NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel / Tamat
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Selesai Bermain Peran

"Penerbangan ibu ditunda, Yah. Tadi taksinya ngga sengaja nyerempet orang, gara-gara ibu nyuruh ngebut. Terus udah gitu Fara mau duduk didepan sendiri, eh malah ngga bisa diem, mungkin gara-gara itu... fokus supirnya pecah.." suara Nanda terdengar lirih diakhir.

Tak apalah, Arinta sedikit banyak menguping pembicaraan ibunya ditelepon.

"Ibu yang salah, Yah. Jadi ibu harus tanggungjawab. Mungkin uang yang kita tabung dipake buat ganti rugi ini dulu ya, Yah."

Uang... Masalah uang Arinta bisa minta bantuan pada Miza, kalau memang ibunya harus berkorban uang tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan.

"Makasih ya, Dok, ponselnya."

Setelah mengabari sang suami, Nanda duduk dikursi tunggu samping Arinta. Sementara, Fara sepanjang jalan ke rumahsakit sudah kelelahan menangis, jadi sekarang ia tengah tertidur dipangkuan ibunya.

Mereka kini berada di rumahsakit terdekat dari lokasi kejadian. Disana juga ada Depa, Rehan dan Ipan yang sudah lebih dahulu sampai. Mereka bertiga tidak ragu-ragu menampakkan wajah tidak sukanya dihadapan Arinta.

Tak lama seorang Dokter keluar dengan wajah tidak bersemangat.

"Keluarga pasien?"

"Saya ibunya! Saya saya!" ucap Mak Edah yang baru saja datang langsung menyerobot orang-orang yang sudah lebih dahulu mendekat ke Dokter.

“Mohon maaf sebelumnya, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Dokter itu menarik napas pelan.

“Namun, karena pendarahan yang cukup serius, pasien tidak dapat kami selamatkan."

"Pasien telah dinyatakan meninggal dunia."

Mak Edah menjerit histeris mendengar kabar bahwa anaknya telah tiada. Semua yang ada disana berusaha menenangkan, tapi tangisan seorang ibu yang ditinggal oleh anak semata wayangnya itu malah semakin kencang.

Matahari sudah terbenam. Arinta masih saja berdiam diri dikursi tunggu rumahsakit dengan wajah kusutnya. Bukankah seharusnya dia senang? Karena ibunya masih disini dan Fara masih hidup sampai detik ini?

Arinta paham satu hal, bahwa mungkin kematian Fara dan Andre telah ditukar oleh takdir. Seandainya Andre tidak akrab dengan Arinta, mungkin Andre tidak kecelakaan hari ini.

Lalu, bagaimana dengan takdir Arinta? Arinta seharusnya masih berpacaran dengan Deri. Dan kehilangan nyawa karena ketidaksengajaan yang dilakukan Andre saat Arinta bersama Deri. Siapa yang akan mati menggantikan takdir dirinya disini?

"Ta!! Sadar, Ta!" seseorang datang mengguncang pundak Arinta.

Arinta menoleh singkat. Ternyata si kembar.

"Kalian tau gua disini?" tanyanya datar.

"Dari ibu lu. Tadi ibu lu ke panti ngejemput bang Ari, terus gua iseng nanya-nanya. Eh dia nyebut nama lu, ya udah kita kesini. Soalnya pas kita nelepon ke rumah lu, katanya lu ngga ada di rumah," jawab Tama.

Arinta mengangguk paham.

"Terus sekarang lu kenapa? Kan ibu sama bang Fara udah aman," tanya Tami.

"Iya. Mereka emang aman."

Arinta menjeda kalimatnya sebentar, "tapi Andre mati..."

Si kembar termenung mendengarnya.

"Ta.. Ini udah takdir."

"Takdir?" Arinta menatap Tama tak percaya.

"Emang ngga bisa ya nyelametin bang Fara tanpa harus ngelempar takdir kematiannya ke oranglain?"

"Kok jadi gini sih, Ta? Kalo emang takdirnya dia mati kenapa? Emang lu tau darimana seharusnya dia ngga mati hari ini? Emang lu kenal dia dimasa depan?" Tami ikut mendebat.

"Kalian ngga paham," Arinta menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya kita emang ngga paham. Kan lu yang ngejalanin," sahut Tami.

Tama mengisyaratkan kembarannya itu untuk diam.

"Ya udah. Sekarang pulang dulu, istirahat, obrolin lagi besok," titah Tama.

Dengan begitu Arinta beranjak dari sana. Diluar matahari sepenuhnya sudah menghilang, menyisakan langit gelap dengan cahaya bulan. Ketiganya berjalan kaki, entah akan sampai mana.

"Atau mungkin... bang Fara sebenernya emang ngga mati ya? Soalnya jasadnya ngga pernah diketemukan. Jadi... kematian Andre, ngegantiin kematiannya Arinta Syafira?" gumam Arinta.

"Mungkin." sahut Tami lirih.

"Terus sekarang gimana caranya kita balik ke tahun kita?" tanya Tama, "kita disini udah selesai, kan?"

"Eh, tapi sebelum pergi, kalimat terakhir yang dia bilang itu... agak janggal menurut gua," ucap Arinta yang tiba-tiba teringat.

"Emang dia ngomong apa?" tanya si kembar bersamaan.

"Ibu lu ada disini..."

"Hah?" kompak si kembar lagi.

"Kalian? Bukan kalian yang nyepuin ini ke Andre? Gua kira kalian yang nyuruh Andre nyusul gua, dan gua kira kalian yang nyeritain tentang ibu gua."

Si kembar menggeleng dengan wajah sedikit takut.

"Ibunya Arinta Syafira udah ngga ada, kan?" tanya Tami.

Arinta menggeleng.

"Kecelakaan dan udah meninggal dari enam tahun lalu. Mustahil kalo Andre ngga tau."

"Terus? Jadi maksudnya Andre tau kalo lu itu..."

Ucapan Tami terpotong saat Arinta mengeluarkan secarik kertas yang sudah kusut.

"Ini kayaknya dilem deh, gua udah notice kalo kertasnya agak tebel."

"Apa sih itu?" jiwa kekepoan Tama meronta-ronta.

"Surat dari Andre tadi pas disekolah."

Arinta masih berusaha menyobek kertas itu agar terlihat bagian dalamnya. Dan berhasil...

"Eh ada tulisannya." ucap Tami.

Gua nggak tau lu bakal baca bagian ini atau nggak. Tapi gua tebak lu baca bagian ini pas gua udah ngga ada, kan? Eh atau masih ada?

Gua tau semua tentang lu, Arinta Prameswari. Gua juga tau tentang bang Fara dan ibu lu. Tentang kecelakaan pesawat itu, tentang apa yang mau lu cegah disini. Rencananya emang gitu, gua nabrakin diri ke taksi yang ngangkut ibu lu sama bang Fara, biar mereka ngga jadi pergi. Btw, rencana gua berhasil ngga?

Kenapa gua bisa tau? Karena gua ngalamin hal yang sama kayak lu dan si kembar. Terlempar ketahun 2004 sebagai Andre.

Aguil Nathaniel.

Ketiganya ternganga tak percaya, saling melempar pandang.

"T-terus? Terus gimana? Kalo Andre disini mati gimana? Aguil gimana?" panik Arinta.

"Eh tunggu! Tunggu! Tunggu! Katanya lu kenal Aguil karena dulu dia tetangga lu, dan karena ibu lu udah ngga ada dari lu masih bayi, jadi ibunya Aguil ngasih ASI-nya ke elu, kan? Nah kalo ibu lu idup berarti lu ngga jadi sepersusuan dong sama Aguil? Kalian bisa aja ngga akrab? Eh gimana sih?" Tami bingung sendiri.

Arinta mengacak rambutnya. "Itu ngga penting, yang penting sekarang... gimana sama Aguil? Dia ngga ikut mati kebawa raganya Andre, kan?"

Tin...

Ketiganya berjingkat kaget saat suara klakson mobil terdengar.

"Arinta? Kok masih pake seragam? Ngapain?"

"B-bang Rio?"

"Ta.. Gua rasa udah selesai roleplay-nya," bisik Tami tanpa menggerakan mulut.

"Gua juga mikir hal yang sama," balas Arinta sama dengan cara Tami bicara.

"Itungan ketiga kita lari masuk gang kecil itu ya," titah Tama.

"Kelamaan anjir," Tami lari duluan disusul Arinta, terakhir Tama yang loadingnya agak lama.

"Bangs*t! Kenapa pada ninggalin!" maki Tama.

"Eh kok pada kabur?" Mario dan kawannya yang menyetir mobil hanya menatap bingung

"Muka lu kayak penculik kali, Yo," sahut kawannya.

"Eih.. Muka lu kali tuh, gua mah abangnya," sangkal Mario.

"Ngga dikejar itu?"

"Ah palingan nanti juga balik ke rumah, mau kemana emang?"

"Eh adek lu itu anak gadis ih, temennya cowok dua-duanya."

"Iya juga ya. Tapi kayaknya udah jauh deh, males ah."

"Lu jadi gitu ya sama adek lu sekarang."

Mario hanya menatap datar kearah gang tadi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!