Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Sisi Lain dari Sang Es
Dua hari berlalu tanpa komunikasi yang berarti antara Nara dan Devino. Di rumah, tekanan makin terasa nyata.
Bu Mayang sudah mulai sibuk mengumpulkan katalog gaun pengantin dan memesan gedung, seolah-olah keputusan Nara sama sekali tidak diperlukan.
Sore itu, atas desakan ibunya, Nara terpaksa menemui Zaid kembali. Kali ini bukan di kafe, melainkan di sebuah panti asuhan di pinggiran kota.
Ibu Nara bilang, Zaid rutin berkunjung ke sana dan meminta Nara menyusul untuk menyerahkan beberapa dokumen keluarga.
Nara melangkah masuk ke halaman panti asuhan yang asri. Suara gelak tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan dari arah taman belakang. Saat Nara berjalan mendekat, langkahnya mendadak terhenti.
Di atas rumput hijau, Zaid sedang duduk bersila. Kemeja mewahnya kini tergulung serampangan, dan jasnya sudah dilepas entah ke mana.
Seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun tampak memanjat punggungnya, sementara dua anak perempuan lainnya sibuk menyodorkan buku gambar ke hadapan Zaid.
Dan yang paling membuat Nara terpaku. Zaid sedang tersenyum. Bukan senyum tipis sinis seperti di kafe kemarin, melainkan senyum tulus, hangat, dengan mata yang menyipit jenaka.
"Mas Zaid! Gambarkan naga lagi!" seru salah satu anak perempuan.
"Naga terus? Kelinci tidak mau?" goda Zaid, suaranya yang tajam kini terdengar begitu lembut dan sabar. Pria itu tertawa kecil saat anak-anak itu bersorak protes.
Nara berdiri membeku di balik pohon mahoni. Hatinya bergetar aneh. Pria di hadapannya ini sangat berbeda dengan sosok kaku berhati dingin yang ditemuinya kemarin. Apakah aura dingin itu hanyalah benteng pertahanan yang sengaja dibangun Zaid dari dunia luar?
Zaid mendadak menoleh, seolah menyadari keberadaan seseorang. Senyum hangat di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi tenang yang biasa saat matanya berbenturan dengan mata Nara.
"Nara?" panggil Zaid seraya berdiri perlahan, membiarkan anak-anak itu kembali bermain. Ia mengibas-ibaskan rumput yang menempel di celananya lalu berjalan mendekati Nara.
"Maaf... aku mengganggu," ucap Nara canggung, menyerahkan map cokelat di tangannya. "Ibu menyuruhku mengantarkan ini untukmu."
Zaid menerima map itu. "Terima kasih. Kamu tidak mengganggu."
Mereka berjalan berdampingan menuju bangku taman di bawah pohon rindang. Keheningan di antara mereka kali ini tidak lagi sepekat kemarin.
"Aku tidak tahu kamu suka anak-anak," ujar Nara memecah keheningan, menatap anak-anak panti yang masih berlarian.
"Anak-anak itu jujur," jawab Zaid datar, pandangannya lurus ke depan. "Mereka tidak memakai topeng, tidak berpura-pura, dan tidak memanipulasi perasaan demi kepentingannya sendiri."
Nara tersentak tipis. Kata-kata Zaid seolah menyindir situasi hidupnya.
"Bagaimana dengan priamu?" tanya Zaid tiba-tiba, menoleh menatap Nara. "Apakah dia sudah menemui ayahmu?"
Nara menunduk, meremas jemarinya sendiri. Rasa malu dan sesak kembali menghampirinya.
"Dia... dia butuh waktu. Dia merasa belum siap secara finansial untuk berhadapan dengan Ayah."
Zaid tertawa kecil—senyuman tipis tanpa nada mengejek, melainkan senyum prihatin.
"Seorang pria yang benar-benar mencintaimu, tidak akan menghitung kesiapan hartanya ketika wanitanya sedang terancam diambil orang lain, Nara. Yang dibutuhkannya hanya keberanian untuk pasang badan."
Kalimat Zaid menghantam dada Nara begitu keras. Perih, tapi sangat menohok.
"Kamu tidak berhak menilai dia, Zaid! Kamu tidak tahu perjuangan Devino!" selak Nara, mencoba membela sisa-sisa kebanggaannya, meski di dalam hati ia tahu kata-kata Zaid ada benarnya.
Zaid menatap Nara dalam-dalam, pandangannya begitu tajam seolah sanggup membaca seluruh isi hati gadis itu.
"Saya tidak menilai dia, Nara. Saya hanya menilai tindakan. Dan sampai detik ini, kamu berjuang sendirian di balik tembok yang kamu buat sendirian.
.
.
Malam harinya, rumah keluarga Rahardja kedatangan tamu tak terduga. Devino berdiri di depan pintu gerbang, mengenakan kemeja rapi dengan wajah yang tampak lelah.
Rupanya, rasa bersalah membuat pria itu memberanikan diri menyusul Nara, meski ia memilih menunggu di luar pagar tanpa berani melangkah masuk.
Nara menemui Devino di bawah remang lampu jalanan, beberapa meter dari gerbang rumahnya.
"Nara, maafkan aku soal kemarin," ucap Devino cepat, langsung menggenggam kedua tangan Nara. "Aku sadar aku salah. Aku terlalu panik membayangkan usahaku."
Nara menatap wajah Devino. Pria yang selama dua tahun ini selalu dipujanya, pria yang mengisi hari-harinya dengan kata-kata manis. Namun malam ini, tatapan mata Devino terasa berbeda. Ada rasa cemas akan kehilangan, tapi juga ada keraguan yang tersirat jelas.
"Dev, kalau kamu benar-benar minta maaf... maukah kamu masuk sekarang? Masuk dan bicara pada Ayah?" tantang Nara pelan, suaranya hampir berbisik.
Devino menoleh ragu ke arah pintu rumah Nara yang tertutup rapat. Lampu teras yang terang seolah menjadi ancaman besar baginya. Tangannya yang menggenggam Nara perlahan mengendur.
"Nara... malam ini? Tanpa janji terlebih dahulu?" Devino menggeleng pelan. "Ayahmu orang yang sangat berpengaruh. Kalau aku datang tanpa persiapan, kita hanya akan makin memperburuk keadaan."
Nara tersenyum pahit. Bayangan Zaid di taman panti asuhan tadi siang mendadak melintas di pikirannya.
“Seorang pria yang benar-benar mencintaimu tidak akan menghitung kesiapannya ketika wanitanya terancam...”
"Kamu takut, Dev," kata Nara lirih. "Kamu lebih takut ditolak dan jatuh harga diri di depan Ayah, daripada kehilangan aku."
"Bukan begitu, Nara! Aku melakukan ini demi masa depan kita!" pangkas Devino defensif.
"Masa depan yang mana, Dev? Masa depan di mana aku harus terus berbohong dan sembunyi-sembunyi?" Nara menarik tangannya dari genggaman Devino.
"Dua tahun aku bertahan karena percaya kamu adalah pelindungku. Tapi ternyata... kamu hanya mau mencintaimu di tempat yang aman."
"Nara!"
"Pulanglah, Dev," potong Nara dingin. "Jangan cari aku dulu. Aku butuh waktu untuk berpikir."
Tanpa memedulikan panggilan Devino yang tertahan, Nara membalikkan badan dan berjalan kembali menuju rumahnya. Langkah kakinya terasa berat, namun ada ketegasan baru yang menyusup di dalam dadanya.
Saat melangkah melewati pintu teras, Nara terkejut menemukan Pak Rahardja sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar. Ayahnya pasti telah melihat keberadaan Devino di luar pagar tadi.
"Siapa pria di luar itu, Nara?" tanya Pak Rahardja, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.
Jantung Nara berdegup kencang. Ini adalah momen yang selalu ditakutinya selama dua tahun. Namun malam ini, ketakutan itu mendadak menguap, berganti dengan rasa lelah yang amat sangat.
Nara menatap matanya ayahnya secara langsung. "Dia teman Nara, Yah. Seseorang yang pernah Nara harapkan... tapi ternyata tidak cukup berani untuk melangkah bersama Nara."
Pak Rahardja menatap putrinya diam-diam. Ada keheningan panjang di antara ayah dan anak itu. Untuk pertama kalinya, Pak Rahardja tidak langsung memarahi atau mendikte, melainkan hanya mengangguk pelan.
"Zaid baru saja menelepon Ayah," ujar Pak Rahardja kemudian. "Dia bilang, dia ingin memajukan tanggal pernikahan kalian bulan depan. Dia menyerahkan seluruh keputusan akhir padamu, tanpa paksaan."
Nara tertegun. Zaid... memajukan tanggal pernikahan, tapi menyerahkan keputusan padanya?
.
.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Nara menatap ke luar jendela. Hatinya bagaikan lautan yang dihantam badai.
Di satu sisi, cinta rahasianya dengan Devino mulai retak oleh keraguan dan ketakutan. Di sisi lain, sosok Zaid yang dingin dan misterius perlahan-lahan menunjukkan sebuah ketegasan dan perlindungan yang selama ini tak pernah Nara dapatkan.
Pilihan itu kini sepenuhnya ada di tangan Nara. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kaynara tahu ia harus berani mengambil keputusannya sendiri.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏