Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Jadi Galau
Semua yang ikut dalam perjalanan menuju salah satu pantai yang terdapat di gunung kidul berkumpul sebelum keberangkatan. Termasuk Jeviza dan juga teman-temannya. Mereka tidak lagi merasa canggung karena memang banyak yang ikut serta selain bukan dari anggota BEM atau panitia acara waktu itu. Ada sekitar 11 anak tambahan termasuk Jeviza dan teman-temannya.
"Anjing, ganteng banget kalau udah mode santai gitu." Sisil mengumpat saat melihat Kean beserta teman-temannya datang, ikut berkumpul bersama dengan yang lain.
Jeviza menoleh, mendapati Kean dengan kaos warna putih yang membuat kulitnya terliha lebih cerah, ia mendengus kecil.
Sengaja banget dilepas gitu jaketnya
"Je, jujur. Lo pernah liat kak Kean mode cool gini nggak? Kalau di rumah?"
Jeviza melirik Sisil sekilas, lalu mengangguk.
Jangankan mode cool, mode wajah Kean yang lagi sang* aja Jeviza sudah pernah liat. Ah sialan, setiap kali mengingat malam itu membuat pipi Jeviza merasa panas, ia menggigit pipi bagian dalamnya dengan dada yang mulai bergemuruh.
Satu kejadian yang sulit untuk Jeviza lupakan, Jeviza sudah melihat sesuatu dalam diri Kean yang sangat intim.
"Ih, apaan sih gue?"
Semua yang berada di sana menoleh, mencari sumber suara tadi. Dan saat Jeviza tersadar, ia langsung menelan ludahnya kasar. Melirik mereka secara bergantian, lalu tersenyum kikuk.
"Maaf kak," cicitnya menunduk.
Jeviza mengumpati dirinya, bisa-bisanya ia berpikiran cabu* di tengah kerumunan. Ia semakin merasa tidak enak setelah mendapat tatapan dari anggota BEM beserta yang lain.
"Lo kenapa sih? Je? Bayangin apa?" Sisil menyenggol lengan Jeviza.
Jeviza menggeleng, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia berusaha fokus agar pikiran liarnya tidak kembali berputar di otaknya.
"Kak Kaina kenapa mepet banget sih sama kak Kean? Kan hati gue jadi gerah," desis Naura masih dapat didengar oleh mereka.
Jeviza mendongak, di depan sana, Kean berdiri tidak jauh dari Kaina memang, bahkan lengan baju mereka sampai bersentuhan, terlalu dekat untuk dikatakan sedang memberi intruksi pada teman-temannya.
Ada gejolak aneh di dadanya. Jeviza tahu ia sedang cemburu, tetapi ia hanya bisa menahan mengingat status mereka yang tidak diketahui orang lain.
Dan Kean, ditengah obrolannya di depan sana. Ia sempat menatap Jeviza beberapa detik, mengamati mimik wajah Jeviza yang terlihat sedang menahan sesuatu, sudut bibirnya tertarik ke atas, sangat tipis sekali dan tidak terlihat oleh banyaknya mahasiswa lain yang sedang menatapnya sekarang.
"Oke guys, udah paham kan?" tanya Kean dibalas mereka serempak. "Paham ketua."
"Kalau gitu, silahkan pak Bam memimpin doa terlebih dahulu agar perjalanan berjalan lancar sampai pulang nanti." Kean mundur beberapa langkah, diikuti Kaina juga yang ikut mundur. Entah maksudnya apa.
Setelah berdoa bersama. Dua kelompok yang tadi sudah dibagi mulai naik ke bis masing-masing.
"Eh, kita dimana?" tanya Jeviza kebingungan.
"Makanya dengerin, malah ngelindur tadi," semprot Naura terkikik geli mengingat Jeviza tadi yang sempat menjadi pusat perhatian.
"Kita di bis yang itu?" tunjuk Tevi.
Mereka mulai naik ke atas, mencari kursi yang sudah ditempati beberapa anak yang lebih dulu naik tadi.
"Aduh, dapat dibagian agak belakang ini," keluh Sisil mengembungkan pipinya.
"Nggak papa lah, nggak jauh banget juga," balas Tevi diangguki setuju Naura.
Jeviza hanya menurut saja. Ini pertama kalinya ia akan ke pantai tersebut, jadi tidak tahu perjalanan akan memakan waktu berapa jam. Tetapi mendapat kursi bagian belakang memang agak merepotkan, Jeviza sendiri tidak suka. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka ikut juga karena ajakan salah satu anggota BEM. Dan yang sedang Jeviza bicarakan dalam hati itu tiba-tiba muncul.
Janu dan Gio masuk ke bis yang sama dengan Jeviza. Lalu Janu terus melangkah sampai ke kursi bagian belakang.
"Lah, Nu? Kok di belakang? Lo di depan kan?" tanya Kaina yang tiba-tiba muncul juga bersama anggota BEM yang lain.
"Gue di belakang, ada yang harus gue pantau," balas Janu seketika sorakan terdengar.
"Kalian pada bawa minum nggak?" tanya Janu mendapat anggukan mereka.
Masalah persediaan cemilan dan minuman itu sudah diatur semua oleh Sisil. Bisa dikatakan ransel yang Sisil bawa semua berisi persediaan makanan untuk mereka. Sementara baju-baju Sisil ditaruh di ransel Tevi. Tahu sendiri ransel Naura akan rempong dengan keperluan gadis itu sendiri.
"Lo udah makan, Je?" tanya Janu diangguki Jeviza. "Aman kak."
"Jevi aja ini yang ditanya? kitanya enggak?" tanya Sisil berani.
Januar tekekeh. "Kalian maksud gue. Kalau ada apa-apa kabarin gue aja ya?"
Mereka mengangguk, lalu kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Jeviza menatap ke sekeliling. Kursi di bis yang ia tumpangi sudah hampir penuh, itu berati mungkin semua yang berada di bis ini sudah naik. Dan ia harus terpisah dengan Kean selama di perjalanan atau bahkan ketika tiba nanti. Perasaan kecewa mulai menggelut di relung hatinya. Sekali lagi Jeviza melirik bagian kursi penumpang yang bahkan sudah penuh dan tidak tersisa lagi. Helaan napas panjang yang sangat halus terdengar dari Jeviza, membuat Tevi yang duduk di sebelahnya melirik Jeviza penasaran.
"Kenapa? Je?"
Jeviza menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. Tetapi jujur saja, rasanya ia ingin menangis dipisahkan oleh bis dengan Kean.
Sengaja apa gimana sih?
Dadanya sudah berdebar dengan hebat di dalam sana. Suara canda dari sebagian penumpang sudah tidak terdengar jelas di telinga Jeviza. Ia merasa-sendiri di tengah keramaian tanpa adanya sosok laki-laki yang seminggu lebih ini sudah menjadi suaminya.
Gio yang duduk di belakang bersama Janu sesekali melirik ke arah Jeviza. Sudut bibirnya tertarik ke atas menyadari wajah tidak tenang Jeviza, lalu dengan sengaja Gio berdiri, mencoba mencari arah kamera ponselnya agar bisa mengambil wajah Jeviza sebelum dikirimkan pada salah satu temannya.
Gio
Liat, udah mau nangis bini lu
"Guys! Baca doa dulu sebelum berangkat, sesuai kepercayaan masing-masing ya?" ujar Kaina berdiri dan menghadap ke belakang karena memang duduk di depan.
Suasana seketika sepi, semua berdoa sebelum berangkat, tetapi Jeviza, pikirannya semakin kacau saat orang yang ditunggu kedatangannya tidak juga muncul. Rasanya ingin menangis saja sekarang.
"Doa, Je," lirih Sisil dari arah sebrang kursinya.
Jeviza menunduk, ia berdoa meski pikiran dan hatinya sedang kacau. Hanya karena tidak satu bis dengan Kean, seperti kehilangan harapan dan masa depannya saja.
"Selesai," ujar Kaina terjeda. "Semoga perjalanan kita selamat sampai tujuan dan pulang nanti."
"Aamiin," balas mereka kompak.
Kaina kembali duduk, sementara sopir bis sudah masuk ke kursinya, bersama dengan pak Bam yang juga datang dan duduk di kursi bagian depan dengan sang sopir. Mesin dinyalakan, tetapi roda masih belum berputar dan menjalankan kendaraan dengan ukuran besar itu.
Tidak ada harapan, Jeviza bersandar di kursinya, ia mulai memasang earphone miliknya, berniat menikmati perjalanan dengan lagu galau yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini, sampai pada akhirnya suara pekikan Sisil dan Naura dari sebrang kursi terdengar sebelum ia menekan tombol play di layar ponselnya.
Jeviza mendongak, Kean dengan tubuh tingginya menunduk saat mulai melangkah menuju ke-arahnya?
Seketika suasana di bis terasa berbeda, Jeviza tertegun menatap kedatangan Kean sampai cowok itu meliriknya, melewatinya dan duduk di kursi bagian belakang bersama dengan Januar dan juga Gio. Jeviza masih ternganga, sebelum akhirnya Kean mengerlingkan sebelah matanya dan membuat Jeviza seketika sadar. Ia kembali menghadap depan. Hatinya seketika menghangat dengan degupan yang sedikit gugup di dalam sana.
Adanya Kean membuat suasana hatinya seketika berubah, tanpa disadari sudut bibir Jeviza tertarik ke atas.
"Udah nggak galau lagi kan, Je?" suara Tevi terdengar halus di sebelahnya.
...****************...
Mana ini yang minta dobel up?
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣
hareudang kak🤭😍🤭🤭🤭