NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29 – SAMPAI DI GUNUNG DOMO

Perjalanan panjang akhirnya hampir mencapai garis akhir.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari dari Kota B, campervan yang ditumpangi Lily dan rombongannya akhirnya memasuki kawasan kaki Gunung Domo.

Berbeda dengan kota-kota yang mereka lewati sebelumnya, daerah ini terasa jauh lebih sunyi.

Tidak ada suara ledakan.

Tidak ada kerumunan zombie.

Yang terdengar hanyalah desir angin yang berembus melewati pepohonan serta kicauan beberapa burung mutan dari kejauhan.

Lily memandang puncak Gunung Domo melalui jendela campervan.

Dalam hati ia bertanya kepada sistem.

"Sistem."

"Kira-kira berapa lama lagi kita sampai ke kawasan yang kamu bangun?"

DING!!

(Menurut perhitungan sistem, apabila Tuan Rumah mendaki dengan kecepatan normal, rombongan akan tiba sekitar tengah hari.)

Lily mengangguk pelan.

"Baik."

Tak lama kemudian Mang Ujang menghentikan campervan di sebuah tanah lapang yang berada tepat di kaki gunung.

"Den..."

"Jalannya sudah enggak bisa dilewati mobil lagi."

Alex melihat ke depan.

Benar saja.

Jalan aspal telah berganti menjadi jalur tanah yang dipenuhi bebatuan dan akar pohon.

"Mau enggak mau kita harus jalan kaki."

ucap Daddy Mike.

Semua orang pun mulai turun dari dalam campervan.

Begitu menginjak tanah, udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut mereka.

"Segar banget..."

gumam Lea sambil menarik napas panjang.

Daddy Mike mengamati jalur pendakian di depan.

"Gunung ini tidak terlalu tinggi."

"Kalau pelan-pelan, anak-anak juga seharusnya sanggup mendakinya."

Mommy Grace mengangguk setuju.

"Kalau nanti ada yang kelelahan, kita tinggal istirahat."

"Lagipula jumlah zombie di daerah pegunungan jauh lebih sedikit dibandingkan di kota."

Setelah memastikan semua barang telah dibawa, Lily mengangkat tangan kanannya.

Kilatan cahaya putih muncul sesaat.

Wusss...

Campervan perlahan menghilang dan kembali masuk ke dalam Ruang Dimensi.

Meski sudah melihat kemampuan itu sebelumnya, beberapa orang masih belum terbiasa.

Mang Ujang menggeleng pelan sambil bergumam,

"Masya Allah... luar biasa pisan."

Lily hanya tersenyum kecil sebelum kembali bergabung dengan rombongan.

"Nah."

"Kita berangkat sekarang atau istirahat dulu?"

Daddy Mike segera menjawab,

"Lebih cepat lebih baik."

"Zombie jauh lebih aktif pada malam hari."

"Kalau kita mulai sekarang, kemungkinan besar kita sudah sampai sebelum sore."

Tak ada seorang pun yang keberatan.

Semua menganggukkan kepala.

Dengan Daddy Mike berada di barisan depan, rombongan kecil itu akhirnya mulai mendaki Gunung Domo.

Jalur pendakian dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi.

Udara terasa semakin sejuk setiap langkah yang mereka ambil.

Di sepanjang perjalanan, Lea terus melihat ke kiri dan kanan dengan rasa penasaran.

"Eh, Ly."

"Hm?"

"Dulu kok bisa kepikiran bikin tempat perlindungan di gunung begini?"

Lily tertawa kecil.

"Hehe..."

"Awalnya sih cuma iseng."

"Niatnya kalau lagi liburan pengin punya tempat buat healing."

"Eh... enggak nyangka sekarang malah jadi berguna."

Lea mengangguk-angguk.

"Oh..."

"Tapi kok kami enggak pernah tahu?"

Lily langsung menjawab santai.

"Soalnya memang enggak pernah aku kasih tahu."

"Heh..."

Lea hanya mendengus sambil memutar bola matanya.

"Dasar."

Tak lama kemudian Lea kembali menghentikan langkahnya.

Tatapannya tertuju pada sebuah pohon besar dengan batang berwarna keunguan.

Daunnya jauh lebih lebar dibandingkan pohon biasa.

Di bawahnya tumbuh rumput-rumput merah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Eh..."

"Ly."

"Pohon sama rumput di sini kok aneh, ya?"

"Aku belum pernah lihat yang kayak gini."

Lily ikut memperhatikan tanaman-tanaman itu.

"Itu karena semuanya sudah bermutasi."

"Mutasi?"

Lea mengernyit.

"Iya."

"Bukan cuma manusia dan hewan."

"Semua makhluk hidup mengalami perubahan setelah hujan darah."

"Termasuk pohon, rumput, bunga, bahkan lumut."

Lily berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dan beberapa bulan lagi..."

"Mutasi mereka akan semakin sempurna."

"Mereka bisa menjadi mutan yang jauh lebih berbahaya."

"Bahkan mungkin lebih sulit dihadapi daripada zombie."

Ucapan itu membuat seluruh rombongan langsung terdiam.

Mereka tanpa sadar kembali memperhatikan hutan di sekitar.

Baru kali ini mereka menyadari...

Musuh di dunia baru ini ternyata bukan hanya zombie.

Melainkan seluruh alam yang perlahan ikut berubah.

Tak ada lagi yang berbicara.

Keheningan menemani langkah mereka.

Hanya suara dedaunan yang bergesekan dan langkah kaki rombongan yang terus mendaki menuju puncak Gunung Domo.

Waktu terus berlalu.

Tanpa terasa, rombongan Lily telah mendaki selama hampir satu jam.

Jalur yang mereka lewati semakin menanjak. Meski Gunung Domo tidak terlalu tinggi, membawa perlengkapan sambil terus berjalan tetap menguras tenaga.

Peluh mulai membasahi dahi hampir semua orang.

Melihat keadaan rombongan, Daddy Mike akhirnya menghentikan langkahnya.

"Kita istirahat dulu."

Pria itu menoleh ke belakang memastikan semua orang baik-baik saja.

"Mau makan, minum, atau sekadar mengatur napas, silakan."

"Setelah tenaga kembali pulih, baru kita lanjutkan perjalanan."

"Baik, Dad."

Semua orang segera mencari batu atau batang pohon yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat duduk.

"Huaaah..."

Lea langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah batu besar.

"Akhirnya bisa duduk juga."

"Capek banget, sumpah."

Luna yang sejak tadi digendong Daddy Mike langsung terkikik melihat ekspresi kakaknya.

"Hihihi..."

"Kak Lea lemah."

"Luna aja enggak capek."

Lea langsung melotot.

"Heh, bocil kampret."

"Ya jelas aja kamu enggak capek."

"Dari tadi juga digendong Daddy."

"Coba jalan sendiri, pasti baru tahu rasanya."

Luna menjulurkan lidahnya jahil.

"Wleee..."

"Pokoknya Kak Lea lemah."

Lea langsung berdiri pura-pura mengejar Luna.

"Sini kamu!"

"Lihat nanti kalau udah sampai atas!"

"Hahaha!"

Luna buru-buru bersembunyi di belakang Daddy Mike sambil tertawa riang.

"Daddy, Kak Lea mau jahat!"

Daddy Mike hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Kalian ini..."

"Baru istirahat lima menit saja sudah ribut lagi."

Melihat tingkah kedua anak itu, seluruh rombongan ikut tertawa.

Suasana yang tadinya dipenuhi rasa lelah perlahan berubah menjadi lebih ringan.

Di sisi lain...

Lily duduk bersandar pada batang pohon sambil menikmati sebuah apel yang baru saja ia keluarkan dari Ruang Dimensi.

Di sekelilingnya duduk Aurora, Kayla, Alex, Athar, dan Evan.

Athar meregangkan kedua kakinya sebelum menghela napas panjang.

"Ngomong-ngomong..."

"Masih berapa lama lagi kita sampai?"

Lily menggigit apel yang dipegangnya.

"Kalau soal itu..."

"Aku juga enggak tahu."

Ia menoleh ke arah Aurora.

"Coba tanya Aurora."

"Biasanya dia yang paling jago ngitung jarak."

Semua mata langsung tertuju kepada Aurora.

Gadis itu membuka peta yang sejak tadi ia bawa.

Ia memperhatikan posisi matahari, jalur pendakian, dan perkiraan kecepatan perjalanan mereka.

"Hmm..."

"Kalau kita tetap berjalan dengan kecepatan seperti sekarang..."

Aurora mengangkat wajahnya.

"Kemungkinan sekitar pukul satu siang kita sudah sampai."

Athar langsung memegangi kepalanya.

"Hah?"

"Masih lama banget."

"Apa kaki kita enggak copot nanti?"

Evan langsung tertawa.

"Baru segini aja udah ngeluh."

Athar mendengus.

"Coba kamu yang jalan sambil bawa tas segede ini."

"Pasti ikut ngeluh."

Alex ikut tertawa melihat mereka berdua.

Lily hanya menggeleng pelan.

"Udah."

"Ikutin aja alurnya."

"Nanti kalau sudah sampai..."

"Mau tidur seharian juga enggak ada yang ngelarang."

Athar langsung tersenyum lebar.

"Nah, itu baru semangat."

Semua orang kembali tertawa.

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Daddy Mike berdiri.

"Baik."

"Kurasa istirahatnya cukup."

"Kita lanjut."

Tanpa ada yang mengeluh lagi, seluruh rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Semakin tinggi mereka mendaki...

Udara terasa semakin sejuk.

Kabut tipis mulai terlihat menyelimuti sebagian jalur pendakian.

Sesekali terdengar suara burung mutan dari balik pepohonan.

Untungnya...

Belum ada tanda-tanda keberadaan zombie.

Melihat suasana yang mulai sunyi, Lily tersenyum kecil.

"Luna."

Gadis kecil itu langsung menoleh.

"Iya, Kak?"

"Kamu enggak mau nyanyi sama Kenzo?"

"Biar perjalanan kita enggak membosankan."

Mata Luna langsung berbinar.

"Emang boleh?"

"Tentu saja."

"Nyanyi yang keras."

"Biar semuanya semangat."

Luna langsung berlari menghampiri Kenzo.

"Ayo, Bang Kenzo!"

"Kita nyanyi!"

Kenzo menggaruk pipinya.

"Hah?"

"Nyanyi apa?"

"'Naik-Naik ke Puncak Gunung'!"

Luna langsung mulai bernyanyi dengan penuh semangat.

«"Naik-naik ke puncak gunung...

Tinggi... tinggi sekali...

Kiri kanan kulihat saja...

Banyak pohon cemara..."»

Suara Luna terdengar begitu ceria hingga membuat beberapa orang ikut tersenyum.

Namun...

Kenzo hanya berjalan sambil tersipu malu.

Ia sama sekali tidak ikut bernyanyi.

Luna berhenti di tengah lagu.

Ia menoleh kesal kepada Kenzo.

"Ih!"

"Bang Kenzo enggak ikut!"

"Jadinya enggak seru."

Kenzo hanya nyengir canggung.

"Hehe..."

"Aku malu."

"Huh!"

Luna menyilangkan kedua tangannya.

"Kalau gitu Luna enggak jadi nyanyi."

Gadis kecil itu langsung berlari menuju Daddy Mike dan menggandeng tangannya.

Melihat tingkah Luna, semua orang kembali tertawa.

"Dasar..."

"Lucu banget."

gumam Mommy Grace sambil tersenyum.

Perjalanan kembali dipenuhi canda dan tawa.

Setelah berjalan cukup lama, langkah kaki rombongan akhirnya mulai melambat.

Kabut tipis yang menyelimuti jalur pendakian perlahan menghilang.

Di hadapan mereka kini terbentang sebuah area yang sama sekali tidak mereka duga.

Lea yang berada di barisan depan tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Eh..."

Suaranya terdengar lirih.

Semua orang ikut berhenti.

Pandangan mereka langsung tertuju ke depan.

Di sana berdiri sebuah pagar beton berwarna hitam pekat setinggi puluhan meter yang mengelilingi seluruh kawasan.

Di atas pagar itu berjajar beberapa senapan mesin otomatis yang menghadap ke segala arah.

Setiap beberapa meter terlihat kamera pengawas serta lampu sorot yang tampak sangat modern.

Tak seorang pun mampu berkata-kata.

"..."

"..."

"..."

"Buset..."

Alex menjadi orang pertama yang memecah keheningan.

"Ini benteng atau markas militer?"

Lea menelan ludah.

"Ly..."

"Jangan bilang..."

"Ini semua tempat yang lo bangun?"

Lily hanya tersenyum kecil.

"Iya."

"Selamat datang di rumah baru kita."

Semua orang masih berdiri terpaku.

Mereka benar-benar tidak menyangka Lily telah menyiapkan tempat sebesar ini.

Lily kemudian berjalan mendekati gerbang utama.

Di samping gerbang terdapat sebuah alat pemindai berwarna hitam.

Saat Lily berdiri di depannya...

Sebuah cahaya biru langsung menyinari wajahnya.

Bip...

Suara perempuan yang terdengar seperti kecerdasan buatan bergema.

『Silakan lakukan pemindaian retina.』

Semua orang saling berpandangan.

Lily pun mendekatkan wajahnya ke arah alat tersebut.

Cahaya biru itu memindai kedua matanya selama beberapa detik.

Bip...

『Identitas terverifikasi.』

『Pemilik kawasan terkonfirmasi.』

『Selamat datang, Tuan Lily.』

『Membuka gerbang utama.』

Bzzzz...

Suara mesin berat mulai terdengar.

Gerbang beton raksasa perlahan terbuka ke samping.

Begitu gerbang terbuka sepenuhnya...

Seluruh rombongan langsung membelalakkan mata.

"Ya Tuhan..."

gumam Mommy Grace pelan.

Di balik pagar raksasa itu berdiri sebuah kawasan yang begitu megah.

Sebuah mansion tiga lantai berdiri kokoh tepat di tengah kawasan.

Bangunannya didominasi warna putih dengan sentuhan hitam dan emas sehingga terlihat elegan.

Di sisi kanan mansion berdiri sebuah rumah sakit modern lengkap dengan area parkir yang luas.

Di sebelahnya terdapat sebuah laboratorium berukuran besar dengan desain futuristis.

Sementara di bagian belakang kawasan tampak sebuah minimarket yang terlihat seperti swalayan pada masa sebelum kiamat.

Di sisi kiri mansion berjajar tiga puluh paviliun yang tertata rapi.

Seluruh jalan di dalam kawasan telah dipasang paving block.

Pepohonan dan taman tertata dengan sangat indah.

Bahkan terdapat lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan.

Tak jauh dari sana mengalir sungai kecil dengan air yang jernih.

Semua orang benar-benar terpana.

Lea sampai menepuk pipinya sendiri.

"Aduh."

"Sakit."

"Berarti ini bukan mimpi."

Alex tertawa kecil.

"Kalau begini sih..."

"Ini lebih mirip kompleks orang kaya daripada tempat perlindungan."

Mang Ujang hanya bisa beristigfar berkali-kali.

"Masya Allah..."

"Subhanallah..."

"Indah pisan..."

Mbok Surti bahkan terlihat berkaca-kaca.

"Seumur hidup saya belum pernah melihat tempat sebagus ini."

Lily hanya tersenyum melihat reaksi mereka.

"Udah."

"Jangan bengong terus."

"Ayo masuk."

Ia berjalan lebih dulu menuju mansion.

Seluruh rombongan segera mengikuti di belakangnya.

Begitu memasuki mansion...

Mereka kembali dibuat terkejut.

Ruang tamunya sangat luas.

Sebuah sofa besar tersusun mengelilingi meja kayu yang elegan.

Lampu gantung kristal menghiasi langit-langit ruangan.

Lantai marmer putih mengilap membuat seluruh ruangan tampak mewah.

Lea langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.

"Ya ampun..."

"Empuk banget."

"Mulai sekarang gue enggak mau keluar lagi."

Semua orang tertawa mendengar ucapannya.

Lily berdiri di tengah ruang tamu sambil memandang seluruh anggota kelompoknya.

"Baik."

"Sekarang kita tentukan tempat tinggal masing-masing."

"Terserah kalian."

"Mau tinggal di mansion juga boleh."

"Di paviliun juga boleh."

"Yang penting nyaman."

Mang Ujang langsung mengangkat tangan.

"Non Lily."

"Saya sama ibu dan Sarah tinggal di paviliun saja."

"Saya enggak enak kalau harus tinggal serumah sama majikan."

Mbok Surti mengangguk setuju.

"Iya, Non."

"Kami di paviliun saja."

Sarah pun ikut mengangguk.

Lily tersenyum.

"Baik."

"Kalau itu pilihan Mang Ujang, silakan."

Lily kemudian menoleh kepada mama evan, Evan, Aurora, dan Kayla.

"Kalau Tante dan yang lain bagaimana?"

mama evan tersenyum lembut.

"Kami juga memilih tinggal di paviliun saja."

"Lebih enak."

"Kalau butuh apa-apa tinggal datang ke mansion."

Evan mengangguk.

"Saya ikut Mama."

Aurora ikut tersenyum.

"Aku juga."

Kayla mengangkat tangan kecil.

"Aku juga tinggal di paviliun saja, Kak."

Lily mengangguk puas.

"Baik."

"Kalau begitu, kalian bebas memilih paviliun mana saja."

"Asal jangan berebut."

Semua orang langsung tertawa kecil.

Suasana yang tadinya dipenuhi rasa kagum kini berubah menjadi hangat.

Mereka mulai membawa barang masing-masing menuju tempat tinggal yang telah dipilih.

Sementara itu...

Keluarga inti Lily memilih menetap di dalam mansion.

Setelah memastikan semua orang mendapatkan tempat tinggal yang nyaman...

Lily akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Fiuh..."

"Syukurlah..."

Akhirnya mereka memiliki rumah lagi.

Rumah yang aman.

Rumah yang tidak perlu mereka rebutkan dengan siapa pun.

Rumah tempat seluruh keluarganya dapat memulai kehidupan baru.

Dengan langkah pelan, Lily menaiki tangga menuju lantai tiga.

Sesampainya di depan kamar miliknya, ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu masih sama seperti yang pernah ia lihat di panel sistemnya

Ranjang besar.

Lemari pakaian.

Meja belajar.

Serta balkon yang menghadap langsung ke hamparan pegunungan.

Lily berjalan menuju balkon.

Angin pegunungan berembus lembut menerpa wajahnya.

Dari sana ia dapat melihat seluruh kawasan yang kini menjadi miliknya.

Di sini aku sengaja buat mereka kayak istirahat dulu kan gak mungkin mereka setiap hari war terus bunuh zombie jadi jangan protes ya majikan kuhhh

Double up ya karna udh lama gk up

kalo boleh tolong like ya sama ikuti

oke see Next chapter guysss ☺️ ☺️

1
Dhewa Shaied
boleh tuh kasih lah thor
Ponny Sagita
keluarganya jadi beban doang lama lama
Ponny Sagita
kekuatan lili buat apa sih gak kepake banget.
Ponny Sagita
bukannya lili punya kekuatan juga? kok dibilang manusia biasa? gak singkron sama awal cerita.
bulan sabit: kan aku bilang "KEMAMPUAN ORANG BIASA SAMA YANG TERBANGKITKAN BERBEDA"ini mejelaskan kalo pukulan orang yang punya kemampuan yang terbangkitkan berbeda sama manusia biasa bukan berarti Lily gak punya kekuatan baca yang bener mangkanya kak 🙏🙏
total 1 replies
Wahyuningsih
dtnggu upnya kmbli thor yg buanyk n hrs tiap hri jgn lma2 semedi thor tk inak menunggu... sehat sellu jga keshtn tetp 💪💪💪 dlm upnya n makacih tuk upnya
bulan sabit: kalo tiap hari gak bisa kan aku sekolah kalo 2 hari sekali mah bisa di usahakan🙏🙏 mungkin nanti malam up lg di tunggu ya
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap hadiah dri sistem q jga mau dong thor 🤣🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kasih pasangan yang kuat dan bisa melindungi Lily dan keluarga besar nya...
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
semoga ngga berhenti di tengah hutan ya🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: aduhhhh.... masih belajar kak aku juga🤣
total 2 replies
Wahyuningsih
mudah2an operasinya lancar gk ada halangan apapun amin2 ya robal alamin 💪💪💪💪 thor dlm up
Wahyuningsih
moga cpt sembuh thor
Wahyuningsih
thor buat lily badaz abiz biar makin seru
Wahyuningsih
mampir q thor
Dhewa Shaied
terima kasih kak.. gmn kondisi ibunya semoga cpt sehat 🙏🙏
bulan sabit: sudah selesai oprasi nya cuma nunggu pulih aja dulu🙏🙏
total 1 replies
Dhewa Shaied
syafakillah untuk ibunda
Nanik Jariyanti
cepat sembuh kak ibu nya sehat selalu
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!