Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 ~ Jangan Tinggalkan Aku
Beberapa saat kemudian, Arga tiba di rumah sakit. Ia berlari menyusuri koridor panjang tanpa peduli tatapan orang di sekelilingnya. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi seolah kehilangan seluruh tenaganya. Begitu melihat tulisan IGD di ujung lorong, langkahnya semakin dipercepat.
Di depan ruang penanganan, Oma Gloria, Bima, dan Tristan sudah menunggu.
"Ayra!" serunya panik. "Bagaimana keadaan Ayra?"
Tak ada sahutan. Suasana seketika membeku, terasa jauh lebih dingin daripada ruangan ber-AC itu.
Arga menatap mereka bergantian, kembali bertanya dengan suara bergetar. "Oma... bagaimana keadaan Ayra?"
Wanita tua itu menoleh tajam, kemarahan di matanya tak bisa lagi disembunyikan. "Masih berani kau bertanya begitu setelah apa yang kamu lakukan pada cucuku?! Belum cukupkah penderitaan yang Ayra tanggung selama ini, Arga?!"
Tubuh Arga membeku di tempat. Tatapan tajam Oma Gloria terasa menindih dadanya, membuatnya sulit bernapas.
"Aku sama sekali tidak bermaksud mencelakai Ayra. Aku hanya ingin bertemu, tapi—"
"Cukup! Aku tak sudi mendengar alasan apa pun dari mulutmu!" potong Oma Gloria keras. "Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum aku meminta Bima untuk menyeretmu keluar dari sini!"
"Tapi Oma, aku—"
"PERGI!!"
Arga terdiam. Ia menunduk dalam, penuh keputusasaan. Keadaan ternyata jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Ia tak pernah berniat menyakiti Ayra; rasa cintanya terlalu besar hingga ia tak sanggup melepaskan wanita itu. Namun kenyataannya sekarang, rasa cinta itu justru berubah menjadi malapetaka yang memakan dirinya sendiri.
Melihat Arga yang tampak remuk redam, hati Bima sedikit tersentuh kasihan. Namun apa yang dilakukan Arga belakangan ini sudah melampaui batas, hingga kini nyawa wanita yang dicintainya terancam.
"Maafkan saya, Tuan. Anda harus meninggalkan tempat ini sekarang," ucap Bima tegas sambil berniat menuntunnya pergi.
Arga menepis tangan itu kasar. "Aku bisa jalan sendiri."
Langkahnya gontai menjauh. Di sini, di lorong rumah sakit itu, Arga merasa dirinyalah orang yang paling hancur dan terasing di dunia.
--
Tak lama berselang, pintu IGD terbuka. Dokter keluar sambil membuka tali maskernya perlahan.
"Keluarga Nyonya Ayra?"
"Saya! Bagaimana keadaannya?" Oma Gloria langsung menghampiri dengan cemas, disusul Tristan yang segera mendekat untuk ikut mendengarkan.
"Darah yang keluar sangat banyak. Nyonya Ayra mengalami kehilangan darah yang cukup parah," jelas dokter dengan nada lembut namun serius.
"Janin dalam kandungannya sebenarnya sudah sangat lemah sejak awal. Sedikit saja ada benturan atau guncangan emosi, kondisinya langsung menurun drastis hingga tak sanggup bertahan. Kami terpaksa mengambil keputusan berat untuk mengangkat janin tersebut... karena nyawanya sudah tak bisa diselamatkan lagi." lanjutnya.
Kaki Oma Gloria seketika terasa lemas tak bertulang mendengar kabar itu, seluruh tenaganya serasa tersedot habis dalam sekejap. Untunglah Bima sigap menangkap tubuh wanita tua itu sebelum terjerembap ke lantai, menopangnya agar tetap berdiri tegak.
Meski dadanya terasa diremas pilu, Oma Gloria memaksa dirinya untuk tidak runtuh saat ini juga. Di balik pintu itu, Ayra sedang berjuang mempertahankan nyawanya. Dan cucunya itu jauh lebih butuh kekuatan darinya saat ini. Ia harus tegar.
"Kalau begitu lakukan apa saja yang diperlukan, Dokter, asalkan Ayra bisa selamat," ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar menahan tangis.
"Baiklah, kalau begitu silahkan tanda tangani surat persetujuan operasi. Agar kami bisa langsung mengambil tindakan secepatnya," jawab dokter itu tenang.
Seorang perawat segera menghampiri sambil membawa map berisi lembar persetujuan tindakan medis. Tanpa menunda sedetik pun, tangan keriput Oma Gloria langsung memegang pena dan membubuhkan tanda tangannya di kolom yang ditunjuk. Tak ada keraguan sedikit pun, karena setiap detik yang berlalu sangat berharga bagi nyawa Ayra.
"Segera bawa pasien ke ruang operasi. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Risiko infeksi dan kehilangan darah bertambah besar jika ditunda," perintah dokter kepada timnya.
Tak lama kemudian, pintu ruang IGD terbuka kembali. Brankar dorong bergerak cepat keluar, menembus lorong rumah sakit menuju ruang operasi. Di atasnya terbaring Ayra yang masih pucat dan tak sadarkan diri, selang infus dan alat monitor terpasang rapi di tubuhnya.
Oma Gloria mengikuti langkah itu dari belakang hingga pintu ruang operasi tertutup rapat, berganti tulisan lampu merah, menandakan jika operasi sedang berjalan. Wanita tua itu mengusap air mata yang akhirnya lolos menetes, lalu menatap langit-langit dengan doa yang terucap lirih di dalam hati. Semoga Tuhan masih berkenan memberi kesempatan bagi cucunya untuk bertahan hidup.
••
••
"Brengsek!"
Entah sudah berapa gelas yang ditengguk Arga malam ini di dalam vila itu, namun tak ada satu pun yang mampu menghapus bayang wajah Ayra atau mengurangi sesak rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya. Alkohol hanya membakar tenggorokan, tapi tak bisa mematikan rasa sakit yang terasa membekam di dada.
"Ayra... aku sangat mencintaimu. Seharusnya kita tidak berakhir seperti ini..." gumamnya parau, suara bergetar penuh kepedihan.
Sekarang ia sadar sepenuhnya. Ia sangat menyesal telah mengkhianati kepercayaan wanita yang paling dicintainya itu, hanya karena buta menuruti segala bisikan dan keinginan ibunya sendiri.
"Kita tidak akan bercerai, Ayra... Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi dariku..."
Tak lama kemudian Arga melangkah pulang. Melajukan mobilnya membelah kesunyian jalanan malam.
Sampai dua puluh menit kemudian, mobil Arga akhirnya sampai didepan rumahnya. Tubuhnya terhuyung, kakinya berat menyeret langkah masuk ke dalam rumah.
"Astaga! Arga, ada apa denganmu?!" seru Nyonya Ratna panik menyambut kedatangannya, segera disusul Lisa yang tampak kaget melihat keadaan kakaknya.
"Iya Kak, kenapa kondisimu jadi begini?"
Wajah Arga terlihat kacau, pakaiannya kusam dan lusuh, serta bau alkohol yang menyengat menguar dari sekujur tubuhnya. Padahal seumur hidup, Arga bukanlah tipe pria yang meminum diri sampai begini rupa.
"Hah! Diam kalian semua... Pergi!" bentak Arga kasar, lalu berjalan terhuyung-huyung menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
Di atas, Shella baru saja selesai mandi dan sedang menata rambutnya saat Arga muncul mendadak. Biasanya ia hanya menempati kamar tamu. Namun sejak Ayra pergi dan memberikan surat perceraian itu, Shella memberanikan diri menempati kamar utama. Ruangan yang dulunya milik Arga dan Ayra berdua. Ia menganggap tempat itu kini miliknya juga.
"Mas, kamu sudah pulang?" sapa Shella lembut.
Arga tak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung merosot dan jatuh terhempas tepat ke dalam pelukan Shella.
"Aku minta maaf... Aku salah... Semuanya salahku..." bisiknya berulang kali, mata terpejam kuat.
"Mas... Astaga, kamu mabuk?" ucap Shella cemas, menuntun tubuh berat itu hingga terbaring di atas kasur empuk. Ia melepaskan sepatu dan menyelimuti tubuh Arga perlahan.
Baru saja ia hendak berdiri untuk mengambilkan air, tangan besar Arga tiba-tiba mencengkeram lengannya erat.
"Jangan tinggalkan aku..." rintihnya lirih.
Dalam satu tarikan kuat, Arga menarik tubuh Shella hingga jatuh terhimpit di atas badannya. Posisi itu menindih wanita itu sepenuhnya. Di bawah pengaruh mabuk yang menyesatkan, tangan Arga terulur pelan, menyisir rambut panjang Shella lalu menyelipkannya rapi ke belakang telinga, gerakan yang dulu sering ia lakukan hanya untuk Ayra.
Tanpa ragu lagi, tangan Arga mencengkeram tengkuk Shella dan menariknya mendekat, mendaratkan ciuman yang bernafsu sekaligus penuh kerinduan terpendam.
"Emmh..." Shella menahan suara di tenggorokannya, membiarkan hal itu berlangsung, bahkan membalas pelukan itu dengan senyum kemenangan yang tersembunyi.
Segala sentuhan dan ciuman itu Arga lakukan bukan untuk Shella. Di bawah pengaruh mabuk berat dan ingatan yang kacau, di matanya, di pelukannya, dan di bibir yang diciumnya. Dia meyakini seratus persen bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah Ayra. Segala rindu, rasa bersalah, dan cinta yang meluap ia lampiaskan semuanya kepada bayang-bayang wanita yang sangat ia cintai itu.
"Aku menginginkanmu malam ini..." bisik Arga.