NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15.

Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Tak ada obrolan dan celetukan seperti biasanya.

Semua fokus ke piring masing-masing, seakan berlomba ingin menyudahi dan ingin secepat mungkin menghabiskan makanan dan cepat berlalu meninggalkan ruangan itu.

Semua tak akan sama lagi. Gelas yang rengat tak akan bisa kembali ke bentuk semula. Apalagi hati.

Dirga berdiri membereskan piring makannya, mencuci dan meletakkannya di rak piring. Tak lama ke dua adiknya pun menyusul. Semua di lakukan dengan diam.

Mereka kembali ke meja makan. Menjemput tangan Arista dan menciumnya.

"Kami berangkat Bu." pamit Dirga.

Langkahnya terhenti di samping laki-laki yang tengah menunduk fokus menikmati makanannya. Dirga melirik sekilas, dan berlalu begitu saja . Ke dua adiknya bingung, hanya bisa saling pandang dan senggol.

" Yah...berangkat." Dityan mendahului.

" Hemmm.."

Dimas dan Dityan bergantian menyalami laki-laki yang mereka panggil ayah.

Suapan terakhir terasa sulit bagi Arista melewati tenggorokannya. Dia tak menyalahkan sikap putra pertamanya. Yaah...dia belum bisa dan masih berusaha berdamai dengan keadaan dan situasi sekarang.

" Apa yang kamu katakan pada Dirga."

" Nggak ada." singkat jawaban Arista.

"Kenapa sikapnya seperti tadi, bahkan sejak semalam dia tak keluar kamar saat aku pulang."

Arista menautkan keningnya tajam.

"Memang dia harus bersikap bagaimana. Menyambutmu pulang dengan suka cita, pelukan, begitu maksudmu." tanya Arista dengan sorot mata tajam.

" Bu ..bukan begitu yang aku maksud." Pram gugup dan bingung.

" Terus apa yang kamu harapkan."

" Yah...minimal membukakan pintu, tanya kenapa baru pulang."

" Begitu? Kamu pergi pun mereka nggak kamu pamiti. Selama pergi apa ada kamu menanyakan kabar mereka. Yang kamu tanyakan cuma kapan "anak itu " nggak ada di rumah ini lagi."

Pram mengernyitkan dahinya. Sejak tadi Arista menyebut aku kamu. Biasanya dia selalu menyebut mas.

" Mereka sudah besar."

" Lalu sekarang kenapa harus menanyakan sikap Dirga. Dia sudah besar."

" Cukup. Apa kamu yang mengajarkan dia jadi seperti itu." Pram meninggikan suaranya.

Arista menggeleng sambil tersenyum sinis.

" Bukan aku. Tapi kamu yang sudah secara nggak langsung mengajarinya, keegoisanmu, jangan tutup mata seolah-olah kamu tak mengetahuinya." Arista mengangkat piring dan menyimpan di wastafel.

Bergegas dia berjalan ke arah kamar. Sesak rasanya dadanya menghadapi situasi seperti ini. Sebelumnya dia sudah mencoba berdamai, tapi apa daya dia hanya perempuan biasa, di hadapkan langsung dengan suaminya emosinya meluap.

Pram menusuk ke kamar.

" Mau ke mana?. Pram mendapati istrinya tengah bersiap.

" Anisa."

" Seharusnya tak perlu sering-sering di tengok. Yang ada semakin sulit melupakan dan melepaskan." celetuk Pram.

Plaaakk..

Tangan Arista mendarat di pipi kanan Pram. Satu tamparan keras, tangannya gemetar menahan emosi dan sakit hati Entah dorongan dan kekuatan dari mana dia bisa melakukan itu.

Pram mengusap pipinya. Gerahamnya mengeras, tangan kanannya mengepal.

" Enteng dan lancar sekali kata-katamu. Aku yang berjuang antara hidup dan mati, kamu bilang aku harus melupakan dan melepaskan. Jujur kalau aku di suruh melepaskan, aku lebih rela melepasmu dari pada melepaskan Hanif." suara Arista bergetar.

Lolos sudah kalimat yang dia pendam selama ini.

" Aku nggak tau lagi harus ngomong apa,mas. Dan aku juga nggak tahu apa yang ada di pikiranmu, hanya karena ingin punya anak perempuan saja apa ada tujuan lain."

" Bagiku nggak masuk akal. Kalau saja anak bisa di buat dari tanah liat, aku bikinkan kamu 10 anak perempuan. Bagiku alasanmu terlalu mengada-ada."

" Sikapmu seperti orang yang tidak punya Tuhan. Apa kamu lupa , semua yang kita dapat ada campur tangan Tuhan."

Meledak sudah lahar yang selama ini mengendap di dasar hati Arista.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!