NovelToon NovelToon
La Señorita

La Señorita

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:15M
Nilai: 4.9
Nama Author: Alianna Zeena

Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.

Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.

Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

La Señorita 29 : Sentimiento Abierto

Vote sebelum membaca😘😘

.

.

Keterdiaman Lucia semakin menjadi-jadi, dalam perjalanan menuju suatu tempat, dirinya membisu menatap keluar jendela mobil. Tidak mempedulikan Louis dan Louisa yang saling membisik, membuatnya semakin sakit hati mengingat apa yang telah dilakukan Louis. Pria itu tega mempertemukan Louisa dengan wanita itu. Jika Lucia tidak bisa menjadi nomor satu di hati Louis, setidaknya dia ingin begitu di hati putrinya. Pikirannya berkelana, mood nya hancur seketika, dan perasaan mual mulai datang ke permukaan.

"Kau baik-baik saja?"

Ketika tangan Louis mengusap punggungnya, Lucia menyingkirkannya. Dia duduk menggeser tanpa mengalihkan fokusnya dari luar jendela mobil.

Sampai benda itu berhenti di depan sebuah gedung hotel berkelas. Lucia turun. Awalnya, dia menghindar ketika Louis hendak memegang pinggangnya, dengan tangannya yang lain yang menggendong Louisa. Namun, melihat banyak orang berkelas di sini, Lucia menciut. Dia melangkah beriringan dengan Louis.

Terlalu banyak pikiran membuat Lucia tidak sadar dirinya sampai di ballroom, dimana beberapa orang datang menyapa Louis. Lucia hanya memberikan senyuman tipis, terlihat mereka yang tidak berani menanyakan identitas dirinya dan Louisa.

"Duduklah di sini," ucap pemilik manik hitam itu pada salah satu kursi paling depan.

"Acara apa ini sebenarnya?"

"Pembukaan real eatate baru di Barcelona."

"Lalu kenapa pestanya di sini?" Tanya Lucia sambil mengedarkan pandangan.

"Ini pesta untuk para pemilik saham, mereka yang menanam uang."

"Daddy, Lee ingin itu," tunjuknya pada canape.

"Sebentar, Sayang," ucapnya membawa Louisa kembali dalam gendongannya. Dia juga menggenggam tangan Lucia untuk ikut berdiri, membuatnya terkejut apalagi saat mereka menaiki panggung yang sama dengan orkestra. Membuat semua orang di sana terdiam untuk beberapa saat, fokus mereka hanya pada Louis de La Mendoza.

"Buenas noches a todos, gracias por asistir a esta sencilla fiesta." (Selamat malam semua, terima kasih sudah datang ke pesta sederhana ini.)

Louisa yang bersebelahan dengan Louis membuat para tamu membuat kesimpulan sendiri, apalagi dengan wajah mereka yang mirip.

"Selain untuk merayakan real eatate kita, aku ingin memperkenalkan calon pewaris De La Mendoza Inc. Putriku yang bernama Louisa De La Mendoza."

Beberapa tamu yang tidak punya etika saling berbisik. "Ya, dia putriku, lahir dari kekasihku yang bermama Lucia, dan sebentar lagi dia akan menjadi Nyonya De La Mendoza."

Lucia tidak dapat menahan keterkejutannya, dia menatap Louis yang jauh lebih tinggi darinya. Semua yang keluar dari mulut pria itu seakan tidak memiliki volume di telinga Lucia, kebohongan yang keluar dari mulutnya, tentang bagaimana pria itu menyayangi dirinya, membuat Lucia semakin tersiksa.

Hingga kalimat, "Enjoy your party." Mengakhiri semuanya.

Mereka turun dari sana, mendapatkan beberapa jabatan tangan sebelum kembali ke meja sebelumnya. Ketika seseorang tiba-tiba menyimpan piring berisi makanan di meja mereka, Lucia mengerutkan kening. 

"Ini makanan yang kau minta, Señorita."

"Lina?" Pandangannya melihat sekeliling, banyak orang yang dikenal Lucia termasuk pengasuh dan paikiater. "Kenapa mereka semua datang?"

"Kau pikir apa? Aku mengutamakan keselamatan putriku," ucapnya mendudukan Louisa di kursi lain. "Ingin ini?"

Putrinya mengangguk, dia mendapatkan suapan dari ayahnya. 

"Makanlah, kau tidak lapar?"

Alih-alih menjawab, Lucia malah berdiri. "Aku mau ke kamar mandi," ucapnya meninggalkan tempat itu. 

Pandangan Lucia menunduk, tidak mempedulikan orang-orang yang menyapa. Dia hanya ingin ketenangan lalu menangis. Namun, sedetik setelah dia duduk di closet, telinganya mendengar segerombolan wanita masuk dengan mulut mereka yang berisik.

"Bisa kau hitung? Umurnya sekitar 4 tahun, berarti dia hamil lima tahun lalu. Bukankah Nona Penelope masih ada?"

Mendengar namanya saja membuat tubuh Lucia tersengat aliran menyakitkan.

"Ya, aku yakin begitu, apa dia selingkuhannya?"

"Mungkin dia yang membuat Nona Penelope meninggal? Frustasi mendapati Señor Louis selingkuh?"

"Aku yakin mereka berhubungan, kasihan sekali Nona Penelope, dia sutrada terbaik."

"Tunggu, siapa namanya tadi?"

"Lucia, coba cari di internet."

Lucia menundukan pandang, di mana dia biaa melihat sepatu berkilauan wanita-wanita itu. 

"Tidak ada, identitasnya masih belum terbongkar."

"Dia menjadi trending topic, bahkan belum satu jam malam penobatan ahli waris itu," gumam salah satunya terdengar penuh kebencian.

Mulut Lucia bungkam, tapi air matanya jatuh. Louis begitu tega membuat skenario penuh kebohongan untuknya, apa yang akan terjadi padanya kelak? Bertahan di sisi Louis sementara dirinya tidak mendapat kebahagiaan? Cinta bertepuk sebelah tangan? Melihat foto Penelope di kamar Louis saja membuatnya mual, sama seperti sekarang, Lucia mengeluarkan isi perutnya, memuntahkan cairan putih yang membuat suara muntahnya terdengar jelas.

Membuat para wanita itu berlari keluar merasa jijik. Tidak lama setelahnya, Lucia mendengar suara langkah kaki berat, aroma yang Lucia kenal.

"Lucia, buka kuncinya, biarkan aku melihatmu."

Lucia terlalu sibuk dengan muntahannya, dia mengabaikan Louis yang mendobrak pintu, merusaknya hingga dia bisa masuk ke tempat yang cukup luas untuk ukuran toilet.

"Lihat, kau belum makan, tidak ada yang kau muntahkan," gerutunya sambil memijat tengkuk Lucia.

***

Penjara bawah tanah, bau amis yang keluar kini dua kali lipat. Pria latin, dengan rambut pirang itu berjalan menuju tempat paling ujung. Di mana ada tahanan abadi milik tuannya. Norman berjongkok di sana, dia mengetuk pintu besi menggunakan cincin yang ada di ibu jarinya.

"Bangun, Andy, waktunya kau mengatakan dimana buku silver itu," ucap Norman membuat sang tahanan, yang sudah dikerumuni lalat itu membuka matanya.

Tidak ada suara yang keluar dari bibir membuat Norman terpaksa membuka kunci dan masuk ke dalam, dia menerangi ruangan yang biasanya gelap gulita, membuat tahanan di sana menutup mata melihat sinar yang sudah lama dia tinggalkan. 

Pria berjas biru itu menyandarkan punggungnya di tembok, dengan tangan terlipat di dada. "Katakan dimana buku itu, tuanku menginginkannya."

Mulut Andy terbuka, tapi tidak mengeluarkan suara. Terpaksa pria latin itu berjongkok di depannya, membuka botol air di genggaman dan menyiram tubuh Andy dengan itu. "Lihat bagaimana tubuhmu rusak karena ulahmu sendiri."

Banyak luka cakaran dan gigitan dari jaguar hitam. "Katakan dimana buku silver itu, membunuh Papa dari Señor Louis akan menjadi tugas terakhirku."

Andy, pria yang dipenuhi luka itu tertawa keras, disela-sela kesakitannya. "Kau tikus pengerat yang diinjak Louis, tidakkah kau mengira dia juga akan membuangmu setelah kau menjadi mayat?"

"Señor Louis takkan membunuh bagian tubuhnya."

"Dia memanfaatkanmu, kau ingin tahu siapa yang membunuh ibumu 'kan?"

Tubuh Norman menegang, dia mencengkram kuat dagu Andy yang dipenuhi luka cakaran. "Dimana buku Silver itu?"

"Kau tahu, ada catatan ayahku yang menuliskan bahwa dia bertemu dengan pembunuh Imelda Le Siguenza."

"Dimana buku itu? Katakan," ucap Norman dengan geram. "Katakan padakku atau kau akan mati!"

"Kau ingin tahu cerita lengkap bagaimana Louis mendapatkan Dioses La Asesinos?"

Norman mengeluarkan rokok, dia menghidupkannya duduk di sebuah bangku panjang di sana. Sambil menatap Andy yang terluka parah di tengah sel, melihat bagaimana lalat mengerumuni tubuhnya yang bau amis.

"Louis adalah tangan kanan ayahku, dia pemimpin De Dioses, kartel yang menguasai senjata api. Ayahku mengumpulkan dua klan lain, mereka mahir membuat sabu, satunya lagi mahir mendirikan klan malam. Bertepatan di Palma, Louis masuk ke ruangan tempat tiga pemimpin sedang berunding, dia menarik pelatuk, menembakan senjata api dengan dibantu oleh jaguar-jaguarnya. Tidak ada yang berani melawan, Louis memiliki akun bank di Swiss, dia memegang semua rahasia besar tiga klan. Begitulah dia memimpin puncak rantai makanan."

Norman mengeluarkan asap dari mulutnya. "Aku tahu cerita itu, apa yang coba kau katakan."

"Kau juga bisa melakukannya, Norman, kau bisa berada di sana."

Pria itu terdiam, dia terkekeh dan memilih menendang tubuh Andy, keluar dari sana setelah mematikan cahaya. Kembali mengunci pria itu di dalam. "Kau akan segera mati sebelum aku sampai di sana," ucapnya melangkah menjauh dari tempat itu.

Norman keluar dari ruang bawah tanah, dia mendapatkan notifikasi dari ponsel, sebuah berita tentang penobatan ahli waris De La Mendoza inc. Norman bergumam, "Kenapa secepat ini?" Tanyanya terheran-heran.

Dia segera menghubungi Louis. Tidak lama pria itu mengangkat panggilan. "Kau sehat, Señor?"

'Tidak, Lucia tidak sehat, dia tidak ingin ke dokter.'

"Wah, kalian pasangan serasi."

'Dia tidak bicara sejak tadi, apa kau tahu kenapa?'

Norman mengerutkan kening, dia melihat layarnya, memastikan itu benar Louis yang dihubunginya. "Señor, apa kau sedang mabuk?"

'Bicara denganmu tidak membantu,' ucapnya lalu mematikan telpon. Membuat Norman semakin bertanya-tanya. Dia menelan salivanya kasar, merasa ada yang aneh dengan tindakan sang manjikan.

Sebelum Norman menaiki tangga dan keluar dari ruang bawah tanah, dia mengeluarkan salah satu jaguar.  "Hai, Ant, ikut aku," ucapnya keluar dari mansion, dengan beberapa pelayan yang menunduk hormat padanya. 

Pria itu menaiki motor, dia memakai helm. Sebelum menyalakan mesin, dia melihat langit gelap, seakan siap menumpahkan tangisan. "Kita akan ke rumah tua Andy, ambil jalan pintas."

Motor itu membelah jalanan yang diselimuti oleh hutan pohon rindang. Diikuti oleh jaguar hitam yang berlari disampingnya, mereka membelah jalanan sepi, menuju sebuah rumah yang tadinya adalah tempat huni pemimpin Dioses La Asesinos yang kini telah berubah menjadi reruntuhan tua. Tempat itu dibakar oleh Louis setelah dirinya pulang dari Palma. 

Norman berjalan ke arah sana, ingin memastikan sekali lagi tidak ada tempat yang dilewatinya. Buku silver milik Mario, dia mencatat setiap kejadian dalam hidupnya, dia memegang rahasia banyak orang.

Bangunan yanh sudah ditumbuhi tanaman rambat, bekas terbakar dan hanya menyisakan reruntuham tidak membuat Norman menyerah. Setiap inci dia teliti dengan baik, sampai dirinya benar-benar tidak menemukan apapun. "Kau menemukan sesuatu, Ant?"

Jaguar itu malah merebahkan tubuhnya di atas rumput liar, membuat Norman berdecak. Ketika dirinya hendak duduk di salah satu reruntuhan, ada sesuatu yang mengganjal di kaki. Norman berjongkok, dia menyingkirkan tanaman rambat dan debu yang menempel di sana. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah lubang kunci di lantai. 

Mustahil menemukan kunci yang sebenarnya, Norman mencoba peruntungan dengan pistol miliknya. Sayangnya, itu gagal.

Kesal, Norman memilih menggunakan klip dasi miliknya. Tidak diasangka itu berhasil. Perjuangannya tidak sampai di situ, masih ada beberapa pintu yang harus dibuka sampai memperlihatkan anak tangga menuju bagian bawah tanah.

"Aku menemukannya."

Ant mengikuti di belakang, menggunakan pencahayaan ponsel sebelum menyalakan lilin yang ada di sana. Norman menatap jajaran buku tua yang ada di sana. Buku silver, warna yang tidak jelas, seperti jantungnya sekarang yang berdebar kencang menunggu kebenaran. 

Lama dia mencari, Norman menemukan kotak berisi lembaran kertas usang. Kata kunci yanh diberikan Louis adalah, "Black sparrow." sebagai julukan ayahnya yang dikatakan pernah bekerja di kartel Madrid.

Mata Norman tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat membaca kebenaran.

"Señor Louis, kau akan terkejut saat tahu siapa ayahmu. Kejadian buruk akan datang."

***

"Bicaralah sepatah kata padakku, kita selesaikan apa yang kau pikirkan."

Lucia tetap bungkam, dia memeluk Louisa yang tertidur di pangkuannya. Manik birunya fokus pada jendela mobil.

Begitulah sampai mobil berhenti di mansion. Lucia mendahului, dia masuk ke dalam mansion tanpa bicara sedikitpun pada Louis. Ketika dirinya hendak menaiki tangga pertama, sepatu hak tinggi membuatnya hampir terjatuh.

"Kau tidak apa?"

"Lepaskan aku," ucapnya menggoyangkan tubuh guna Louis menjauh darinya. "Aku bisa sendiri."

Pemilik manik hitam itu heran, apalagi ketika Lucia melempar sepatunya dan meninggalkannya begitu saja.

"Bereskan itu," perintah Louis pada Andrean.

"Sí, Señor."

Segera dia menyusul Lucia ke lantai atas, dirinya menunggu Lucia di ambang pintu kamar putrinya. Wajah pemilik manik biru itu menahan amarah, terbukti dengan dirinya yang menabrak bahu Louis saat melewati.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak suka kau mengabaikanku," ucapnya menutup pintu kamar mereka. Dia menahan tangan kiri Lucia. "Aku tidak suka kau berpaling dariku."

Tidak disangka, Lucia memberikan tamparan keras di pipi pria itu, membuat Louis menatap tidak percaya. Perempuan itu menunjuk Louis. "Dan aku tidak suka kau mengajak putriku ke kuburan kekasihmu, dia milikku! Hanya aku yang harus dia kenal dalam hidupnya! Bukan siapapun, termasuk wanitamu! Aku satu-satunya yang akan menjadi ibunya sampai kapanpun."

"Tenanglah, kau satu-satunya ibu dalam hidup Louisa."

"Aku tidak suka kau mengenalkan kekasihmu pada putriku!"

"Itu yang membuatmu marah?"

Air mata Lucia menetes. "Louisa milikku, terserah siapa kekasihmu, aku ibunya."

"Tentu kau ibunya, kau yang melahirkannya dan akan selamanya menjadi seperti itu."

"Lepaskan aku," ucapnya mencoba melepaskan cengkraman tangan Louis. "Aku lelah seperti ini, aku lelah hidup bersamamu."

"Aku memberi apa yang kau butuhkan, Lucia, kau ingin Louisa bahagia 'kan?"

Perempuan itu menggeleng, matanya terpejam mencoba menahan air mata yang terus menetes. "Aku juga ingin bahagia, aku ingin keluar dari tempat ini dan menemukan jalan hidupku."

"Hidupmu di sini, Lucia," ucapnya merangkup kedua pipi pemilik manik biru itu. "Kau ditakdirkan untuk di sini."

"Aku senang Louisa bahagia, tapi aku tidak bisa selamanya seperti ini, aku hanya ingin kebebasan."

"Kau bebas, Lucia, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."

"Lepaskan aku," ucap Lucia dengan memohon. "Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, tapi biarkan aku pergi."

"Tidak." Kedua tangannya semakin erat memegang pipi Lucia, memaksa manik biru itu membalas tatapannya. "Kau tidak akan kemanapun."

"Aku tidak bisa diam di sini terus." Tangannya mencoba melepaskan Louis dari tubuhnya. Suaranya melemah. "Aku lelah…"

"Apa yang membuatmu lelah?"

Lucia tertawa hambar. "Kau tahu aku menyukaimu, aku mencintaimu, dan aku tidak bisa diam sementara kau terus memuja Penelope. Aku ingin seorang pria yang menyayangiku, aku ingin kebahagiaan."

Sedetik setelah mengatakan itu, Louis berjalan mengunci pintu keluar sebelum mengambil sesuatu dari walk in closet, pria yang masih mengenakan mantel itu memegang buket dan kotak cincin di tangannya. "Aku tidak memuja Penelope, Lucia. Jika aku melakukannya, aku tidak akan melakukan ini."

Dengan wajah yang masih penuh tanya, Lucia menunduk menatap kotak cincin yang sudah terbuka, memperlihatkan safir indah dan berkilauan. Lucia mengatup bibirnya yang sedikit terbuka, air matanya jatuh mengenai cincin itu saat Louis berkata, "Menikahlah denganku."

Perkiraan Louis tentang pikiran Lucia nyatanya jauh berbeda dari perkiraan, perempuan itu mengambil cincin bukan untuk dikenakan, melainkan dia tampilkan di depan wajah Louis. Dengan kepalanya yang mengadah, Lucia yang penuh amarah. "Aku tahu kau ingin Louisa bahagia, tapi tidak dengan kebohongan."

"Kebohongan? Apa yang kau maksud?"

"Louisa ingin kita menikah, kau melakukannya untuk dia."

"Aku melakukannya untuk diriku." Louis mengambil cincin itu dan memakaikan paksa pada jari manis Lucia. "Karena aku mencintaimu, aku menyayangimu, Lucia."

Perkataan Louis kembali membuat Lucia terkekeh. "Mencintaiku? Kau hanya menganggapku budak yang kebetulan mengandung anakmu, dan semua itu karena wajah ini bukan?!"

"Apa maksudmu?"

"Kau mencintaiku karena wajahku mirip dengan Penelope."

Louis frustasi, dia meremas rambutnya sambil berjalan mondar mandir untuk sesaat. Tangannya melempar buket itu ke atas ranjang, dirinya memegang kedua bahu Lucia. "Aku mencintaimu bukan karena wajahmu yang seperti dia."

"Kalau kau mencintaiku kenapa masih ada foto Penelope di sini?"

Louis memejamkan mata, dia mengambil semua pigura itu dan melemparnya keluar jendela. "Kini tidak ada."

"Kau mencintaiku karena wajahku mirip dengannya!"

"Lucia," ucapnya penuh penekanan, dia merangkup kembali pipi yang dijatuhi air mata itu. "Kau memiliki ruang khusus di hatiku, aku minta maaf tidak memperhatikan hal sedetail itu, aku mencintaimu, jadilah istriku, temani aku menua."

Dengan sekuat tenaga Lucia melepaskan tangan Louis dari pipinya, dia berjalan mundur, mengusap air matanya kasar dan menunjuk dirinya sendiri. "Kau menjadikanku budak karena wajah ini mirip dengannya."

"Lucia, kau jantungku."

"Dan kau menikah denganku hanya untuk kebahagiaan Louisa."

"Apa yang kau lakukan?!" Louis mengepalkan tangan mencoba tidak marah ketika Lucia melemparkan cincin itu keluar jendela, dia menatap perempuan itu penuh pemakluman, berjalan mendekat. Nada suaranya mulai merendah, "Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya kalau aku mencintaimu? Aku menyayangimu."

"Kau tidak perlu membuktikannya, karena kau tidak mencintaiku."

Louis mengangguk, dia menatap ke arah lain menghindari manik biru itu. "Kau butuh waktu untuk sendiri," ucapnya melangkah keluar dari kamar sambil memegang pipinya yang mulai terasa sakit akibat tamparan.

Bersamaan dengan suara pintu tertutup, air mata Lucia jatuh. Dia mengusapnya kasar dan melangkah menuju ranjang, di sana dia melihat buket yang dibawakan Louis. Terdapat sebuah amplop ungu di sana, Lucia duduk dan membuka isi di dalamnya.

Secarik kertas yang bertuliskan tangan ;

*Lucia, napasmu adalah detak jantungku.

Aku kehilangan arah, hidupku sekelam malam.

Datangmu adalah lentera hidupku.

Genggam tanganku, bawa aku pada dunia yang lebih baik.

Lucia, temani aku menua sampai menutup mata*.

---

Love,

ig : @Alzena2108

1
Cheese Taro
jalan jalan dengan sepatu rodakuhhh
Budi Madridista
skrng 2026 baca lgi, tapi authornya udah gak prnah up 1 story pun lgi
Wayan apriani
Luar biasa
kereen
Wayan apriani
Lumayan
Anonim
kak dri 2020 nunggu karya yg kya gini lg kak
Bellz
kangen jdi baca ulang, Thor kapan comeback
Anonim
bodoh bgt si lucia ini tolol
wikha Sandra
🤣🤣🤣
riririrururu
Aku balik lagii🫶🏼🫶🏼🫶🏼
☘️⃟🆑🍾⃝🎐⃟ͧC͠ʜᴀᷫғͧɪᷠɪ̽ɴⷡᴛᷧ͜ᴀͤ
kan nangis lagi tiap sampai di part ini 😭😭😭😭😭
Indry
2025 aq download beberapa aplikasi novel buat cari lagi novel ini, salah 1 yg terbaik menurutku, pertama x baca beberapa taon lalu 😍
Indry
Pertama kali baca pas Covid skrg 2025 download apk ini buat cari la senorita 🤩
Indry
Aku instal lagi karna kangen mau baca la senorita 😍
Nur Janah
udah baca th 2022 , baca lagi sekarang th 2025 tpi heran ya gak lupa alurnya
Meli Pahliani
wanita bodoh dan lemah
Meli Pahliani
Lucia bodoh
Tantri Syawal
i hate this novel but i love this novel/Sob/
Tantri Syawal
aaaa wanita ini terobsesi dengan luis
Tantri Syawal
kenapa ceritanya merendahkan wanita 😭
Travel Diaryska
aleman emg lucia ini lama2, ga demen sama tsundere
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!