NovelToon NovelToon
Benang Takdir Yang Tersilang

Benang Takdir Yang Tersilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ARQ ween004

Hidup gadis itu sederhana___terlalu sederhana untuk seseorang yang selalu merasa seperti tidak berada di tempat yang tepat. Saat keadaan memaksanya dirinya merantau ke kota, semuanya berubah ketika tanpa sengaja ia terseret masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga terpandang__Algara.

Salah satu pemuda pewaris keluarga itu membencinya sejak hari pertama kedatangan nya.

Baginya, gadis itu hanyalah masalah yang datang tanpa permisi. Pengganti yang tak seharusnya di akui. Namun semakin ia mencoba menjauh, gadis itu justru semakin mengganggu pikirannya. Sikap hangat gadis itu merusak dinding-dinding dingin yang selama ini ia bangun.
Hingga perlahan… kebencian berubah menjadi ketergantungan.
Ketergantungan berubah menjadi rasa yang ia benci akui; cinta.

Tanpa tau ada rahasia lama yang terkubur dalam malam kelahiran tiga anak di sebuah fasilitas darurat bertahun-tahun lalu.
Rahasia yang tidak pernah dibicarakan.
Tidak pernah dicari. tak pernah di sadari...

Bersambung...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MANSION ALGARA

Mobil hitam itu berbelok memasuki sebuah jalan pribadi yang lebar dan sunyi. Di kanan-kirinya, pagar tinggi dari besi hitam berdiri memanjang, mengiringi perjalanan mereka seperti lorong menuju dunia lain.

Cahaya menatap keluar jendela. Jantungnya berdetak semakin cepat.

    Ia tahu... Ini bukan jalan perumahan biasa.

Saat mobil melambat mendekati sebuah gerbang besi raksasa dengan ukiran emas, Cahaya terpaku. Gerbang itu begitu megah hingga ia merasa seperti sedang berada di sebuah film, bukan kehidupan nyata.

Dua penjaga berseragam formal membungkuk hormat, lalu gerbang otomatis itu terbuka perlahan…

Dan saat gerbang itu benar-benar terbuka---

Cahaya menahan napas.

Halaman rumahnya… bukan halaman biasa, ia seperti memasuki negeri dongeng saking megah dan mewahnya.

Begitu mobil masuk, Cahaya langsung disambut pemandangan yang membuat bulu kuduknya meremang___Bukan karena takut… tapi karena takjub.

Sebuah taman terbentang luas sejauh mata memandang.

Rumputnya rapi, setinggi beberapa sentimeter saja, seperti karpet hijau tanpa cela. Barisan bunga berwarna-warni___Mawar putih, lily kuning pucat, hydrangea biru, membentuk pola melingkari jalan batu hitam yang mengarah ke rumah utama.

Setiap kelopak tampak masih basah seperti habis di siram.

Di sisi kanan, sebuah air mancur besar dari marmer putih berdiri mewah. Airnya memancur lembut dari patung malaikat kecil di puncaknya, menciptakan suara gemericik yang menenangkan. Cahaya menatapnya lama… seperti ingin memastikan itu bukan mimpi.

Di sisi kiri, pohon-pohon besar berjejer rapi, batangnya kokoh, daunnya rimbun. Angin sore membuat dedaunan itu bergoyang perlahan, dan cahaya matahari menembus sela-selanya menciptakan bayangan yang indah di permukaan tanah.

Kelopak bunga yang tertiup angin berjatuhan satu per satu… seperti hujan kecil yang wangi.

Sebuah aroma mahal campuran mawar segar, pinus, dan sedikit wangi parfum kayu, mengisi udara.

Jalan menuju rumah itu panjang, berlapis batu hitam mengilap yang bersih tanpa noda sedikit pun.

   Dan di ujung sana…

Berdiri sebuah mansion empat lantai, arsitektur campuran modern dan klasik. Dindingnya berwarna putih gading dengan ukiran elegan di beberapa sudut. Pilar-pilar tinggi menopang teras depan, jendelanya besar-besar berbingkai emas kusam, sementara balkon di lantai dua tampak seperti tempat seorang putri berdiri menanti pangeran.

Atapnya tinggi, kokoh, dan bersih, dipenuhi cahaya matahari sore yang memantul indah.

Cahaya membulatkan mata. Mulutnya sedikit terbuka tanpa ia sadari.

Ia bahkan tidak tahu rumah seperti ini benar-benar ada di dunia nyata.

Perasaannya berkecamuk.

Ia terpukau. Terperangah. Kagum. Tak percaya.

Tapi di balik semua itu… ada rasa kecil lain yang muncul.

    Takut.

Bukan takut pada bahaya, melainkan pada kenyataan bahwa tempat seperti ini, kehidupan seperti ini, terlalu jauh dari dunia tempat ia berasal.

Kos pengap berukuran tiga kali empat meter tiba-tiba terasa seperti bagian dari kehidupan lain. Panas jalanan, keringat, dan rasa lapar sejak pagi terasa begitu kontras dengan dunia yang kini terhampar di hadapannya.

Saat mobil mendekati tangga depan mansion, Cahaya meremas map ijazah di dadanya. Telapak tangannya dingin.

   Apa aku… pantas berada di sini?

Apa aku… boleh menginjak tempat seindah ini?

Kalau aku turun dari mobil ini… apa aku akan membuat lantainya kotor?

Tenggorokannya tercekat oleh pikiran-pikiran itu.

Namun di sebelahnya, Emelly masih menggenggam tangannya___erat dan hangat. Seakan ingin mengatakan. Kamu diinginkan di sini.

Chensen memarkir mobil tepat di depan anak tangga marmer putih. Ketika mesin dimatikan, Cahaya kembali menatap mansion itu untuk terakhir kalinya sebelum turun.

“Bevva… sayang, turun yuk,” ucap Emelly lembut sambil mengelus punggung tangan Cahaya.

Cahaya tersentak kecil, lalu menoleh. Tatapannya yang sejak tadi terpaku pada kemegahan mansion itu perlahan beralih ke Emelly yang masih menggenggam erat tangannya, seolah takut Cahaya akan hilang jika dilepaskan.

  “Tante…?” bisiknya gugup, suaranya nyaris tak terdengar.

Emelly hanya tersenyum lembut sambil mengelus pipi Cahaya. “Ayo turun, Nak,” katanya penuh kehangatan.

   Tak ada ruang untuk menolak. Cahaya mengangguk pelan dan membuka pintu mobil. Udara taman menyentuh kulitnya___sejuk dan bersih. Emelly turun lebih dulu tanpa melepaskan genggaman tangan Cahaya, sementara Chensen menyusul dari belakang dengan langkah tenang, sorot matanya waspada___seolah takut harapan istrinya kembali runtuh.

Pintu utama mansion setinggi 3 meter itu, terbuat dari kayu ebony hitam pekat dengan ukiran halus berbentuk bunga dan garis-garis klasik khas arsitektur Eropa. Gagang pintunya berwarna emas matte, tampak berat namun elegan.

Begitu pintu terbuka…

Cahaya membeku untuk kedua kalinya.

Langkahnya otomatis terhenti di ambang pintu.

Interior rumah itu… jauh lebih mewah dibandingkan halamannya. Lorong masuknya luas, lantainya terbuat dari marmer putih keperakan dengan pola urat-urat lembut seperti awan tipis. Cahaya melihat bayangan dirinya memantul samar di permukaan lantai yang mengilap, dan itu saja cukup membuatnya menggigit bibir gugup___takut sepatunya yang lusuh mengotori lantai itu.

Atapnya tinggi, mungkin hampir empat meter, dengan lampu kristal besar menggantung tepat di tengah ruangan. Kristal-kristal bening itu memantulkan cahaya lampu ke segala arah, menciptakan kilau lembut seperti bintang jatuh kecil.

Dindingnya berwarna putih gading, dipadukan dengan lis berukir tipis berwarna emas antik. Beberapa lukisan klasik ukuran besar menggantung rapi___pemandangan pegunungan, potret wanita bangsawan, dan laut tenang saat senja.

Ada tiga pintu besar di area depan.

satu menuju ruang tamu, satu ke ruang keluarga, satu lagi ke koridor panjang yang mungkin mengarah ke ruang dalam.

Begitu Cahaya mengalihkan pandangan ke ruang tamu, ia kembali terpana.

Sofa mewah berbahan beludru abu muda dengan kaki kayu ukir berlapis emas berdiri anggun di tengah ruangan. Bantal-bantal kecil warna pastel menghiasi setiap sudutnya. Di atas meja kaca besar, ada vas kristal berisi bunga mawar segar yang baru dipotong___aromanya lembut dan mahal.

Semuanya terlalu cantik. Terlalu rapi. Terlalu jauh dari dunia Cahaya.

Langkah nya semakin pelan. Tangannya sedikit bergetar pada genggaman Emelly. Ia merasa segan… dan sangat tidak nyaman.

Bagaimana tidak?

 Ia hanyalah gadis desa dengan kaus lusuh, sepatu murahan, dan rambut sedikit lepek akibat debu jalanan. Dan sekarang ia berada di rumah sebesar istana… berjalan bersama pasangan kaya raya yang memperlakukannya seperti harta paling berharga.

Rasanya… salah. Rasanya… ia tidak pantas berdiri di sini. Di tempat ini.

Ia merasa setiap langkahnya terlalu keras, suaranya bergema, udara terasa asing, bahkan wangi rumahnya terlalu mahal untuk dihirup oleh seseorang seperti dirinya.

Emelly merasakan keraguan itu dan menguatkan genggaman tangannya. “Tidak apa-apa, Nak,” ucapnya lembut dengan mata berkaca-kaca. “Ini rumahmu. Ada Mama di sini.”

Kata-kata itu membuat dada Cahaya sesak. Ia menunduk dalam. Dadanya terasa sesak. Ada rasa bersalah, rasa takut, rasa iba, dan rasa… hangat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat mereka memasuki ruang tengah, lima pelayan berdiri berbaris, menundukkan kepala hormat.

“Selamat datang kembali, Tuan… Nyonya…”

Tatapan mereka lalu secara otomatis terarah pada Cahaya.

Beberapa mata melebar kecil___kaget. Beberapa lainnya terlihat bingung. Namun tak ada yang berani bertanya.

Cahaya ingin mundur. Ingin bersembunyi. Ingin berkata bahwa ia bukan siapa-siapa. Namun Emelly menarik tubuhnya sedikit lebih dekat. “Bevva, sini, Nak. Jangan jauh-jauh dari Mama,” katanya sambil merangkul bahu Cahaya.

Chensen menutup pintu, kemudian memberi isyarat halus kepada kepala pelayan. Wanita itu segera menghampiri.

“Siapkan kamar paling dekat dengan kamar Nyonya,” ujar Chensen, suaranya berusaha tetap stabil. “Dan___siapkan pakaian ganti untuk… Cahaya.”

Cahaya tersentak dan langsung menggeleng. “Om, nggak usah. Saya nggak perlu kamar. Saya bisa tunggu di luar atau--”

Belum selesai, Emelly memotong cepat sambil menggenggam kedua tangan Cahaya. “Tidak, sayang,” katanya lembut namun tegas. “Mama ingin kamu istirahat. Kamu pasti capek...” Tatapan itu… sepenuh harap dan cinta yang salah alamat.

Cahaya kembali ingin menolak, tetapi Chensen menatapnya___tatapan seorang ayah yang bukan memohon sebagai lelaki kaya… tetapi sebagai suami yang berusaha melindungi perempuan yang ia cintai.

“Tolong ya, Nak.” Suaranya dalam, jujur, dan sangat manusiawi.

Cahaya menggigit bibir. Mengangguk kecil___Pelan sekali. “B-baik…”

Kepala pelayan membungkuk dan segera memberi instruksi pada dua pelayan lain untuk menyiapkan kamar dan pakaian. Cahaya berdiri canggung di tengah kemegahan itu hingga pandangannya tertarik pada sebuah foto besar di dinding kanan ruang tamu.

  Foto keluarga...

1
ARQ ween004
hallo guys... semoga kalian suka sama karyaku yang ini ya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!