NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Elsa langsung melompat dari atas kasur sambil menyahut, "beneran yah?"

"Ya"

"Tapi kenapa tadi tante Vanessa nggak kasih tahu aku?"

"Ayah baru memutuskannya, belum sempat memberitahunya."

Apa kegirangan. "Kalau gitu ayah jangan kasih tahu tante Vanessa setelah pulang, kita kasih kejutan buat tante Vanessa oke?!"

"Ya"

"Saya memang yang terbaik! Sayang banget deh!"

Setelah telepon ditutup, Elsa masih tanpa kehilangan, penyanyi dan melompat di atas kasur.

Setelah beberapa saat tiba-tiba dia teringat Clara.

Beberapa hari terakhir, ibunya tidak meneleponnya jadi suasana hati yang sangat bagus.

Sebenarnya, agar tidak ngompol dengan ibunya ditelepon. Beberapa hari lalu dia sengaja keluar rumah lebih awal, sepulang sekolah dia bahwa sengaja menjawab ponselnya jauh-jauh atau bahkan mematikan.

Setelah 2 hari melakukannya, berusaha menghentikannya dia khawatir ibunya akan marah jika mengetahui nya.

Tapi tidak disangka, sama beberapa hari berikutnya ibunya tak kunjung menelponnya.

Awalnya, dia menilai ibunya tahu bahwa dia menghindarinya.

Tapi setelah dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman sebelumnya ibunya akan langsung menegurnya tidak akan mengabaikannya.

Bagaimanapun dirinya ada sosok penting di hati ibunya, ibunya paling menyayanginya jadi mustahil ibunya tidak menelepon hanya hanya karena marah pada.

Saat memikir semua itu tiba-tiba muncul sedikit kerinduan di hati kecil Elsa.

Ini adalah kali pertama dia merindukan ibunya, Clara.

Dia tak kuasa menahan diri untuk menelepon ibunya.

Tapi saat baru saja menaikkan layar ponsel, Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Meski setelah pulang dari luar negeri dia bisa bertemu tante Vanessa lagi, tapi dengan sifat ibunya. Ibunya pasti akan menghalanginya tidak mengizinkan dia bertemu tante Vanessa.

Dia tidak akan sebebas di latvin, kapanpun bisa bertemu dengan Vanessa.

Begitu memikirkan ini suasana hati Elsa langsung memburuk.

Di sisi belahan marola sekarang ini masih pagi dini hari.

Clara sudah tertidur.

Dia terbangun karena panggilan telepon Elsa.

Begitu terbangun dan melihat nama Elsa di wilayah ponselnya, Clara langsung bersiap ngangkatnya tapi malah dimatikan Elsa karena marah.

Dalam surat cerai sebelumnya dia memang menyebutkan bahwa Clara menyerahkan hak asuh Elsa pada Edward, tapi Elsa tetap adalah Putri semata wayangnya.

Sebagai ibunya, dia masih memiliki tanggung jawab.

Saat melihat Elsa meneleponnya dan langsung mematikannya, pun takut terjadi sesuatu pada putrinya itu lalu langsung menelepon balik.

Elsa tentu tahu itu tapi dia segera memalingkan wajahnya, tidak mau mengangkat telepon.

Clara justru semakin khawatir, Dia segera menghubungi telepon villa di sana.

Bibi sawi pun mengangkat telepon itu selesai mendengarkan penjelasan Clara, bibi Sari buru-buru berkata: "harusnya nona Elsa baik-baik saja, semalam nona Elsa memang tidur terlalu malam wajar dia terlambat bangun hari ini tadi saya melihat nona Elsa belum bangun. Coba saya lihat ke atas lagi untuk memastikan, nanti ibu akan saya hubungi lagi."

Mendengar bibi Sari, Clara merasa lega. "Oke, maaf merepotkan"

Saat bibi sari ke atas, Elsa sudah berada di kamar mandi.

Setelah bibi sari menjelaskannya elsa tampak sedang berkumur sembari menundukkan kepala dan berbohong. " Nggak sengaja ketekan tadi"

Bibi sari tidak curiga sedikitpun melihatnya masih menggosok gigi dia langsung turun untuk memberi kabar pada Clara.

Melihat ini, Elsa mendengus dingin akhirnya suasana hatinya membaik.

Di sisi lain, Clara juga merasa lega saat mendengar penjelasan bibi sari.

Namun, karena tiba-tiba terbangun di malam hari Clara membutuhkan waktu yang lama untuk kembali tertidur, jadi saat bekerja keesokan harinya dia terlihat lesu.

Sementara amplop berisi surat cerai yang diberikan Clara untuk Edward , setelah dia menerimanya panggilan telepon saat itu upload itu pun terlupakan olehnya.

Saat tiba waktunya untuk pulang ke Marola, edward memasukkan dokumen terakhir ke dalam tas kerjanya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dia pun berbalik dan pergi ke bawah.

"Oke, ayo berangkat."

Mobil Limousine segera melaju meninggalkan villa, menuju bandara.

......

Mengenai kepulangan Edward dan Elsa ke Marola, Clara tidak tahu sama sekali.

Tidak ada yang memberitahunya.

Sudah setengah bulan lamanya, semenjak dia pergi dari villa itu.

Selama periode itu, perlahan mulai terbiasa dengan kehidupannya, dan mulai menyukai kehidupan seorang diri yang tenang dan santai.

Kebetulan hari ini adalah akhir pekan, dia bangun sedikit terlambat dari biasanya.

Setelah mencuci muka dia membuka tirai melihat sinar matahari di luar jendela, meregangkan tubuhnya lalu menyiram tanamannya saat hendak memasak sarapan, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.

Ternyata itu Bu Cindy tetangga depan rumah.

"Mbak Clara, aku nggak ganggu kan?"

Clara menjawab dengan lembut. "Enggak kok, aku sudah bangun tadi"

"Syukurlah kalau begitu" Bu Cindy dengan ramah lanjut berkata: "ini aku bawakan roti dan risol buatanku, silakan dicicip."

"Makasih, anu ... Maaf merepotkan."

"Enggak kok, kalau bukan karena Mbak Clara yang nyelamatin Bella beberapa hari lalu, entah apa yang terjadi sama bila setelah digigit anjing gila itu. Sebenarnya sudah beberapa hari aku ingin berterima kasih tapi kami selalu sibuk nggak punya waktu jadi nggak enak..."

"Nggak perlu sungkan, itu hanya bantuan kecil kok."

Setelah mengobrol sebentar, Bu Cindy pun pergi.

Clara masuk ke dalam rumah, lalu menyantap sarapan sambil melihat mekanisme algoritma AI yang baru saja dipelajari.

Sore harinya, sebuah berita terkait perayaan 100 tahun universitas nano muncul di ponselnya.

Clara pendiam sejenak, dia lantas melihat kalender dan baru ingat kalau hari ini adalah hari jadi universitas Nano.

Dia menjelajahi dunia maya, lalu menemukan beberapa pencarian populer tentang perayaan seratus tahun universitas Nano.

Alasan kenapa perayaan hari jadi universitas Nano begitu popular kali ini, bukan hanya karena universitas Nano merupakan kampus terbaik nomor 1 di Marola, di mana tiap gerakannya selalu menjadi pusat perhatian, tapi juga karena perayaan kali ini adalah perayaan ke 100 pertama untuk universitas Nano. Jadi, di daerah banyak alumni kehormatan yang diundang untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut.

Tentu saja, semua alumni kehormatan yang diundang merupakan tokoh-tokoh terkenal di bidang masing-masing.

Telah melihatnya beberapa kali. Tanpa terasa tangan Clara yang memegang ponsel bergetar saat melihat beberapa wajah familiar yang muncul.

Kenangan masa lalu di kampus langsung terlintas satu persatu dipikirannya.

Detak jantungnya, pun tak karuan.

Jika saja setelah wisuda dirinya tidak cepat-cepat menikah, bisa jadi dia yang akan menjadi salah satu alumni kehormatan, yang tentu saja diundang oleh kampus untuk berpartisipasi dalam perayaan itu!

Clara lantas mematikan laptop miliknya setelah ragu sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke universitas Nano.

Saat ini, hari sudah mulai sore.

Banyak pejabat dan alumni yang sudah meninggalkan lokasi.

Tapi di dalam universitas itu masih ada banyak orang.

Clara berjalan tanpa tujuan mengitari kampus, saat tiba di lantai bawah gedung laboratorium sebuah suara familiar terdengar memanggilnya.

"Clara?"

20 menit kemudian, kedai teh sekitar universitas Nano.

Dylan Bramantyo menuangkan secangkir teh untuk Clara:

" Gimana kabarmu, Clara?"

Clara tertunda, sembari memegang secangkir teh dan tersenyum tipis:

"Sangat baik, hanya saja... Aku sedang menyiapkan perceraian."

Dylan tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu, dia pun terdiam sejenak.

"Maaf ya."

"Nggak apa-apa."

"Terus apa rencanamu selanjutnya? Mau balik ke perusahaan nggak?"

"Ada rencana seperti itu sih, tapi...."

Dylan tidak tahu apa yang menjadi kekhawatiran Clara, tapi dia berkata dengan serius:

"Clara, perusahaan butuh kamu kamu juga punya Andil di perusahaan itu, jadi aku harap kamu bisa kembali dan memimpin perusahaan."

"Aku,aku..."

Melihat kesuksesan Dylan, Clara tak sanggup lagi berkata-kata.

Bukannya tidak mau,

Tapi perkembangan AI terlalu cepat baginya.

Dia sudah 6 tahun tidak berkecimpung di dunia teknologi, meski sekarang kembali dia takut tidak akan mampu mengimbangi perkembangan zaman apalagi memimpin semua orang digaris depan industri teknologi seperti yang pernah dilakukan di masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!