NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Gerbang Dunia Baru

Langit Kota Qingyun baru saja berubah jingga ketika kawasan pengungsian mulai dipenuhi kesibukan.

Sudah tiga hari berlalu sejak Sekte Awan Langit mengumumkan seleksi murid baru.

Hari yang dinanti akhirnya tiba.

Di rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal sementara Keluarga Feng, Mei Lin telah bangun sejak fajar. Aroma bubur daging yang mengepul memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan wangi roti kukus yang baru matang.

Mei Lin menuangkan semangkuk bubur ke atas meja, lalu memanggil dengan suara lembut.

"Bai Hu, Tie Niu, sarapan sudah siap. Kalian harus berangkat lebih awal kalau tidak ingin terlambat."

Belum sempat kalimat itu selesai...

Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari dalam kamar.

Bai Hu keluar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Rambutnya berantakan, bajunya sedikit kusut, tetapi kedua matanya langsung berbinar begitu melihat meja makan.

Ia menelan ludah tanpa sadar.

"Ibu... hari ini ada daging?"

Mei Lin tidak bisa menahan senyum.

Sudah lama ia tidak melihat putra bungsunya memperlihatkan wajah seceria itu.

"Ada. Tapi duduklah dulu dengan tenang. Tidak ada yang akan mengambilnya."

Bai Hu mengangguk cepat, lalu menarik kursi.

Namun sebelum sempat duduk, ia sudah mengambil sepotong daging panggang dengan tangan kanannya.

Belum sempat daging itu masuk ke mulut...

Sebuah tangan menepuk pelan punggung tangannya.

Tian Yu berdiri di sampingnya sambil menggeleng.

"kau tidak pernah berubah. Setidaknya cuci tangan dulu sebelum makan. Kau mau mengikuti seleksi sekte, bukan sedang berburu di hutan."

Bai Hu memandang daging di tangannya, lalu memandang Tian Yu dengan wajah penuh penyesalan.

"Kalau aku pergi mencuci tangan sekarang... daging ini akan lebih dulu dingin?"

Tie Niu yang baru masuk ke dalam rumah langsung tertawa terbahak-bahak.

Ia meletakkan tas kain di dekat pintu, lalu berkata sambil menggelengkan kepala.

"Aku benar-benar heran. Dari sekian banyak peserta seleksi hari ini, mungkin hanya kau yang mengkhawatirkan daging sebelum memikirkan ujian."

Bai Hu mendengus pelan.

Ia akhirnya meletakkan kembali daging itu di atas piring.

Sambil berjalan menuju tempayan air, ia masih sempat bergumam.

"Orang yang perutnya kenyang pasti berpikir lebih jernih daripada orang yang lapar. Menurutku ini justru bagian dari persiapan ujian."

Mendengar alasan itu, Tian Yu menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Sementara Mei Lin dan Tie Niu saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil.

Rumah yang selama beberapa hari dipenuhi kesedihan itu akhirnya kembali dipenuhi suara tawa.

Tidak lama kemudian...

Empat piring di atas meja sudah kosong.

Tie Niu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap perutnya.

"Aku sudah kenyang."

Lalu ia melirik ke arah Bai Hu.

Anak berbadan gemuk itu masih memegang mangkuk bubur yang hampir kosong.

Ia mengeruk sisa bubur sampai benar-benar bersih, seolah tidak ingin menyisakan sebutir nasi pun.

Tie Niu mengangkat alis.

"Kau masih lapar?"

Bai Hu mengangguk tanpa merasa malu.

"Masih sedikit."

Tian Yu hampir tersedak air minumnya.

"Barusan kau menghabiskan dua mangkuk bubur, delapan potong daging panggang, dan enam roti kukus. Kau masih mengatakan 'sedikit lapar'?"

Bai Hu mengusap dagunya sambil berpikir sejenak.

"perutku... mungkin sekarang baru tujuh puluh persen kenyang."

Tie Niu menatap wajah sahabatnya cukup lama.

Kemudian ia berkata dengan nada sangat serius.

"Kalau suatu hari nanti kau menjadi kultivator hebat, kurasa bukan musuh yang membuatmu miskin."

Bai Hu mengernyit.

"Lalu?"

Tie Niu menunjuk meja makan.

"Biaya makanmu sendiri."

Semua orang kembali tertawa.

Bahkan Tian Yu yang sejak tragedi Kota Qinghe jarang tersenyum akhirnya ikut tertawa lepas.

Tawa itu perlahan mereda.

Mei Lin berdiri dari kursinya.

Ia mengambil pakaian luar milik Bai Hu, lalu merapikannya dengan hati-hati.

Tangannya berhenti sesaat di bahu putra bungsunya.

Tatapannya dipenuhi rasa sayang sekaligus kekhawatiran.

"Bai Hu, selama mengikuti seleksi nanti, Ibu ingin kau mengingat satu hal."

Bai Hu yang biasanya bercanda langsung duduk tegak.

Ia bisa merasakan nada suara ibunya berbeda.

"Apa itu, Bu?"

Mei Lin mengusap pipinya dengan lembut.

"Jangan memaksakan dirimu hanya karena ingin menjadi lebih kuat. Ibu memang ingin melihatmu berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak ada artinya kalau kau harus kehilangan nyawamu. Ibu sudah kehilangan rumah... kehilangan Ayahmu... dan kehilangan Kakakmu. Ibu tidak ingin kehilangan dirimu juga."

Ruangan yang semula dipenuhi tawa kembali sunyi.

Bai Hu menundukkan kepala.

Wajah cerianya perlahan menghilang.

Ia menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangan.

"Ibu, aku memang ingin menjadi kuat. Aku juga ingin mempelajari semua hal yang belum pernah kulihat. Tetapi aku berjanji... aku tidak akan bertindak gegabah. Aku ingin kembali ke rumah setiap hari, mendengar Ibu memarahiku karena makan terlalu banyak, dan melihat Kak Tian Yu mengomel setiap kali aku membuat ulah."

Suara Bai Hu mulai melemah.

"Karena... keluarga jauh lebih berharga daripada apa pun."

Mei Lin tidak mampu menahan air matanya.

Ia memeluk putranya erat.

Di sudut ruangan, Tian Yu dan Yun He saling berpandangan.

Anak berbadan gemuk yang sering bertingkah konyol itu telah berubah.

Ia masih suka bercanda.

Masih mata duitan.

Masih rakus makan.

Namun Tragedi Kota Qinghe telah memaksanya tumbuh lebih cepat daripada anak-anak seusianya ,

-------

Perjalanan menuju tempat seleksi memakan waktu hampir setengah jam.

Semakin dekat mereka ke pusat Kota Qingyun, jalanan semakin ramai.

Kereta kuda hilir mudik membawa barang dagangan.

Para kultivator berlalu-lalang mengenakan pakaian dengan lambang keluarga atau sekte masing-masing.

Di kanan kiri jalan, toko-toko mulai membuka pintunya.

Suara para pedagang saling bersahutan menawarkan dagangan mereka.

Bagi Bai Hu...

Semua itu terasa baru.

Matanya terus bergerak ke segala arah.

Ia memperhatikan pedagang menawarkan tanaman spiritual kepada pembeli.

Tidak jauh dari sana, seorang pandai besi sedang mempertunjukkan ketajaman pedang buatannya.

Di sisi lain, seorang penjual pil menyebutkan khasiat berbagai pil penyembuh hingga beberapa orang langsung berkerumun di depan tokonya.

Tanpa sadar langkah Bai Hu melambat.

Ia berhenti di depan sebuah toko yang menjual berbagai tanaman spiritual.

Di dalam etalase kayu tersusun puluhan tanaman dengan bentuk dan warna yang berbeda.

Ada akar berwarna merah tua.

Ada bunga biru yang memancarkan aroma menyegarkan.

Ada pula buah-buah kecil berwarna ungu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tatapannya langsung berbinar.

Ia benar-benar lupa bahwa dirinya sedang menuju tempat seleksi.

Tie Niu yang sudah berjalan beberapa langkah baru menyadari sahabatnya tertinggal.

Ia menoleh ke belakang lalu menghela napas panjang.

"Bai Hu... jangan bilang kau sudah tersesat."

Bai Hu tidak menjawab.

Ia justru terus menatap tanaman-tanaman itu.

Seorang lelaki tua pemilik toko memperhatikan anak berbadan gemuk itu sejak tadi.

Dengan senyum ramah ia bertanya,

"Anak muda, apakah kau sedang mencari tanaman tertentu? Atau hanya ingin melihat-lihat?"

Bai Hu tersadar.

Ia segera memberi hormat.

"Maaf, Paman. Aku memang hanya melihat-lihat. Aku belum pernah melihat banyak tanaman spiritual seperti ini."

Lelaki tua itu tertawa kecil.

"Kalau hanya melihat, Silakan saja."

Mata Bai Hu kembali tertuju pada salah satu tanaman.

Batangnya tidak lebih besar dari jari tangan.

Daunnya berwarna hijau muda dengan urat berwarna merah.

Ia mencoba mengingat pelajaran dari Tetua Guo.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan,

"Kalau aku tidak salah, ini seharusnya Rumput Embun Merah. Daunnya memang masih segar, tetapi batang bagian bawah mulai mengering. Khasiatnya mungkin tinggal sekitar tujuh puluh persen."

Ucapan itu membuat lelaki tua tersebut sedikit terkejut.

Ia mengambil tanaman itu, lalu mengamatinya lebih teliti.

Beberapa saat kemudian ia tersenyum kagum.

"Pengamatanmu cukup tajam. Memang benar tanaman ini sudah dipanen hampir dua bulan yang lalu. Khasiatnya memang sudah berkurang."

Tie Niu memandang Bai Hu dengan heran.

"Kau bisa mengetahui itu hanya dengan melihatnya?"

Bai Hu menggeleng.

"Bukan hanya melihat. Tetua Guo pernah mengajariku cara mengenali tanaman dari warna batang, kelembapan daun, dan aroma yang keluar saat terkena angin. Aku hanya mencoba mengingat kembali pelajaran darinya."

Lelaki tua itu mengangguk puas.

"Anak muda, gurumu pasti seorang alkemis yang hebat."

Bai Hu tersenyum.

"Aku masih belum pantas disebut muridnya , Aku baru belajar sedikit."

Lelaki tua itu tertawa.

"Orang yang mau mengakui dirinya masih harus belajar biasanya justru berkembang paling cepat."

Bai Hu membungkukkan badan memberi hormat.

"Terima kasih atas nasihatnya, Paman."

Ketika mereka kembali berjalan...

Tie Niu menepuk bahu Bai Hu.

"Ternyata kau tidak hanya memperhatikan makanan."

Bai Hu mendengus pelan.

"Tentu saja, Semua tanaman itu adalah batu roh."

Tie Niu mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Bai Hu tersenyum lebar.

"Kalau aku bisa mengenali kualitasnya, aku bisa membeli yang murah, mengolahnya menjadi pil, lalu menjualnya lebih mahal. Bukankah itu berarti tanaman spiritual sama saja dengan batu roh yang belum berubah bentuk?"

Tie Niu terdiam cukup lama.

Kemudian ia menggeleng sambil tertawa.

"Aku benar-benar tidak mengerti isi kepalamu. Orang lain melihat tanaman. Kau melihat tumpukan batu roh."

Bai Hu mengangkat bahu.

"Tidak salah, kan? Selama mendapatkannya dengan cara yang benar, mencari keuntungan juga butuh ilmu."

Tie Niu tidak bisa membantah.

Semakin lama mengenal Bai Hu, semakin ia sadar bahwa sahabatnya memang memiliki cara berpikir yang berbeda.

Ia memang mata duitan.

Namun semua yang dipikirkannya selalu berhubungan dengan belajar.

Belajar berdagang.

Belajar alkimia.

Belajar mengenali barang.

Belajar memahami dunia.

Beberapa saat kemudian...

Mereka akhirnya tiba di alun-alun utama Kota Qingyun.

Lapangan batu yang sangat luas itu telah dipenuhi ribuan peserta.

Di bagian paling depan berdiri puluhan murid Sekte Awan Langit dengan pakaian putih bersih.

Aura yang mereka pancarkan jauh lebih kuat dibanding kultivator biasa.

Di belakang mereka berdiri enam orang tetua.

Meskipun tidak melepaskan tekanan kultivasi...

Kehadiran mereka saja sudah cukup membuat suasana menjadi sunyi.

Bai Hu mengangkat kepalanya.

Tatapannya berhenti pada gerbang batu raksasa yang menjulang puluhan meter.

Di atas gerbang itu terukir empat huruf besar yang terlihat kokoh dan megah.

SEKTE AWAN LANGIT.

Ia menarik napas perlahan.

Ia benar-benar telah berdiri di depan gerbang yang akan mengubah hidupnya.

Di sampingnya, Tie Niu mengepalkan tangan.

Wajah sahabatnya terlihat tegang.

Bai Hu menyenggol lengannya pelan.

Sambil tersenyum ia berkata,

"Tie Niu, kenapa wajahmu seperti orang yang Sembelit? Bukankah kita datang untuk mengikuti seleksi, bukan naik ke tiang eksekusi?"

Tie Niu mengembuskan napas panjang lalu tersenyum tipis.

"Aku hanya sedikit gugup. Di sini ada begitu banyak orang berbakat. aku merasa diriku benar-benar biasa."

Bai Hu menatap kerumunan peserta yang memenuhi lapangan.

Kemudian ia menepuk bahu sahabatnya dengan mantap.

"Kalau semua orang di sini memang hebat, berarti kita tinggal belajar lebih giat daripada mereka. Aku tidak percaya ada ilmu yang tidak bisa dipelajari selama seseorang mau berusaha."

Tie Niu menoleh.

Perasaan gugup di dalam dadanya perlahan menghilang.

Tepat pada saat itu...

Seorang tetua berjubah putih melangkah ke depan seluruh peserta.

Tatapannya menyapu ribuan anak muda yang berdiri memenuhi lapangan.

Kemudian suaranya bergema dengan bantuan Qi, terdengar jelas hingga ke sudut paling belakang.

"Selamat datang, para calon murid Sekte Awan Langit. Hari ini kalian datang membawa harapan, impian, dan ambisi masing-masing. Namun hanya mereka yang memiliki tekad, bakat, dan kemauan untuk terus berkembang yang akan bertahan hingga akhir seleksi."

Seluruh lapangan langsung menjadi hening.

Tidak ada lagi yang berbicara.

Suasana di alun-alun berubah hening.

Bahkan angin yang berembus melewati lapangan batu terasa begitu jelas.

Tidak ada lagi peserta yang berani berbicara.

Tatapan ribuan orang tertuju kepada enam tetua berjubah putih yang berdiri di atas panggung batu.

Tetua yang berdiri paling depan melangkah perlahan.

Usianya tampak sekitar enam puluh tahun. Rambut dan janggutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih tajam seperti pedang yang baru diasah.

Ia menyapu seluruh peserta dengan tatapan tenang.

Tidak ada tekanan aura yang dilepaskannya.

Namun hanya dengan berdiri di sana, semua orang merasakan wibawa yang luar biasa.

Setelah memastikan seluruh lapangan benar-benar tenang, ia mulai berbicara.

"Perkenalkan, aku adalah Tetua Xu Canghai, salah satu tetua luar Sekte Awan Langit. Tahun ini, aku bertanggung jawab memimpin seleksi murid baru."

Suaranya tidak keras.

Namun setiap kata terdengar jelas hingga ke barisan paling belakang.

"Sebelum seleksi dimulai, ada satu hal yang harus kalian pahami."

Xu Canghai berhenti sejenak.

Tatapannya beralih ke Batu Pengukur Roh raksasa yang berdiri di tengah lapangan.

"Banyak orang mengira bakat adalah segalanya. Mereka percaya bahwa seseorang dengan akar spiritual yang tinggi pasti akan menjadi kultivator hebat. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar."

Beberapa peserta mulai saling berpandangan.

Tetua itu kembali melanjutkan.

"Selama tiga ratus tahun terakhir, Sekte Awan Langit telah menerima ribuan murid berbakat. Sebagian besar dari mereka memang berkembang pesat. Namun tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan karena merasa puas dengan bakat yang dimilikinya."

Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.

"Sebaliknya, ada murid yang hanya memiliki bakat biasa. Mereka terus belajar, terus berlatih, dan tidak pernah menyerah. Pada akhirnya, justru mereka yang mampu melampaui para jenius."

Kalimat itu membuat banyak peserta mulai merenung.

Di tengah kerumunan, Bai Hu ikut mendengarkan dengan saksama.

Ia memang memiliki Akar Spiritual Surgawi.

Namun sejak tragedi Kota Qinghe...

Ia tidak pernah lagi menganggap bakat sebagai jaminan.

Kalau bakat benar-benar menentukan segalanya...

Ayahnya tidak akan gugur.

Kakaknya juga tidak akan mengorbankan dirinya.

Yang kurang dari keluarga mereka...

Bukan keberanian.

Melainkan kekuatan.

Dan kekuatan hanya bisa diperoleh dengan terus berkembang.

Xu Canghai kembali berbicara.

"Seleksi tahun ini terdiri dari tiga tahap."

Ia mengangkat satu jari.

"Tahap pertama adalah menguji bakat dasar kalian."

Jari kedua terangkat.

"Tahap kedua menguji pemahaman, ketenangan berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan."

Kemudian jari ketiga.

"Tahap terakhir adalah ujian bertahan hidup."

Suasana lapangan langsung menjadi sedikit gaduh.

Beberapa peserta mulai berbisik.

"Ujian bertahan hidup?"

"Apa maksudnya?"

"Apakah kita akan bertarung?"

Xu Canghai mengangkat tangannya.

Keributan itu langsung mereda.

"Kalian tidak perlu bertanya sekarang. Kalian akan mengetahuinya ketika waktunya tiba."

Beberapa murid Sekte Awan Langit segera membawa meja batu ke tengah lapangan.

Di atas meja itu terdapat puluhan lempeng giok kecil.

Xu Canghai memandang seluruh peserta.

"Peserta akan dipanggil berdasarkan nomor. Kalian cukup berjalan menuju Batu Pengukur Roh, letakkan tangan di atasnya, lalu salurkan Qi seperti saat pertama kali menguji akar spiritual."

Seorang murid sekte melangkah maju.

Dengan suara lantang ia memanggil.

"Nomor satu!"

Seorang remaja laki-laki segera maju.

Tubuhnya tinggi dan mengenakan pakaian keluarga bangsawan.

Ia memberi hormat kepada para tetua sebelum meletakkan telapak tangannya di atas Batu Pengukur Roh.

Sesaat kemudian...

Cahaya kuning memenuhi bagian bawah batu.

Tidak lama kemudian cahaya itu berhenti.

Seorang murid sekte segera mengumumkan hasilnya.

"Akar Spiritual Tingkat Tiga. Lulus tahap pertama."

Remaja itu mengembuskan napas lega.

Ia memberi hormat sekali lagi sebelum turun dari panggung.

Peserta kedua.

Ketiga.

Keempat.

Mereka maju satu demi satu.

Sebagian memiliki Akar Spiritual Tingkat Empat.

Ada pula yang hanya Tingkat Dua.

Namun tidak semua berhasil.

Beberapa peserta dengan akar spiritual yang terlalu lemah langsung dinyatakan gugur.

Tangisan mulai terdengar dari sudut lapangan.

Ada anak yang memohon agar diberi kesempatan kedua.

Ada pula orang tua yang berusaha membujuk para tetua.

Namun Xu Canghai sama sekali tidak mengubah keputusannya.

"Peraturan adalah peraturan. Sekte Awan Langit tidak menerima murid berdasarkan belas kasihan."

Bai Hu memperhatikan semuanya tanpa berkedip.

Ia bukan sedang memperhatikan hasil pengujian.

Melainkan wajah para tetua.

Cara mereka berbicara.

Cara mereka menilai peserta.

Cara mereka mengambil keputusan.

Tie Niu yang berdiri di sampingnya memperhatikan ekspresi sahabatnya.

Dengan suara pelan ia bertanya,

"Kau sedang memikirkan apa? Sejak tadi kau tidak berkedip."

Bai Hu mengusap dagunya.

Tatapannya masih tertuju ke depan.

"Aku hanya mengamati

Tie Niu tampak bingung.

Bai Hu akhirnya menoleh.

Dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu peserta lain, ia berkata,

"Tetua Guo pernah mengatakan bahwa menjadi alkemis bukan hanya belajar membuat pil. Seseorang juga harus belajar mengamati manusia lainya untuk belajar. Hari ini aku ingin melihat bagaimana para tetua mengambil keputusan."

Tie Niu mengangguk pelan.

Ia kembali dibuat kagum.

Sementara peserta lain sibuk memikirkan hasil ujian mereka.

Bai Hu justru mempelajari sesuatu yang sama sekali berbeda.

Ia memang memiliki rasa ingin tahu yang tidak pernah habis.

Apa pun yang dianggap berguna...

Akan ia pelajari.

Tiba-tiba...

Suara murid sekte kembali menggema.

"Nomor seratus delapan puluh tujuh!"

Bai Hu menunduk melihat papan kayu di tangannya.

Itulah nomornya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian menepuk pelan bahu Tie Niu.

Senyumnya kembali muncul.

Namun kali ini tidak ada sedikit pun sikap bercanda.

"Tie Niu, aku naik dulu. Doakan aku tidak mempermalukan keluarga."

Tie Niu membalas tepukan itu.

Tatapannya penuh keyakinan.

"Aku tidak perlu mendoakanmu agar menjadi yang terbaik. Aku hanya berharap kau menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya. Itu sudah lebih dari cukup."

Bai Hu mengangguk.

Kemudian ia melangkah menuju panggung batu.

Ribuan pasang mata perlahan mulai tertuju kepada anak berbadan gemuk yang berjalan dengan tenang ke arah Batu Pengukur Roh.

Tidak seorang pun di lapangan menyadari...

Bahwa anak yang tampak biasa itu akan memberikan kejutan

Bersambung..

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!