Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 ( Hari Pernikahan Mba Rere )
Aku memainkan gitar di malam ini. Ada rasa rindu perform lagi walau itu semua sudah tidak mungkin untukku bernyanyi lagi di Southbox.
Aku menyenderkan punggung ke dinding tembok kamar sambil menikmati indahnya langit malam dari jendela. Hilir angin yang tak terlalu kencang telah mengusap lembut tubuhku. Menenangkanku yang sedang dilanda kebingungan.
Besok adalah hari pernikahan Mba Rere. Aku lupa belum meminta ijin pada babe Rano. Aku menuruni anak tangga, menuju rumah Nada.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Assalamualaikum, Be.”
“Wa’alaikum salam,” terdengar suara babe Rano dalam rumah.
Pintu terbuka.
“Be,” aku menyalimi tangan babe Rano.
“Ade ape malem-malem ke mari, Ken?” tanya babe Rano.
“Ken mau minta izin ajak Nada ke Tegal, besok Be. Boleh kagak?”
“Mau ngapain?” tanya babe Rano.
“Besok teman Ken mau nikahan Be. Dia orang tegal. Kalau boleh, rencananya Ken mau ajak Nada ke sana.”
“Oh ... Ya udah kagak nape-nape. Ati-ati ye bawa anak Babe?”
“Siap, Be!” ucapku sembari tersenyum.
“Rencananya Kalian berangkat jam berape di mari?”
“Habis shalat subuh, Be.”
Babe mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ya udah, Ken pamit ya Be.”
.
Aku kembali melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Selepas shalat isya, aku beranjak naik ke atas ranjang. Berharap langsung terlelap malam ini.
‘Nad, Gue udah minta ijin sama Babe. Besok kita berangkat habis sholat subuh ya?’ aku mengirim pesan kepada Nada.
‘Iya, sayang.’
‘Ya udah, tidurlah. Udah malem.’
‘Oke! I love you sayang.’
‘Love you too, Nad.’
***
Alarm telah berbunyi tertanda sudah pukul empat pagi. Aku langsung bergegas mandi dan menunggu adzan subuh berkumandang.
Setelah shalat subuh, aku bergegas ganti baju.
Seperti biasa, aku memakai kemeja panjang yang ku lipat sampai sikut dan memakai sweater. Aku ambil celana jeans dan sepatu kets pemberian dari Nada.
Ku langkahkan kaki, keluar dari dalam kamar setelah menyemprot badan dengan parfum.
“Bu, Ken berangkat ya?” ucapku sambil menyalimi tangan ibu.
“Makan dulu, Nak.”
“Gak sempet, Bu.”
“Hati-hati!”
“Ya!”
Aku ke rumah Nada. Pintu terbuka, babe Rano yang keluar.
“Titip Nada ya, Ken. Babe juga mau kemo lagi,” babe berbisik.
“Insya Allah. Babe juga ati-ati ya? Maaf, Ken gak bisa antar.”
“Ah ... Elu! Yang ada nanti Nada nanye-nanye lagi kalau Lu anter Babe, Ken,” babe Rano terkekeh.
Sosok Nada pun keluar dari dalam kamar. Ia mendekat ke pintu, pamit ke babe Rano. Dan kami pun berangkat.
Nada terlihat cantik hari ini ia terlihat anggun. Kami berangkat naik bus. Maklum, aku belum punya mobil. Biarlah, sesekali jalan-jalan di antar sopir hehe ....
Kami duduk bersebelahan di bangku tengah di dalam bus. Terlihat mata Nada yang masih ngantuk.
“Nad,” ucapku.
“Hem,” Nada melirik.
“Kamu masih ngantuk?” tanyaku.
Nada tersenyum.
“Sini,” aku menepuk pundakku agar Nada mau menyandarkan kepalanya di pundakku.
Nada pun menyenderkan kepalanya di pundakku. Ia memakai dres selutut berlengan pendek. Aku membuka sweater yang ku kenakan, dan menutup dada dan lengan Nada.
“Kenapa di kasih ke Aku sweaternya?” tanya Nada sambil memandang netraku.
“Biar Kamu gak kedinginan, Nad. Ya udah tidur lagi gih,” jawabku.
Lengan Nada menggenggam lenganku. Jari kami saling terkait satu sama lain. Melekat.
Nada tertidur di pundakku, kami berpegangan tangan sepanjang jalan Jakarta–Tegal.
Kami telah sampai di resepsi pernikahan Mba Rere dan Pak Hari setelah bertanya beberapa kali kepada masyarakat sekitar.
Memang resepsinya di selenggarakan di rumah mba Rere bukan di gedung. Halaman rumah mba Rere begitu luas. Mungkin karena rumahnya terletak di kampung. Jadi, jarak rumah ke rumah masih berjauhan.
“Pak Hari, Mba Rere. Selamat menempuh hidup baru ya?” aku bersalaman pada kedua mempelai.
Pak Hari tersenyum ramah.
“Makasih ya, Ken, Nada. Belain jauh-jauh dari Jakarta ke Tegal,” ucap mba Rere.
Aku tersenyum.
“Iya Mba. Mba cantik banget. Aku mau dibikin cantik kek Mba Rere,” ucap Nada.
“Makanya Nad. Ajakin tuh si Kenzo nikah biar nanti di makeupin kek Mba,” ucap Mba Rere sambil melirikku.
“Mau Nad?” tanyaku menantang.
“Idihhh ... apaan sih,” Nada mencubit pelan lenganku.
Tawa pun pecah di atas pelaminan.
***
Kami pun makan dengan di temani musik dangdut, karena mungkin kebiasaan di kampung suka mengadakan hiburan panggung dangdutan.
“Abanggg ....”
‘kok kayak kenal suara itu?’ pekik dalam hati.
Aku menoleh “Intan?”
Nada sepertinya tak kuat menahan tawa. Akhirnya ia hanya tersenyum dengan menutup mulutnya.
“Abang ke sini juga? Naik apa?” tanya Intan dengan centilnya.
“Naik bus,” ucapku sambil melanjutkan makan.
“Loh ... bukanya bareng aja sama Intan. Kami bawa mobil. Nanti pulangnya bareng Intan aja, ya?” Intan menawarkan.
UHUKKK!
Aku terbatuk mendengar Intan yang nyerocos kek petasan.
Aku melihat Nada hendak mengambil air mineral dalam cup namun ia kalah cepat dengan Intan.
“Ni Bang. Minum dulu ... kasian malah jadi keselek,” ucap Intan sambil mendelik ke Nada.
Nada hanya tersenyum. Mungkin baginya lucu ada cewek absurd kek Intan.
‘Kamvrett! Ini semua gara-gara, Lu!’ pekik dalam hati.
Setelah Intan mengganggu ketenanganku makan, akhirnya ia pergi juga karena ibunya memanggil.
“Abanggg ....” Nada menirukan gaya bahasa Intan.
“Najis Gue dengernya, Nad!” aku merengut.
“Ujuuhhh ... Sayangnya Aku marah. Jangan marah lagi, nanti Intan datang loh,” ucap Nada terkekeh.
Sepertinya Nada senang sekali meledekku dengan meniru gaya Intan berbicara. Mungkin baginya ini merupakan hal yang lucu. Tapi bagiku ini merupakan hal yang bikin aku menjadi enek.
“Hai, Nad.”
Aku mendelik, ternyata yang memanggil nama Nada itu Anton.
He’eleh ... satu lagi, si kupret! Ucap dalam hati.
Anton mendekati Nada yang masih makan. Malah Anton duduk tepat di kursi sampingnya Nada.
Nada tersenyum.
“Tadi naik apa ke sini, Nad?” tanya Anton.
“Naik bus,” jawab Nada santai.
“Waahhh ... Sayang ya. Masa, cewek secantik Kamu dibiarin naik bus, sih?” ucap Anton sambil mendelik ke arahku.
“Lah ... Emang ada yang salah?” ucap Nada.
“Yaa ... Gak tega aja liat cewek cantik naik bus, mending naik mobil bareng Aku,” ucapan Anton yang semakin membuatku panas.
“Kalau Kamu gak tega liat cewek cantik dalam bus. Kamu stay aja dalam bus, nanti kalau ada wanita cantik. Kamu ajakin naik mobilmu,” jawaban Nada yang membuatku tersenyum.
Anton terlihat bingung harus menjawab apa lagi. Sepertinya, yang ada dalam hatinya hanya ingin lari, karena malu dengan jawaban Nada.
Tak menunggu berapa lama. Akhirnya si Anton juga beringsut dari kursi tempat duduknya dengan beralasan mencari Papanya.
“Ken, nyumbang lagu dong. Mba kangen gak denger suaramu satu minggu ini,” ucap mba Rere.
“Mau lagu apa?” tanyaku.
“Dangdut bisa, ya?” tantang mba Rere.
“Yang mane?”
“Pertemuan. Kamu duet sama Nada, ya? Jangn menolak! Ini permintaan pengantin loh,” mba Rere terkekeh.
“Gimana? Bisa enggak Nad?” tanyaku.
Nada menganggukan kepala.
Akhirnya kami naik ke atas panggung yang cukup besar. Sengaja aku menyajikan musik akustik gitar agar beda dari dangdut yang dibawakan oleh artis panggung ini.
Nada duduk di kursi begitu pun denganku. Netra kami saling bertatap. Lengkungan bibir tipis Nada membuat degup jantung tak karuan. Aku mulai memetik senar gitar.
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Rindu yang selama ini sudah menggunung
Mencair diterpa cinta dalam senandung
Cinta yang selama ini masih terpendam
Tercurah sudah penuh dengan kemesraan
Tak ingin lagi terpisah
Cukup sekali berpisah
Tak ingin lagi merana
Cukup sekali merana
Na a a a a a a ..
Keterangan:
Tulisin miring (italic) Cewek yang nyanyi.
Tulisan tebal (Bold) cowok yang nyanyi.
Tulisan Blod & italic Duet.
Riuh suara penonton dari bawah panggung. Begitu pun teriakan dari mba Rere. Ramai terdengar suara tepuk tangan dari para tamu undangan.
***
Selepas shalat dzuhur, akhirnya kami memutuskan pulang agar tidak kemaleman sampai Jakarta.
“Mba, Kita pulang ya?” ucapku pada mba Rere.
“Kalian nginep aja di sini, sih,” pinta mba Rere.
“Enggak ah! Nanti malah jadi ganggu malam pertama kalian dong,” ucapku terkekeh.
“Biarinlah. Mba rela gak malam pertama demi adek Mba yang satu ini. Yang jailnya gak ketulungan,” ucap mba Rere tersenyum.
“Dasar! Ada-ada aja nih pengantin cantik,” timpalku.
“Nad, jagain Kenzo ya? Walau ia ngeselin, tapi orangnya baik kok. Dia care sama temen-temennya juga, apalagi sama pacarnya?” mba Rere menggenggam kedua tangan Nada.
“Iya mba, bila perlu Aku kasih tali dia. Biar enggak pergi jauh,” ucap Nada menimpali.
Tawa dua perempuan cantik pun akhirnya pecah setelah jawaban Nada yang memang terkesan nyeleneh. Mba Rere terlihat berkaca-kaca dari ujung matanya. Mungkin maksud Nada agar tidak larut dalam suasana kesedihan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Jarak dari rumah mba Rere ke jalan raya cukup jauh. Sengaja kami berjalan kaki agar bisa ngobrol banyak sepanjang jalan.
“Nad, kuliner dulu Yuk?” ajakku.
“Kuliner apa?”
“cari es yuk, Nad. Panas nih,” ucapku.
“Ayo.”
Langit nampak agak mendung. Semburat awan hitam telah menutupi langit, tapi belum juga turun hujan. Sehingga mengakibatkan panas yang tak tertahan. Keringat pun mengucur deras.
“Es lontrong? Apaan tuh?”
“Entah, nyoba yuk Ken?” ajak Nada.
Kami pun melaju mendekati kedai kecil yang menjual es lontrong. Kami memesan dua porsi es lontrong yang katanya khas dari daerah Slawi Kabupaten Tegal.
Kami menikmati es lontrong ternyata es lontorng itu merupakan perpaduan antara es serut, agar-agar, kacang hijau, roti tawar, sirup merah, dan santan. Cukuplah meluruhkan dahaga di kala panas melanda di siang ini.
***
Kami menunggu bus cukup lama. Akhirnya bus melintas juga. Buru-buru kami naik untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Sekitar sepuluh menit bus melaju akhirnya hujan turun dengan deras.
“Tidur sini, Nad,” aku menepuk pundakku agar ia bersender di pundakku.
Nada membenamkan kepalanya dan memegang lenganku hingga jari kami saling terkait.
Drett ... Drett ....
Aku merogoh gawai yang ada dalam saku celana, agak berhati-hati takut membangunkan Nada.
‘Si kucrut (Intan)?’ pekik dalam hati.
Aku membuka pesan dari Intan.
‘Abang di mana?’ isi pesan dari Intan.
‘Gue udah balik. Ni lagi di jalan.’
Send.
Read.
‘Ihhhh ... Kok gak nungguin Intan?’ balas Intan.
‘Mau ngapain?’ jawabku.
‘Mau lebih deket sama Abang.”
Aku tak menghiraukan pesan dari si kucrut (Intan). Aku matikan hand phone lalu aku masukan ke dalam saku celana.
Aku menyenderkan kepala ke kursi dan ikut terlelap dalam perjalanan.
Tak terasa aku telah sampai di Jakarta. Aku membangunkan Nada dan bergegas turun dari dalam bus.
.
“Nad, Babe menitipkan kunci rumah sama Ibu,” ibu menyerahkan kunci rumah Nada.
“Loh ... Emang Babe pergi ke mana, Bu?” tanya Nada heran.
“Katanya mau ke rumah Encangnya Nada.”
Wajah Nada berubah masam. Seketika bibirnya meruncing. Mungkin ia heran dengan babe Rano yang sering sekali pergi ke rumah Encangnya.