Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Paling Panjang dalam Hidupku
Di dalam kamar..
Hujan turun perlahan membasahi kaca besar apartemen Joyce malam itu. Lampu-lampu kota terlihat samar dari lantai dua puluh satu, menciptakan pemandangan yang biasanya menenangkan. Namun malam ini, semuanya terasa dingin dan sesak. Perubahan 360 derajat terlihat pada diri gadis itu, yang sangat berbeda ketika masih bersama dengan Rike. Terlihat sekali, gadis itu menutup luka di depan sahabatnya..
Gaun emerald yang masih dikenakan Joyce terjatuh begitu saja di lantai kamar setelah ia menutup pintu apartemen dengan keras.
Joyce berjalan limbung menuju dapur kecilnya. Tangannya gemetar saat menuangkan air putih ke dalam gelas. Tetapi sebelum sempat diminum, air matanya lebih dulu jatuh.
Satu.
Dua, dan prank....
Gelas dalam genggamannya, jatuh dan pecah begitu saja.
Ia jatuh terduduk dan menutup wajahnya sambil terisak pelan. Bayangan ballroom itu terus berputar di kepalanya.
Sorot lampu.
Tepuk tangan.
Cincin pertunangan.
Semua bayangan itu serasa nenari-nari di depan matanya, seperti iringan orchestra yang seakan sengaja mencemooh. Dan kembali bayangan Arka terlihat tersenyum sinis… lelaki yang selama ini mengaku mencintainya.
"Gombal semuanya..." tidak diduga, Joyce berteriak keras.
Tanpa disadarinya, tangannya meraih pecahan gelas yang ada di lantai. Sambil terus terisak.., gadis itu menggenggam pecahan gelas. Darah keluar dari telapak tangannya, namun Joyce seakan tidak merasakan apapun. Bahkan darah sudah mulai menetes ke bawah.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan sesaat membuat Joyce tersadar dan terdiam. Dadanya langsung menegang, dan terasa berdesir di dalam. Meskipun belum melihat keluar, ia tahu siapa itu. Gadis itu tetap terdiam, dan aura kemarahan terlihat di wajahnya.
"Tok.., tok.. tok..."
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan. Ia tetap mendiamkannya..
“Joyce… buka pintunya sayang, please. Kita perlun bicara sweety...”
Suara Arka terdengar lemah. Mendengarnya, Joyce memejamkan mata kuat-kuat.
Namun lelaki itu terus berbicara dari luar.
“Aku cuma mau jelasin semuanya sweety.”
Joyce tertawa kecil di sela tangisnya. Terdengar pahit.
"Menjelaskan?" tanyanya dalam hati
Apa yang harus dijelaskan dari seorang lelaki yang baru saja bertunangan dengan perempuan lain di depan ratusan orang?
Ketukan pintu kembali terdengar, dan kali ini bertambah kencang.
“Joyce… aku tahu kamu ada di dalam.”
Joyce khawatir jika tetangga kamar merasa terganggu dengan ulah Arka. Perlahan ia berjalan mendekati pintu, tetapi tidak membukanya. Ia bersandar di baliknya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“Pergi bedebah, pengkhianat.”
Suaranya lirih, nyaris pecah.
“Sweety, dengerin aku dulu. Please...”
“Untuk apa?” jawabnya cepat. “Untuk bilang kalau semua itu cuma salah paham?”
Di balik pintu, Arka terdiam sesaat.
“Aku terpaksa sweety. Please.. bukakan pintu sebentar saja, kita bicara baik-baik sayang”
Kalimat itu justru membuat Joyce menutup matanya erat. Air matanya jatuh lagi.
“Lebih baik seperti ini Arka Gunawan... Aku tidak akan ijinkan kakimu menginjak kamarku lagi. Dan, jangan pakai kata terpaksa untuk membenarkan pengkhianatan yang kamu lakukan.”
Suasana hening beberapa detik. Hanya suara hujan yang terdengar dari balik balkon apartemen.
“Aku nggak pernah berniat nyakitin kamub sayang, pahamkan itu,” ucap Arka pelan.
Joyce tertawa kecil lagi, kali ini lebih menyakitkan.
“Tapi kamu tetap melakukannya bukan?? Dan bahkan membohongiku, dengan beralasan dinas ke luar kota selama tiga hari. Bullshit.”
Emosi gadis itu kembali naik. Dadanya terasa sesak.
“Tiga tahun, Ka… Selama ini kita selalu bersama, merajut harapan di masa depan...”
Suaranya mulai bergetar.
“Tiga tahun aku percaya sama kamu. Aku nungguin kamu. Aku bahkan bela kamu di depan semua orang waktu mereka bilang kamu berubah. Tapi ternyata semuanya palsu.. palsu”
Isak tangis Joyce terdengar jelas. Di luar pintu, Arka menunduk frustrasi.
“Aku punya alasan.”
“Dan aku nggak butuh alasan itu lagi.”
Hening kembali memenuhi lorong apartemen. Lalu Joyce berkata dengan suara yang jauh lebih pelan.
“Kamu tahu bagian paling sakitnya apa Ka...?”
Arka diam.
“Aku membelamu di depan Rike, yang ternyata selama ini tahu bagaimana sikap dan kelakuan bejatmu. Aku rela keluar dari keluargaku hanya karena membelamu. Kamu ingat dan dengar itu Ka...??”
Kalimat itu menghantam Arka tanpa ampun.
Joyce mengusap air matanya kasar.
“Aku berdiri di bawah panggung… sambil lihat laki-laki yang aku cinta masang cincin buat perempuan lain.”
Suara Joyce mulai pecah sepenuhnya. Arka memejamkan mata frustasi di balik pintu.
“Joyce, please…”
“Aku capek, Ka. Pergi dan pulanglah, keluargamu atau bahkan tunanganmu menunggu di rumah. Lupakan aku, atau go to hell sekalian sana...”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Joyce terdengar benar-benar kehilangan tenaga.
“Kalau kamu masih punya sedikit rasa sayang sama aku… pulang.”
Sunyi. Lama sekali. Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki Arka menjauh perlahan dari depan apartemen.
Dan saat suara lift tertutup…Joyce akhirnya jatuh terduduk di lantai. Menangis sendirian dalam apartemen yang mendadak terasa terlalu sepi.
******************
Kamar....
Celine duduk membeku di pinggir ranjang. Terlihat kemarahan merona di wajah yang sudah bersih dari riasan. Gadis itu tampak menunggu..
"Non Celine... makan dulu non, keburu malam..Sepertinya Tuan Arka masih lama dengan urusannya.."
Seorang asisten rumah tangga, tampak merayu nona rumahnya.
"Urusan..memang urusan apa..?? Semua orang juga tahu Bi.. yang namanya orang bertunangan itu pakai adab, dan etika tata krama. Tidak meninggalkan sendiri tunangannya setelah menyematkan cincin. Apakah dia pikir aku ini batu, yang tidak punya rasa malu pada para tamu..."
Gadis itu mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya.
"Aku yakin.. semua pasti gara-gara perempuan yang tadi nyelonong masuk ke ballroom. Dengan tidak tahu malunya, di intimate party bisa masuk tanpa membawa undangan. Akhirnya membuat kekacauan disana.."
"Iya non... bibi paham. Tapi ga ada untungnya non.., jika non Celine sampai harus menahan lapar. Ayuklah non... keburu dingin masakannya nanti.."
Tanpa bosan, asisten itu berusaha membujuk nona besarnya.
"Menurutmu, kak Arka menemui perempuan laknat itu tidak bi..?? Sampai tidak ada komunikasi sedikitpun sejak keluar dari ballroom tadi.."
Asisten itu merasa serba salah.
"Jangan terlalu over thinking non.. Bibi yakin tidak.., mungkin tuan Arka benar-benar ada urusan penting Bagaimanapun tuan Arka kan CEO perusahaan non.. jadi banyak collega, atau mitra yang ingin bertemu dengannya"
Tidak bermaksud membela, asisten tanpa sadar malah menutup Arka Gunawan. Dia hanya ingin nona mudanya tidak memendam kesedihan, dan mau makan malam ini. Meski dalam hatinya, turut merasa jengkel dengan kelakuan Arka Gunawan.
"Terserah bi... mau membela Arka seperti apa. Tapi yang pasti, malam ini aku tidak mau makan.. aku tidak lapar. Mungkin makan kak Arka... baru aku merasa puas.."
Gadis itu malah membaringkan tubuhnya, kemudian menarik selimut dan menutup dirinya.