NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Para Wanita Kuat

Mobil Go-Car yang membawa Arumi perlahan berhenti di depan gerbang besi tinggi yang menjulang kokoh di salah satu sudut kawasan elit Hang Tuah, Jakarta Selatan.

“Menurut alamat yang Ibu share, di sini letaknya bu. Rumah ini.” Pengemudi taksi onlinenya menoleh ke samping menatap rumah yang halamannya saja bisa menampung puluhan parkir mobil.

“Pak, tolong parkir saja dulu ya, sepertinya saya tidak lama kok. Sesuai dengan kesepakatan kita di awal, saya minta bapak tunggu saya. Ya?”

“Baik bu, saya akan tunggu di pinggir jalan, nanti ibu kontak saya saja kalau sudah selesai.” Kata si pengemudi taksi online itu.

Arumi melangkah turun, menatapi arsitektur rumah megah yang didominasi oleh perpaduan gaya kolonial modern dan sentuhan adat Jawa klasik yang luar biasa berkelas. Pilar-pilar beton putih berdiameter besar berdiri tegap menopang langit-langit teras, sementara pintu utama yang terbuat dari kayu jati utuh berukir jepara rumit nampak berdiri angkuh di ujung selasar. Atmosfer di kediaman Bu Pramudya Shinta ini terasa begitu tebal, dingin, dan mengintimidasi—seolah sengaja dirancang untuk menciutkan nyali siapa pun orang luar yang berani mengetuk pintunya.

Beberapa sekuriti menghampirinya dengan tersenyum resmi, “Dengan Ibu Arumi?” tanya mereka memastikan pengunjungnya.

“Betul, ini Ktp-“

“Tidak perlu, Bu. Pak Tony sudah menunjukkan foto ibu pada kami.” Kata salah seorangnya sambil mengantarkan Arumi memasuki halaman rumah itu.

Begitu gerbang terbuka, kemewahan yang sunyi langsung menyambut indra penglihatannya.

Di area serambi, seorang wanita paruh baya berpakaian seragam rapi dengan rambut disanggul anggun sudah berdiri menunggu. Beliau adalah Vina, asisten pribadi kepercayaan sang nyonya besar.

"Selamat pagi, Bu Arumi. Saya Vina, Asisten Bu Shinta." sambut Vina. Nada suaranya terdengar sangat formal dan datar, tanpa tersisip keramahan yang berarti.

“Selamat Pagi, Bu Vina, maaf saya mengganggu pagi-pagi sekali.” Arumi menunduk sedikit memberi hormat karena menurutnya Vina ini lebih tua darinya. Namun sikapnya malah membuat Vina tertegun beberapa saat.

Karena selama ini tamu  yang datang selalu meninggikan dagunya saat tahu dia adalah hanya seorang asisten. Istilahnya, pembantunya Bu Shinta. Jadi ia dianggap hanya sebagai pelaksana. Malah beberapa dari tamu sering datang hanya untuk mengomelinya, saat Bu Shinta tidak ingin bertemu siapa pun.

“Bu Vina, seandainya Bu Shinta tidak ingin menemui saya, saya memakluminya. Karena saya datang mendadak.  Malah saya merasa tidak enak pada Bu Vina karena pagi-pagi harus kerepotan dengan kedatangan saya.” Vina mengambil bingkisan kecil berisi toples kue kering yang ia beli di toko sebelum datang ke sini. “Ini sebagai tanda perkenalan kita.”

Vina menerima toples itu dengan mata terbelalak. “Untuk... saya?”

Arumi mengangguk. “Bu Vina kan sudah sering terganggu dengan tingkah Rangga. Tenang saja bu, saya orangnya tidak mudah tersinggung seandainya Bu Vina menolak saya datang lagi, kok. Saya mengerti Bu Vina hanya menjalankan tugas.”

Toples isi kue kering, dan kata-kata manis. Yang lebih penting adalah empati, dari pacar seorang pewaris konglomerat, yang menganggapnya seorang manusia. Bukan budak.

“Y-y-ya... ibu Arumi betul. Mohon maaf, memang benar kalau sebenarnya Ibu Shinta sama sekali tidak berkenan dengan kedatangan Ibu pagi ini. Beliau sudah tahu mengenai rencana pernikahan Pak Rangga, termasuk... seluruh latar belakang Ibu selaku janda dari mendiang Pak Ary Prambudi."

Arumi mengangguk. “Saya tidak akan memaksa Bu Vina.” Arumi tidak menunjukkan gelagat gentar sedikit pun. Ia justru mengulas sebuah senyuman simpul yang luar biasa tenang, meskipun ia tahu betul sepasang mata aristokrat Bu Shinta saat ini kemungkinan besar sedang bersembunyi di balik tirai mewah lantai dua, mengawasi setiap jengkal pergerakannya dari kejauhan.

Bagaimana Arumi bisa tahu kalau ada yang mengawasinya? Karena posisinya berdiri saat ini, seakan sengaja disetting agar mereka bisa nampak dari balkon besar di atasnya. Langkah Vina yang tertata dan lirikannya pada lantai, membuat Arumi langsung sadar kalau ada yang penasaran akan dirinya namun enggan bertemu.

"Bisnis tetaplah bisnis, Bu Vina. Saya sangat paham argumen Bu Shinta," suara Arumi mengalun jernih, sengaja dikeraskan satu oktav agar suaranya memantul membelah keheningan ruangan bernilai miliaran rupiah itu. "Kelalaian Rangga saat itu memang tidak ada hubungannya dengan hidup Bu Shinta. Tapi Bu Shinta juga pasti tahu, kan... kalau perjuangan Rangga untuk proyek ini tidak main-main? Saya juga mengerti kalau Rangga bukan satu-satunya karyawan yang berjuang. Tapi saya rasa lebih baik memberikan Rangga kesempatan menangani proyek ini daripada tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Saya tahu deviden tidak berarti banyak untuk Bu Shinta. Tapi kita berdua tahu, lebih baik dapat sesuatu daripada tidak dapat apa-apa. Toh perjuangannya sama saja kan?"

Vina mendengarkan Arumi dengan serius. Beberapa detik kemudian, ia melirik ke balkon atas lalu kembali menatap Arumi sambil tersenyum tipis. “Maksud Bu Arumi, ini bukan mengenai Deviden, tapi ini mengenai kehormatan. Betul?”

Arumi mengerlingkan sebelah matanya. Tanda kalau Vina tepat.

“Bu Vina pasti sudah sangat lama menggeluti dunia bisnis. Rangga berada di posisi ini juga bukan karena dia anak bapaknya. Namun justru karena dia bisa bermanfaat dan lebih baik daripada bapaknya.” Kata Arumi.

Vina terkekeh pelan saat mendengarnya.

Ia teringat masa lalu.

Saat Pak Agung bertengkah dengan Bu Shinta masalah perselingkuhannya, juga saat si gundik dengan tak tahu malunya datang ke sini dan menghardik Bu Shinta.

Juga saat... Rangga Remaja datang ke sini dan bersujud di depan Bu Shinta untuk meminta maaf atas nama ayahnya. Rangga tidak menyebutkan nama ibu kandungnya, ia hanya mementingkan kelakuan Pak Agung yang memalukan ke Bu Shinta.

Anak itu dari dulu memiliki satu masalah.

Ia menginginkan keluarga kecil yang damai dan nyaman.

Masalahnya, keluarganya besar dan kaya. Sudah pasti tidak akan hidup damai. Ancaman, penganiayaan, pelecehan terhadap harga diri, selalu waspada atas segala hal, tidak percaya siapapun kecuali diri sendiri, tidur pun tidak nyaman. Seempuk apa pun bantal mereka, semahal apa pun material kasur mereka, si orang-orang kaya ini akan selalu tak nyenyak. Ketakutan sedetik kemudian akan ada racun di nasi mereka, silet di kerah kemeja mereka, dan hal lainnya.

Sebagai orang biasa yang hidup di tengah keluarga ini, dimana uang bisa saling menjatuhkan darah daging sendiri, Vina setiap hari berdoa supaya ia hidup berkecukupan saja. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Sebab, Bu Shinta yang kaya raya dan terpandang ini, dulu pernah dijatuhkan ke titik nadir paling tragis oleh kelicikan si gundik tak tahu diri. Bu Shinta sempat diseret dan dipenjara selama tiga hari penuh tanpa membawa ponsel sama sekali, sementara seluruh aset perbankannya dibekukan oleh pihak kepolisian. Di dalam sel tahanan yang kotor, ia bahkan dilecehkan secara fisik dan mental akibat fitnah kejam si gundik.

Bayangkan, tiga hari dilecehkan di penjara, dan bahkan tim pengacara terbaiknya dilarang keras untuk bertemu karena tuduhan pidana yang dilayangkan sangat serius. Bu Shinta dituduh sebagai teroris yang mendanai pergerakan militer pemberontak negara! Semua itu hanya karena Pak Agung dengan teganya bersaksi palsu pada penyidik bahwa di dalam ponsel Bu Shinta terdapat nomor telepon rahasia milik salah seorang pejabat yang kini membelot menjadi pemberontak.

Padahal, kenyataan di baliknya sangatlah logis bagi orang-orang di lingkaran atas. Bu Shinta adalah trah old money tulen. Guratan relasi bisnis dan sosialnya membentang sangat luas, membuat segala macam nomor telepon tokoh berpengaruh ada di dalam daftar kontaknya. Di negeri ini, dunia politik bergerak sangat dinamis. Orang-orang besar yang dulunya kaya raya dan berkuasa, bisa saja mendadak berubah haluan menjadi pemberontak ekstrem karena tidak puas dengan jalannya roda pemerintahan sekarang. Atau, dalam kasus lain, saat seorang anggota DPR yang dulunya bersih, tiba-tiba terseret operasi tangkap tangan kasus korupsi massal.

Tokoh-tokoh besar itu semuanya pernah bertukar nomor dan aktif mengontak Bu Shinta yang merupakan pebisnis raksasa, jauh sejak zaman mereka masih kiyis-kiyis alias merangkak dari bawah meniti karier. Namun di tangan hukum yang sedang disetir oleh konspirasi jahat Pak Agung, daftar kontak historis itu dipelintir menjadi bukti otentik alur konspirasi makar. Tiga hari di dalam sel sudah lebih dari cukup untuk membuat jiwa Bu Shinta menyerah, patah, dan memilih menjauh dari dunia luar.

Setelah  tiga hari kemudian, Pemimpin Negara yang panik mencari keberadaan Bu Shinta akhirnya turun tangan sendiri menjemputnya keluar dari penjara. Tapi apa daya, semuanya sudah terlambat. Jiwa Bu Shinta sudah terlanjur mengalami trauma psikologis yang teramat dalam. Oknum-oknum yang melecehkannya di dalam sel memang langsung dipenjara dan dihukum lama, tapi mereka sudah terlanjur 'mencicipi' tubuh Bu Shinta. Dan hukum di dunia ini tidak sampai membawa para pelaku pada hukuman mati.

Lalu bagaimana dengan Pak Agung dan si gundik sialan itu? Mereka berdua bebas melenggang kangkung dengan dalih hukum bahwa mereka hanyalah 'pelapor' yang menjalankan kewajiban warga negara. Salah atau tidaknya tuduhan itu kan urusan tim penyidik di lapangan, bukan urusan mereka. Apalagi saat itu Pak Agung statusnya masih terikat pernikahan sah dengan Bu Shinta. Rencana busuk mereka untuk merebut harta lewat jalur memenjarakan Bu Shinta memang dianggap tidak berhasil, namun tidak sepenuhnya gagal. Tiga hari di dalam sel sudah lebih dari cukup untuk membuat jiwa Bu Shinta menyerah, patah, dan memilih menjauh dari duni a luar.

Dan Vina tahu persis... dimana si gundik sekarang berada. Ah, ia tidak kabur keluar negeri karena kepincut sugar daddy lain kok. Yang penting kan tidak ada yang menghilangkan nyawanya. Dan Pak Agung sudah meninggal.

Atas perintah langsung dari Bu Shinta, Vina kemudian bergerak di balik layar. Ia menyewa beberapa agen perjalanan bayaran di Kamboja untuk menyamar sebagai jaringan sugar daddy internasional. Mereka memikat si gundik dengan kemewahan palsu, meluncurkan aksi penipuan (scam) terstruktur untuk menguras habis sisa uangnya, hingga akhirnya berhasil menggiring dan menjebak tubuh wanita itu masuk ke perbatasan Kamboja secara ilegal.

Di sana, di dalam sebuah gedung sekuritas ketat di tengah hutan, ibu kandung Rangga itu resmi didepak menjadi 'boneka' pekerja paksa siber—dipaksa melakukan penipuan scam lewat video call untuk menjebak korban-korban baru setiap hari tanpa bisa melarikan diri, kalau bisa terjebak seumur hidupnya. Tanpa perlu mengotori tangan dengan cara menghilangkan nyawa, Bu Shinta sukses menghancurkan hidup rivalnya sampai ke titik yang paling ngeri.

Jadi, kini, Wajar kalau Rangga merasa bersalah, karena memang Bu Shinta sangat menderita.

Sekarang kalian pikir, lebih baik menangis di tumpukan uang atau berbahagia di tengah rumah kardus dan lubang selokan?

Menangis seperti bu Shinta? Menangis karena ia bukan orang biasa?

Atau bahagia walau pun tidurnya di pinggir lampu merah? Yang makan dari tempat sampah?

Vina membuang keduanya. Ia memilih di tengah-tengah saja.

“Bu Arumi... yakin akan menikah dengan Rangga?” reflek saja kalimat ini terucap di bibir Vina. “dia bukan orang sembarangan yang bisa makan di restoran random. Atau joging di seputaran kompleks rumah seperti almarhum suami Bu Arumi dulu. Orang seperti Bintang jumlahnya puluhan ribu, dan berputar di sekitar Rangga. Hanya beda wajah saja. Hati mereka sama-sama busuk.” Kata Bu Vina.

“Maksud ibu, mulai sekarang saya harus bilang ke anak-anak, jika saya dan Rangga menikah Ryan sudah tidak akan bisa kerja shift malam di mini market dan Aryo harus sekolah di tempat lain yang sekuritinya bejibun?”

“Dan Bu Arumi sudah pasti nggak boleh ke pasar lagi karena masalah keamanan.”

“Bagaimana kalau Rangga saja yang keluar dari circle ini?”

Vina menggelengkan kepalanya. “Ini takdir Rangga Bu. Sudah ditetapkan, mau dia keluar pun warisan akan nama besar itu tetap ada. Justru kalau dia keluar, akan lebih berbahaya karena tidak punya bekingan. Sekarang, waktunya Bu Arumi memilih.”

“Saya rasa, dari mengamati saya selama beberapa bulan ini, Bu Vina sudah tahu jawaban saya kan. Lagipula, saya datang langsung ke sini karena ingin Bu Vina dan Bu Shinta tahu penampakan diri saya. Bukan dari hasil pengamatan dari jauh.” Arumi menyeringai sambil menyerahkan thin wall besar berisi Rujak Aceh.

Vina menerima thin wall itu sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Bu Vina, saya tahu persis Perempuan yang berjuang sendirian bertahun-tahun pasca-pengkhianatan pasti sudah mengalami banyak hal yang di luar nalar manusia. Jadi, sungguh tidak sopannya saya jika tidak memberikan hormat secara langsung pagi ini." Arumi menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan psikologis yang menusuk. ” Sebab sampai detik ini, Rangga lebih menganggap Bu Shinta sebagai ibunya sendiri dibandingkan dengan ibu kandungnya itu. Saya sendiri adalah seorang ibu dengan dua anak tiri dari mendiang Mas Ary. Saya tahu persis bagaimana rasanya. Suatu kehormatan yang tidak terhingga saat anak-anak yang tidak lahir dari rahim saya, mau menempatkan saya secara khusus di hati mereka."

"Saya ke sini bukan untuk mengemis belas kasihan agar proposal investasi itu disetujui. Bisnis adalah urusan Rangga dan seharusnya ia menghormati keputusan Bu Shinta dengan tidak mengganggu apa pun yang ditetapkan. Saya datang murni sebagai sesama wanita yang tahu rasanya menjaga takhta rumah tangga. Jadi... tolong sampaikan pada Bu Shinta, suguhan sederhana saya ini sebagai tanda sayang saya yang tulus. Jika beliau menganggap ini sebagai gratifikasi murahan dan menolak menemui saya... saya akan memahaminya. Benci atau tidak Bu Shinta pada Rangga, kami akan tetap berusaha semampu tubuh kami, mempertahankan nama baik Bu Shinta sebagai orang tua kami."

Arumi perlahan membungkukkan tubuhnya ke Vina, lalu membalikkan tubuhnya, melangkah dengan anggun di selasar marmer lobi untuk diantar keluar dari dalam rumah mewah itu oleh sekuriti. Namun tepat di ambang pintu jati yang kokoh, langkah kaki Arumi mendadak terhenti sejenak.

Wanita itu menoleh ke belakang, mendongakkan kepalanya menatapi jajaran jendela kaca besar yang membentang luas di lantai dua. Sudut bibir Arumi perlahan terangkat, mengulas seulas senyuman simpul yang sarat akan ketenangan, sebelum akhirnya ia menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk memberikan gestur hormat yang takzim. Gerakan senyap itu seolah menjadi penegas bahwa Arumi tahu persis, di balik bayangan tirai tebal jendela besar tersebut, sepasang mata aristokrat milik sang nyonya besar sedang diam-diam mengawasi setiap jengkal pergerakannya.

1
Leni Pur indah sari
jangan di pancing Riaan.. tau2 besok udh jadi milik Rangga aja tu rumah sebelah..
neen
kheemm... gerah dan geli😄
Miss F
Rangga udh kecintaan SM mbak aruminto msh malu2 meong🤣🤣
Dede Maesaroh
🤣 kocak
Naftali Hanania
haredang ini mah....fisual sama kalimat2 nya.....bikin hilaf gak ni nanti..😍
Naftali Hanania
salut bgt sm om rangga. respek lah sekwbon lope2 nya...👍👍👍👍💖💖💖💖
Sahlendi Udiningrum
suka banget ma pasangan arumi rangga, menyalaa smuaaa💣
HilVi Tanurahardja💋
makasih upnya madam🥰
HilVi Tanurahardja💋
woaaaahh mantap ya rian
mamaqe
kodee ituuu kodeee...kan ada clue nya..sabaarrrr
mamaqe
duuhhh anak perawan malu2🤣🤣🤣🤣
mamaqe
Cian ranggaaaa
Lusi Amelia
Madame, 1 bab kureeeeng ini 🥹🤣🤣🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
jadi nge bayangjn mas rangga🤣
Miss F
mbak arumii ngiler g liat isi dlm Rangga 🤣 angkat
Nur Aisyah
💪
Siti Rohmah
mau lagi💪
mery harwati
Rangga membalas kebaikan Arumi yang menyelamatkan perusahaan Rangga dari ancaman Bu Shinta dengan membelikan Rian mini market meski dengan alasan dicicil karena Rangga juga tau Rian keras kepala, bener² smart Rangga 👍
mamaqe
ta temenin rum...mamaq malah lg ngelap iler🤣🤣🤣
mamaqe
ranggaaa..mamaq bingung mo komen apa ttg kamu..luar biasa kamu tuhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!