NovelToon NovelToon
Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Patahhati / Perjodohan
Popularitas:63.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mrs.Kang Chi

Jodoh, Kematian, Kebahagian, Kecelakaan di tangan Allah SWT. Tapi manusia dengan kuasanya, berbuat seperti kehendak Tuhan, mengatur perjodohan. Yang terlahir lebih dulu harus menikah lebih dulu.

Seorang lelaki memakai koko putih dengan celana panjang duduk dikursi dengan sopannya berhadapan dengan ayah dari seorang wanita. Lelaki itu dengan ramahnya membuka suaranya.

" Bapak, kedatangan saya kemari untuk melamar anak bapak!"

" Nak, bapak tidak menolak lamaranmu, tapi bapak berikan kamu pilihan, jika kamu ingin menikah cepat silahkan menikahi kakaknya, jika bisa menunggu kalian tunangan saja dulu." Ucap lelaki yang sudah sedikit beruban dengan pakaian berbatik.

Lelaki dihadapannya tampak menatap tidak percaya dengan ucapan ayah dari si wanita yang tertunduk tampak menahan air matanya.

Apakah yang akan dipilih lelaki ini? Menikahi kakaknya atau tetap menikahi adiknya dengan menunggu pernikahan kakak dari wanita yang disukainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.Kang Chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ahsan Sakit

Rasa kehilangan itu menyesakkan dada, Ahsan mencari tahu kesana kemari. Raniyah menghilang bagaikan ditelan bumi. Separuh hidupnya terasa hampa, bahkan sampai ia jatuh sakit. Melihat kondisi Ahsan yang terbaring lemah dikasur rumah sakit, membuat ibunya tidak tega.

Saat itu, Ahsan sudah seminggu dirawat di rumah sakit, Daiyan memeriksa keadaan Ahsan yang terbaring tak berdaya itu. Sesekali sudut mata ibunya terlihat menitikkan air mata. Rasa iba memenuhi sanubarinya.

" Nak Dai, gimana keadaannya?" Tanya ibunya Ahsan lemah.

" San harus istirahat yang cukup," Ucap Daiyan.

" Apa kamu gak tau dimana adik iparmu sekarang?" tanya ibunya Ahsan.

Daiyan menggelengkan kepalanya, sesungguhnya dia juga ingin tahu keberadaan Raniyah, tetapi Haya sama sekali tidak pernah menjawab pertanyaannya dan selalu saja berujung dengan pertengkaran.

Raut wajah ibu Ahsan terlihat murung, mata beralih menatap wajah pucat Ahsan. Entah, apalagi yang bisa dilakukannya untuk membuat anaknya sehat kembali.

*****

Di rumah Pak Ansori

" Bu Ansor Pak Ansor saya mohon kasih tau saya, dimana nak Rani?" Ucap Ayahnya Ahsan terlihat lesu.

Bu Ansor menoleh ke arah suaminya yang tampak masih bersikukuh tidak memberitahu keberadaan anak bungsunya. Dalam hatinya masih panas, pikirannya masih segar, bagaimana ayahnya Ahsan memaki dan menjelekan Raniyah.

"Anda gak becus ngurus anak!"

" Apa maksudnya pak?"

" Nah kan gak tau kelakuan nakal anak sendiri!"

"Saya gak paham maksud bapak!"

" Anak anda terus menganggu anak saya! Anak saya sudah tunangan! tolong didik anak anda dengan benar!" Bentar Ayahnya Ahsan.

Pikirannya kembali lagi, sudut bibir Pak Ansor sedikit terangkat. Sedikit pun Pak Ansori tidak akan memberitahu keberadaan Raniyah kepada ayahnya Ahsan.

"Maaf, anak anda dengan anak saya sudah tidak ada hubungan apapun! Untuk apa anda mencari anak saya?" Tanya Pak Ansor.

" Memang, tapi sekarang Ahsan sedang sakit.." Ucapan Ayahnya Ahsan terpotong.

" Ooh jadi karena ada butuhnya ya!" Ucap Pak Ansor yang memotong pembicara dengan menyelipkan senyuman sinis.

" Maaf,. " Ucap Ayahnya Ahsan sambil tertunduk

" Tidak pelu minta maaf, saya sudah tidak membutuhkannya! Anak saya tidak akan dibiarkan bertemu dengan anak Anda lagi!" Pungkas Pak Ansor.

Ayahnya Ahsan pun tertunduk lesu dengan penolakan Pak Ansori yang tampaknya masih memendam emosi. Bu Ansor tidak bersuara sama sekali, melihat suaminya yang masih mengebu-ngebu emosi membuatnya memilih diam, daripada salah bicara.

"Ahsan sedang sakit," Lirih ayahnya Ahsan tampak membendung air matanya yang hampir tumpah.

" Itu bukan urusan saya!" Ketus Pak Ansor sambil bangkit masuk ke ruang tengah meninggalkan ayahnya Ahsan.

Ibu Ansor tampak bingung melihat situasi yang semakin tidak karuan, dia segera menyusul suaminya masuk ke ruang tengah. Dalam hatinya dia merasa tidak tega dengan ayahnya Ahsan dan juga dia ingin bertemu Raniyah.

" Pak, menolong orang itu baik, dan marah itu sesuatu yang dibenci Allah!" Kata Ibu Ansor lemah lembut agar tidak menyingung perasaan suaminya.

" Iya, nolong juga lihat dulu orangnya kayak gimana!" Ucap Pak Ansor masih emosi sambil bertolak pinggang.

" Loh kok bapak gitu, sesama manusia harus tolong menolong dalam kebaikan pak!" Seru Ibu Ansor.

" Halah ibu diem aja gak ngerti perasaan bapak yang direndahkannya!" Kata Pak Ansor masih helum juga bisa luluh hatinya.

" Kalau gitu pak, Ibu pengen ngomong saa Rani! Ibu kangen!" Kata Ibu Ansor berkaca-kaca.

"Sudah! Biarkan anak itu yang telpon duluan Bu!"Ucap Pak Ansor.

" Ibu kecewa sama sikap bapak!" Kata Bu Ansori sambil berlalu ke kamarnya.

*****

Hasyim sahabat Ahsan pagi itu datang menjenguk ke rumah sakit. Tampak Ahsan yang masih lemas kena tipes itu sedang menyantap bubur sedikit demi sedikit disuapi ibunya.

" Waduh bro, kenapa sih kau ini!" Seru sahabatnya itu sambil memasuki kamar rawat.

" Bra bro bra bro salam Hasyim!" Tegur ibunya Ahsan membuat Ahsan sedikit tersenyum tipis.

" Eh iya bu, Assalamualaikum," Kata Hasyim sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal lalu dia mencium tangan ibunya Ahsan.

" Waalaikumsalam," Jawab Ahsan dan ibunya serentak.

" Hehe, syafakillah bro. Duh lupa gak bawa buburu singkong buat kau San!" Seru Hasyim sambil nyengir.

" Ngawur kamu ini!" Tegur ibunya Ahsan.

" Yeh bu belum pernah coba kan bubur singkong?" Kata Hasyim sambil memamerkan giginya.

" Tau ah aneh kamu ini! Ya udah sok kalian ngobrol ibu mau pulang dulu, mau mandi!" Seru Ibunya Ahsan.

" Wokeh!" Seru Hasyim melambaikan tanganya ke arah ibunya Ahsan yang berlalu keluar dari kamar rawat.

Hening beberapa saat, Ahsan tampak tatapannya kosong, Hasyim pun merasa sedih melihat sahabatnya tampak tidak bersemangat. Hasyim menepuk punggung Ahsan agar tidak melamun.

" Bro! aku gak mau suapin kamu! ntar dikira gay! Makan sendiri ya!" Kata Hasyim masih saja sempaf-sempatnya bercanda.

Ahsan tersenyum tipis, " Gak minat disuapin kamu Syim!" Balas Ahsan.

" Ah elah kenapa sih sampe kek gini? Karena Raniyah lagi?" Tanya Hasyim yang dibalas anggukan lemah Ahsan.

Hasyim pun manggut-manggut, dia tampak melihat sekeliling lalu mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke arah Ahsan, seketika Ahsan langsung tersentak dan meraih cepat ponsel Hasyim, dia memperbesar foto di dalam ponsel tersebut.

" Dimana?" Kata Ahsan tampak semangat.

" Temen aku kerja di Banten, ketemu cewek sunda orang Sumedang katanya!"

" Kita ke Banten Syim!" Kata Ahsan dengan semangat.

" Eh eh sabar dulu! Kamu harus sehat dulu baru kita kesana!"

" Aku bisa sehat besok! Kita berangkat besok!" Seru Ahsan langsung bersemanngat, Hasyim hanya bisa mengelengkan kepalanya.

****

Kipas angin berputar, udara panas dalam ruangan tidak kunjung hilang meski malam telah larut, cucuran keringat membasahi wajah gadis yang tampak tidurnya terganggu. Dia tampak memimpikan sesuatu yang menyesakkan. Buliran air mata keluar dari sudut matanya yang terpejam. Tidak lama kemudian dia terbangun. Tangannya mengusap air mata yang membasahi pipinya, sejenak Raniyah mendudukan badannya dikasur.

Jam dinding menunjukan pukul 2.30, Raniyah termenung menyentuh dadanya yang terasa berdebar, mimpinya terasa nyata. Ponselnya diraih tidak ada pesan apapun.

"Apakah Ahsan baik-baik saja?" Gumamnya.

" .....Ibu baik-baik saja?"

" ......Bagaimana kak Haya, apakah sudah menikah dengan kak Daiyan? apa mereka bahagia?"

" .....Kenapa mimpiku terasa menyedihkan." Gumam Raniyah seorang diri.

" ... Rani rindu rumah..." Lirihnya meneteskan air mata.

Tapi apa daya ditempat asing ini, dia harus menanti sampai ayahnya sendiri yang memintanya pulang, mengingat hal itu, Raniyah kembali menanggis tersedu-sedu. Tidak lama kemudian sebuah pesna masuk.

Fahrul:

Hari ini libur kan, kita main ke pasar ikan di Rangkasbitung, aku jemput kamu ya.

Raniyah sudah tidak asing dengan Fahrul yang ternyata seorang fotografer, hubungannya semakin akrab setelah seminggu bertemu ditempat penjual jus. Raniyah langsung membalasnya dan mengiyakan, mengingat dia juga butuh hiburan, dan disini Fahrul menjadi teman bermain.

Setelah membalas pesan itu, Raniyah langsung bangkit pergi berwudhu, lalu menunaikan sholat malam, dia tidak lupa memanjatkan doa-doanya yang terbaik untuk keluarganya dan juga Ahsan.

#Bersambung....

1
minarni 0714
Luar biasa
Win26
iki sing goblok sopo, selalu raniyah jadi korban
marun
haya ini kok ngeselin ya. pantesan daiyan g mau
marun
pusing amat yak jadi rania. itu kakak2nya jg pada semaumau gitu ma rania
marun
boleh juga nih g usah olahraga pake susuk aja ya jes
Wu Shi Des
lah, Thor GK rela aq jaya bahagia
Alfatihah
dilanjut thorrr ...msih setia menunggu lanjutannya thorrr
Alfatihah
apakah tamat thorrr
Sri Kusniati
kemana thor dah lama gak up
Mrs.Kang Chi: iya suka lupa nulis, lagi ada kesibukan didunia nyata guys
total 1 replies
Sri Kusniati
lanjut thoe
atin p
👍👍 mantabbb pak Dokter....
suha suharni
akhirnya daiyan dan raniyah bersatu,semoga kedepannya bahagia selalu.dan punya anak sendiri.sipelakor jaya di tendang aja jauh2 Thor,semangat selalu Thor 👍😘💖
suha suharni
dikit banget dah hbs, semangat dong Thor,bkin yg banyak cerita,x.
Mrs.Kang Chi: iya iya deh
total 1 replies
atin p
wkwkwk..pak Dokter ..ngrecep y...mau belah duren
Mrs.Kang Chi: hahaha
total 1 replies
Sri Kusniati
thor lama bgt br up
Mrs.Kang Chi: suka lupa aku tuh hahaha sorry
total 1 replies
Win Da
😂😂😂😂😂😂😂😂 seneng bgt uda lqnjut lagi. ditunggu yang nanti malam nya mrs.🥰🥰
Mrs.Kang Chi: makasih ya udah setia. eaaa nunggu yg hot2 ya
total 1 replies
Sri Kusniati
thor kok lama bgt br up
Ra
tamatin aja thorr udah pda lupa ini
Mrs.Kang Chi: ekwkwkkwk
total 1 replies
Win Da
makasih up nya. jangan lama2... kami sudah rindu 🥰🥰
Alfatihah
g ada terusannya kah ????
Mrs.Kang Chi: sorry lupaa lanjut aneee hahaaha
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!