Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Luka
"Darimana aja sih, Ta? Kita nungguin dari pagi loh. Kemaren kan kita janjian pagi," omel Diah begitu melihat kedatangan Arinta dari jauh.
"Maaf ya, aku tadi-"
"Maaf? Kita ngga butuh maaf, Ta, kita butuh kerjasama. Kemaren udah cukup kamu main-main sama kita, ngerjain kita yang udah jalan jauh-jauh tapi ternyata kamu bilang kalo tokonya tutup. Sekarang apalagi? Udah tengah hari loh ini, kita nungguin dari pagi." Dada Wiwin terlihat naik turun menahan marah.
"Udahlah, kamu kerjain aja tugasnya sendiri. Kita udah selesai. Kita nungguin kamu cuma buat ngasih tau kamu ini."
Setelah mengucapkan itu, Diah langsung melenggang pergi diikuti Wiwin.
Tapi sebelum benar-benar pergi, Wiwin sedikit mendekat ke telinga Arinta—yang masih mematung dengan mata berkaca-kaca, "Pantes ngga punya temen, ternyata kamu emang sebermasalah ini."
Kalimat itu seperti pedang yang dihunuskan kearah jantungnya, sangat tepat sasaran, "Ternyata kamu emang sebermasalah ini."
Arinta masih belum bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Perlahan buliran bening turun dari matanya.
Miza yang baru selesai memikirkan mobil terheran-heran melihat sang adik hanya diam saja didepan toko itu, lalu ia menepuk pundaknya pelan. "Kenapa? Mana temen kamu? Eh kok nangis?"
Arinta langsung mengusap air matanya kasar. "Ngga apa-apa. Kita pulang aja."
"Loh? Ngga-"
"Arinta bilang mau pulang!!" bentaknya tanpa disengaja, Miza pun hanya bisa menuruti.
Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Miza sepanjang perjalanan pulang tidak digubris sama sekali oleh Arinta—yang asik melamun menatap jalanan.
"Nggak apa-apa, marahan sama temen itu biasa. Besok juga baikan lagi," ucap Miza.
Sedangkan dalam pikiran Arinta, ia masih memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil kedepannya, juga rasa sakit yang teman-temannya torehkan tadi, tidak lupa dengan sikap Tami yang tiba-tiba berubah menjadi seakan menyalahkannya atas kebakaran di Panti.
"Udah sampe."
Suara Miza membuyarkan lamunannya.
Tanpa basa-basi Arinta berlari menaiki tangga dan mengunci diri di kamar. Bukan untuk menangis dibawah selimut, melainkan mengacak-acak seisi ruangan—mencari sesuatu yang dirinya sendiripun tak tahu apa yang dicari, padahal yang hilang adalah kepercayaan teman-temannya.
Laci, ia sudah pernah membongkar isinya sejak pertama kali memasuki kamar ini. Dan yang ia temukan hanyalah buku-buku pelajaran, buku harian—yang isinya sangat alay menurut Arinta, gambar-gambar hasil tangan Arinta kecil, surat-surat dari Deri, Andre dan surat-surat tidak penting lainnya yang tidak pernah sampai ke si penerima.
Lemari baju, selain album yang sudah ia temukan waktu itu, sepertinya tak ada lagi yang penting disini. Hanya baju-baju gadis jadul yang terpaksa Arinta pakai untuk kesehariannya.
Lemari buku, sepertinya Arinta Syafira si kutu buku psikopat. Buku-buku yang dibaca bergenre thriller pembunuhan, detektif dan dark fantasi, hampir semuanya bersampul gelap. Hanya ada satu yang bersampul terang.
"Romance?"
Arinta membalik semua halamannya secara cepat, dan tiba-tiba secarik kertas jatuh dari lembaran buku itu. Ia memungutnya, disitu tertulis;
Andre.. Sebrengsek apapun kamu, aku tau kamu satu-satunya yang peduli sama aku setelah perginya Maha. Bahkan kalo itu harus mengorbankan kehormatanku, aku tetep anggap kamu manusia yang peduli sama aku. Untungnya, anak ini ngga jadi lahir.
Bogor, 3 Januari 2024.
"What the f*ck!" Arinta jatuh terduduk dengan wajah tak percaya. Ia sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi seusai membaca tulisan itu.
Setelah berdiam diri cukup lama, Arinta dengan kekuatan samsonnya mengacak-acak seluruh isi lemari buku itu. Sementara bi Asih dan Miza sudah menggedor-gedor pintu dari luar.
"Arghh." Arinta berteriak tidak jelas sambil terus mengacak seisi ruangan, vas bunga dari kaca pun ikut pecah, bahkan sampai cermin juga ikut dipecahkan dengan tangan kosongnya. Ia menangis, menjerit dengan tangan yang sudah berlumuran darah.
Seketika ingatan sore itu sewaktu ia kabur dari rumah untuk mencari ibu dan malah bertemu Andre terlintas dibenaknya.
"Ngapain gua bersikap baik sama orang brengsek kayak Andre!? Lu gobl*k Arinta!!"
Tak lama, akhirnya Miza berhasil mendobrak pintu kamar yang sengaja dikunci Arinta dari dalam.
"Arinta?!" histeris Miza, berlari menghampiri adiknya, lalu memeluknya.
"Bi, ambilin P3K, bi. Cepet!!"
"Kenapa sih, kenapa?" tanya Miza dengan suara dan ekspresi sedih serta takut yang sangat ketara.
Arinta tak menjawab, tangis dan jeritannya justru yang semakin kencang.
"Gak apa-apa, disini ada bang Iza, gak apa-apa ya."
Begitu mendengar suara yang sama sekali tidak menghakimi, Arinta bisa sedikit lebih tenang.
Luka di kedua tangannya sudah diobati, pecahan kaca juga sedang dibersihkan oleh bi Asih. Sementara kamarnya dirapikan, Arinta mengungsi ke kamar Miza.
"Minum dulu," Miza menyodorkan air hangat.
Arinta menerimanya, tapi kemudian malah ditaruh.
Miza ikut duduk dilantai, disamping sang adik.
"Abang tau dan abang ngga bakal maksa kamu cerita sekarang, tapi tolong kalo kamu emang udah ngga kuat nampung beban kamu sendiri, sini bagi ke abang biar abang bisa bantu ngebuang beban itu."
Arinta hanya menatap kosong ke gelas yang tadi ia terima.
"Atau kalo sungkan cerita sama abang, kamu bisa cerita ke bi Asih. Mungkin kalo sesama perempuan bakal paham."
Suara detik jam terus berdentang, hanya itu yang terdengar menyelimuti keduanya.
"Jadi dulu waktu awal masuk kuliah kedokteran abang pernah ngerasa salah jurusan, padahal udah setengah jalan. Mau berenti, sayang duit yang udah dikeluarin. Karena ya kamu tau sendirilah ya kuliah kedokteran modalnya ga maen-maen."
Lagi-lagi hanya suara detik jam yang menyahut.
"Terus ya udah abang paksain, walaupun rasanya jadi berat banget buat abang karena abang ngga menikmati setiap prosesnya. Sampe satu waktu abang denger satu wejangan isinya; nikmatin aja prosesnya, walaupun kadang hasil mengkhianati proses, tapi seengganya kamu bertanggungjawab atas apa yang udah kamu mulai. Nggak perlu ngerasa gagal, nggak perlu ngerasa malu, karena itu semua bagian dari perjalanan hidup kamu, yang didalemnya ada luka, kecewa, tangis, sendu, senang. Cerita nggak akan jadi bermakna kalo nggak ada konflik didalemnya. Dan iya, walaupun abang ngerasa tersiksa menjalani hidup ini, tapi seengganya abang tiga puluh tahun hidup jadi punya banyak makna karena teramat sering ditempa."
Miza tersenyum kecut mengakhiri kalimatnya, "walaupun abang juga masih sering nggak terima sama keadaan."
Miza menatap Arinta yang masih saja diam, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi bagian telinga adiknya.
"Abis ini keramas ya? Rambut kamu bau amis, kena darah dari tangan tadi ya?"
Arinta menatap kedua tangannya yang sudah terbalut perban. Sakitnya tidak terasa sama sekali, lebih sakit dibagian hati daripada ditangan.
"Arinta mau potong rambut sepundak, boleh?" akhirnya Arinta mengeluarkan suara seraknya.
Miza mengangguk, "Boleh. Udah lama kamu ngga potong rambut. Bisa sepanjang ini kan karena maunya kamu juga, kalo mau dipendekin ya silahkan."
"Tapi bang Iza yang potongin," pinta Arinta.
"Waduh.. Boleh deh, tapi jangan nyalahin ya kalo ngga rapi."
Arinta hanya mengedikan bahu.
***