Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
Beberapa bulan berlalu dengan cepat, meninggalkan secuil kenangan yang sampai saat ini belum aku lupakan. Berbulan-bulan pun, aku tak bisa menemukan gadis polosku itu, entah dimana dia sekarang.
Setelah aku menerima penghargaan sebagai siswa pintar tahun ini, aku pun segera menuruni panggung tesebut. Semua siswa-siswi berpelukan dan menangis, mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya.
"Bryan!" ketiga temanku berlari kearahku dan menepuk pundakku. Ketiganya tersenyum tipis.
"Lo lanjut dimana?" tanya Argian seraya menatap kami semua.
"Gue bakalan dikirim Papi ke London, huft," jawabku dengan membuang nafas berat. Iya berat, berat menjauh dari keluarga dan ketiga sahabatku ini. Aku dan mereka sudah bersahabat sejak kecil, dan hari ini kita semua akan berpisah untuk masa depan masing-masing.
"Huaa! Gue gak bisa jauh dari kalian!" teriak Karell sambil memeluk Vino. Vino yang merasa risih pun, langsung mendorong tubuh Karell.
"Lebay, bego!" umpat Vino diiringi tatapan sinisnya. Aku dan Argian hanya tertawa lepas melihat tingkah keduanya.
"Ini pelukan terakhir dari gue, sebelum gue pergi ke Amerika!" ungkap Karell.
"Strobery mangga gulali, sorry gak peduli," Karell dengan sigap menjitak kepala Vino yang sedari tadi membuatnya kesal.
"Sejak kapan lo pandai mantun?" tanyaku pada Vino, Vino beralih menatapku.
"Sejak gue sering nonton Upin Ipin," jawab Vino enteng. Aku tertawa kecil mendengar jawaban darinya.
Setelah acara selesai, kami bertiga pun langsung melajukan motor menuju cafe, tempat biasa kami berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Setelah memesan makanan dan minuman, kami berlanjut untuk membahas masa lalu dan masa depan.
"Btw, lo udah punya pacar, Vin?" tanya Karell. Vino tertawa lepas.
"Jangankan pacar, gebetan aja gue kagak punya," wajah Vino langsung datar sedatar tembok.
"Lo, gimana? Udah punya calon masa depan?" tanya gue pada Argian yang sedang minum, sontak Argian terbatuk-batuk dong mendengar pertanyaan yang aku lontarkan.
"Gue? Gue 'kan bakalan jadi adek ipar lo," jawab Argian enteng. Tunggu! Apa?!
"Apa?!" tanya kami bertiga, sampai semua orang di cafe menatap kearah kami. Argian menutup mulutnya, seolah-olah keceplosan atas ucapannya.
"L-lo suka Anissa? Sejak kapan? Apa lo udah pacaran ama dia?" Argian hanya mengangguk saat ditanya olehku. Memang dasar.
"Lo sendiri gimana?" Argian berbalik menatapku, aku hanya tertegun. Memang banyak yang ingin berpacaran denganku, namun aku seringkali menolak, karena masih berharap Ara akan kembali.
"Gue masih berharap supaya Ara kembali lagi di hidup gue," ujarku enteng. Memang, aku belum bisa melupakan gadis polos nan menyebalkan itu. Sejak kejadian beberapa bulan lalu, aku jadi sangat malas untuk dekat dengan wanita lain.
"Yakin, lo mau nungguin Ara?" Aku hanya mengangguk ketiga ditanya oleh Karell. Setelah menghabiskan makanan dan minuman, kami semua pun mengucapkan sebuah kata perpisahan. Kami semua saling merangkul sesama lain.
"Kita akan berpisah disini, ditempat ini. Tapi, suatu saat nanti, ketika kita sudah selesai dengan pendidikan kita, kita akan kembali lagi berkumpul disini, oke?" ketiganya langsung mengangguk, mungkin hari-hariku akan sepi tanpa mereka semua. Tapi aku yakin, Tuhan akan mempertemukan kita disini.
"Kita harus mempertahankan persahabatan kita, bagaimana pun caranya!" ujar Karell dan diangguki semuanya. Inilah perpisahan yang sangat berat bagiku, 5 tahun atau lebih harus berada di negri orang.
...
Dua hari berlalu dengan cepat, aku mengemasi barang-barangku dan menatap kamar ini untuk terakhir kalinya. Aku menuruni tangga dan bersiap masuk kedalam mobil. Di London aku akan tinggal bersama Nenek dan Kakekku, beserta Paman dan Bibiku.
Mobil dilajukan Ayah dengan pelan, sehingga sampai di bandara, aku mengambil penerbangan pagi.
Aku berhamburan ke pelukan Mami, Mami tak henti-hentinya menangis dan mengecup keningku beberapa kali. Percayalah, se-dewasa apapun seorang anak, ia tetaplah pangeran kecil dimata Ibunya.
"Nak, jaga kesehatan disana, ya. Kalau ada apa-apa kabari Mami, jangan sampai lupa!" Aku mengangguk dan mengusap air mata Mami yang sedari tadi mengalir.
"Mami tenang aja," ucapku. Kembali aku berpamitan pada Papi. Papi mengusap kepalaku.
"Dengarkan Mami kamu, jangan sampai lupa ngabarin, oke?" Aku mengangguk, dan beralih pada adik gak ada akhlak, siapa lagi kalau bukan Anissa.
"Woi, bontot. Lu gak mau peluk Kakak lu ni?" Anissa memalingkan wajahnya, beberapa detik kemudian, ia langsung memelukku dan terisak.
"Kenapa lo harus kuliah di luar negri sih?! Gue kan kangen berantem sama lo, rumah pasti bakalan sepi lagi!" ungkapnya, dan beberapa kali mencubit lenganku.
"Sakit, dugong! Lagian cuman sebentar kok, btw jaga hubungan lo sama Argian ya. Ciee dah punya pacar, Haha," tawaku lepas saat itu juga, pipi Anissa memerah seketika.
Setelah penerbanganku sudah tiba, aku pun segera berjalan meninggalkan mereka. Sesekali menghirup udara negaraku untuk terakhir kalinya.
'Ara, gue akan pergi, gue harap bisa bertemu lo lagi. Maafin gue,' lirihku dalam batin.
"ABANG!" langkahku terhenti, mendengar teriakan dari seseorang yang amat kurindukan itu. Aku berbalik, menatap seorang gadis yang tengah berlari, aku tertegun, gadis itu berhambur kepelukanku.
"Abang, Ara kangen," ucapnya diiringi isakan darinya. Aku membalas pelukan tersebut dengan erat.
"Lo kemana aja sih? Gue udah cari-cari lo sampe berbulan-bulan gue gak nemuin lo, kenapa lo ninggalin gue gitu aja?" Ara mendongak menatapku.
"Maafin Ara, Ara udah ninggalin Abang. Tapi Ara sayang Abang," ungkapnya dan kembali memelukku.
"Lo tau? Gue juga sayang lo, tapi ini adalah terakhir lo ngelihat gue," ujarku.
"Ara akan nungguin Abang, dan kapan pun Abang kembali Ara akan terus menunggu Abang," aku tersenyum tipis mendengar ucapannya. Aku melepas pelukannya dan menatap wajah imutnya.
"Janji?" tanyaku, sambil melihatkan jari kelingking.
"Janji!" Ara menautkan jari kelingkingnya dan kembali memelukku. Harapanku kini sudah tercapai, Tuhan terima kasih karna menghadirkan kembali sosok gadis polosku ini.
bersambung
jangan lupa ya baca cerbung yang lain juga judulnya
*pengantin kecil
*kapten futsal
*cewek culun
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍