahaya. Bagiku, ini paling banter hanya urusan rahasia dagang atau konflik rumah tangga antarklan.
Tak lama setelah kejadian kerikil hitam itu, kami melanjutkan pelajaran kembali, lalu setelahnya Tuan Mu'allim merapikan barang-barangnya.
Gerakannya tampak tergesa.
"Cukup untuk hari ini, Qatilah," katanya tiba-tiba.
Aku mengangkat kepala bingung.
Pria tua itu berdiri perlahan. Untuk sesaat, matanya menatapku cukup lama. Ada sesuatu di sana... rasa takut, sesal, atau mungkin keraguan.
"Simpan semua hafalan dan ilmu itu baik-baik di kepalamu," ucapnya lirih. "Mulai besok, kau mungkin tidak akan membutuhkannya lagi."
Aku hanya berkedip polos.
Namun dalam hati langsung bersorak senang.
Alhamdulillah! Besok libur!
Aku bahkan nyaris tersenyum lebar.
Setelah sesi belajar yang berakhir lebih cepat dari biasanya itu, hari terasa berjalan menyenangkan.
Menjelang senja, setelah menghabiskan roti gandum hangat dan susu unta manis, Umi menggandeng tanganku menuju pelataran tengah rumah.
Langit Mekah mulai berubah jingga kemerahan.
Di kejauhan, suara unta dan langkah para penjaga terdengar samar bercampur desir angin gurun.
Namun ada hal lain yang membuatku sedikit heran.
Penjaga di gerbang rumah tampak lebih sedikit dari biasanya. Aku juga melihat beberapa budak laki-laki berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang sambil sesekali melirik ke arah luar rumah.
Sebelum sempat kupikirkan lebih jauh, suara benturan kayu keras menggema dari tengah pelataran.
BUK! TAK!
Di arena latihan berpasir, Kak Waraqah sedang mati-matian menangkis serangan Abi Naufal.
Pedang kayu di tangan remaja itu bergerak canggung dan terlambat. Sebaliknya, serangan Abi begitu berat dan cepat hingga beberapa kali membuat Kak Waraqah hampir terjatuh.
BRAK!
Satu hantaman keras mengenai pertahanan Kak Waraqah dan membuatnya tersungkur ke pasir.
"Berdiri!" bentak Abi menggelegar. "Ini hukuman karena kau tadi pagi kabur memakai alasan unta hamil!"
"Itu kan ide Abi!!" balas Kak Waraqah.
Aku yang duduk di pangkuan Umi ikut meringis melihat Kak Waraqah megap-megap kelelahan.
"Kau pewaris Bani Asad! Cengkeram pedangmu dengan benar!" lanjut Abi.
Kak Waraqah menggertakkan gigi lalu bangkit lagi sambil memegang bahu yang memar.
Aku menoleh pada Umi.
"Kakak terlihat sangat lelah, Umi," gumamku pelan.
Umi tersenyum tipis sambil mengusap rambut ikalku.
"Laki-laki di Mekah tidak boleh terlihat lelah, Sayangku," jawabnya lembut.
Tatapan beliau mengarah ke arena latihan.
"Kelak kakakmu akan menjadi pelindung keluarga ini. Jika dia lemah, serigala-serigala di Darun Nadwah akan mengoyak klan kita tanpa sisa."
Aku terdiam mendengarnya.
Meski suaranya tetap lembut, ada realita keras yang tersembunyi di balik ucapan itu.
Umi lalu mengecup puncak kepalaku.
"Tapi kau tidak perlu takut," bisiknya. "Ayahmu adalah tembok yang sangat kokoh. Dan kakakmu akan belajar menjadi sekuat dirinya. Selama mereka ada, rumah ini akan selalu aman untukmu."
Dadaku langsung terasa hangat.
Di kehidupan lamaku di Kairo, aku hidup sendirian di apartemen kecil jauh dari keluarga. Namun di sini...
aku punya rumah.
Rumah besar berdinding batu tebal.
Penjaga bersenjata di gerbang.
Ayah yang ditakuti banyak orang.
Ibu yang selalu melindungiku.
Dan kakak yang diam-diam selalu menjadikanku alasan untuk bertahan.
Perasaan aman itu begitu kuat sampai-sampai kecurigaanku soal tingkah aneh Tuan Mu'allim siang tadi perlahan menghilang dari kepala.
Malam turun dengan cepat di Mekah.
Angin gurun mulai terasa dingin menusuk sela-sela dinding batu rumah kami. Dari kejauhan, unta-unta di kandang belakang terdengar gelisah, melenguh bersahutan tidak wajar.
Aku sempat terbangun sebentar saat mendengar derit pintu kayu dan langkah kaki tergesa dari arah paviliun depan. Samar-samar kudengar suara laki-laki berbisik.
Dengan mata setengah terpejam, aku menarik selimut. Kasur bulu domba yang hangat dan aroma gaharu dengan cepat menarik kembali kesadaranku. Aku tertidur tanpa beban.
Lalu, semuanya menjadi kacau.
Dalam tidurku, aku merasakan tubuhku disentak kasar dari ranjang.
Seseorang membekap mulutku, membungkusku erat dengan kain wol tebal. Bau keringat yang tajam menyeruak. Samar-samar, di antara kesadaranku yang mengawang, terdengar teriakan panik dan benturan besi.
Sebelum aku bisa mencerna apa yang sedang terjadi...
DUUMM!
Guncangan keras menghantam tubuhku.
Aku tersentak bangun sepenuhnya. Kain wol yang menutupi wajahku tersingkap akibat hempasan angin. Tubuh kecilku terasa terombang-ambing hebat. Angin malam yang sedingin es menusuk wajahku seperti pisau.
Suara derap kuku kuda menghantam tanah memekakkan telinga.
Aku membuka mata dengan napas tercekat.
Gelap.
Semuanya gelap.
Tidak ada langit-langit kamarku.
Tidak ada cahaya lampu minyak.
Yang ada hanya langit malam yang dipenuhi bintang dan bulan pucat menggantung jauh di atas sana.
Tubuhku berada di atas pelana kuda yang sedang dipacu secepat mungkin.
Sebuah lengan memelukku erat agar tidak terjatuh.
Aku mendongak dengan susah payah.
"K-Kakak...?"
Itu Waraqah.
Namun wajahnya membuat darahku langsung dingin.
Pemuda itu basah oleh air mata.
Rahangnya mengatup sangat keras hingga bergetar. Napasnya memburu kacau. Matanya merah dan membelalak menatap lurus ke depan seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...
aku melihat Kak Waraqah benar-benar ketakutan.
"Kita... mau ke mana?" tanyaku lirih.
Suaraku gemetar.
Kak Waraqah tidak menjawab.
Dia hanya memelukku lebih erat.
Barulah saat itulah aku mencium sesuatu dari pakaiannya.
Bau asap.
Dan samar-samar...
bau darah.
Jantungku mendadak berdegup keras.
Dengan susah payah aku menoleh ke belakang dari sela lengannya.
Di kejauhan sana...
Benteng kediaman keluarga kami memerah ditelan api.
Lidah api membubung tinggi ke udara malam, melahap atap-atap paviliun dan tembok batu tebal yang selama ini menjadi tempatku berlindung.
Mataku membelalak.
Otakku seperti berhenti bekerja.
Tempat yang selama lima tahun terakhir kusebut rumah itu...
lenyap di depan mataku.
"Kakak..." suaraku pecah pelan. "Umi... Abi...?"
Tubuh Kak Waraqah langsung menegang.
Remaja itu memejamkan mata sesaat. Air matanya kembali jatuh tertiup angin malam.
Lalu, dengan tangan gemetar, ia menekan kepalaku ke dadanya agar aku tidak melihat ke belakang lagi.
Cambuknya menghantam tubuh kuda semakin keras.
Kami melesat menembus jalanan berbatu menuju perbukitan gelap di pinggiran kota Mekah.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭