Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris yang Mulai Melangkah
Bu Ratih akhirnya angkat bicara. Sejak tadi ia hanya mendengarkan perdebatan antara Mahesa dan Naura, tetapi keputusan Mahesa menurutnya masuk akal.
"Menurut Ibu, Mahesa benar. Lahan di seberang perusahaan memang lebih berguna kalau digunakan untuk mess karyawan," ujar Bu Ratih tenang.
Naura langsung menoleh, tidak menyangka bahkan ibu mertuanya ikut mendukung keputusan Mahesa.
Bu Ratih kemudian mengingatkan bahwa Naura sebenarnya sudah memiliki lahan lain untuk rencana pribadinya. Bahkan, pembangunan lapangan golf di atas tanah tersebut sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sayangnya, setelah mengeluarkan begitu banyak uang, tempat itu sampai sekarang belum memberikan hasil yang berarti.
"Tanahmu sendiri sudah dibangun golf dan pengeluarannya besar sekali. Tapi sampai sekarang masih begitu saja. Jangan sampai perusahaan kembali mengeluarkan banyak biaya untuk sesuatu yang belum jelas hasilnya," lanjut Bu Ratih.
Wajah Naura semakin memerah. Ia merasa semua orang justru menyalahkan dirinya. Baginya, lapangan golf itu adalah bagian dari rencana besar yang belum selesai, tetapi tidak ada seorang pun yang mau memahami keinginannya.
Mahesa hanya diam. Ia tahu ibunya tidak bermaksud mempermalukan Naura. Namun, perkataan Bu Ratih memang sulit dibantah.
Naura akhirnya berdiri dengan wajah penuh kesal. Ia tidak ingin melanjutkan perdebatan di depan Raffi dan Julian. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia meninggalkan meja makan dengan langkah cepat.
Pintu ruangan tertutup cukup keras.
Raffi hanya menatap ke arah kepergian Naura. Ia merasa tidak nyaman karena kehadirannya kembali menjadi alasan munculnya pertengkaran. Namun Mahesa segera menepuk bahunya pelan.
"Jangan dipikirkan. Kamu fokus saja pada rencanamu," ujar Mahesa.
Raffi mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa rencananya untuk membangun Arunika bukan hanya sekadar impian pribadi. Ada orang-orang yang mulai percaya bahwa apa yang ia pikirkan memang bisa membawa perubahan bagi perusahaan.
Julian sedang berbicara melalui telepon dengan Dewi ketika Naura menghampirinya. Dari ekspresi wajah Julian, terlihat jelas bahwa percakapan itu cukup membuatnya tenang setelah suasana makan malam yang sebelumnya penuh ketegangan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Naura berdiri di dekatnya sambil menunggu Julian mengakhiri panggilan. Begitu telepon ditutup, ia langsung duduk di samping putranya dengan wajah serius.
"Julian, Ibu ingin kamu menuruti ayahmu. Kamu harus mulai bekerja di hotel."
Julian terdiam. Ia sudah bisa menebak bahwa pembicaraan itu akan muncul cepat atau lambat. Sejak awal, ia memang tidak pernah tertarik untuk mengambil alih hotel. Ia memiliki alasan dan jalan hidup yang ingin dijalaninya sendiri.
"Bu, aku sudah bilang. Aku belum mau bekerja di hotel."
Naura menghela napas. Ia mencoba berbicara lebih lembut, tetapi nada suaranya tetap menunjukkan tekanan.
"Ini bukan hanya tentang kamu mau atau tidak mau. Hotel itu dibangun ayahmu selama bertahun-tahun. Siapa lagi yang akan meneruskannya kalau bukan kamu?"
Julian menundukkan kepala. Perkataan ibunya membuat pikirannya semakin berat. Ia menyayangi ayah dan ibunya, tetapi bukan berarti ia harus mengorbankan semua keinginannya demi memenuhi harapan mereka.
Naura kemudian menggenggam tangan putranya.
"Kalau kamu tidak mengambilnya, nanti siapa yang akan memimpin? Jangan sampai semuanya jatuh ke tangan Raffi."
Nama Raffi membuat Julian semakin resah. Ia tahu ibunya sangat tidak menyukai Raffi, tetapi ia sendiri tidak ingin menjadikan persaingan dengan saudaranya sebagai alasan untuk mengambil alih hotel.
"Aku tidak mau bekerja di hotel hanya karena takut Raffi yang memimpinnya, Bu."
Naura terdiam. Sementara Julian menarik napas panjang. Di satu sisi, ia ingin tetap mempertahankan pilihannya. Namun di sisi lain, ia mulai merasa terjebak di antara keinginan orang tuanya dan masa depan yang sebenarnya ingin ia jalani.
Untuk pertama kalinya, Julian merasa bahwa keputusan sederhana tentang pekerjaan bisa berubah menjadi beban besar bagi keluarganya.
Pagi itu, Dewi sudah bersiap sejak matahari belum terlalu tinggi. Ia memeriksa kembali berkas lamaran dan penampilannya di depan cermin. Meski sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, rasa gugup tetap tidak bisa disembunyikan.
Putri yang melihatnya hanya tersenyum sambil memberikan semangat.
"Tenang saja. Kamu sudah belajar bertahun-tahun untuk ini. Jangan sampai gugup membuat kamu lupa kemampuanmu sendiri."
Dewi mengangguk. Kata-kata Putri sedikit membuat hatinya lebih tenang. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berangkat menuju Arunika Food Group. Hari ini ia tidak ingin menjadi seseorang yang dikenal karena hubungannya dengan Julian. Ia ingin diterima karena kemampuan dan pendidikan yang dimilikinya.
Sesampainya di perusahaan, Dewi melihat beberapa calon karyawan lain yang juga sedang menunggu proses interview. Jantungnya kembali berdebar ketika seorang perempuan menghampirinya dan memperkenalkan diri.
"Hai, aku Sena."
"Dewi," jawabnya sambil tersenyum.
Namun, percakapan mereka berubah ketika Dewi mengetahui bahwa Sena merupakan keponakan Pak Mahesa. Dewi sempat terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu keluarga Mahesa bahkan sebelum dirinya resmi bekerja di perusahaan itu.
Meski sedikit canggung, Dewi berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia tidak ingin urusan keluarga memengaruhi langkahnya hari ini.
Sena sendiri ternyata akan mengikuti interview untuk bagian produksi pabrik. Sementara Dewi mendapat kesempatan untuk mengikuti proses seleksi di bagian pengembangan produksi, sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang kuliner.
Mendengar posisi yang dituju Dewi, Sena terlihat kagum.
"Berarti kita nanti beda bagian."
Dewi tersenyum. "Iya. Semoga kita sama-sama diterima."
Di balik senyumnya, Dewi masih merasakan gugup. Namun kali ini rasa gugup itu bercampur dengan semangat. Setelah lima tahun belajar di luar negeri, akhirnya ia berdiri di tempat yang selama ini ingin ia tuju.
Dewi mengepalkan tangannya pelan. Ia siap menghadapi interview itu. Apa pun hasilnya nanti, ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang pantas berada di Arunika Food Group karena kemampuan yang ia miliki sendiri.
Raffi sebenarnya tidak terlibat langsung dalam proses interview awal para calon karyawan. Ia menyerahkan tahapan tersebut kepada tim yang memang bertugas menyeleksi kandidat. Namun, untuk beberapa kandidat yang berhasil melewati seluruh proses dan masuk tahap final, Raffi akan turun tangan sendiri untuk melakukan interview terakhir.
Baginya, perusahaan tidak boleh memilih karyawan hanya berdasarkan hubungan keluarga atau kedekatan dengan orang-orang di dalamnya. Ia ingin setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama dan dinilai berdasarkan kemampuan mereka.
Saat sedang berjalan menuju ruang kerja, Sena tiba-tiba menghampirinya.
"kak Raffi," panggil Sena.
Raffi berhenti dan menoleh. Sena kemudian meminta bantuan agar dirinya bisa mendapatkan perhatian khusus dalam proses seleksi. Ia berharap Raffi bisa membantu agar prosesnya lebih mudah.
Namun, Raffi langsung menggeleng.
"Maaf, Sena. Semua calon karyawan harus mengikuti proses yang sama."
Sena langsung cemberut. Ia tidak menyangka Raffi akan menolaknya begitu saja, apalagi mereka masih memiliki hubungan keluarga.
"Tapi aku kan keluarga sendiri," keluh Sena.
Raffi tetap tenang. "Justru karena kamu keluarga, aku tidak boleh memberikan perlakuan khusus. Kalau kamu memang mampu, kamu akan lolos tanpa bantuanku."
Sena semakin cemberut. Ia merasa pamannya terlalu kaku. Namun Raffi tidak mengubah pendiriannya.
Ia tahu jika sejak awal dirinya memberikan keistimewaan kepada satu orang, akan sulit meminta karyawan lain percaya bahwa sistem di Arunika benar-benar adil.
Sena akhirnya pergi dengan wajah kesal. Sementara Raffi hanya menghela napas kecil. Ia sebenarnya menyayangi keluarganya, tetapi dalam urusan perusahaan, ia tidak ingin hubungan darah menjadi alasan seseorang mendapatkan posisi.
Baginya, siapa pun yang bekerja di Arunika harus mampu membuktikan dirinya sendiri. Bahkan keluarga sekalipun.
Tiga kandidat akhirnya berhasil masuk ke tahap final, salah satunya adalah Dewi. Mereka duduk berhadapan dengan Raffi yang kali ini turun langsung untuk melakukan wawancara. Suasana ruangan terasa jauh lebih serius dibandingkan proses seleksi sebelumnya.
Raffi membuka berkas di hadapannya, kemudian menatap ketiga kandidat secara bergantian.
"Saya hanya punya satu pertanyaan untuk kalian."
Ketiganya langsung memperhatikan.
"Arunika punya makanan yang menjadi sejarah perusahaan, yaitu sup daging sapi. Tapi kalau kalian diminta merekomendasikan satu makanan lain selain sup daging sapi, makanan apa yang kalian pilih agar orang yang menikmatinya bisa merasa bahagia? Dan kenapa?"
Dua kandidat pertama terlihat gugup. Mereka saling melirik sebelum akhirnya memberikan jawaban yang terdengar cukup umum. Ada yang memilih makanan karena rasanya enak, ada pula yang memilih makanan karena sedang populer. Namun, dari cara mereka menjawab, terlihat jelas bahwa mereka masih kebingungan mencari alasan yang tepat.
Raffi hanya mencatat tanpa memberikan reaksi.
Giliran Dewi tiba.
Ia sempat menarik napas, tetapi wajahnya tidak lagi menunjukkan kegugupan seperti sebelumnya.
"Saya akan memilih bubur ayam."
Raffi mengangkat wajahnya.
"Bubur ayam mungkin terlihat sederhana, tetapi justru itu alasan saya memilihnya. Makanan tidak selalu harus mahal atau mewah untuk membuat seseorang bahagia."
Dewi melanjutkan dengan penuh keyakinan.
"Menurut saya, makanan yang membahagiakan adalah makanan yang bisa membuat seseorang merasa nyaman. Bubur bisa dinikmati siapa saja, dari anak-anak sampai orang tua. Bisa dimakan saat seseorang sedang sakit, sedang lelah setelah bekerja, atau hanya ketika ingin menikmati makanan hangat yang mengingatkan pada rumah."
Ruangan menjadi hening. Raffi tidak menyela sedikit pun.
"Kalau Arunika ingin berkembang lebih luas, saya ingin makanan yang kita buat bukan hanya membuat orang kenyang, tetapi membuat mereka merasa diperhatikan. Saya ingin ketika seseorang menerima semangkuk makanan dari Arunika, mereka merasa seperti ada seseorang yang berkata, 'Kamu sudah bekerja keras hari ini. Sekarang waktunya kamu beristirahat.'"
Dewi tersenyum kecil.
"Karena bagi saya, rasa bahagia dari sebuah makanan bukan hanya berasal dari rasanya. Tapi dari perasaan yang kita berikan melalui makanan itu."
Raffi terdiam.
Jawaban tersebut membuatnya tidak langsung menulis apa pun di berkasnya. Ia justru menatap Dewi beberapa detik lebih lama. Ada sesuatu dalam jawaban perempuan itu yang berbeda dari dua kandidat sebelumnya.
Dewi sendiri tidak menyadari bahwa jawabannya baru saja membuat Raffi melihatnya bukan sekadar sebagai kandidat dengan latar belakang kuliner dari luar negeri.
Ia melihat seseorang yang memahami bahwa bisnis makanan bukan hanya tentang menjual rasa, tetapi juga tentang menciptakan perasaan bagi orang yang menikmatinya.
Kedatangan Julian ke hotel pagi itu benar-benar mengejutkan banyak orang. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, bahkan Mahesa baru mengetahui hal itu ketika salah satu staf melaporkannya.
Mahesa yang sedang memeriksa laporan langsung mengangkat kepala dengan ekspresi heran.
"Julian datang untuk interview?" tanyanya memastikan.
Staf itu mengangguk.
"Iya, Pak. Beliau mengikuti proses yang sama seperti kandidat lainnya."
Untuk beberapa saat, Mahesa tidak mengatakan apa-apa. Ia memang sudah lama berharap Julian mau terlibat di hotel, tetapi ia tidak pernah menyangka putranya akan datang sendiri tanpa paksaan ataupun permintaan darinya.
Di sisi lain, para staf hotel justru dibuat kebingungan. Mereka tahu Julian adalah putra Mahesa dan kemungkinan besar akan menjadi pemimpin hotel di masa depan. Namun, mereka juga tidak ingin memberikan perlakuan khusus yang bisa menimbulkan kesan tidak profesional.
Masalah lain adalah latar belakang pendidikan Julian yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan operasional hotel saat ini. Ia memang memiliki pendidikan yang baik, tetapi belum memiliki pengalaman kerja langsung di industri perhotelan.
Karena itulah beberapa staf mulai berdiskusi mengenai posisi yang paling tepat.
"Kalau langsung masuk manajemen, dia belum punya pengalaman lapangan."
"Tapi kalau ditempatkan di posisi terlalu rendah juga kurang tepat."
"Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia juga pernah sekolah di luar negeri."
Akhirnya salah satu staf memberikan usulan yang dianggap paling masuk akal.
"Bagaimana kalau ditempatkan di bagian Hubungan Tamu Internasional dan Pengembangan Bisnis terlebih dahulu? Dia bisa berhubungan dengan tamu asing, membantu kerja sama internasional, sekaligus belajar operasional hotel secara bertahap."
Usulan itu langsung mendapat banyak persetujuan. Posisi tersebut memungkinkan Julian memanfaatkan kemampuan bahasa Inggris dan wawasan internasionalnya, tanpa harus langsung memimpin divisi yang belum ia pahami sepenuhnya.
Sementara itu, Julian yang sedang menunggu hasil interview merasakan perasaan yang sulit dijelaskan. Selama ini ia selalu menjauh dari hotel, tetapi kini justru dirinya yang melangkah masuk ke dalamnya.
Ada keraguan di dalam hatinya. Ia belum yakin apakah dunia perhotelan benar-benar jalan yang ingin ia tempuh. Namun, untuk pertama kalinya, ia memutuskan memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk mencoba memahami apa yang selama ini begitu diperjuangkan ayahnya.
Dan jauh di dalam ruang kerja, Mahesa menatap laporan di depannya tanpa benar-benar membacanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah harapan bahwa mungkin suatu hari nanti Julian akan menemukan tempatnya sendiri di hotel yang telah dibangunnya dengan susah payah.