Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Kecurigaan Syafa
Ay?" panggil Alex pelan, mengamati raut wajah Syafa yang tampak melamun dan memikirkan sesuatu dengan sangat dalam.
"Eh... iya?" sahut Syafa gelagapan, tersentak dari lamunannya.
"Are you okay?" tanya Alex menatap lekat manik mata pacarnya. Ia menyadari ada raut kecemasan yang berusaha disembunyikan oleh gadis di hadapannya itu.
"Aman, Ay. Enggak apa-apa kok," jawab Syafa tersenyum tipis. Padahal di dalam hatinya, benak Syafa sedang berkecamuk hebat, merancangkan kemungkinan terburuk tentang hal nekat apa lagi yang bakal dilakukan Putri untuk mengusik hubungan mereka.
Alex melirik jam dinding di sudut kafe. "Udah malam nih. Mau pulang sekarang?"
"Ayo, kita pulang. Aku juga capek banget, badan rasanya pegal-pegal dan pengin langsung tidur," sahut Syafa. Hari ini sungguh menguras energinya, baik secara fisik maupun batin.
Mereka berdua akhirnya beranjak dari kedai kopi tersebut. Alex memacu motornya membelah malam, mengantarkan Syafa hingga tepat di depan gerbang rumahnya yang megah.
Begitu punggung Alex dan sorot lampu belakang motornya menghilang di tikungan jalan, raut wajah Syafa seketika berubah lesu. Tanpa membuang waktu, ia melangkah masuk ke dalam kamar, lalu duduk di tepi ranjangnya dan mematangkan keberanian untuk membuka kembali isi pesan dari nomor tak dikenal tadi.
Kalimat demi kalimat makian itu terpampang jelas di layar ponselnya, menusuk tepat ke dada Syafa. Latar belakang hidupnya yang tenang membuat Syafa shock berat; sepanjang hidupnya, baru kali ini ia mendapatkan lontaran kata-kata sekasar itu dari seseorang.
Ehh lo cewek murahan, ngapain sih muncul di hidup Alex?! Ngapain juga lo sok-sokan pacaran sama dia? Lu harusnya sadar, Alex tuh cuma jadiin lu pelampiasan biar dia bisa lupain gue! Jangan kepedean deh kalau Alex beneran sayang sama lu. Lu cuma jadi pelarian sementara Alex, camkan itu, cewek murahan!
Tangan Syafa gemetar hebat menggenggam ponselnya. Bulir air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Pikiran dan logikanya membeku di ambang kebingungan. Apakah ucapan nomor tak dikenal ini memang fakta pahit yang tersembunyi? Atau cuma akal-akalan jahat agar aku menjauh dari Alex?
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Syafa menekan papan ketik untuk membalas.
Syafa: Maaf, ini siapa ya?
Hanya butuh waktu beberapa menit sampai balasan baru masuk dari nomor tersebut.
[Nomor Tanpa Nama]: Kenalin, gue Putri. Mantan Alex yang tadi ketemu sama lu di tempat fotokopi.
Membaca balasan singkat itu, dugaan Syafa terbukti. Dari awal rasa curiganya memang mengarah pada Putri. Syafa menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya sebelum mengetik balasan.
Syafa: Terus, mau kamu apa?
Putri: Lu masih nanya mau gue apa?! Gue minta lu jauhin Alex! Percuma lu pacaran sama dia, ujung-ujungnya lu cuma bakal disakitin.
Syafa mengepalkan tangannya di atas pangkuan, menatap tajam balasan tajam tersebut.
Syafa: Maksud kamu? Jauhin Alex? Maaf ya, enggak bisa. Alex sekarang udah milik aku.
Syafa memilih tidak memperpanjang perdebatan toksik itu. Sebelum Putri membalas lagi, Syafa berinisiatif memblokir nomor tersebut agar pikirannya tidak makin teracuni.
Ia menghela napas panjang, beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri, mengambil air wudu, dan menenangkan jiwanya dalam balutan mukena untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Usai berdoa meminta kedamaian hati, Syafa melepas mukenanya dan duduk menyandar di kepala ranjang.
Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala memperlihatkan notifikasi pesan masuk dari Alex.
Alex: Ay, aku udah sampai rumah nih. Udah selesai mandi juga, dan intinya makin ganteng.
Syafa terkekeh kecil membaca tingkah sok percaya diri pacarnya itu, mengalihkan sejenak beban yang menindih dadanya.
Syafa: Idihhh, pede banget sih, Ay!
Alex: Biarin! Emang kenapa? Kamu enggak suka? Berarti aku enggak ganteng dong di mata kamu?
Syafa: Nggak gitu ihhh ayang mahhhh... Nggak tahu ah! Mana, kalau beneran ganteng tunjukin dong, jangan cuma omdo.
Alex: Idihhh... kangen yaaa?
Syafa: Dih, ya udah kalau enggak mau mah.
Tanpa memberi aba-aba lagi, nama Alex memenuhi layar HP Syafa mengindikasikan panggilan video masuk. Syafa menggeser ikon hijau.
"Uluh-uluh... cantiknya sayang aku..." puji Alex seketika dengan senyuman lebar begitu wajah Syafa terpampang di layar.
"Dih, gombal! Kamu baru tahu ya kalau aku cantik? Padahal dari kecil juga aku udah cantik tahu!" balas Syafa tak mau kalah, memamerkan senyum manisnya.
"Iya, iya... Si paling cantik," celetuk Alex tertawa pelan. Namun kemudian, raut wajah Alex berubah sedikit serius. "Ay... kamu capek banget ya hari ini?"
Pertanyaan itu terlontar karena Alex masih mendapati sisa-sisa raut kelelahan dan bayangan beban di mata Syafa.
"Mmm... gimana ya? Lumayan capek sih," aku Syafa ragu-ragu. Ia sebenarnya enggan merusak suasana hati Alex malam ini.
"Kenapa? Coba cerita sama aku," bujuk Alex lembut.
"Enggak apa-apa, Ay. Cuma capek biasa aja kok," elak Syafa halus.
"Yakin?" tanya Alex sekali lagi, memastikan.
"Iya, Ay... Ini masalah di kampus aja kok. Aku nyesel deh terlalu banyak ikut ekskul. Jadinya sana-sini kepanggil terus, mana kuliah sering absen gara-gara itu... Apa aku keluar aja dari sebagian organisasi ya, Ay?" cerita Syafa, sengaja mengalihkan pembicaraan.
Alex tertawa terkekeh di seberang sana. "Katanya enggak mau cerita, tapi akhirnya cerita juga wkwkwk."
"Eh... lah iya ya! Ngapain aku cerita ke kamu ya, Ay?" jawab Syafa ikut tertawa.
Sebenarnya, Syafa tahu betul kalau Alex juga sedang menyembunyikan kelelahan pikiran pasca pertemuannya dengan Putri tadi sore. Karena itulah Syafa memilih melemparkan topik bahasan tugas organisasi agar perhatian Alex teralih dan tidak memikirkan masalah mantannya lagi.
"Tapi... kamu masih kuat enggak ikut organisasi banyak gitu?" tanya Alex perhatian.
"Kuat-kuat aja sih... Cuma sekarang dari tiga organisasi itu mau ada acara beda tapi waktunya bersamaan. Jadi aku harus keteteran kesana-kemari," tutur Syafa.
"Ya udah atuh, yang penting kamu jangan sampai terlalu capek ya," ucap Alex memberi dorongan semangat.
"Siap, Bos!" seru Syafa memberi hormat kecil ke kamera. "Ay, aku ngantuk nih, mau bobo..."
"Mau sleep call enggak?" tawar Alex.
"Enggak dulu deh ya, Ay... Takutnya besok kamu kejadian kayak tadi pagi lagi. HP lupa dicas, terus powerbank-ku kan masih di kamu, nanti gimana kalau tiba-tiba dua-duanya lupa dicas?" tolak Syafa beralasan.
Alasan sebenarnya tentu bukan itu. Syafa hanya butuh ruang untuk menyendiri, menenangkan gejolak batinnya yang terluka setelah membaca makian Putri.
"Ya udah, maaf ya... Janji enggak bakal terulang lagi," sahut Alex merasa bersalah.
"Sebagai hukumannya, malam ini enggak sleep call dulu ya, Ganteng," ucap Syafa tersenyum manis ke arah kamera.
"Siap, Bos. Ya udah kamu istirahat sana. Bye... assalamualaikum sayang aku..."
"Wa'alaikumsalam... bye..." sahut Syafa.
Namun, ketika salam sudah terucap, layar panggilan tak kunjung terputus. Syafa menatap layar dengan alis terangkat. "Kenapa belum dimatiin?"
"Kamu aja yang matiin," ujar Alex terkekeh.
"Lah, kamu yang telepon kok aku yang suruh matiin!" celetuk Syafa pura-pura kesal.
"Enggak mau ah," goda Alex.
"Ya udah... Good night ya, Ganteng."
"Good night too, Cantik."
Panggilan video itu akhirnya terputus. Seiring dengan menggelapnya layar ponsel, pertahanan Syafa runtuh seketika. Air matanya menetes perlahan membasahi pipi. Bayang-bayang ketakutan menyelimuti pikirannya. Ia benar-benar ragu pada perasaan Alex. Apakah Alex tulus mencintaiku? Atau ucapan Putri itu benar, bahwa aku hanyalah pelampiasan rasa sakit hatinya semata?
Rasa penasaran dan kecemasan yang membakar dada membuat Syafa tidak bisa tinggal diam. Ia harus mengetahui kebenaran yang sejujurnya dari sudut pandang orang ketiga yang paling tahu seluk-beluk masa lalu Alex.
Dengan jemari gemetar dan mata memerah, Syafa mencari kontak teman dekat Alex, lalu mengetikkan pesan kilat.
Syafa: Mam, gue mau tanya sesuatu tentang Alex... Tolong jawab jujur ya.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita