Cerita ini berkisah tentang perjalanan cinta sang dokter cantik dan pria tampan berpangkat kapten , jatuh cinta diantara desingan peluru dan tebalnya debu di sebuah daerah konflik antar negara .
Lebanon Indonesia adalah saksi perjalanan kisah Cinta di Selamat Pagi Kapten
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavender_fla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinetron Keluarga
Bila kau tidak bisa beranggung jawab atas janji yang kau ucapkan sendiri, bagaimana orang lain harus memenuhi janjinya padamu. "
_______________________________________
" Din ". Suara Hesti memanggilnya dengan raut wajah kesal sementara Dini hanya diam ditempatnya .
" Bukannya itu Nesya ?." ucap Hesti semakin terlihat kesal .
" Kamu mengenalnya ?."
" Tentu saja , dia yang membuat hubungan aku dan Rendy sempat dingin , dia anak sahabat mamanya Rendy , dan dia baru kembali dari Malaysia setelah berpisah dari suaminya ."
" Bukannya suaminya meninggal karena bom ?."
" Iya , tapi dia menikah lagi dengan bos ditempat dia bekerja setahun setelah suaminya meninggal dan menetap di Malaysia hingga anaknya berusia 3 tahun .
" Kamu tau Din, selama di Sini dia tinggal dirumah orangtua Rendy , dan hampir setiap hari ngerecokin Rendy seolah - olah dia yang istrinya Rendy , sampai - sampai Aurel terlupakan karena papanya sibuk mengurus si Cecil anak perempuan itu ."
" Bahkan Nesya tidak sungkan meminta Rendy membelikanya ini itu mulai dari tas, baju, sepatu sampai kebutuhan pribadinya . Mengantar dia belanja, ke salon atau kearena bermain, seakan-seakan dialah istrinya Rendy sementara aku hanya jongos penunggu rumah , tukang masak dan pencuxi piring kotornya, sampai akhirnya aku merasa tak tahan dan pulang kerumah mama selama setengah bulan dan buruknya Rendy tidak ada upaya menyusulku , baru saat Aurel dirawat dirumah sakit dan butuh tanda tangan dirinya untuk dilakukan tindakan, Rendy baru ingat kalau dia punya anak dan istri yang sah ."
" Kapan kejadian itu ?." tanya Dini , pandangannya tak lepas dari sosok Guntur yang kini sudah duduk dikursi besi tak jauh dari posisi Dini berdiri, disebelahnya duduk Nesya memangku Cecilia , tampak lengan gadis kecil itu dibalut perban , mereka seperti keluarga kecil yang bahagia .
" Sewaktu kamu di Lebanon ."
Dini mengangguk , tak lama terdengar suara Rendy yang berbicara pada Irsan terkait putrinya.
Hesti langsung berbalik dan menghampiri Rendy begitu pula Dini , dia memilih untuk tidak menghampiri Guntur untuk minta penjelasan , dia memilih untuk menghindar sementara , dia butuh waktu untuk sendiri , apalagi nanti malam dia ada operasi dan itu butuh ketenangan .
" Aurel dirawat saja ya , biar lebih intensive pemeriksaannya , aku takut demamnya akan timbul lagi saat dirumah ." ucap Rendy lembut pada Hesti yang tampak khawatir .
" Tapi Aurel ngga apa-apa kan pa ?."
" Kamu tenang ya , saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan buat Aurel ." Rendy mengelus pundak Hesti .
" Sakit apa sebenarnya Aurel? Aku tadi sempat memeriksanya, perut Aurel sedikit lebih keras dari perut anak seusianya dan irama detak jantungnya tidak beraturan. "
Rendy tampak menelan salivanya dengan kasar lalu menjawab pertanyaan Dini dengan nada penuh penyesalan, " semua karena salahku, aku terlambat menangani putriku sendiri, saat Aurel berusia 3 bulan dia mengalami sesak nafas dan kesulitan bab, ternyata ada ususnya yang terbelit dan sudah dalam kondisi akut, usia 4 akhienya aku baru memgoperasinya, namun setelah itu Aurel di diagnosis mengalami penyempitan pembuluh darah ke jantung, ."
" Masya Allah, kenapa sampai seburuk itu Ren, kemana saja kamu sampai anak sakit tidak tau. Dia anakmu, darah dagingmu Ren, kenapa harus fokus memperhatikan dan melayani anak orang lain yang tidak ada hubungan apapun denganmu sementara kamu memiliki anak yang memiliki aliran darahmu. "
Ucqaan Dini jelas menohok hatinya, Rendy tqk bisa membantah karena dia mengakui kalau apa yang dikatakan Dini memang benar.
Tiba - tiba Aurel terbangun langsung memanggil papanya dan meminta untuk digendong .
" Papa , kenapa tangan Aulel ada plestel dan slangnya , Aulel kan ngga nakal papa ." oceh gadis kecil itu dipelukan papanya , wajah Aurel yang lucu dengan pipi cubbynya tampak memerah karena demamnya .
" Iya Aurel ngga nakal , papa percaya kok , papa cuman mau liat apakah Aurel bisa ikut papa dan mama jalan-jalan ke Disney atau tidak makanya Aurel harus bobo dikantor papa dulu ya, temenin papa kerja, mau "
Gadis kecil itu mengangguk, dan menatap wajah papanya dengan matanya yang sedikit sipit mirif dengan Rendy.
" Disney papa ? Liat putli salju papa ?."
" Iya kita ke Disney lihat putri salju juga mickey mouse , kiss papa sayang ." ucap Rendy yang langsung mendapat ciuman diselurih wajahnya dari putri kecilnya .
Dini tersenyum melihat interaksi mereka , dia bersyukur akhirnya Rendy mau menerima Hesti dengan hatinya , ya Aurel lah yang jadi malaikat pemersatunya .
" Tante Dini , pa ada tante Dini ." seru Aurel saat menyadari kehadiran Dini disitu , Rendy memutar tubuhnya dan menatap Dini .
" Oh iya, tante Dini datang buat jenguk Aurel, tante Dini tidak percaya kalau putri kecil papa ini tidak takut disuntik. " ucap Rendy membuat Aurel memgangguk Senang.
" Ante, iat, ada slang di tangan aulel. Aulel ndak angis loh. " lapor hadis kecil itu sembari memamerkan slang infus ditangannya ke Dini .
Dini memgacungkan dua jempolnya sembari berkata ," Siip, Aurel memamg anak hebat dan pintar. "
Tampak Hesti membisikkan sesuatu yang membuat Rendy kembali mengerutkan keningnya .
" Kalau gitu aku balik dulu ya Ren ,Hes ." pamit Dini , lalu mendekat kearah Aurel yang sudah berpindah keatas ranjang ," tante pulang dulu ya cantik , cepat sembuh nanti tante belikan boneka barbie putri salju dan istananya ." ucap Dini sembari menciun pipi gembil keponakannya .
" Papa , Aulel mau pulang sekalang , Aulel sudah sembuh papa ." rengek Aurel pada papanya , yang lalu menoleh kesal ke Dini .
" Ini gara-gara boneka berbie , awas kamu Dini kutambah jadwal operasi kamu nanti ."ucap Rendy kesal karena Janji yang diberikan Dini ke Aurel membuat gadis kecil itu merengek minta pulang bahkan berusaha menarik lepas jarum infusnya membuat Hesti kewalahan menahan gerakan Aurel yang kuat.
" Aurel sayang dengar mama , Aurel masih sakit , tunggu papa periksa dulu , baru Aurel boleh pulang ya ." bujuk Hesti sedikit kewalaham .
" Anak cantiknya papa jangan nakal sayang, nanti tangan Aurel bisa berdarah, Aurel mau papa suntik? "
Aurel menggeleng sembari terisak.
" Oke , oke ancaman kamu kejam sekali Ren ." ucap Dini lalu kembali berjalan kearah Aurel dan menciumi wajah gadis kecil itu .
" Ya sudah Aurel ikuti kata papa ya , kalau Aurel nurut dan tidak nakal tante beliin bonekanya sekarang ." bujuk Dini dan mampu membuat Aurel berhenti merengek .
" Benel ya tante , Aulel tunggu ."
Dini meringis mendengar ucapan Aurel lalu menoleh ke Hesti .
" Pake duit loe ya buat beli bonekanya ."
" Enak aja , yang janji kamu kenapa aku yang keluar uang , otak kalkulatormu ngga berkurang juga ternyata ." omel Hesti membuat Dini tertawa .
" Biaya S2 mahal Hes, kudu banyak nabung ya udah aku pulang ya. Ntar malam abis operasi aku jenguk Aurel lagi. Kabari nomor kamarmya. " ucap Dini sembari beranjak pergi.
" Loh Din , kamu ngga nyamperin tunanganmu dulu biar dia sadar ?." seru Hesti , Dini berhenti sebentar lalu menoleh kearah Hesti dan Rendy .
" Biar Tuhan saja yang menyadarkan dia , kalaaauuu cuman aku nggak akan mempan, ya udah aku pulang dulu, assalamualaikum ."
" Walaikumslam. " balas Rendy dan Hesti bersamaan.
Dan Dini benar - benar menghilang dibalik pintu belakang ruang UGD dia sama sekali tidak menyapa Guntur tunngannya.
" Aku harus bicara dengan Guntur ." ucap Rendy .
" Aku ikut mas ." pinta Hesti .
" Kamu antar saja dulu Aurel kekamar rawat inap yang sudah aku pesan nanti aku menyusul bersama Guntur. " Rendy menjawab sembari mencium kening Hesti juga Aurel , lalu berjalan kearah Guntur .
" Nunggu apa? Mau rawat inap? " sapa Rendy yang membuat Guntur terjengkit kaget.
" Loh Ren, kamu tugas disini. "
" Rumah sakit ini milikku kalau kau lupa, yang seharunya bertanya itu aku, ngapain kamu disini? Bukannya kalau jemput Dini kamu menunggu dia dilobby? "
Pandangan Rendy lalu beralih ke Nesya yang baru kembali dari memgambil obat, " lebih baik bawa anakmu pulang sekarang. Lingkungan rumah sakit bukan temlat yang cocok untuk kesehatan anak-anak. "
" Tentu saja aku mau pulang, ayo bang antar Nesya, Cecil pasti nyariin abang saat dia bangun nanti. "
" Kamu pulang sendiri saja, karena saya masih ada urusan. " jawab Guntur langsung berdiri setelah memindahkan Cecil yang tertidur ke Nesya.
" Tapi bang gimana aku pulang dengan menggendong Cecil yang tertidur. Antar aku dulu lah bang. "
" Diluar banyak taxi yang antri Nes, jangan banyak alasan untuk bisa merepotkan orang lain. Guntur ada urusan dengan saya. " sahut Rendy sedikit membentak, dia lalu memanggil salah seorang security untuk memgantar Nesya mencari twxi, setelahnya dia menyeret Guntur untuk mengikutinya.
**********,
Guntur seperti seorang terdakwa diruang pengadilannya , pria itu hanya duduk diam saat Rendy memberinya kuliah umum .
" Kamu gimana sich Gun , kamu niat nikah sama Dini ngga sich ?," tanya Hesti yang sudah terlanjur kesal pada Guntur .
" Kenapa kamu ngomong gitu ? Tentu saja aku niat nikahi Dini ." Jawab Guntur datar , ada rasa tidak suka dalam hatinya mendengar pertanyaan sinis Hesti .
" Kalau kamu memang niat buat nikahi dia , kenapa kamu masih meladeni si janda centil Nesya itu ."
" Apa maksutmu Hes ?."
" Kamu emang ngga tau apa pura - pura ngga tau , atau beneran bego dan ngga tau ."
" Aku benar tidak tahu apa yang kamu omongkan." sahut Guntur dingin , melihat suasana yang mulai panas Rendy mencoba menengahi .
" Maksudnya Hesti , kamu ada janji apa sama Dini , dia tidak biasanya sampai tukar shif untuk urusan pribadi , bahkan sampai mengcancel tugasnya hari ini ."
Guntur mengusap wajahnya frustasi , dia baru teringat janjinya pada Dini hari ini .
" Iya , aku janji menjemputnya siang tadi untuk memesan cincin pernikahan dan menemui WO ."
" Tapi kamu membatalkan tampa pemberitahuan kan , kamu lebih penting bersama sijanda centil Nesya daripada memenuhi janji kamu ke kakakku ."
" Bukan begitu Hes , kamu salah paham ."
" Salah paham gimana maksud kamu ? Kamu jelas - jelas melupakan janji kamu ke Dini dan kamu malah menemani Nesya di UGD hanya karena luka kecil anaknya yang terjatuh akibat ulah Nesya yang ngga pernah becus ngurus anak , bener kan ? Katakan kalau aku salah ." Hesti sudah tak bisa menahan rasa kesalnya , ingin rasanya dia menampar wajah tampan Guntur sekuatnya .
" Aku kebetulan ketemu Nesya diparkiran rumah sakit siang tadi ."
" Lalu kamu iba mendengar rengekannya dengan ekspresi wajah teraniaya kan , trus kamu bersedia menemaninya. berperan seolah - olah kamu adalah seorang ayah juga suami yang khawatir akan kondisi putri kesayangannya , takut putri tercintanya akan mati hanya karena luka gores di lengannya ," tatapan tajam Hesti seakan ingin menelan Guntur , " Dan kamu tau , adegan drama menyek menyek kamu tadi disaksikan Dini secara live , adegan pelukan mesra dan sikap manja yang Nesya lakukan kekamu , Dini juga melihatnya secara utuh tanpa terpotomg iklan ."
" Apa kamu bilang , Dini juga ada di UGD ?." tanya Gintur gusar , jelas dia sangat frustasi dan dia meruntuki kebodohannya .
" Iya Dini ada disana , sebagai penonton drama menyek - menyek kamu dan Nesya ."
" Guntur , aku kan sudah pernah bilang kekamu. Kalau kamu hanya ingin bermain - main , tolong tinggalkan Dini , biarkan pria lain yamg lebih serius untuk mendekati Dini , jangan seperti ini ." kali ini Rendy angkat bicara sembari tangannya merangkul pundak Hesti , menenangkan wanita itu dari rasa emosinya .
Guntur diam mendengar ucapan Rendy , dia benar - benar merasa bersalah atas prilaku bodohnya yang begitu mudah merasa iba hanya karena ketidak berdayaan Nesya .
" Ini mungkin yang pertama kali aku minta kekamu dan juga menjadi terakhir , aku memang pernah sangat jahat dan tak adil pada Dini , aku mengambil perhatian papa darinya sejak Dini berusia delapan tahun , aku bahkan membuat Dini memilih kuliah diBandung hanya karena aku ngga mau ada pesaing dirumah , aku ingin hanya aku anak perempuan bagi Papa walau dia bukan papa kandungku ." Hesti menjeda kalimatnya menghela nafas lalu melanjutkan.
" Hingga akhirnya Dini lulus menjadi Dokter dan bekerja di Rumah Sakit milik orangtua Rendy , Dini tidak kembali kerumah karena mamaku tak menginginkan dia ada dirumah , Dini berjuang sendiri diluar hingga dia bisa memiliki rumahnya sendiri , aku memang pernah menjadi wanita yang paling serakah sampai saat aku harus merasa malu padanya saat Dini tampa perlawanan mengikhlaskan cinta pertamanya untukku , Ya mas Rendy adalah cinta pertama Dini , dan karena keserakahanku dan mama akhirnya Dini tersakiti hingga dia memutuskan pergi ke Lebanon , Aku sudah merebut kekasihnya dengan cara yang tak baik , aku membuat Rendy tak sadar diri hingga kami melakukan hal yang semestinya tidak kami lakukan dan Dini tau itu dan dia hanya diam , malah dia yang memaksa Rendy untuk menikahi aku karena aku hamil Aurel , waktu itu aku tidak merasa iba padanya , aku justru merasa menang karena sudah berhasil menjadikan Rendy suamiku , aku ngga perduli bagaimana hancurnya hati Dini , aku ngga perduli dengan tangisan dalam diamnya , dan rupanya Tuhan menghukum ku dengan Sikap dingin Rendy padaku selama 1 tahun pernikahan kami ."
Hesti diam sesaat mencoba mengatur emosinya lalu berkata lagi dengan suara pelan namun masih bisa terdengar ,
" lalu hadirnya Nesya disaat kami mulai merasakan bahagia atas pernikahan kami , disitu aku baru sadar bagaimana sakitnya dikhianati , bagaimana sakitnya tak dihiraukan dan bagaimana sakitnya melihat orang yang kita cintai justru lebih memperhatikan wanita lain daripada istrinya sendiri , aku sadar akan salahku pada Dini , jadi aku mohon sama kamu , tolong jangan buat kakakku menangis lagi ."
Hesti mulai terisak , dia sudah tak mampu mengatur emosinya , rasa bersalah yang terlalu besar pada Dini membuat wanita cantik itu mulai menangis .
" jika kamu tidak yakin untuk menikah dengan dia maka cepat putuskan jangan sampai kamu memaksakan diri untuk menikahi kakaku hanya karena alasan keluarga sementara dihatimu masih memperhatikan wanita lain , karena kakakku Dini Tidak pantas untuk disakiti lagi , dia berhak untuk bahagia bersama pria yang dicintainya juga mencintainya , dan kamu tau apa yang pernah Dini ucapkan ke aku dan Danu ? Dia berkata , Dia tidak akan pernah lagi menjalin hubungan dengan pria lain apalagi untuk menikah bila hubungan cintanya kali ini harus gagal untuk kedua kalinya , Dia memilih untuk tetap melajang sampai batas usianya ." dan tangis Hesti pun pecah , Rendy menarik Hesti kedalam pelukannya meredam tangis Hesti didadanya .
Guntur benar - benar tak bisa berkata - kata setelah mendengar cerita Hesti , Dia bahkan tidak tau harus bagaimana saat bertemu dengan Dini , perasaan bersalah menghantui dirinya .
" Lebih baik kau segera mencari Dini , selesaikan semuanya tanpa terkecuali , pertahankan jika kamu memang benar - benar mencintainya dan ingin bertahan tapi segera lepaskan jika kamu merasa tak mampu untuk mempertahankannya , semua pilihan ada dikamu Kapten ." ucap Rendy menyadarkan Guntur .
Guntur menghela nafasnya kasar , berusaha mengurangi rasa bersalah dihatinya , lalu pria itu beranjak berdiri .
" Kamu mau kemana ?." tanya Rendy .
" Mencari Dini dan menjelaskan semuanya demi pernikahan dan cinta kami ."
" Jam 7 malam nanti Dini ada jadwal operasi , dan aku tidak yakin Dini mau menemuimu saat hatinya sedang kecewa seperti ini ."
Guntur mengangguk dan berkata dengan pelan ," Iya aku mengerti , akan aku coba untuk menjelaskam padanya , terima kasih Hes kamu sudah membantuku untuk yakin dengan pilihanku menjadikan Dini istriku , aku pergi dulu ."
Guntur lalu bergegas keluar dari kamar rawat Aurel tujuannya hanya satu kerumah gadis itu untuk meminta maaf dan menjernihkan permasalahan yang terjadi .
*************
Guntur menatap layar ponselnya dengan frustasi , dilihatnya ada 12 panggilan dari Dini yang tak terjawab dan 10 pesan yang belum dibacanya hari ini .
Guntur meruntuki dirinya sendiri , dia begitu bodoh , semestinya dia cukup mengantar Cecil sampai di UGD saja tak perlu sampai menemani tapi benar kata Hesti dia memiliki kelemahan mudah merasa iba saat melihat seseorang yang dikenalnya mengharap bantuannya , dan dia juga meruntuki dirinya yang hanya diam saat Nesya memperlakukannya seperti pasangannya sampai dia tak sadar kalau ponselnya dalam mode silance dan akhirnya mati karena kehabisan daya .
Tapi percuma semua itu disesali karena hubungannya dan Dini berada diujung tanduk dan semua ini adalah salahnya .
Tadi dia sempat kerumah gadis itu tapi rupanya Dini tidak pulang kerumahnya , dan barusan dia bertemu gadis itu saat baru keluar dari kamar Aurel , tapi Dini langsung menghindarinya
Dan sekarang Guntur memutuskan menunggu gadis itu pulang dari tugasnya dirumah sakit , dia tidak perduli sampai jam berapa harus menunggu karena dia ingin segera memperbaiki hubungannya dengan Dini secepatnya karena dia tidak mau kebilangan Dini wanita yang dia cintai .
Pukul 11 malam akhirnya Guntur melihat gadis itu keluar dari lobby rumah sakit , wajahnya tampak lelah dan rambutnya sedikit berantakan karena kuncir ekor kudanya tak mampu mengikat semua rambutnya yang tebal dengan sempurna .
Guntur segera keluar dari mobilnya dan berjalan cepat kearah Dini yang berdiri diselasar .
" Din , ayo pulang ." panggil Guntur , Dini hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang kearah pintu masuk .
" Ini sudah malam , lebih baik aku antar kamu pulang ."
" Terima kasih , saya bisa pulang sendiri ." sahut Dini dingin , lalu Dini berjalan cepat menghampiri pengemudi ojol yang baru sampai .
Melihat itu Guntur berusaha menghentikan Dini yang akan naik ke boncengan abang ojol .
" Dicancel saja bang , ini ganti ongkosnya ." ucap Guntur kepada abang ojol itu sembari memberi 2 lembar uang seratus ribu .
Abang ojol itu masih diam dalam kebingungan , seakan mengerti Guntur menepuk pundak abang ojol itu pelan.
" ini calon istri saya , tadi saya telat menjemput dan ini sebagai ganti ongkos karena saya membatalkan orderan keabang ."
Akhirnya abang ojol itu paham lalu mengangguk walau sempat menolak pemberian Guntur yang dinilainya terlalu banyak .
" Mas maunya apa sich , saya mau pulang ." ucap Dini sembari berusaha melepaskan tangan Guntur yang merangkul pundaknya .
" Ya jemput kamu dan pulang ." sahut Guntur sembari membuka pintu mobil Pajero Sport putihnya , mendorong punggung Dini hingga gadis itu terduduk dikursi lalu memasang safetybealt ketubuh Dini sebelum dirinya sendiri masuk kedalam mobil melalui pintu sebelah kanan .
Dini memilih untuk diam dan sama sekali tidak menghiraukan Guntur .
Pertanyaan dari Guntur tak satu pun dia jawab , Dini benar - benar kehilangan mood untuk sekedar bicara.
Hingga mobil Guntur berhenti didepan rumah , Dini masih tetap diam .
Tangan Dini dicekal Guntur saat gadis itu akan menarik handle pintu .
" Din , mas mau bicara ."
" Maaf mas , sudah malam , sebaiknya mas Guntur pulang karena saya juga mau istirahat , saya terlalu lelah untuk hari ini ." jawab Dini sarkash , lalu dengan kasar dihentakannya cekalan tangan Guntur dilengannya lalu dengan cepat membuka handle pintu dan segera keluar untuk membuka pagar rumahnya .
Guntur yang melihat itu pun langsung keluar dari mobil dan menyusul Dini yang sudah masuk kepekarangan rumahnya .
" Din , tolong ! Mas mau bicara sebentar ." pinta Guntur kembali menarik tangan gadis itu yang sudah berada diatas handle pintu rumah .
Tapi Dini tetap diam , gadis itu masih sibuk mencari kunci rumah dengan satu tangannya sementara tangan yang satu berada dalam cekalan tangan kekar Guntur .
Akhirnya Dini berhasil menemukan kuncinya dan segera membuka pintu dan masuk kedalam , belum juga dia berhasil menutup pintu tangan Guntur sudah menahan daun pintu itu .
" Din kasih aku kesempatan untuk menjelaskan ."
" Penjelasan apa mas , sudah sangat jelas dan mudah untuk dipahami , sudah mas saya mau istirahat , dan ini sudah sangat malam untuk bertamu , awas mas tangannya nanti terjepit , assalamualaikum ." ucap Dini sembari mendorong pintu dengan sekuat tenaga , membuat Guntur seketika melepas tangannya .
Tanpa Guntur ketahui , Dini menangis tampa suara dibalik pintu , tangis yang sejak tadi ditahannya .
Hatinya benar-benar kesal , kecewa juga sakit yang bertarung dengan perasaan cintanya .
Sementara Guntur masih termangu didepan pintu , dia hanya bisa menunduk menafakuri lantai keramik berwarna putih itu dengan perasaan menyesal dan bersalah .
" Maafin mas Din ." ucap Guntur pelan , lalu berjalan dengan gontai kearah mobilnya , berdiam sesaat didalam mobil , ketika dirasa tak mungkin Dini akan keluar menemuinya , Guntur memutuskan untuk pulang ke asramanya .
*****