Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerus yang Tak Diinginkan
Dewi akhirnya tiba di rumah setelah lima tahun menjalani kuliah di luar negeri. Begitu melihat keponakannya turun dari kendaraan, bibinya langsung menyambut dengan pelukan hangat. Rasa rindu yang selama ini hanya bisa ditahan lewat panggilan video seakan terbayar ketika akhirnya Dewi kembali berada di hadapannya.
Bibi memperhatikan Dewi dari ujung kepala hingga kaki. Keponakannya itu terlihat jauh lebih dewasa dan anggun dibandingkan lima tahun lalu. Bukan hanya penampilannya yang berubah, tetapi cara bicara dan sikapnya juga terlihat semakin matang. Pendidikan yang ditempuhnya di luar negeri benar-benar membuat Dewi tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dan percaya diri.
"Kamu sekarang semakin cantik. Bibi sampai hampir tidak mengenalimu," ujar bibinya dengan mata berkaca-kaca.
Dewi tersenyum malu. Ia merasa bahagia akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga setelah bertahun-tahun hidup jauh dari rumah. Meski selama berada di luar negeri ia mendapatkan banyak pengalaman, tetap saja tidak ada tempat yang terasa senyaman rumah sendiri.
Di tengah kebersamaan itu, Dewi mengungkapkan rencananya. Ia ingin segera mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliner yang telah ia pelajari. Bahkan, ia sudah memiliki satu perusahaan yang ingin dilamarnya, yaitu perusahaan milik keluarga Julian.
Mendengar hal itu, Putri yang berada di dekat mereka langsung terlihat kagum. Ia tidak menyangka Dewi sudah memiliki rencana yang begitu matang setelah pulang dari luar negeri. Apalagi Dewi ingin memulai karier berdasarkan ilmu yang selama ini diperjuangkannya.
Putri memandang Dewi dengan rasa kagum sekaligus bangga. Lima tahun ternyata bukan hanya mengubah penampilan Dewi, tetapi juga membuatnya menjadi perempuan yang tahu apa yang diinginkannya. Sementara Dewi sendiri merasa bersemangat. Setelah sekian lama belajar dan mempersiapkan diri, akhirnya ia siap memulai babak baru dalam hidupnya.
Keesokan harinya, Dewi sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi interview di Arunika Food Group. Sebenarnya, kesempatan itu bukan sesuatu yang benar-benar baru baginya. Tahun lalu ia pernah berniat melamar di perusahaan tersebut, tetapi semuanya terlambat dan kesempatan itu terlewat begitu saja.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri, Dewi tidak ingin kembali kehilangan kesempatan. Ia ingin membuktikan bahwa ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama lima tahun bisa menjadi bekal untuk memulai karier. Dalam hati, Dewi sudah bertekad, tahun ini ia harus berhasil menjadi bagian dari perusahaan itu.
"Aku yakin tahun ini aku bisa diterima," ucap Dewi penuh keyakinan.
Putri yang mendengarnya langsung tersenyum tipis. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya sambil melirik Dewi dengan tatapan menggoda.
"Baguslah kalau kamu diterima. Apalagi kamu kan calon menantu keluarga pemilik perusahaan itu," sindir Putri.
Dewi langsung menoleh. Wajahnya sedikit berubah, merasa tidak nyaman dengan ucapan tersebut. Ia tahu Putri hanya bercanda, tetapi dirinya ingin diterima karena kemampuan dan pendidikannya, bukan karena hubungan apa pun dengan keluarga Julian.
"Jangan bilang begitu. Aku ingin masuk karena memang kemampuanku sesuai dengan pekerjaan itu," jawab Dewi tegas.
Putri terkekeh melihat keseriusan Dewi. Namun, jauh di dalam hati, ia memang merasa kagum. Dewi bukan lagi gadis yang dulu pergi untuk kuliah. Kini ia sudah memiliki pendidikan, pengalaman, dan keberanian untuk mengejar masa depannya sendiri.
Dewi kemudian kembali memeriksa berkas lamarannya. Ada sedikit rasa gugup yang mulai muncul, tetapi kali ini ia tidak ingin membiarkan rasa takut menguasai dirinya. Tahun lalu ia kehilangan kesempatan karena terlambat. Tahun ini, ia ingin membuka pintu itu dengan usahanya sendiri.
Tiga tahun menjalin hubungan ternyata belum membuat Dewi dan Julian sampai pada pembicaraan tentang pernikahan. Bagi bibi dan Putri, hal itu terasa cukup aneh. Mereka melihat hubungan keduanya sudah begitu lama, tetapi tidak pernah mendengar kabar tentang rencana membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius.
Sesekali bibi mencoba menanyakan kapan mereka akan menikah. Namun, jawaban Dewi dan Julian selalu sama. Keduanya belum merasa siap. Bukan karena hubungan mereka bermasalah, tetapi mereka masih ingin menikmati kehidupan masing-masing dan mengejar tujuan yang belum tercapai.
Putri yang mendengar jawaban itu hanya bisa menghela napas. Ia bahkan sempat mengira Dewi dan Julian hanya menunggu waktu yang tepat. Namun, perkataan Dewi berikutnya justru membuatnya terkejut.
"Aku sebenarnya belum punya niat untuk menikah dengan Julian," ucap Dewi dengan tenang.
Putri langsung menatapnya tidak percaya. "Maksudmu... selama tiga tahun ini kamu memang tidak pernah berpikir untuk menikah dengannya?"
Dewi menggeleng pelan. Ia menyayangi Julian, tetapi perasaan itu ternyata belum cukup membuatnya ingin mengikat masa depan dalam sebuah pernikahan. Ia masih ingin membangun karier, mengembangkan kemampuannya di bidang kuliner, dan merasakan kehidupan yang selama ini ia perjuangkan.
Bagi Dewi, menikah bukan sesuatu yang harus dilakukan hanya karena hubungan mereka sudah berlangsung selama tiga tahun. Ia ingin menikah ketika benar-benar yakin, bukan karena usia hubungan, tekanan keluarga, ataupun status Julian sebagai bagian dari keluarga terpandang.
Putri masih terdiam. Baru kali ini ia menyadari bahwa mungkin selama ini dirinya salah memahami hubungan Dewi dan Julian. Mereka memang saling menyayangi, tetapi ternyata keduanya belum tentu memiliki tujuan yang sama untuk masa depan.
Sementara itu, Dewi hanya tersenyum kecil. Ia tidak ingin membuat siapa pun khawatir. Hanya saja, untuk urusan pernikahan, hatinya masih belum menemukan jawaban yang pasti.
Di dalam kamarnya, Dewi duduk sendirian di tepi ranjang. Suasana rumah yang ramai perlahan terdengar semakin jauh. Tangannya merogoh dompet yang selalu ia bawa, lalu mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah sedikit usang.
Foto kedua orang tuanya.
Dewi menatap foto itu cukup lama. Rasa rindu yang selama bertahun-tahun ia pendam kembali memenuhi dadanya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada mereka tentang hidupnya sekarang, tentang lima tahun yang ia habiskan di luar negeri, tentang pendidikan yang berhasil ia selesaikan, dan tentang semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya.
Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menyentuh wajah kedua orang tuanya dalam foto itu dengan ujung jarinya.
"Aku kangen kalian," bisiknya lirih.
Namun, di balik kerinduan itu, tersimpan luka yang belum pernah benar-benar sembuh. Dewi masih mengingat semua yang terjadi pada keluarganya. Dan satu hal yang tidak pernah berubah dalam hatinya adalah keengganannya untuk menjadi bagian dari keluarga Mahesa.
Ia memang berpacaran dengan Julian selama tiga tahun. Ia menyayangi Julian dan menghargai kebaikan yang pernah diberikan lelaki itu kepadanya. Tetapi perasaannya kepada Julian tidak membuat luka terhadap keluarga Mahesa menghilang begitu saja.
Dewi menghela napas panjang sambil kembali menatap foto kedua orang tuanya. Ia tahu suatu hari nanti mungkin dirinya harus berhadapan langsung dengan pilihan yang sulit. Namun, dalam hati ia sudah membuat satu keputusan.
Ia tidak akan pernah sudi menjadi menantu keluarga Mahesa.
Bukan karena Julian tidak pantas dicintai, melainkan karena ada luka di masa lalu yang membuat Dewi tidak sanggup membayangkan dirinya mengikat hidup dengan keluarga yang menyimpan begitu banyak kenangan pahit bagi dirinya.
Di kantor utama Arunika Food Group, Raffi sedang memeriksa beberapa dokumen calon karyawan yang akan mengikuti proses seleksi. Meski menjabat sebagai pemimpin utama perusahaan, ia tidak ingin hanya duduk di balik meja dan menerima laporan dari bawahannya. Ia justru ingin terlibat langsung dalam proses produksi utama agar benar-benar memahami bagaimana perusahaan itu berjalan.
Satu per satu profil calon karyawan ia periksa. Sampai sebuah nama membuat gerakan tangannya terhenti.
Dewi Arselia.
Raffi mengernyitkan dahi. Entah mengapa nama itu terasa tidak asing. Ia kemudian membuka profil kandidat tersebut dan melihat foto yang tertera di sana.
Wajah perempuan itu membuatnya semakin terdiam.
Raffi pernah melihat wajah tersebut.
Bukan secara langsung, melainkan dari beberapa foto yang pernah dilihatnya. Perempuan itu sangat mirip dengan Dewi, pacar Julian yang selama ini ia kenal. Bahkan informasi pendidikannya semakin membuat Raffi yakin. Dewi Arselia tercatat pernah menempuh pendidikan di Amerika dengan jurusan kuliner.
"Jangan-jangan..." gumam Raffi pelan.
Untuk beberapa saat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah perempuan yang melamar di perusahaan mereka benar-benar Dewi yang sama? Jika iya, mengapa ia tidak pernah mendengar bahwa Dewi akan kembali dan melamar pekerjaan di Arunika Food Group?
Raffi kembali memperhatikan foto itu. Ada rasa heran yang sulit ia jelaskan, tetapi ia berusaha menyingkirkan prasangka. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan hanya berdasarkan kemiripan wajah dan nama.
Namun, semakin lama memandang profil tersebut, semakin kuat perasaan aneh yang muncul dalam dirinya. Seolah-olah tanpa sengaja, sebuah nama dari masa lalu baru saja kembali muncul di hadapannya.
Raffi menutup berkas itu perlahan. Ia tidak tahu bahwa keputusan Dewi untuk melamar ke perusahaan tersebut akan membawa mereka pada pertemuan yang mungkin mengubah banyak hal.
Dan untuk pertama kalinya, nama Dewi Arselia membuat Raffi merasa penasaran.
Julian baru saja berada di ruang keluarga ketika melihat ayahnya pulang. Ia segera menghampiri dan menyapa dengan sopan, berharap kali ini bisa berbincang lebih banyak. Namun, seperti biasanya, sang ayah hanya memberikan jawaban singkat tanpa menunjukkan banyak ekspresi.
Julian sudah terbiasa dengan sikap dingin itu. Ia tahu ayahnya masih kecewa karena dirinya tetap menolak untuk bekerja di hotel. Bagi sang ayah, keputusan Julian bukan perkara sederhana. Hotel yang selama bertahun-tahun dibangun dengan susah payah membutuhkan seseorang dari keluarga untuk meneruskannya.
Di dalam hati, sang ayah sebenarnya merasa resah. Dua putranya justru memilih jalan masing-masing dan tidak benar-benar ingin meneruskan perusahaan yang telah ia bangun. Ia pernah membayangkan suatu hari nanti Julian dan Raffi akan berdiri bersamanya, kemudian perlahan mengambil alih tanggung jawab perusahaan.
Namun, kenyataan ternyata berbeda.
Julian memilih menjauh dari hotel, sementara Raffi bahkan lebih tertarik membangun hidupnya sendiri. Sang ayah terkadang merasa gagal memahami keinginan kedua anaknya. Ia tidak tahu apakah selama ini terlalu keras kepada mereka atau justru terlalu berharap.
Meski begitu, ada sedikit kelegaan yang masih tersisa. Setidaknya Raffi masih bersedia memimpin perusahaan lain miliknya. Walaupun bukan hotel utama keluarga, keputusan itu membuat sang ayah merasa bahwa masih ada satu anak yang mau menjaga sebagian hasil kerja kerasnya.
Ia hanya bisa menghela napas panjang.
Mungkin dirinya harus mulai belajar menerima bahwa anak-anaknya bukanlah penerus yang bisa dipaksa mengikuti jalan yang sudah ia tentukan. Mereka memiliki pilihan dan impian sendiri. Dan sebagai seorang ayah, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berharap pilihan itu tidak membuat mereka menyesal di kemudian hari.