Alvonso adalah seorang Mafia dan juga CEO terkenal dingin dan kejam. Sangat tampan digilai banyak wanita tapi Alvonso tidak pernah tertarik terhadap wanita manapun.
Laras seorang mahasiswi tingkat akhir, cerdas, cantik dan baik hati.
Laras bersama teman - temannya mengadakan acara perpisahan di hotel di kota Surabaya. Akibat ulah teman kampusnya Laras bertemu dengan Alvonso dan kehilangan apa yang dijaganya selama ini
Suatu ketika mereka dipertemukan kembali tapi berdua tidak mengenalnya sampai pada suatu saat 3 anak kembarnya di culik terbukalah rahasia yang disimpan Laras selama ini
Apakah Alvonso dan Laras bisa bersatu atau masing - masing sudah menikah dengan pasangannya.
Simak novel ke 2 saya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Laras
Pagi hari Alvonso terbangun dan melepaskan pelukan Laras kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Laras terbangun melihat Alvonso sudah tidak ada di ranjangnya.
Laras mendengar suara gemericik air. Alvonso ternyata sedang mandi. Laras berusaha bangun dan duduk di ranjang. Terdengar suara hp milik Alvonso. Laras melihat Alvonso mandi dan memberanikan diri melihatnya.
BIANCA CALLING
Laras menggeser tombol hijau dan mendengarkan suaranya
" Hallo sayang, lagi dimana ? Aku kangen nich ? Lusa kita akan menikah aku sudah memesan baju pengantin kita, hasil perancang Tanteku jadi tidak ada yang menyamakannya" ucap Bianca
deg
deg
deg
Laras diam
'' Hallo sayang kamu baik - baik sajakan ?" tanya Bianca
tut tut tut tut tut
Laras mematikan telephonenya sepihak, tidak terasa air matanya keluar.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka Laras memandang Alvonso dan menghapus air matanya dan buru - buru menaruh hp milik Alvonso.
Alvonso duduk dan menatap Laras, Alvonso melihat Laras matanya agak sembab.
" Sayang kamu kenapa menangis ? Apakah ada yang sakit ?" tanya Alvonso
" Tidak ada Mas, aku nangis karena aku kangen sama 3 Al. Aku mandi dulu ya" pinta Laras
Ok
Laras mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi.
Alvonso mengambil hp nya untuk menelephone asistennya Ronald. Ronald terkejut dan matanya membulat ada panggilan masuk hari ini dari Bianca, apakah gara - gara ini Laras menangis.
Alvonso pun menelephone Bianca.
" Sayang, kenapa tadi aku telp tidak diangkat ? aku tadi bilang kangen kok tidak di angkat ?"
" Bianca, aku ..." ucap Alvonso terpotong karena mendengar suara pintu terbuka.
ceklek
Pintu terbuka Laras mendengar Alvonso sedang telp dengan Bianca. Alvonso pun gugup dan langsung mematikan handphonenya.
Laras pura - pura tidak mendengar
" Sayang, kamu sudah selesai mandi ?" tanya Alvonso
" Iya Mas sudah mandi, badanku menjadi segar, kita pulang yuk!" pinta Laras
"Ayuk." jawab Alvonso
( kuharap Laras tidak mendengar aku menelephone Bianca batin Alvonso )
Laras dan Alvonso membereskan barang - barangnya Laras setelah membereskan barang - barang. Laras dan Alvonso berjalan menuju parkiran mobil.
Di dalam mobil sudah ada sopir dan bodyguard. Laras dan Alvonso masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Dalam perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Alvonso sibuk menguatak atik hp nya kadang serius dan terkadang tersenyum sendiri. Semua itu tidak luput perhatian dari Laras. Laras hanya diam dan pura - pura menatap keluar melalui jendela mobil.
" Mas, aku sama 3 Al mau jemput teman waktu aku dulu kuliah di bandara dia tidak tahu ja****lan." ucap Laras
" Kok aneh tidak tahu jalan? cowok apa cewe?" tanya Alvonso.
" Dia orang Nederlands dan baru pertama kali ke sini, dia datang untuk acara pernikahan kita mas ? Orangnya cewe kok mas ? cemburu ya ?" tanya Laras dan berharap Alvonso cemburu.
" Tidak buat apa cemburu." ucap Alvonso padahal hatinya berkata iya.
Laras hanya tersenyum sedangkan Alvonso disamping masih sibuk dengan handphonenya. Laras membuka handphonenya dan mengutak atik handphonennya setelah selesai Laras memasukkannya kembali.
Tidak terasa sudah sampai di mansion, Laras turun dari mobil sedangkan Alvonso masih di dalam mobil. Ketika Laras ingin bertanya kenapa tidak turun, Alvonso langsung meminta sopir untuk pergi lagi tanpa pamit dengan Laras. Laras hanya diam saja dan masuk ke dalam mansion milik Alvonso.
Seorang bodyguard membuka pintu, Laras masuk ke dalam rumah melihat rumah kondisi sangat sepi. Laras menanyakan ke 3 anaknya dan Ibu Alvonso kepada pelayan dan kata pelayan mereka berada di lantai 3 sedangkan ibu Alvonso pergi tidak tahu pergi kemana.
Laras pun naik ke lantai 3 masuk ke dalam kamar dan mengambil sesuatu dan dimasukkan ke dalam tas kemudian menulis selembar kertas dan ditaruh di nakas kemudian Laras keluar membawa tas dan berjalan menuju ke kamar 3 Al.
" Mommy." panggil mereka serempak
" Hallo anak - anak kesayangan Mommy." panggil Laras memeluk 3 Al.
" Mommy kemana aja? tadi kita nyariin Mommy?" tanya Alvonso
" Maafkan Mommy sayang, oh ya hari ini kita pergi jalan - jalan yuk." ajak Laras
" Benar Mommy ?" tanya Alvian
" Benar donk." ucap Laras
" Ayo kita pergi sekarang." ajak Laras
Laras bersama 3 Al berjalan dan turun ke lantai satu. Seorang kepala pelayan menanyakan ke Laras dan Laras hanya cerita mau keluar dan sudah bilang ke Alvonso.
Kepala pelayan itu pun menelephone tuan mudanya tapi ponselnya tidak di angkat kemudian memanggil sopir untuk mengantar nyonya mudanya. Laras dan 3 Al ditemani sopir dan seorang bodyguard mengantar tujuan ke bandara.
Sampai di bandara sopir menunggu di parkiran. Sedangkan bodyguard menjaga majikannya Laras dan ke 3 anak majikannya.
" Maaf Pak, bapak nunggu di sini ya soalnya saya mau ke dalam mencari teman saya." pinta Laras
" Tapi nyonya muda?" ucap bodyguard ragu.
" Tidak apa - apa sebentar saja." jawab Laras sambil tersenyum.
" Baik nyonya." ucap bodyguard itu pasrah dan menuruti perintah nyonya mudanya.
Laras masuk ke bagian resepsionis dan resepsionis memberikan 6 tiket pesawat dengan 2 tujuan berbeda.
Sekitar satu jam bodyguard itu menunggu akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam menanyakan keberadaan nyonya mudanya ke bagian resepsionis dan jawabannya sungguh sangat mengejutkan Laras dan ke 3 anaknya sudah pergi naik pesawat. Bodyguard tersebut dengan gemetaran menelephone bosnya.
" Ada apa saya sibuk!!" bentak Alvonso
" Maaf tuan nyonya Laras dan ke 3 anaknya sudah pergi naik pesawat." ucap bodyguard itu agak takut.
" Apa ??? Bagaimana bisa? ya sudah saya akan ke sana." ucap Alvonso dan mematikan handphonenya secara sepihak.
tut tut tut tut
Setengah jam kemudian Alvonso sudah datang dengan aura mata memerah menahan marah dan ingin memukul dan membunuh bodyguard tersebut karena telah lalai menjalankan tugasnya.
Bodyguard itu sangat ketakutan melihat tuan mudanya sedang menahan amarah. Ketika ingin mengatakan sesuatu ada 2 pesan masuk ke hp Alvonso.
✉️ Laras : maaf terpaksa kami pergi dan pernikahannya batal, Bianca sudah memesan baju pengantin yang merancang tante Bianca calon mertua Mas. Maaf Mas aku tidak mau di madu. Aku melihat waktu keluar dari kamar mandi Mas sedang menelephone Bianca aku tahu Mas gugup, ketika di mobil aku diacuhkan dan melihatmu asyik chactingan kadang serius kadang tersenyum aku diam saja, akupun langsung membuka hpku memesan tiket pesawat awalnya aku ragu tapi ketika kita sudah sampai Mas langsung pergi tanpa pamit. Akhirnya aku mantapkan hatiku untuk pergi bersama anak - anak kita. Aku tidak ingin menjadi penghalang hubungan kalian, semoga kalian selalu bahagia. Tenang saja mas aku akan merawat anak - anak kita dengan baik. Jaga kesehatan mas, jangan terlalu sibuk kerja nanti sakit dan jangan telat makan. Jangan mencariku karena percuma tidak akan bisa menemukanku. Mas tahukan aku siapa ?
✉️ Laras : Jangan memarahi atau menghukum bodyguard dia tidak bersalah jika mas lakukan jangan harap aku bisa memaafkanmu. I Love You So Much, Take Care. Muach 😘😘😘
Alvonso terkejut Laras dan ke 3 anaknya pergi meninggalkannya, tidak terasa air matanya mengalir menyesal kenapa tadi ketika pergi tidak pamit, kenapa tadi tidak jujur, kenapa tadi mendiamkannya sibuk dengan hpnya. Alvonso sangat menyesali dan hendak ambruk tapi ditahan Ronald dan bodyguard dan didudukkan di kursi.
dah banyak yg cerita seperti ini tpi Lum ada yg menjelaskannya
bahkan bukanya lewat darah bisa lebih cepat dripada rambut