NovelToon NovelToon
UNWANTED KALILA

UNWANTED KALILA

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Penyesalan Keluarga / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kalila Adiwangsa dianggap sebagai pembawa sial. Kelahirannya merenggut nyawa sang ibu, membuat ayahnya yang dingin dan ketiga kakak laki-lakinya Arkan, Rian, dan Reno menjadikannya orang asing di rumah sendiri.
Demi mencari perhatian, Kalila memakai topeng "badai": menjadi pemberontak dan perundung yang ditakuti di kampus. Namun, kerapuhannya hancur total saat Satya, pria yang ia cintai, menolaknya dengan hinaan pedih.
Di titik terendah hidupnya, sebuah vonis mati datang: kanker stadium akhir sedang menggerogoti tubuhnya.
Kini, Kalila harus memilih: terus mengemis cinta pada keluarga yang membencinya, atau pergi dalam diam menuju pelukan ibu yang tak pernah ia temui. Saat detak jantung terakhir mulai menghitung mundur, akankah penyesalan mereka datang sebelum segalanya terlambat?
"Lahir untuk dibenci, hidup untuk terlupakan, dan pergi untuk disesali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH DI ATAS GAUN PUTIH

Lantai kantin yang dingin adalah tempat terakhir yang diinginkan Kalila untuk bersimpuh. Namun, kesadarannya telah direnggut oleh kegelapan yang pekat. Di tengah riuh rendah suara mahasiswa, Satya terpaku. Ia menatap telapak tangannya yang kini ternoda warna merah pekat. Darah itu bukan berasal dari luka luar, melainkan mengalir deras dari hidung Kalila, merembes ke lantai, dan mengotori tumpukan buku hukum yang tadi ia bawa.

"Kalila? Kal!" Satya mengguncang bahu gadis itu. Tidak ada jawaban. Tubuh yang biasanya terlihat garang dengan jaket kulit itu kini terasa sangat ringan terlalu ringan, seolah hanya tersisa tulang dan kulit yang dibungkus keputusasaan.

Rian dan Reno berlari menghampiri dengan wajah pucat. Namun, bukannya rasa cemas yang pertama kali keluar, melainkan amarah yang dibalut rasa malu.

"Dia kenapa lagi? Mau bikin drama apa sekarang?" desis Rian. Namun, langkahnya terhenti saat melihat genangan darah itu. "Itu... darah?"

"Bawa ke rumah sakit, cepat!" bentak Satya, suaranya bergetar hebat.

Kalila terbangun dengan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bau obat-obatan kembali menyerang. Ia membuka mata perlahan, berharap ini hanya mimpi buruk. Namun, wajah kaku Arkan adalah hal pertama yang ia lihat. Kakak tertuanya itu berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan antara marah dan lelah.

"Sudah bangun, Ratu Drama?" suara Arkan terdengar datar, namun ada nada dingin yang menyayat.

Kalila mencoba duduk, namun rasa nyeri di ulu hatinya membuatnya kembali terbaring sambil meringis. "Di mana... teman-temanku?"

"Aku menyuruh mereka pulang. Aku tidak butuh gerombolan berandalan di rumah sakit ini," jawab Arkan. Ia melangkah mendekat, lalu melemparkan sebuah tas plastik berisi pakaian kotor Kalila yang terkena darah. "Dokter bilang kau kelelahan dan kurang gizi. Kau diet gila-gilaan supaya bisa pakai baju seksi itu, hah? Atau kau pakai obat-obatan terlarang?"

Kalila tertawa parau. Air mata mulai menggenang, namun ia tetap menatap Arkan dengan berani. "Iya, Kak. Aku pakai obat-obatan. Puas? Aku memang sampah, kan? Kenapa Kakak nggak biarin aku mati aja di lapangan tadi?"

"Jangan bicara sembarangan!" bentak Arkan. "Papa sudah cukup pusing dengan bisnisnya. Jangan tambah beban kami dengan kelakuan konyolmu ini. Segera sembuh, lalu pulang. Dan jangan pernah pingsan lagi di depan Satya. Kau mempermalukan Rian dan Reno."

Arkan keluar dari ruangan tanpa sekali pun menyentuh tangan adiknya atau sekadar bertanya, *“Bagian mana yang sakit, Lila?”*

Begitu pintu tertutup, Kalila terisak hebat. Ia memeluk bantalnya, mencoba meredam suara tangisnya yang pecah. Di laci meja rumah sakit itu, tergeletak hasil pemeriksaan Dokter Hendra yang sempat ia sembunyikan di dalam tas. Ia tahu, Dokter Hendra mungkin sudah bicara dengan Arkan, tapi ia juga tahu dokter itu terikat kode etik kecuali keluarga memaksa melihat rekam medis. Dan Arkan? Dia bahkan tidak repot-repot bertanya pada dokter tentang detail penyakit adiknya. Baginya, pingsannya Kalila hanyalah akibat dari gaya hidup nakal.

Dua hari kemudian, Kalila diperbolehkan pulang. Rumah itu masih sedingin biasanya. Arkan kembali ke kantor, si kembar kembali ke kampus, dan Papa sedang di luar negeri.

Di dalam kamarnya, Kalila merasa seperti sedang menunggu gilirannya untuk dieksekusi. Ia berjalan menuju lemarinya, mengambil sebuah kotak kayu tua yang ia sembunyikan di bawah tumpukan baju-baju gelapnya. Di dalamnya ada foto ibunya yang sudah menguning, dan sebuah gaun putih berbahan brokat yang sangat cantik. Gaun itu adalah gaun yang dipakai ibunya di hari ulang tahun terakhirnya sebelum mengandung Kalila.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Arkan berdiri di sana, memegang sebuah map cokelat. Wajahnya kali ini tidak hanya dingin, tapi tampak sangat tegang.

"Tadi seorang pria bernama Dokter Adrian menelepon ke rumah. Dia bilang kau melewatkan sesi konsultasi," kata Arkan. Matanya beralih ke kotak kayu di tangan Kalila, lalu ke arah tas rumah sakit yang masih terbuka, memperlihatkan hasil biopsi yang tidak sengaja menyembul keluar.

Arkan melangkah cepat, merampas map cokelat itu dari tas Kalila sebelum gadis itu sempat menghalanginya.

"Kak, jangan!" teriak Kalila.

Arkan membaca baris demi baris. Wajahnya yang semula keras perlahan-lahan memucat. Tangannya yang memegang kertas itu mulai gemetar.

*Karsinoma... Stadium IV... Metastasis Paru...*

"Apa... apa ini, Kalila?" suara Arkan nyaris hilang. "Ini... ini bercanda, kan? Kau memalsukan ini agar kami memperhatikannmu? Kau membayar dokter untuk menulis ini?"

Kalila berdiri diam. Air matanya mengalir tanpa suara. "Aku berharap aku punya cukup uang untuk memalsukan kematianku sendiri, Kak. Tapi sayangnya, sel-sel ini nyata. Mereka sedang memakan aku dari dalam, sama seperti kebencian kalian yang memakan jiwaku selama dua puluh tahun ini."

Arkan terduduk di tepi ranjang Kalila. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, ia menatap adiknya bukan sebagai beban, melainkan sebagai seorang manusia yang hancur. "Kenapa... kenapa kau tidak bilang?"

"Bilang pada siapa?" Kalila tertawa di tengah tangisnya. "Pada Papa yang bahkan tidak tahu apa warna favoritku? Atau pada Kak Rian dan Kak Reno yang menyebutku pembunuh setiap hari? Atau padamu, Kak? Kakak yang lebih peduli pada harga saham daripada napas adikmu sendiri?"

Kalila merosot ke lantai, memeluk gaun putih ibunya. "Aku cuma mau satu hal sebelum aku mati, Kak. Aku cuma mau kalian nggak benci aku lagi. Tapi ternyata, aku harus sekarat dulu baru Kakak mau melihatku seperti ini."

Arkan mencoba meraih bahu Kalila, namun gadis itu menjauh. "Jangan sentuh aku. Kemarin Kakak bilang aku memuakkan, kan? Sekarang aku memang benar-benar muak pada diriku sendiri."

Malam itu, Arkan duduk di ruang kerja ayahnya dengan botol wiski yang setengah kosong. Ia menatap foto ibunya. Penyesalan mulai merayap seperti racun ke dalam nadinya. Ia teringat bagaimana ia selalu mengabaikan Kalila yang menangis saat kecil. Ia teringat bagaimana ia membiarkan Rian dan Reno mengolok-olok adiknya tanpa pernah membela.

Sementara itu, di kamar sebelah, Kalila sedang menulis sesuatu di buku hariannya dengan tangan yang semakin lemah.

*“Ma, sebentar lagi Lila datang. Ternyata benar, dunia ini memang bukan tempat untukku. Maaf ya, Lila nggak bisa jadi anak yang membanggakan. Lila cuma bisa jadi anak yang menyusahkan sampai akhir.”*

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Satya.

*“Lila, aku di depan gerbang rumahmu. Bisa keluar sebentar? Aku mau mengembalikan bukumu yang tertinggal.”*

Kalila menghapus air matanya. Ia memoles wajahnya dengan bedak tipis untuk menutupi pucatnya. Ia keluar menemui Satya dengan langkah goyah.

Di bawah lampu jalan yang temaram, Satya menatap Kalila. Ia melihat ada yang berbeda. Gadis di depannya tidak lagi memakai riasan tebal. Ia hanya memakai kaos besar dan celana pendek. Wajahnya terlihat begitu kecil dan rapuh.

"Lila, soal yang di kantin kemarin... aku minta maaf," ujar Satya tulus. "Aku nggak tahu kalau kamu secapek itu."

Kalila tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Satya lihat. "Nggak apa-apa, Sat. Kamu benar, aku harus berubah. Dan sekarang, takdir lagi bantu aku buat 'berubah' total."

"Maksudnya?"

"Nggak ada. Makasih ya udah antar bukunya." Kalila berbalik, namun rasa sakit itu kembali menghantam paru-parunya. Ia terbatuk hebat, dan kali ini, gumpalan darah merah kental keluar dari mulutnya, membasahi tangannya dan jatuh ke aspal.

Satya terbelalak. Ia menangkap tubuh Kalila yang ambruk. "Lila! Apa yang terjadi?! Kamu sakit apa?!"

Kalila hanya bisa menatap langit malam yang tanpa bintang. "Sat... jangan kasih tahu mereka ya. Aku mau pergi... dengan tenang."

Di dalam rumah, Arkan yang melihat kejadian itu dari jendela balkon, langsung berlari turun dengan air mata yang akhirnya pecah. Ia berteriak memanggil nama adiknya, sebuah panggilan yang sudah terlambat dua puluh tahun lamanya.

Malam itu, kediaman Adiwangsa pecah oleh tangis. Bukan karena kematian sang ibu yang mereka ratapi setiap tahun, tapi karena mereka baru saja menyadari bahwa mereka telah membunuh satu-satunya peninggalan sang ibu yang paling berharga dengan tangan mereka sendiri.

1
aku
bawang 😭😭😭
RieNda EvZie
ceritanya bagus lho... good job, terus berkarya ya outhor...
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
susah komentnya
Hana Nisa Nisa
seduh bener😭😭😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
sedihhh
Hana Nisa Nisa
nyimak kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!