Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. KOLOR DAN DASTER
"Bu Erina, Anda sudah sadar?"
Erina membuka kedua kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Kepalanya pun terasa bagai tertimpa gundukan besi berkarat.
"Uh..."
Rintihan lemah itu lolos begitu saja dari bibir Erina. Dokter dan Perawat dengan sigap memeriksanya dan menanyainya beberapa hal untuk memastikan fungsi ingatan dan kesadarannya.
Jujur saja Erina kesulitan menjawabnya. Cahaya putih yang menembus matanya terasa menyakitkan. Kepalanya sangat sakit hingga ia ingin tenggelam saja dalam kegelapan dan tak perlu merasakan apa-apa seperti sebelumnya.
"Perlahan saja, Bu, tidak apa-apa... wajar jika terasa berat dan sakit, kepala Ibu terbentur cukup keras," ujar Perawat lembut dan perlahan, seakan menguatkan.
Serpihan ingatan mulai berjatuhan kembali ke dalam benak Erina.
"A--Alvin..."
Napas Erina memendek, bukan karena rasa sakit, melainkan karena cemas dan panik.
"Tenanglah, Bu, Bapak Alvin masih hidup dan selamat. Beliau baik-baik saja dan sedang dirawat di kamar lain," kata Perawat menenangkan.
Rasa lega perlahan menjalari rongga dada Erina. Air mata pun tanpa sadar pun menggenang di balik pelupuknya.
"Dia... masih hidup?" bisik Erina. "Syukurlah..."
Dokter dan Perawat kembali melanjutkan pemeriksaan.
"Izinkan saya bertanya, apa yang Bu Erina rasakan sekarang? Pusing? Mual? Bagian mana yang terasa paling sakit?"
"Kepala saya...," Erina memejamkan mata dengan dahi berkerut dalam--tak hanya menahan jeri, ia kini juga perlahan mengingat potongan-potongan mimpi. "Si Glioma... kembali... dari langit... dia... punya istri..."
Dokter dan Perawat saling bertukar pandang.
"Bu Erina," kata Dokter, perlahan dan hati-hati. "Kami sudah melakukan CT Scan pada area kepala Anda karena Anda mengalami benturan cukup keras, apalagi Anda baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor otak beberapa minggu lalu... untuk saat ini, syukurlah tidak ditemukan adanya perdarahan baru. Tetapi..."
Sang Dokter mengecek sesuatu di tabletnya, ekspresinya berubah muram.
"Hasil patologi dari jaringan tumor yang diangkat sebelumnya sudah keluar. Itu memang glioma... tetapi sifatnya ganas."
Sejenak sunyi. Hanya ada suara detak jantung yang terekam monitor mengisi jeda yang terasa lebih keras dan perlahan menerbitkan pias.
"Ganas...?"
Bahkan bagi Erina, suara dan ucapannya sendiri terdengar asing.
"Ya... dengan kata lain, sekalipun sudah dilakukan kraniotomi, tumor itu masih bisa tumbuh lagi dan bahkan menyebar dengan cepat," papar Dokter perlahan. "Meski begitu, Ibu jangan khawatir--tumornya memang ganas, tetapi masih bisa ditangani. Kami akan menjadwalkan radioterapi dan kemoterapi untuk menekan resiko dan menghambat pertumbuhan--"
"Kemo...?"
Erina menatap kosong sang Dokter.
"Apa dengan kemo, si Glioma bisa benar-benar pergi--juga istrinya--juga kolor dan daster mereka sekalian?"
Sang Dokter balas memandang Erina, lekat dan hati-hati.
"Bu...?"
"Kolornya ketinggalan... makanya dia kembali--bawa istri pakai daster bunga-bunga, lagi," keluh Erina.
Dokter menghela napas panjang, dan tersenyum lembut, seakan maklum.
"Seperti yang sudah saya katakan, Bu Erina jangan terlalu khawatir... kami akan mengusahakan yang terbaik agar Ibu bisa sembuh..."
Erina mencengkeram erat selimut putih yang menutupi tubuhnya--rasa dingin kian kuat menjalar.
"Tapi kalau kemonya gagal... saya akan mati... iya, kan?"
Sang Dokter terdiam sejenak.
"Hidup dan mati memang sepenuhnya ada di tangan Tuhan, tapi sebaiknya kita tetap optimis dan terus berikhtiar. Kita upayakan semampunya agar Ibu pulih, ya."
Dokter dan Perawat undur diri agar Erina bisa beristirahat. Tetapi Erina tak benar-benar bisa melakukannya--sepanjang malam itu, dadanya bergemuruh menyakitkan dan air matanya pun tumpah tanpa bisa ia cegah.
Ya Allah, kenapa jadi begini...?
Jika kelak aku tak ada lagi di dunia ini... bagaimana nasib anak-anakku nanti...?
***
Di kamar perawatannya yang mewah, Alvin memaksakan dirinya duduk meski harus disangga banyak bantal, dan dengan cermat mengamati layar tablet di tangannya, sekaligus mendengar laporan yang disampaikan asisten pribadinya--seorang lelaki berperawakan tinggi, tegap, berparas khas keturunan timur tengah dengan rahang tegas dan hidung sangat mancung, bernama Ilyas Akbar.
"Jadi... Derek sudah meninggal...?"
Ekspresi Alvin berubah sangat muram, sementara Ilyas yang berdiri tak jauh dari sisinya mengangguk.
"Ya... dia tak selamat setelah keracunan makanan dan dikeroyok para napi di tahanan..."
Alvin sejenak memejamkan mata dan bernapas panjang.
"Turut berduka cita," ucapnya datar. "Tapi entah mengapa aku mendapat kesan dia sengaja diserang secara fatal sebelum tewas mengenaskan..."
"Pikiran Anda berlebihan," sergah Ilyas.
Alvin melekukkan bibir getir.
"Semoga saja begitu," gumamnya. "Om Dasim... dia pasti sudah dengar juga kabar ini, kan?"
Ilyas mengangguk.
"Beliau sudah menyampaikan permohonan maaf sebesarnya pada Nyonya Andini atas kelakuan adiknya... dan beliau juga sudah menyetujui agar proses akuisisi perusahaannya segera dilaksanakan. Tak lama lagi, PT. Dasim Sakti akan menjadi milik Harmoni Group sepenuhnya, dan Tuan Adrian sempat berkata perusahaan itu akan menjadi tanggung jawab Anda--"
"Biar itu jadi urusan Ibunda Ratu dan kakakku--aku masih sakit. Aku tak mau mengurus bisnis dulu," kata Alvin, ekspresinya muak.
"Ya..."
Alvin kembali menatap tabletnya dengan masam.
"Hasil lab ini... dia sungguhan mengidap kanker...?"
Bahkan di telinga Alvin sendiri, suaranya terdengar begitu pedih.
"Ya..."
Alvin mengatupkan bibirnya, sudut-sudut rahangnya mengeras.
"Dia harus sembuh," kali ini, ekspresi dan nada suaranya penuh tekad. "Atur agar dokter terbaik yang menanganinya, Ilyas. Kalau perlu segera cari informasi mengenai dokter dan rumah sakit khusus kanker otak terbaik di luar negeri... kita atur itu sebagai opsi kedua jika pengobatan di sini tak menunjukkan hasil yang memuaskan."
Alvin pun menyorongkan tabletnya kepada Ilyas, yang dengan sigap diambilnya dan diletakkannya di atas meja di sisi bed.
"Saya akan atur pengobatan Bu Erina sesuai keinginan Anda--jangan khawatir," kata Ilyas dengan suaranya yang dalam dan tenang. "Apa Anda butuh sesuatu yang lain? Atau ingin istirahat sekarang?"
"Ya... satu hal lagi. Kamu sudah mendapatkan informasi mengenai anak perempuan itu?"
Alvin kini menatap tajam Ilyas, yang langsung sibuk menggulir layar tabletnya sendiri.
"Jujur tak banyak yang bisa saya dapatkan... karena peristiwa itu sudah lama sekali dan kawasan perkampungan kumuh itu sudah tak ada lagi--sudah bertahun-tahun lalu digusur dan kini menjadi pusat perbelanjaan," gumam Ilyas. "Tak ada informan yang bisa ditanyai seputar anak itu... tapi saya berhasil mendapatkan data preman yang ditahan dan dipenjara setelah polisi menerima laporan penculikan Anda waktu itu. Namanya Langgeng Hutomo..."
Alvin sejenak membeku.
"Langgeng... Hutomo?"
Ilyas mengangguk.
"Catatan kriminalnya banyak. Sebelum ditahan karena menculik Anda, ia telah berkali masuk penjara karena pengeroyokan, pemerasan, KDRT..."
Alvin mendadak lupa caranya bernapas--wajahnya seketika pias.
"Langgeng Hutomo... sudah berkeluarga? Apa dia... punya anak... perempuan?"
"Ya... kemungkinan, anak perempuan yang Anda cari itu adalah anaknya... anak itu menghilang dan tak ada yang tahu keberadaannya sejak Langgeng ditahan. Langgeng sendiri meninggal di penjara sebelum sempat bebas. Tetapi... saya melakukan penyelidikan terhadap seseorang yang dekat dengan Anda sekarang dan bernama belakang mirip dengan Langgeng..."
"Erina...?" terka Alvin dengan suara serak dan pecah.
"Benar. Erina Hutomo... saya berhasil mengonfirmasi, dia adalah putri preman itu, Langgeng Hutomo. Dialah yang sudah menyelamatkan Anda dari ayahnya sendiri... dialah yang Anda cari selama ini."
***