Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kamar Yang Terpisah
Tanpa menunggu balasan dari Nara, Zaid menyambar kunci mobilnya di atas meja konsol, berbalik, dan melangkah keluar rumah. Suara pintu utama yang tertutup rapat dan berbunyi klik dari sistem kunci otomatis bergema di seluruh ruangan yang sepi.
Nara berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan megah itu. Keheningan menyergapnya seketika. Ia menatap dua koper besar milik mereka yang tergeletak di lantai.
Air mata yang sejak semalam ia tahan di batas kelopak akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang halus.
Bukan karena ia mencintai Zaid dan merasa patah hati, melainkan karena rasa kesepian dan kehampaan yang begitu menekan.
Pernikahan ini benar-benar sebuah ruang kosong. Tanpa cinta, tanpa harapan romantisme, hanya diikat oleh lembar kertas hukum dan rasa tanggung jawab yang dingin.
"Tanggung jawab..." gumam Nara pelan pada dirinya sendiri, mengusap air matanya dengan ujung lengan piyama panjangnya. "Baik kalau itu mau kamu, Zaid. Aku akan bertahan dengan caraku sendiri."
Nara menarik kopernya menuju lantai dua. Ia membuka pintu kamar yang ditunjuk Zaid sebagai kamarnya.
Ruangan itu luas, bersih, dengan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Tempat tidurnya rapi dengan seprai berwarna krem lembut. Meski terasa asing, kamar ini memberikan rasa aman yang ia butuhkan saat ini.
❤️
❤️
Selama beberapa jam berikutnya, Nara sibuk membongkar isi kopernya. Ia menyusun pakaian-pakaiannya ke dalam lemari, menata alat-alat mandi, dan meletakkan beberapa buku kesayangannya di meja nakas.
Menyibukkan diri adalah satu-satunya cara agar pikirannya tidak melayang membayangkan betapa anehnya jalan hidup yang sedang ia jalani.
Selesai menata kamar, Nara melangkah turun ke dapur. Ia membuka lemari es berukuran dua pintu yang besar itu. Kosong.
Hanya ada beberapa botol air mineral, susu UHT, dan beberapa kaleng kopi dingin milik Zaid.
Nara mendengus pelan. "Pria itu benar-benar hidup seperti di hotel."
Mengabaikan rasa lelahnya, Nara memutuskan untuk tidak menyentuh kartu kredit yang diberikan Zaid.
Ia mengambil dompetnya sendiri, memakai pengering rambut sebentar untuk membenahi penampilannya, lalu mengganti jilbab instannya dengan jilbab pasmina yang lebih rapi.
Nara berniat berjalan kaki ke supermarket terdekat yang sempat ia lihat di ujung kompleks saat perjalanan masuk tadi.
Jika Zaid berpikir Nara akan menjadi istri yang mengurung diri dan meratapi nasib di kamar dingin ini, maka pria itu salah besar.
Sore harinya, sekitar pukul lima, suara desis mesin mobil Zaid terdengar memasuki garasi.
Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang tampak lelah setelah menyelesaikan tumpukan berkas yang tertunda akibat acara pernikahan kemarin.
Namun, saat kakinya melangkah melewati foyer menuju ruang tengah, langkah Zaid terhenti seketika.
Aroma masakan yang gurih dan harum memenuhi seluruh penjuru rumah. Suara denting spatula yang bersentuhan dengan wajan terdengar merdu dari arah dapur.
Rumah yang biasanya dingin, gelap, dan sepi bagai kuburan itu kini terang benderang dan terasa hangat.
Zaid melangkah pelan menuju dapur.
Di sana, Nara sedang berdiri di depan kompor induksi. Wanita itu sudah berganti pakaian dengan kaus lengan panjang santai dan celemek berbunga-bunga yang membalut tubuh rampingnya.
Rambutnya terikat rapi di balik jilbab terusan yang kasual. Ia sedang mengaduk sup ayam berkuah bening yang beruap panas.
Di meja counter dapur, sudah tersaji piring berisi ayam goreng bumbu instan, sambal terasi, dan semangkuk lalapan segar.
Zaid terpaku di ambang pintu dapur. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya itu.
Ada pemandangan yang sangat asing, namun anehnya terasa begitu hidup di dalam rumahnya yang selama ini mati.
Nara membalikkan badan untuk mengambil mangkuk, dan matanya berbenturan dengan tatapan Zaid yang sedang memperhatikannya.
Nara sedikit terkejut, namun dengan cepat menetralkan raut wajahnya. Ia tidak tersenyum manis berlebihan, tapi juga tidak menunjukkan rasa takut.
"Kamu sudah pulang?" sapa Nara datar, suaranya tenang. "Saya baru saja selesai memasak."
Zaid berdehem pelan, mencoba menguasai kembali dirinya yang sempat terdistraksi.
"Saya sudah bilang, kamu tidak perlu repot-repot memasak. Saya bisa makan di luar, bukannya kata bunda kamu-."
Ucapan Zaid sengaja tak lanjutkan, takut membuat Nara tersingung. Karena menurut informasi bunda Mayang. Nara tidak bisa masak, karena selama ini Nara selalu di layani oleh asisten rumah tangga atau snag bunda.
Nara menuangkan sup panas ke dalam mangkuk besar dengan gerakan terampil.
"Saya memasak untuk diri saya sendiri karena kulkasmu kosong sama sekali. Dan karena saya memasak dalam porsi yang cukup, kamu bisa ikut makan kalau mau. Kalau tidak mau, tidak masalah. Saya bisa menyimpannya di kulkas untuk besok, dan maaf masakan saya menggunakan bumbu instan yang saya beli."
Nara meletakkan mangkuk sup itu di atas meja makan, lalu melepaskan celemeknya dan menggantungnya di sudut dapur.
"Saya gunakan uang saya sendiri untuk belanja tadi, bukan kartu kreditmu," tambah Nara santai tanpa nada menyindir, hanya menyatakan fakta. "Permisi, saya mau ke atas untuk mandi dan shalat Magrib."
Nara melangkah melewati Zaid begitu saja, meninggalkan aroma harum sabun mandi bercampur wangi masakan yang lembut di indra penciuman pria itu.
Zaid berdiri mematung di dapur. Matanya tertuju pada meja makan yang tertata rapi dengan makanan hangat yang masih beruap.
Kata-kata Nara berputar di kepalanya. Wanita itu tidak membantahnya, tidak menangis, tidak menuntut perhatian, dan tidak menyentuh fasilitas uang yang ia berikan.
Nara justru menunjukkan ketegasan dan kemandirian yang berkelas, menghormati batas-batas yang dibuat Zaid, namun tetap berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Zaid melangkah mendekati meja makan. Ia menarik kursi, duduk perlahan, dan menatap hidangan di depannya. Perlahan, tangannya mengambil sendok dan mencicipi kuah sup ayam buatan Nara.
Rasa asin, hangat, dan bumbu intan yang pas menyapa lidahnya. Sebuah rasa masakan rumah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan sejak ia memutuskan hidup mandiri.
Zaid terdiam lama, mengunyah makanannya dalam keheningan dapur yang hangat, walau rasa asin itu menyapa lidahnya. Namun Zaid tetap mengunyahnya sampai halus deman masuk ke lambungnya.
Ada perasaan aneh yang mulai menyusup di dadanya, sebuah kesadaran bahwa wanita berinisial Nara yang baru saja memasuki hidupnya ini, bukanlah sosok defensif yang mudah dilipat atau diatur sesuai tembok dingin yang ia bangun.
Tembok pembatas di antara mereka memang sudah berdiri kokoh semalam, namun tanpa disadari Zaid, Nara baru saja menggoreskan warna pertamanya di dinding dingin tersebut.
Zaid tersenyum tipis, saat melihat nasi di atas piringnya habis ia makan sampai tak bersisa. Bukan masalah enak atau tidak enaknya masakan yang bmdi buat Nara. Tapi, baru kaki ini ada wanita yang masak untuk dirinya selain Tante Dessy. Yang biasa saat ia main, mereka makan bersama.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏