NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa tersindir

"Dasar benalu! Gak tau malu! Bukannya kerja malah keenakan numpang hidup sama orang lain!"

teriak Imel dengan keras sambil ngeremas HP-nya sampe buku-buku jarinya putih.

Bikin suaminya yang asik nikmatin secangkir kopi sama baca koran di teras langsung kaget.

"Ada apa, Mel?" ucap Ikbal. Dia nurunin korannya.

"Ini, Mas. Si Lia, si benalu ini enak ya numpang hidup sama Andira.

Pake acara posting tas sekolah sama sepatu anaknya lagi di Story WA.

Emangnya mau bikin sakit hati siapa, hah?"

jawab Imel ketus. Dia emosi, bola matanya muter kayak mau nerjang suaminya.

Ikbal narik napas. Dia nyeruput kopi panasnya pelan.

"Ya udah, mungkin itu rezeki anak-anaknya karena mereka nemenin Andira.

Kalau kamu mau beli buat Indah sama Ito, kan kamu tinggal beli aja toh?"

"Ya jelas lah kalau mau beli aku tinggal beli. Ngapain mau harap orang,"

sambar Imel. Dagunya naik.

"Ya udah beli. Dan jangan diambil pusing kehidupan orang lain, Mel.

Itu ipar kamu, istri dari adik kamu. Berarti keluarga kamu kan,"

jawab Ikbal santai. Dia gak mau ada salah paham di tengah keluarganya.

Imel diem. Gak menanggapi suaminya.

Dia buka aplikasi biru. Jarinya ngetik cepet.

Dia tulis status:

"Bangga dengan pemberian orang. Bahagiain anak pake hasil kerja keras sendiri dong,

bukan hasil dari kata 'nemenin' jadinya ngisep pelan-pelan, wkwk."

"Baca itu biar tau malu kamu," batin Imel sambil pencet "Kirim".

Di rumah Andira, Lia asik nyiapin makan malam buat mereka.

Ada nasi anget, ayam goreng, oseng tempe kacang panjang, terong goreng,

sama lalapan timun sama kol. Sederhana, tapi wangi sampe ke ruang tamu.

Abis masak, Lia ambil HP. Dia foto meja makan itu.

Terus dia unggah ke Story WA. Kasih caption:

"Biar sederhana, yang penting bisa buat ngisi perut ngelewatin malam ini."

Gak sampe semenit, status paling atas di beranda WA Lia muncul.

Status Imel.

Lia buka. Bacanya pelan. Tangannya gemetar.

"Apa... jadi status ini buat aku? Karena aku posting tas sama sepatu anak aku tadi?

Padahal aku cuma bagiin kebahagiaan. Gak nyinggung siapapun,"

batin Lia. Dadanya sesek.

Abis makan malam, Lia cerita ke Rendi di kamar.

"Mas, liat deh status Mbak Imel."

Rendi baca. Mukanya datar. Dia geleng.

"Udah, Dek. Gak usah didebat. Kakak kita itu gak bisa dikasih tau.

Salah pun dia ngerasa paling bener."

Akhirnya Lia milih diem. Dia gak mau bales WA itu.

Buat jaga suasana rumah biar gak makin panas.

Tapi Imel gak berhenti. Karena gak digubris Lia, dia makin jadi-jadi.

"Untung numpang makan. Kalau gak, pasti malam ini nasi sama telur ceplok aja, wkwk,"

tulis Imel lagi di status WA. Ada stiker ketawa.

Masih gak ada yang bales. Imel ngetik lagi:

"Kerja dong biar bisa kasih anak makan enak sama pake bagus,

tanpa bantuan orang lain," tambah Imel di status WA-nya.

Abis nulis itu, Imel langsung tidur. Pules.

Kayak gak ada dosa sama sekali.

Di tempat lain, Andira lagi scroll WA satu-satu sebelum tidur.

Pas sampe status Imel, dia langsung kaget. Dadanya nyesek.

Tanpa mikir panjang, dia bales chat pribadi ke Imel:

"Mbak, jangan gitu. Kita kan keluarga. Udah sepantasnya saling bantu."

Kaget ada notif masuk, Imel kebangun. Dia buka chat.

Baca. Terus ngetik cepet:

"Ih dasar perempuan mandul. Sibuk banget kamu.

Terserah aku dong mau nulis apapun. HP punya aku, WiFi aku yang bayarin."

Andira ngetik balik, suaranya pelan tapi nahan nangis:

"Iya, Mbak. Aku tau. Tapi gak seharusnya kan, Mbak,

berstatus juga buat nyindir orang lain?"

Imel bales lebih tajam:

"Urus aja kemandulan kamu, perempuan pembawa sial.

Karena kamu adik aku meninggal."

"Uhhh... dikasih tau baik-baik malah melunjak,"

ucap Andira pelan sambil ngelus dadanya. Nyesek banget.

Andira letakin HP-nya. Ditarik napas panjang.

Dia lanjut tidur. Tapi matanya gak bisa merem.

Air matanya netes ke bantal.

Di rumah Imel, dia bangun lagi tengah malam.

Buka WA. Bikin status baru:

"Dasar mandul, pembawa sial."

Status itu gak dibaca Lia ataupun Andira.

Karena mereka udah tidur pulas. Capek nangis.

*_**_***

Pagi harinya, Putri bangun lebih awal.

Dia liat HP Mamanya nyala. Ada notif WA banyak.

"Tante, HP Mama bunyi terus," ucap Putri polos.

Lia bangun, ngantuk. Dia liat HP. Status Imel masih ada.

Dia langsung matiin data. "Udah, Nak. Gak usah diliat."

Andira dari kamar keluar. Matanya sembab.

Dia senyum ke Putri, "Udah sarapan, sayang?"

"Udah, Tante. Mama masak nasi kuning," jawab Putri.

Rendi dari kamar mandi keluar, denger HP-nya bunyi "ting".

Chat dari Ikbal masuk pribadi ke dia:

"Reno, jagain Lia ya. Mbak Imel lagi sensi.

Maafin dia. Dia lagi menopause, jadi emosinya gak stabil."

Rendi bales singkat: "Siap, Bang. Makasih udah ngingetin."

Rendi gak cerita ke Lia. Dia gak mau istrinya kepikiran.

Sarapan pagi itu sepi. Cuma ada suara sendok ke piring.

Putri sama Tio makan lahap. Andira cuma nyuapin dikit.

"Mbak, makan ya. Biar ada tenaga," pinta Lia.

Andira angguk. "Iya, Lia."

Abis sarapan, Andira ke kamar. Dia buka diary.

Tangannya gemetar nulis:

"Hari ini aku baca status Mbak Imel.

Sakit, Mas. Sakit banget. Dibilang benalu. Dibilang mandul pembawa sial.

Padahal aku cuma mau nemenin Mbak Lia.

Aku gak minta apa-apa. Aku beliin Putri sama Tio tas

pake uang pensiun Mas yang terakhir.

Tapi di mata Mbak Imel, itu dosa.

Katanya aku ngisep pelan-pelan.

Mas, aku capek jadi bahan sindiran.

Tapi aku janji, aku gak akan bales.

Biar Mas di sana gak malu punya istri tukang ribut."

Andira tutup diary. Dipeluk ke dada.

Dia sujud di atas kasur. Nangis tanpa suara.

Jam 9 pagi, Lia ke depan rumah. Jualan nasi kuning.

Andira ikut bantuin bungkusin.

"Bu, nasinya enak banget. Lauknya banyak,"

puji tetangga yang beli.

Lia senyum. "Alhamdulillah, Bu. Makasih ya."

Ada ibu-ibu nguping. Bisik-bisik:

"Itu kan janda mandulnya Mas Renaldi. Kasihan ya, numpang hidup."

Andira denger. Dia nunduk. Tangannya berhenti bungkus nasi.

Lia langsung pegang tangan Andira. "Udah, Mbak. Gak usah dengerin."

Andira angkat wajah. Dia senyum ke ibu-ibu itu.

"Iya, Bu. Saya numpang hidup. Numpang hidup di rumah adik ipar saya.

Karena suami saya nitip saya ke mereka sebelum pergi."

Ibu-ibu itu diem. Mukanya malu. Terus pergi.

Siang, paket baru dateng lagi. Baju seragam Putri sama Tio.

Andira pesen diam-diam semalam.

Putri langsung coba. "Tante, aku jadi anak pinter ya pake baju ini."

Andira peluk Putri. "Iya, sayang. Kamu pinter.

Kamu anak hebat. Gak kayak omongan orang."

Sore, Rendi pulang. Dia bawa oleh-oleh martabak.

Favorit Andira dulu.

"Mbak, ini. Martabak manis. Buat ngilangin sedih,"

ucap Rendi sambil nyodorin.

Andira terima. "Makasih, Mas. Mas baik banget."

"Mbak juga baik. Mau jagain anak-anak aku," jawab Rendi.

Malamnya, HP Andira bunyi lagi. Chat dari nomor gak dikenal:

"Kasian ya, Bu Guru. Janda, mandul, numpang hidup.

Kapan sadarnya, Bu?"

Andira blokir nomor itu. Terus dia liat foto Renaldi di HP.

"Mas, aku gak bales ya. Aku janji.

Aku gak akan turun ke level Mbak Imel.

Biar Mas bangga punya istri yang sabar."

Dia buka WA. Liat status Imel terakhir:

"Orang susah emang gitu, sukanya ngemis perhatian."

Andira screenshot. Terus dia hapus chatnya.

Gak mau Lia liat. Gak mau Lia sakit hati.

Sebelum tidur, Andira kumpulin Lia, Rendi, Putri, Tio di ruang tamu.

"Lia, Reno, Putri, Tio. Denger ya.

Mulai besok, Mbak gak akan buka WA lagi kecuali buat kerja.

Mbak gak mau kalian kebaca omongan jahat orang.

Kita fokus kerja, fokus sekolah, fokus ibadah. Ya?"

Mereka kompak angguk. Putri peluk Andira.

"Tante, Putri gak peduli kata orang.

Putri sayang Tante."

Tio ikutan peluk kaki Andira.

"Tio juga sayang Tante. Tante gak benalu.

Tante malaikat."

Andira nangis. Tapi kali ini nangisnya lega.

Lia bisik, "Mbak, kita keluarga.

Keluarga itu saling nutupin aib, bukan ngumbar di status."

Rendi nambah, "Iya, Mbak. Mas Renaldi pasti seneng

liat kita kompak lawan omongan orang."

Andira angguk. Dia liat ke arah langit-langit.

"Mas, denger ya. Aku kuat. Karena aku punya mereka."

Malam itu Andira tidur nyenyak.

Gak buka WA. Gak baca status.

Di rumah Imel, dia bangun jam 2 pagi.

Buka WA. Liat statusnya gak ada yang liat.

"Dasar janda mandul, sombong banget,"

gumamnya sambil bikin status baru.

Tapi status itu gak akan ada yang baca.

Karena Andira udah milih diem.

Diem bukan berarti kalah.

Diem artinya dia jagain harga diri suaminya.

Jagain ketenangan rumah yang baru dia punya.

Dan itu lebih mahal dari seribu status jahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!