Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Aksi Kejam Nini Kalingking
"Tidak bisa, Anak Muda. Kita tidak bisa menunda-nundanya lagi," tolak Ki Saron mutlak, menatap Dharma lalu beralih kembali pada Kiano. "Jika dibiarkan sampai esok hari, badai energi di dalam tubuh Tuan akan semakin parah. Anda bisa saja terus memuntahkan darah tanpa henti. Memangnya Anda mau mati kering di kasur karena kehabisan darah, Tuan?"
"Ck, apes bener dah nasib gue! Ya sudah, ayo capcus!" Kiano berjalan menghentakkan kaki di depan.
Namun, baru melangkah sebanyak dua kali, ia mendadak berbalik badan lalu menyengir lebar ke arah Ki Saron. "Hehe... gue kagak tahu jalannya. Sekalian gendong gue dong, Ki? Kita terbang saja biar cepat."
Dharma hanya bisa menepuk jidatnya sendiri melihat kelakuan sang pangeran palsu. "Lagian kamu sok tahu, pakai gaya jalan duluan segala," cibir Dharma menggelengkan kepala.
"Saya juga tadinya memang berniat untuk terbang, Tuan. Mana sudi saya kalau harus jalan kaki sampai ke sana," sahut Ki Saron dengan suara baritonnya yang berat.
Jin jawara itu bersedekap dada, menatap lurus ke arah kegelapan malam. "Tempatnya sangat jauh dari sini. Pohon itu tumbuh subur di dalam Hutan Terkutuk yang dijaga ketat oleh salah satu jin penguasa kuno."
Setelah mengatakan hal itu, Ki Saron pun langsung meraih tubuh Kiano. "Ayo, Tuan, berpeganganlah yang erat padaku!"
Wussshhh!
Jin jawara itu melesat terbang, membelah langit malam yang pekat. Dharma sang pengawal kerajaan ikut terbang melesat di sisi mereka, mengiringi perjalanan menuju Hutan Terkutuk.
Kawasan tersebut memang terletak cukup jauh dari pusat kerajaan. Medannya pun masih berupa hutan rimbun yang sangat lebat dan hampir tidak pernah dikunjungi oleh penduduk bunian Mandala Hyang karena suasananya yang terlampau mencekam.
****
Sementara itu, di tempat lain... tepatnya di sebuah gua tersembunyi di dalam salah satu hutan di Negeri Bunian Gunung Kidul.
Nyi Ratu Ratih Kemuning, atau yang dikenal sebagai Nini Kalingking, tengah mengumpulkan para gadis perawan bunian. Ia sebelumnya telah memerintahkan Ginanda dan Ninanda—dua wanita kembar yang menjadi anak buah kepercayaannya—untuk menculik gadis-gadis perawan tersebut.
Di dalam bagian gua yang paling dalam, terdapat sebuah kolam khusus untuk ritual pemandian agar tubuhnya tetap awet muda. Dikarenakan kecantikan abadi wanita jadian-jadian itu sempat luntur akibat bersin maut milik Kiano, ia terpaksa harus merendam seluruh tubuhnya menggunakan darah perawan bunian.
Terlihat dua gadis perawan bunian yang tubuhnya terikat erat sedang tergeletak pasrah di atas tanah gua yang dingin.
Nyi Ratu Ratih Kemuning menatap kedua mangsanya dengan pandangan lapar. "Hanya ini saja? Apa tidak ada yang lain lagi?" tanyanya dengan nada menuntut kepada kedua anak buahnya.
Ginanda mengangguk takut. "Iya, Guru. Hanya mereka berdua yang berhasil kami temukan. Akhir-akhir ini, gadis perawan sangat sulit dicari di sekitar wilayah ini."
"Ini tidak akan pernah cukup untuk mengembalikan kecantikan dan kekuatanku!" ucap Nyi Ratu murka. "Cepat kalian pergi dari sini dan cari lagi gadis-gadis lain untukku sekarang juga!!"
"Baik, Guru," jawab Ginanda dan Ninanda serempak. Mereka berdua buru-buru berlari meninggalkan gua untuk menghindari amukan sang guru.
Sementara itu, di sudut ruangan gua yang remang-remang, seorang pemuda yang merupakan Pangeran Wirasada yang asli tampak terikat menggantung. Kondisinya sangat mengenaskan dan bersimbah darah. Sepasang matanya menatap tajam ke arah wanita tua bangka itu dengan pandangan murka.
Ingin rasanya ia berteriak dan menerkam wanita jahat di depannya, namun seluruh tenaganya sudah dikuras habis oleh Nini Kalingking.
Wanita tua itu tidak henti-hentinya menyiksa Wirasada dan meminum darahnya setiap hari. Bahkan, ia juga sesekali dijadikan bahan lelucon dan dilecehkan oleh Ginanda maupun Ninanda.
Wirasada benar-benar merasa harga dirinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Mandala Hyang telah diinjak-injak sampai ke dasar bumi.
Kembali ke arah Nyi Ratu Ratih.
"Tolong... lepaskan kami..." rintih salah satu gadis tangkapan itu lirih. Suaranya terdengar serak, pelan, bahkan hampir tidak terdengar akibat tenggorokannya yang kering.
Sementara itu, gadis yang satunya lagi terlihat sudah pingsan dan tidak sadarkan diri.
Nyi Ratu sama sekali tidak menghiraukan rintihan tersebut. Ia melangkah mendekat, lalu menyeret tubuh gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu tanpa belas kasihan. Menggunakan kekuatan sihir hitamnya, ia mengangkat tubuh gadis itu tinggi-tinggi di udara, memosisikannya tepat di atas kolam pemandian batu.
"Aku hanya membutuhkan darah kalian!" desis Nyi Ratu kejam.
Sret!
Seketika itu juga, kuku-kuku jari tangannya memanjang tajam bagai belati. Tanpa secercah pun rasa kemanusiaan, Nyi Ratu langsung menghujamkan kuku-kuku tajamnya tepat ke arah dada sang korban.
Jleb! Sreeettt!
Ia merobek dada gadis itu hingga darah segar mengucur deras dari tubuh sang korban, mengalir membanjiri kolam batu di bawahnya.
Nini Kalingking tampak tersenyum puas menyaksikan pemandangan merah tersebut. Setelah memeras habis sisa darahnya, ia melemparkan jasad tak bernyawa itu ke sembarang arah.
Bruk!
Melihat nasib tragis temannya, gadis yang satu lagi langsung berteriak histeris. "Tidak! Kumohon jangan mendekat! Jangan bunuh aku!" Tubuhnya bergetar hebat didera ketakutan yang luar biasa.
Tanpa aba-aba, Nyi Ratu langsung melesatkan kuku tajamnya ke arah perut gadis itu.
Jleb!
Wirasada yang terpaksa menyaksikan seluruh kekejaman itu langsung menutup matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras dengan gigi yang gemertuk menahan amarah yang membakar dada.
"Kau biadab... nenek sihir jahat..." ucap Wirasada dengan suara yang teramat lemah. "Semua perbuatan kejimu ini... pasti akan mendapatkan balasannya."
Beruntung bagi Wirasada, Nini Kalingking saat itu terlalu sibuk dan tidak mendengar bisikan lemah sang pangeran asli. Wanita jadian-jadian itu sedang fokus memeras habis tetes demi tetes darah para perawan tersebut ke dalam kolam pemandiannya.
Setelah selesai dengan aksi kejinya, Nini Kalingking menceburkan dirinya ke dalam kolam pemandian yang kini airnya telah memerah pekat, bercampur dengan darah para korban. Ia menyiduk air darah itu menggunakan kedua telapak tangannya, lalu membasuhkannya ke wajah serta seluruh tubuh.
Perlahan tapi pasti, sihir hitam itu bekerja. Kulitnya yang semula mengelupas di sana-sini dan wajahnya yang sempat mengerikan kini perlahan pulih seperti sediakala, kembali menjadi sosok Nyi Ratu Ratih Kemuning yang cantik jelita.
Meskipun begitu, kekuatannya belum sepenuhnya pulih total, sebab ia masih merasa haus dan kekurangan esensi darah perawan bunian.
Setelah dirasa cukup, ia melangkah keluar dari kolam pemandian batu tersebut. Ajaibnya, pakaian kain yang semula basah kuyup seketika mengering dalam sekejap berkat sihirnya. Ia berjalan anggun mendekati sudut tempat Wirasada tergantung lemas.
"Bagaimana pertunjukannya? Apa kau menikmatinya?" tanya Nyi Ratu dengan nada mengejek. Ia mencengkeram dan mengangkat dagu Wirasada dengan kasar, memaksa sang pangeran asli untuk menatap wajah barunya.
Cuih!
Wirasada mengumpulkan sisa tenaganya untuk meludahi wajah cantik nan palsu tersebut.
Nyi Ratu Ratih Kemuning sontak mengeraskan rahangnya. Kilat murka terpancar dari matanya. Tanpa ragu, ia langsung melayangkan tamparan keras tepat di pipi Wirasada.
Plak!
"Kurang ajar kau! Beraninya meludahiku!" bentak Nyi Ratu meradang sembari menyeka wajahnya. "Awas kau, ya! Aku akan segera menghabisimu! Kalau saja darah dan tubuhmu tidak berguna bagiku, mungkin dari jauh-jauh hari aku sudah membunuhmu. Ketahuilah, kehadiranmu di sini adalah umpan untuk memancing jin jawara sialan itu dan juga pangeran gadungan yang menyerupai wujudmu!"
Wirasada tersentak di tengah rasa sakitnya. "Apa... apa maksudmu?!" tanya Wirasada dengan suara parau.
Nyi Ratu tersenyum sinis, menatap puas pada kebingungan sang pangeran asli. "Kau tidak tahu rupanya? Saat ini, di Kerajaan Mandala Hyang, posisimu sudah ada yang menggantikan. Dan kau harus tahu, orang itu memiliki wajah yang sama persis denganmu. Namun, kelakuannya benar-benar bak bumi dan langit... dia itu agak gila!"