Persahabatan yang sudah terjalin selama 20 tahun antara Moetia dan Manda diambang kehancuran karena kehadiran seorang pria bernama Bagas.
Manda yang sudah mencintai Bagas sejak kuliah tidak mengetahui jika Bagas adalah atasan Moetia di kantor nya.
Dan saat Moetia mulai jatuh hati pada Bagas, dia baru tahu bahwa sahabatnya juga mencintainya
Lalu siapakah yang dicintai Bagas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manda Sadar
Setelah merapikan pakaian dan riasan nya, Moetia keluar dari kamar Bagas.
Moetia melihat Bagas berdiri di depan pintu apartemen yang telah terbuka.
Moetia mengambil tas nya di atas sofa lalu keluar dari apartemen.
Bagas menutup pintu dan menyusul Moetia.
Di dalam lift hingga di dalam taksi hanya keheningan yang menyertai keduanya.
Sampai di bandara pun, Bagas hanya menyerahkan tiket Moetia tanpa bicara padanya.
Moetia mulai merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman di hatinya.
Dua jam berlalu dan Bagas masih belum bicara satu patah kata pun.
Sesampainya di depan rumah sakit Moetia berjalan mendahului Bagas dan menghadangnya.
" Bagas, kenapa kamu diam saja? " tanya Moetia
Bagas tidak merespon dan berjalan menuju bagian informasi.
Bagas menanyakan ruang rawat Manda.
Moetia sampai tertegun, kenapa Bagas malah bertanya pada orang lain.
' Aku sudah menyakiti nya, dia pasti sangat membenciku ' tangis Moetia dalam hati
Moetia tak bisa berkata-kata lagi, dia melangkah mundur menjauh dari Bagas.
Ketika Bagas memasuki lift, Moetia hanya diam sampai pintu lift hampir tertutup.
Bagas menahan pintu dengan tangan nya, Moetia mengerti lalu masuk ke dalam lift.
Setelah pintu lift terbuka Bagas keluar dan mencari ruangan Manda.
Sementara Moetia hanya mengikutinya dari belakang.
Bagas masuk ke ruangan Manda, Malika dan Ahmad sangat terkejut melihat kedatangan Bagas.
Mereka lekas berdiri dan menghampiri Bagas.
" Nak Bagas, kamu datang? terimakasih nak " ucap Malika sangat senang
Bagas hanya mengangguk dan tersenyum terpaksa.
Lalu masuklah Moetia ke dalam ruangan, Soraya langsung memeluk anak nya.
" Mama tahu, kamu pasti bisa melakukan nya nak, terimakasih " ucap Soraya pelan pada Moetia
Moetia membalas pelukan mamanya, ingin sekali dia menangis, tapi sekuat tenaga dia tersenyum.
Soraya pun mengajak Moetia untuk duduk bersamanya.
Malika menghampiri Manda dan menggenggam tangannya.
" Sayang, lihat lah Bagas mu sudah datang! bangun lah nak " seru Malika penuh harap
' Bagas mu, apa mendengar itu kamu juga tidak sedih Moetia ' batin Bagas melirik Moetia diam-diam
Moetia juga melihat ke arah Bagas, lirikan Bagas membuat hatinya tercabik-cabik.
Moetia hanya bisa terus tersenyum getir dan memalingkan wajahnya dari Bagas.
' Bencilah aku Bagas, aku pantas mendapatkannya ' batin Moetia sambil meremas tas yang di pangkunya
Ahmad mendekat ke Bagas
" Nak Bagas, om minta tolong ya! bicaralah pada Manda. Kata dokter jika dia mendengar suara orang yang di kasihi nya, kemungkinan besar dia akan merespon dengan baik dan segera sadar " pinta Ahmad
Bagas mengangguk paham
" Baik om " jawab Bagas singkat
Soraya mengajak yang lain keluar
" Sebaiknya kita biarkan nak Bagas dan Manda berdua saja, mari kita keluar " ajak Soraya
" Boleh kah jika Moetia tetap di dalam ! " seru Bagas
Soraya melepaskan tangan Moetia dan tersenyum padanya.
" Baiklah, Moetia akan menemani kalian " sahut Soraya.
Setelah Malika, Ahmad dan Soraya keluar dari ruangan rawat Manda.
Bagas malah mendekati Moetia,
" Apa yang harus ku katakan pada nya? " tanya Bagas kesal
Moetia terkejut dan bibirnya bergetar karena takut melihat tatapan Bagas yang sepertinya sangat marah padanya.
" Katakan " teriak Bagas
" Aku tidak tahu " jawab Moetia lalu terduduk lemas.
Bagas berjongkok di depan Moetia dan meraih dagunya agar menatap nya.
" Haruskah ku katakan, aku mencintaimu ? " lirih Bagas menatap dalam pada Moetia
Moetia tahu jika kata itu Bagas tujukan untuk dirinya bukan untuk Manda.
Moetia menghela nafas nya berat, rasa sakit di dalam hatinya makin menyayat hingga membuatnya sulit bernapas.
" Haruskah ku genggam tangan nya seperti ini? " tanya Bagas lagi sambil menggenggam ke dua tangan Moetia dengan kuat
Moetia benar-benar sudah tidak bisa menahan air mata nya, dia pun menangis dan menunduk kan kepalanya tak sanggup lagi memandang Bagas.
" Kenapa menangis? aku sedang bertanya pada mu? " teriak Bagas
Moetia mengangkat kepalanya dan berusaha menggerakkan tangan nya yang terasa sangat berat mencoba menyentuh wajah Bagas.
" Berteriak lah padaku dan maki saja aku, tapi jangan sekarang dan tidak disini " lirih Moetia
Bagas berdiri lalu menjauh dari Moetia, Bagas menggeleng kan kepalanya berkali-kali.
" Aku sungguh tak percaya ini, kenapa aku bisa jatuh cinta pada wanita kejam seperti dirimu " ucap Bagas penuh amarah di dekat ranjang Manda.
Moetia melihat ke arah tangan Manda yang sepertinya bergerak.
Bukan hanya jarinya tapi tangannya bergerak.
Moetia segera mendekati Manda dari sisi lain karena Bagas berdiri disisi sebelahnya.
" Manda, apa kamu bisa mendengar ku, bangunlah Manda, berjuanglah! " seru Moetia terus menerus menyemangati Manda agar segera sadar
Sementara Bagas hanya bisa menghela nafas nya panjang melihat Moetia yang begitu memperdulikan sahabatnya itu.
Sebuah keajaiban, dan Manda pun perlahan membuka matanya.
Moetia sangat senang melihat Manda sadar, Moetia segera berlari keluar dari ruang rawat.
Malika berdiri melihat Moetia keluar dari pintu sambil tersenyum senang
" Mama, Tante, Manda sudah sadar. Masuklah! Moetia akan panggil dokter " ucap nya lalu pergi ke ruangan dokter
Sementara Manda langsung tersenyum saat menyadari Bagas berdiri di samping tempat tidur nya.
" Bagas, kamu datang " ucap nya lemah
Tidak ada respon dari Bagas, dia hanya menoleh ke arah Manda sekilas lalu memalingkan pandangannya ke arah lain lagi.
Malika segera menghampiri dan memeluk Manda.
" Sayang, kamu sudah sadar! kamu membuat ayah dan ibu sangat cemas " seru Malika
Manda tersenyum
" Maaf Bu, ayah " sahut nya lemah
Lalu dokter dan Moetia datang, Malika menjauh saat dokter akan memeriksa Manda.
Sementara Bagas menarik Moetia keluar dari ruangan.
Bagas menghempas kan tangan Moetia dengan kasar.
" Teman mu sudah sadar, tugas ku selesai bukan? aku akan pergi " seru Bagas
" Bagas, terimakasih. Tapi apakah kamu menyadarinya, bahkan mendengar suara mu saja Manda bisa sadar, dia sangat mencintai mu Bagas " jelas Moetia
" Lalu? " tanya Bagas singkat
Moetia menatap Bagas lalu menggenggam tangan nya.
Bagas bisa menebak apa yang ada di pikiran Moetia, dia menarik tangannya
" Jangan mimpi Moetia " seru Bagas lalu membelakangi Moetia
Malika keluar dan memanggil Bagas
" Nak Bagas, masuklah ke dalam. Manda mencari mu " ajak Malika
Bagas hanya berkacak pinggang dan melihat ke arah Moetia
" Tolong masuklah " pinta Moetia
" Kamu akan menyesali ini " bisik Bagas di telinga Moetia sambil melewati nya.
Moetia memejamkan matanya, dia tahu Bagas merasa sangat terpaksa melakukan semua ini.
Bahkan hatinya sendiri pun tak kalah perihnya harus melihat Bagas dekat dengan Manda.
Moetia tidak ingin ikut masuk, dia memilih duduk dan menunggu di luar ruangan.
Soraya keluar dan duduk di sebelahnya, Soraya menepuk punggung tangan anaknya yang terlihat sangat lelah.
Moetia menoleh dan tersenyum
" Mama " ucap nya lembut
Soraya tersenyum lalu merangkul Moetia
" Sayang, kenapa malah disini? Manda sudah sadar kenapa tidak menemuinya? " tanya Soraya
" Yang ingin dia temui sudah berada di dalam, ma " lirih Moetia lalu menyandarkan kepalanya di pundak Soraya
Smga jg bagus sprti ke 3 novel yg sdh ak baca 😊
♥️
⭐⭐⭐⭐⭐