Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan rona jingga yang temaram di atas langit pesantren.
Semburat azan Magrib tinggal menghitung menit, dan aktivitas mengaji para santri baru saja disudahi. Namun, ketenangan senja itu mendadak koyak oleh kegemparan yang terjadi di area kantor madrasah.
Ustaz Damar keluar dari ruang kelas dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan.
Langkahnya tergesa-gesa menghampiri beberapa pengurus pondok.
"Ada apa, Ustaz?" tanya salah satu pengurus senior melihat raut wajah Ustaz Damar yang memucat.
"Amplop cokelat besar di dalam laci meja kelas... hilang," ucap Ustaz Damar dengan suara bergetar.
"Itu uang kas pembangunan asrama yatim pondok yang baru saja dicairkan siang tadi dari bank. Jumlahnya sangat besar."
Kabar itu menyebar secepat kilat, memicu ketegangan di seluruh penjuru pondok.
Suasana yang biasanya damai menjelang Magrib berubah menjadi mencekam.
Investigasi kilat pun dilakukan, mencari tahu siapa saja yang berada di dalam kelas saat jam istirahat sore tadi, ketika semua santri sedang berada di kamar atau masjid.
"Tadi, setelah kelas bubar, hanya ada Adrian di dalam ruangan," celetuk salah seorang santri muda dengan ragu.
"Dia mendapat tugas piket membersihkan kelas dan merapikan meja."
Mendengar nama Adrian disebut, kasak-kusuk langsung merayap di antara para santri senior.
Beberapa di antara mereka yang sejak awal memang menaruh sentimen sinis terhadap kehadiran "si santri kaya yang sombong" itu mulai saling berbisik, melemparkan tatapan penuh tuduhan.
"Nah, benar kan? Orang kota seperti dia mana betah hidup susah di sini. Jangan-jangan dia butuh uang tunai karena asetnya dibekukan?" bisik seorang santri senior di selasar masjid.
"Atau mungkin dia sengaja ingin membuat kekacauan di pondok ini karena dendam?" sahut yang lain, suaranya sengaja agak dikeras-keraskan saat melihat Adrian berjalan melintas menuju tempat wudu.
Adrian yang berjalan dengan tangan kirinya yang masih terikat perban menghentikan langkahnya.
Kupingnya panas mendengarkan kasak-kusuk yang terang-terangan menyudutkan dirinya.
Ia menoleh, menatap tajam ke arah kerumunan santri yang langsung membuang muka.
Dada Adrian bergemuruh hebat. Egonya sebagai mantan bos besar yang tak pernah dipertanyakan integritasnya kini terusik hebat.
Ditertawakan karena tidak bisa mengaji ia masih bisa menahannya, tapi dituduh sebagai seorang pencuri uang. Itu benar-benar menguji batas kesabarannya di tempat pengabdian ini.
Suasana di selasar ndalem mendadak sedingin es.
Angin sore yang berembus tak lagi terasa menyejukkan, melainkan mencekam.
Di bawah lampu selasar yang baru saja dinyalakan, Abah duduk di kursi kayu besarnya dengan wajah tenang namun memancarkan wibawa yang menekan.
Di sampingnya, Umi mendampingi dengan raut cemas, sementara Bryan berdiri tegap di sudut pilar, tak jauh dari beberapa pengurus pondok dan santri senior yang berkerumun.
Ustaz Damar berdiri di tengah selasar, berhadapan langsung dengan Adrian.
Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, beliau melipat tangannya di dada.
"Adrian, saya tidak ingin menuduh tanpa dasar. Tapi kenyataannya, hanya kamu yang berada di dalam kelas itu saat semua orang sedang beristirahat. Amplop itu ada di laci meja sebelum kelas ditinggalkan. Bisa kamu jelaskan di mana uang kas pembangunan asrama yatim itu sekarang?" tanya Ustaz Damar, suaranya terdengar datar namun menuntut jawaban mutlak.
Sebelum Adrian sempat membuka mulut, salah seorang santri senior yang berdiri di belakang pengurus pondok mulai mengompori suasana.
"Alah, Ustaz, tidak usah berbelit-belit. Siapa lagi kalau bukan dia? Semua orang tahu track record dia di luar sana. Dia pengusaha yang egois, biasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Mungkin saja dia sengaja ingin merusak nama baik pondok kita!" cetus santri senior itu memprovokasi.
Dada Adrian bergemuruh hebat mendengar kalimat itu.
Sepasang matanya menyalang tajam, menatap santri senior itu dengan kilat kemarahan yang berapi-api.
Egonya terluka sangat dalam. Ia merasa terhina di level yang paling rendah.
"Pencuri? Kalian menuduhku mencuri?!" suara Adrian meninggi, bergetar menahan amarah yang hampir meledak.
"Asal kalian tahu, harta dan asetku di luar sana bisa membiayai pembangunan sepuluh asrama seperti itu tanpa perlu mengedipkan mata! Untuk apa aku mencuri amplop sialan itu?!"
"Tapi faktanya kamu tidak punya alibi, Adrian," sela Ustaz Damar, tetap tenang namun tajam.
"Uang itu fisik, dan hilang saat kamu memegang tanggung jawab membersihkan ruangan."
Adrian tertegun. Kalimat Ustaz Damar telak menghantamnya.
Ia mengedarkan pandangan, mencari pembelaan, namun posisinya benar-benar lemah.
Tangan kanannya yang diperban seolah menjadi saksi bisu keterbatasannya, dan ia memang tidak memiliki satu pun saksi mata yang bisa membersihkan namanya.
Di sudut selasar, Bryan hanya diam terpaku. Matanya menatap lurus ke arah Adrian.
Dalam hatinya terjadi gejolak batin dan dilema yang luar biasa.
Insting lamanya sebagai pengawal pribadi berteriak agar ia maju, memasang badan, dan menghajar siapa saja yang berani memfitnah mantan bosnya. Namun, statusnya saat ini sebagai santri yang harus patuh pada aturan pondok menahan kedua kakinya untuk tetap berpijak di tempat.
Bryan mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik sarungnya, terjebak di antara kesetiaan masa lalu dan kedisiplinan masa kini.
Adrian mengepalkan tangan kirinya yang bebas, napasnya memburu di hadapan tatapan penuh selidik dari orang-orang di selasar ndalem.
Hari itu, di bawah temaram lampu pesantren, ia dipaksa menelan pil paling pahit dalam hidupnya: dituduh sebagai kriminal di tempat ia menyerahkan diri untuk bertobat.
Ketegangan di selasar ndalem seolah telah mencapai titik didih.
Adrian berdiri sendirian di tengah kepungan tatapan penuh selidik, napasnya memburu dengan raut wajah frustrasi yang bercampur amarah.
Ia merasa seluruh dinding pesantren ini mendadak runtuh dan menghimpitnya tanpa ampun.
Namun, tepat sebelum Ustaz Damar kembali melontarkan kalimatnya, kain tirai pembatas ndalem tersingkap kasar.
"Cukup!"
Sebuah suara kelantang memotong keheningan. Fatma melangkah maju ke area selasar dengan tergesa-gesa, mengabaikan rasa nyeri yang sempat mendera punggungnya.
Wajahnya tampak pucat karena emosi yang tertahan, namun sorot matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.
Semua orang di selasar, termasuk Abah dan Umi, seketika menoleh terkejut.
Adrian terpaku menatap mantan istrinya yang kini berdiri tegak di sisinya.
Dengan suara yang bergetar namun terdengar sangat tegas, Fatma menatap lurus ke arah Ustaz Damar dan para pengurus pondok.
"Mas Adrian tidak mungkin mengambil uang itu. Tuduhan kalian sama sekali tidak berdasar!"
"Fatma, jangan ikut campur. Ini urusan pengurus pondok," sela Ustaz Damar dengan kening berkerut, tampak tidak nyaman dengan kemunculan wanita itu.
"Saya harus ikut campur karena saya tahu kebenarannya, Ustaz!" potong Fatma cepat, tidak memberi celah.
"Pada jam kejadian—saat semua orang mengira Mas Adrian berada di dalam kelas—saya melihatnya sendiri dari balik jendela kamar ndalem. Mas Adrian tidak di kelas. Dia sedang berada di area tempat wudu luar, berusaha membersihkan lumut dan sampah di sana."
Fatma menarik napas dalam, matanya sempat melirik ke arah tangan kanan Adrian yang dibalut perban.
"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa kesulitannya dia memegang sapu lidi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya beberapa kali memegang dada karena menahan sakit yang luar biasa pada lukanya. Laki-laki yang sedang berjuang keras melawan rasa sakit fisiknya demi menyelesaikan tugas pengabdian, tidak akan mungkin punya waktu atau pikiran untuk menggeledah laci dan mencuri amplop!"
Suasana selasar mendadak senyap. Para santri senior yang tadinya memprovokasi kini langsung tertunduk, kehilangan kata-kata mendengar kesaksian yang begitu mendetail.
Bryan yang berdiri di sudut pilar mengembuskan napas lega yang amat panjang, sementara kepalan tangannya perlahan mengendur.
Fatma kemudian membalikkan badannya menghadap para pengurus pondok, lalu menatap Adrian sekilas sebelum akhirnya kembali bersuara lantang.
"Mas Adrian mungkin punya banyak kesalahan di masa lalu kepada saya, tapi saya tahu dia bukan seorang pencuri! Tolong jangan mengotori niat bertobatnya dengan fitnah tanpa bukti!"
Kalimat terakhir Fatma runtuh bersama air mata yang mengambang di pelupuk matanya.
Adrian terenyak di tempatnya berdiri. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan lagi karena amarah, melainkan karena rasa haru yang teramat dalam yang menjalar ke seluruh dadanya.
Di saat seluruh dunia menyudutkan dan menuduhnya sebagai kriminal, sosok yang paling terluka akibat perbuatannya di masa lalu justru menjadi orang pertama yang berdiri paling depan untuk melindunginya.
Ustaz Damar tertegun di tempatnya berdiri, tubuhnya mendadak kaku bagai patung.
Hatinya terasa nyeri, seperti dihantam godam besar melihat Fatma—wanita yang selama ini ia cintai dalam diam dan ingin ia khitbah—justru pasang badan dengan begitu berani demi membela mantan suaminya.
Ada rasa kecewa dan cemburu yang mengalir pahit di sela aliran darahnya, membuat kata-kata pembelaan yang hendak ia ucapkan tertahan di tenggorokan.
Di sudut selasar, Abah masih duduk dengan ketenangan yang tak terusik.
Beliau hanya mengangguk pelan, sepasang mata sepuhnya yang bijaksana menatap lekat ke arah Adrian, Fatma, dan Ustaz Damar secara bergantian.
Seolah bagi Abah, hilangnya uang ini bukanlah sebuah musibah, melainkan skenario langit yang sengaja digelar untuk membaca karakter asli dan ketulusan hati dari semua orang yang terlibat dalam konflik ini.
Sementara itu, jantung Adrian berdesir hebat. Tatapan matanya yang tadi merah menyalang penuh amarah mendadak melunak penuh haru.
Laki-laki egois itu menatap Fatma dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
Di saat seluruh isi pesantren meragukannya dan menuduhnya sebagai pencuri, justru wanita yang paling hancur ia sakiti di masa lalu yang berdiri paling depan untuk menyelamatkan harga dirinya.
Penyesalan baru kembali mengetuk dinding hati Adrian, mengikis sisa-sisa keangkuhan yang selama ini ia pelihara.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketegangan.
"Ustaz Damar! Abah!"
Ustaz Adi datang berlari dari arah koridor madrasah dengan napas terengah-engah.
Di tangan kanannya, ia mengangkat sebuah amplop cokelat besar yang tebal.
"Astagfirullahaladzim, Ustaz Damar... ini amplop uang kas pembangunan asrama yatimnya," ucap Ustaz Adi sambil menyeka keringat di dahinya.
"Uang ini kan tadi siang sudah Ustaz berikan sendiri kepada saya di ruang tata usaha untuk rincian pembayaran material gelombang pertama. Ustaz lupa, ya?"
Kalimat Ustaz Adi bak petir di siang bolong bagi Ustaz Damar.
Wajah sang ustaz seketika memucat, berganti menjadi merah padam karena rasa malu yang luar biasa.
Ingatannya mendadak berputar kembali pada kejadian siang tadi, di mana ia memang menyerahkan uang itu karena terburu-buru menghadiri rapat.
"Saya... astagfirullah..." lirih Ustaz Damar, tak berani menatap wajah Abah, apalagi menatap Fatma yang kini memandangnya dengan kekecewaan yang mendalam.
Selasar ndalem mendadak sunyi sesunyi kuburan.
Fitnah itu telah patah, meninggalkan tamparan keras bagi mereka yang terlalu cepat menaruh curiga pada seorang pendosa yang sedang mengetuk pintu tobat.