Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
Maxime tampak membeku di tempatnya. Menatap gadis yang kini sedang berdiri disampingnya, menyajikan makanan di atas meja.
Wajahnya yang cantik dengan kulit yang tampak halus seperti porselen. Rambut panjangnya terikat rapi, tampak berkilauan diterpa cahaya lampu, menambah pesona yang sulit diabaikan. Ada ketenangan dalam setiap gerakannya, membuat kecantikannya bukan hanya terlihat, tetapi juga terasa menenangkan.
Aroma mawar yang lembut menguar dari tubuhnya, samar-samar, mengusik indra penciumannya yang tajam. Bukan mengganggu, melainkan membuat dadanya berdesir aneh.
Melihat Maxime terpaku, membuat kepala pelayan berdeham pelan, menyadarkan pria itu seketika.
Maxime ikut berdeham, menutupi rasa malu yang seketika menyelimutinya.
"Ini pelayan baru yang akan menggantikan tugas Junita, Tuan." jelas Pak Dul, memperkenalkan Alya. Ia lalu menoleh, menatap gadis itu. "Perkenalan dirimu pada Tuan."
"Selamat pagi, Tuan. Nama saya Alya, Alya Shyfa." ucapnya, sambil sedikit membungkuk hormat padanya.
Namun Maxime lagi-lagi terdiam, menatap Alya tanpa berkedip, seolah terhipnotis dengan kecantikannya yang alami.
Gadis itu hanya memakai bedak tabur juga pelembap bibir, tanpa riasan wajah yang mencolok. Namun, cukup untuk menonjolkan pesona wajahnya yang polos.
"Ehem..." Kepala pelayan kembali berdeham.
"Menikahlah dengan ku!" kata-kata itu keluar dari mulut Maxime begitu saja, tanpa ia sadar.
Baik Pak Dul, maupun Alya hanya tertegun di tempatnya. Terutama Alya. Gadis itu tampak mengerutkan kening, merasa bingung, apakah ia salah dengar, atau tuannya memang mengatakan hal itu kepadanya.
Maxime yang merasa bodoh, seketika menenangkan dirinya. Ia lalu berpaling, untuk menutupi rasa malunya yang besar.
Ia menghela napas sejenak, lalu menyantap hidangan di hadapannya dengan raut wajah tenang dan santai, seolah tidak ada yang terjadi.
"Hmm... pergilah! Urus pekerjaan mu yang lain." ucap kepala pelayan pada Alya.
"Baik, Tuan. Permisi." Alya berjalan cepat, meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa penuh kecanggungan itu.
Sementara Maxime tenggelam dalam rasa malunya sendiri.
Sial! Sepertinya hangover ku sangat parah.
*
*
Alya kembali melakukan pekerjaannya. Ia tidak lagi memperdulikan perkataan tuannya yang terdengar aneh. Mungkin pria itu hanya salah bicara, pikirnya.
Ia menyusuri lorong yang mengarah ke dapur ke luar. Namun,
Brak!
Alya di tabrak oleh seorang pria yang tampaknya sedang terburu-buru saat itu. Ia berjalan dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, sehingga tidak sadar menabrak tubuh Alya yang hampir jatuh.
"Maaf, Nona." pintanya dengan suara gemetar, ia tampak gugup. "Saya tidak sengaja menabrak Anda. Saya sedang terburu-buru."
"Tidak apa-apa, Tuan." sahut Alya, ramah.
Namun, pria itu malah terpaku di tempatnya. Ia tampak bengong, dengan mulut yang menganga.
"Apa kau bidadari yang turun dari kayangan, Nona?" tanyanya, seolah terhipnotis.
"Hah?!" Alya tampak kaget, sekaligus bingung.
Ada apa dengan semua pria hari ini? Apa mereka salah makan, atau salah minum obat?
Alya hanya tersenyum canggung, menanggapi perkataannya.
"Saya permisi, Tuan." pamitnya, lalu segera berlalu dari hadapan pria itu yang masih terlihat membeku di tempatnya.
🌺🌺
"Hei, Alya. Kenapa kau melamun di sini? Tidak makan siang? Ini sudah jam istirahat, lho." tanya Mira, ketika menghampirinya di dekat kolam renang.
Gadis itu sedang duduk sendirian, menatap kosong ke arah kolam renang yang sudah terlihat bersih.
Alya baru saja membersihkan kolam dari daun-daun kering yang berjatuhan.
"Aku tidak melamun. Aku hanya sedang memikirkan ibu ku."jawabnya lirih.
"Memangnya ada apa?" tanya Mira, penasaran sekaligus khawatir.
Alya terlihat menghela napas sejenak, terdengar berat.
"Aku butuh pekerjaan baru." jawab Alya pelan.
Mira seketika mengerutkan dahinya. "Kau mau berhenti bekerja di sini?"
"Bukan. Aku butuh pekerjaan tambahan."
"Pekerjaan tambahan? Tapi... bagaimana caranya?" tanya Mira bingung. "Kau saja sekarang bekerja hingga malam hari. Kau juga harus menjaga ibumu di rumah."
"Lalu... kapan kau bisa bekerja di tempat lain? Bagaimana caramu membagi waktu?" lanjut Mira tidak mengerti.
"Aku juga bingung. Tapi... aku butuh uang banyak, segera. Ibu akan dioperasi bulan depan. Dan... biayanya tentu tidak sedikit. Aku juga tidak punya kartu kesehatan." Ia seolah kehabisan kata.
Alya sangat bingung.
Mira tentu saja bisa mengerti kondisinya, namun ia sedih karena tidak bisa membantunya.
"Maaf, aku juga tidak bisa membantumu." ucap gadis berambut sebahu itu, sedih.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." sahut Alya, menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Hmm... bagaimana jika kau meminjam uang dari Tuan? Aku yakin dia akan membantumu." usul Mira, mencoba mencarikan jalan keluar untuknya.
Idenya tidak buruk, namun ia terlihat ragu untuk melakukannya. Alya tidak suka berhutang bahkan sebisa mungkin menghindarinya. Karena ia sadar jika hutang hanya akan mempersulit kehidupannya sendiri nantinya.
"Meminjam uang adalah pilihan terakhir. Aku ingin berusaha dulu dengan cara lain."jelas Alya, penuh keseriusan.
"Aku hanya bisa berdoa, agar kau bisa kuat menghadapinya. Pasti ada jalan."sahut Mira, yakin.
Alya tersenyum lirih.
"Sekarang, lebih baik kau makan siang dulu. Kau tidak akan bisa berpikir dengan perut kosong." saran Mira.
"Baiklah."
🌺🌺
Sementara itu di kantor, Maxime tampak melamun sambil sesekali terlihat terkekeh pelan. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya saat ini.
"Kau terlihat seperti pria bodoh saat ini. Apa kau sadar itu?" ucap Jonathan, memperhatikan tingkah aneh Max ketika memasuki ruang kerja pria itu.
Ia sudah lima menit berdiri di hadapannya, memandangnya dengan sorot mata penuh keanehan.
"Apa kau tidak berniat memeriksakan kondisi psikis mu? Jika kau mau, kebetulan aku punya kenalan seorang wanita yang berprofesi sebagai Psikiater." ucapnya, santai.
Maxime seketika menghunuskan tatapan tajam pada pria di hadapannya. "Apa kau juga punya kenalan seorang dokter spesialis ortopedi?" tanyanya dingin.
"Hmm... tidak. Tapi aku bisa mencarikan dokter terbaik untukmu." jawab Jonathan, terlihat polos. "Kenapa? Apa tulang sendimu sakit?"
"Bukan untukku... tapi untukmu." Maxime tampak tersenyum, namun senyumnya terlihat dingin, menakutkan.
Jonathan seketika menutup mulut. Nyalinya seketika menciut.
Ia lalu duduk di hadapan Maxime yang masih menatap tajam ke arahnya, seolah tatapannya itu bisa membelah tubuhnya jadi dua bagian.
"Bagaimana keadaan mu hari ini? Kau tampak sehat dan... terlihat senang. Apa ada sesuatu yang terjadi pagi ini?"
"Tidak ada." jawabnya ketus.
"Pasti ada sesuatu, kan. Jarang-jarang kau senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh begitu." sindir Jonathan, sengaja mengejeknya.
"Kau benar-benar minta di hajar, ya. Pergi sana! Jangan rusak hariku!" usirnya, kasar.
"Haha... Sorry, sorry! Aku tidak akan mengganggumu lagi.
Ia lalu menghela napas sejenak. Raut wajahnya terlihat serius kali ini.
"Apa kau sudah mendengar kabar dari Kevin hari ini?" tanya Jonathan, tampak serius.
"Kabar apa?"
"Kabar tentang pernikahan... Amanda." jawab Jonathan, tatapannya terlihat serius.
"Aku tidak tahu." jawab Maxime dingin.
🌺🌺
mengalihkan duniakuu~