NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Pertanda Badai Dirgantara

Pena bulu berujung emas itu terketuk lambat di atas permukaan meja kayu jati solid yang diimpor langsung dari pedalaman hutan. Di dalam ruang kerja seluas seratus meter persegi yang terletak di lantai teratas Menara Dirgantara Perkasa, keheningan terasa begitu tebal, hanya dipecah oleh desis halus dari sistem pendingin udara terintegrasi dan detak jam dinding mekanis berlapis platinum. Dinding ruangan yang terbuat dari kaca antipeluru menyajikan panorama malam Jakarta yang berkilau oleh jutaan titik cahaya, sebuah imperium beton yang sebagian besar fondasi ekonominya berada di bawah kendali pria yang kini sedang terduduk dengan kening bertaut erat.

Wirawan Dirgantara. Sang maestro, pendiri, sekaligus kepala nakhoda dari mega-korporasi Dirgantara Perkasa.

Meskipun usianya telah melewati angka tujuh puluh, sepasang mata Wirawan masih memancarkan binar tajam yang sanggup mengintimidasi para menteri kabinet maupun CEO saingannya. Namun malam ini, binar itu meredup, digantikan oleh gumpalan kabut kekhawatiran yang mendalam. Di hadapannya, tersebar beberapa lembar laporan komprehensif yang disusun oleh tim intelijen internal keluarga, bukan mengenai fluktuasi saham atau akuisisi lahan, melainkan mengenai rekam jejak perilaku cucu tunggalnya, Elang Dirgantara, di lingkungan kampus.

Wirawan menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mulai dihiasi rambut keperakan. Laporan di tangannya menceritakan dengan sangat detail bagaimana Elang menggunakan nama besar Dirgantara untuk memuaskan egonya: mengintimidasi sesama mahasiswa, hobi memamerkan jajaran supercar miliknya, serta dikelilingi oleh sekelompok penjilat yang hanya mengincar ketebalan dompetnya.

"Kau persis seperti ayahmu, Elang... Manja, angkuh, dan menganggap seluruh dunia bisa ditekuk hanya dengan kartu hitammu," bisik Wirawan lirih, suaranya sarat akan luka lama yang belum sepenuhnya mengering.

Kenangan pahit masa lalu mendadak bangkit, menggedor dinding ingatan sang konglomerat. Wirawan teringat pada putra tunggalnya, Bramantyo Dirgantara. Di masa mudanya, Bramantyo dididik dengan limpahan kemewahan tanpa pernah menyentuh kerasnya retakan tanah di dasar hierarki kehidupan. Akibatnya, Bramantyo tumbuh menjadi pria yang bermental lemah, manja, dan tidak memiliki ketajaman insting seorang pemimpin. Puncak dari kerapuhan mental itu adalah ketika Bramantyo salah memilih pasangan hidup, jatuh ke dalam pelukan wanita ular yang hanya mengincar harta kekayaan keluarga, yang pada akhirnya meremukkan stabilitas internal keluarga Dirgantara hingga menyisakan trauma mendalam pada diri Elang kecil.

Wirawan berdiri dari kursi jatinya, melangkah mendekati dinding kaca besar, menatap tajam ke arah kegelapan malam Jakarta. Ia tidak boleh membiarkan sejarah kelam itu terulang kembali. Elang adalah pewaris tunggal, satu-satunya jangkar yang akan meneruskan eksistensi Dirgantara Perkasa di masa depan. Jika watak Elang dibiarkan terus membusuk dalam gelimang fasilitas dan keangkuhan palsu, imperium bisnis yang dibangunnya dengan cucuran darah dan air mata ini pasti akan runtuh dalam hitungan tahun setelah ia tiada.

"Burung elang tidak akan pernah belajar mengepakkan sayapnya jika ia terus mendekam di dalam sarang yang berlapis sutra," ucap Wirawan dengan nada suara yang mendadak mengeras, mengkristal menjadi sebuah keputusan mutlak.

Di dalam benak tajam sang konglomerat, sebuah rencana ekstrem yang telah digodok selama berbulan-bulan kini telah mencapai tingkat kematangan paripurna. Sebuah siasat radikal yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun.

*

Sementara itu, di sebuah butik mewah VIP yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan paling prestisius di kawasan Jakarta Pusat, atmosfer kemewahan dipamerkan dengan cara yang teramat konsumtif. Cahaya lampu gantung kristal memantul pada deretan tas kulit buaya dan gaun malam rancangan desainer Paris yang dihargai setara dengan harga satu unit rumah tipe klaster di pinggiran kota.

Di tengah ruangan butik yang privat tersebut, Rania Puspa Dewi sedang duduk dengan anggun di atas sofa beledu merah muda. Wanita paruh baya itu masih terlihat teramat jelita, berkat operasi plastik bernilai miliaran rupiah dan perawatan estetika kelas atas yang dijalaninya setiap minggu. Tubuhnya dibungkus oleh gaun sutra ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya, sementara jemarinya yang lentik tak henti-hentinya memutar-mutar segelas sampanye mahal.

Rania adalah mantan ibu tiri Elang, wanita yang sempat menguasai lingkaran domestik Bramantyo Dirgantara, sepeninggalan ibunya saat melahirkannya.

Bramantyo yang mulai menyadari watak asli Rania yang gila harta, dan suka bermain dengan brondong. Pada akhirnya Rania beberapa waktu lalu, Rania diceraikan tanpa mendapatkan sepeser pun bagian harta gono-gini. Beruntung saat itu Bramantyo masih memiliki perjanjian pranikah, yang didalamnya jika Rania berselingkuh tak akan mendapat uang sesen pun, sebaliknya jika Bramantyo yang selingkuh seluruh asset menjadi milik Rania.

"Kurang ajar... Tua bangkai itu benar-benar mengunci semua celah keuanganku," desis Rania, matanya berkilat memancarkan bara dendam kesumat yang pekat saat sirkel sosialitanya sedang sibuk mencoba pakaian di bilik sebelah.

Gengsi Rania di hadapan komunitas sosialita papan atas Jakarta kini sedang berada di ujung tanduk. Ia yang terbiasa menjadi pusat perhatian karena statusnya sebagai bagian dari keluarga Dirgantara, kini mulai merasakan dinginnya penolakan dari beberapa lingkaran pergaulan lama. Rasa dipermalukan ini bermutasi menjadi obsesi gelap yang membakar jiwanya. Rania bersumpah, dengan cara apa pun, ia akan merebut kembali apa yang menurutnya menjadi hak mutlak atas keringat dan waktu yang telah ia buang bersama Bramantyo yang lemah.

*

“Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Tua bangkai itu tidak akan bertahan lama di atas takhtanya.”

Sebuah suara bariton yang lembut namun sarat akan nada manipulatif terdengar dari balik punggung Rania. Sesosok pemuda tampan berusia awal dua puluhan melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pundak Rania, memberikan pijatan lembut yang penuh kepalsuan.

Wijaya Samudra. Berondong selingkuhan Rania yang sekaligus merupakan anak dari seorang pengusaha tekstil kaya raya yang sedang mencoba menembus lingkaran bisnis Dirgantara Perkasa. Yang menarik, Wijaya juga merupakan mahasiswa tingkat dua yang menempuh pendidikan di Universitas Dirgantara, seangkatan dengan Elang Dirgantara. Karakternya digambarkan sangat congkak, gila hormat, dan selalu menggunakan ketampanan serta kekayaan orang tuanya untuk mendominasi pergaulan anak muda di kampus.

Hubungan mereka sudah berlangsung lama, sejak Bramantyo menikah dengan istri pertamanya yang meninggal. Mereka adalah pasangan kekasih, meski begitu Samudra, memilih kekasihnya itu untuk mendekati Bramantyo, apalagi jika tujuannya tentu saja menginginkan informasi tentang kelemahan Dirgantara Perkasa.

Rania tentu saja senang, bagaikan putri yang nantinya akan dicintai dua pria sekaligus, dia berjanji akan menaklukan Bramantyo. Sayangnya, itu hanya angan belaka. Ternyata Bramantyo, mengetahui kebejatannya lebih awal.

Rania memiringkan kepalanya, menyentuh pipi Wijaya dengan manik mata yang berbinar licik.

“Kau sudah melaksanakan apa yang kuminta di kampus, Sam? Kau harus mengacaukan fokus anak manja itu. Bikinlah Elang menderita sebelum kakeknya menyadari apa yang terjadi.”

Samudra tersenyum seringai, sebuah ekspresi yang memamerkan deretan giginya yang rapi namun dingin. “Tenang saja, Rania. Di kampus, Elang sudah mulai kehilangan taringnya. Dan sepertinya dia sedang jatuh hati pada gadis, kampung hanya saja dia tidak menyadari hal itu.”

“Apa!!. Gadis Kampung, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan membuat Elang jatuh cinta, dan aku akan menjatuhkan dia, dengan memacari gadis kampung itu…”

“Kau akan mengkhianati aku?” ucap Rania dengan muka ditekuk.

“Tidak seperti itu Sayang, cintaku padamu tidak akan tergantikan oleh apa pun. Aku hanya ingin menjatuhkan Elang saja, apa yang dia miliki harus ku rebut,” bisik Samudra dengan mata yang berkilat penuh ambisi gelap sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dan ketika dia mengetahui jika Gadis Kampung itu mencintai aku, dia akan terpuruk dan kau bisa menguasai semuanya."

Butik mewah itu kembali hening, namun di luar sana, awan hitam telah berkumpul dengan sangat pekat di atas langit Jakarta. Konspirasi antara dendam Rania dan obsesi beracun Wijaya Samudra telah mengunci takdir mereka, menjadi pertanda sebuah badai besar dengan skala yang tak terbayangkan kini telah siap menghantam dan memporak-porandakan seluruh hidup sempurna milik Elang Dirgantara dalam hitungan hari.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!