NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

You Keep Teasing Me

"Raphael?"

Keduanya menoleh hampir bersamaan. Seorang pria tinggi tegap, berambut kecokelatan rapi, pun berbadan bidang, dengan jas berwarna navy melangkah mendekat.

Raphael tampak sedikit kaget sebelum tersenyum lebar mengingat sepenuhnya. "Denzel! It's been ages, dude." Mereka berjabat tangan dengan akrab, saling menepuk bahu seperti dua pria yang sudah lama mengenal satu sama lain.

Sekelebat Emily mematung. Nama itu—Denzel Osborn—konglomerat dari New Jersey, klien besar yang akan ia antar tur ke Hamptons hari ini.

"Kau terlihat semakin sukses saja, Raphael. Kudengar kau sekarang pengacara paling dicari di New York, dengan bayaran termahal."

Raphael menyeringai, memutar jam di pergelangan tangannya dengan gaya angkuh ciri khasnya. "Kau tahu aku, Denzel. Aku tidak mengejar kesuksesan, kesuksesan yang datang padaku."

Denzel tertawa kecil, menggeleng. "Masih sama sombongnya seperti dulu rupanya."

"Dan kesombonganku nyata, bukan?" balas Raphael. Ia menatap sekeliling, tak ada sesiapapun, lantas kembali menatap pria di hadapannya, bertanya iseng. "Ngomong-ngomong, di mana istrimu? Biasanya kalian berdua tak terpisahkan. Jangan bilang kalian bercerai?"

Tentu Raphael yang selalu tak bisa menahan mulutnya, suka bercanda dengan hal-hal sensitif seperti itu, tapi begitu melihat wajah Denzel menegang dan rahangnya mengeras, senyum Raphael berubah seringai, disusul ia menelengkan kepala curiga.

Denzel menghela napas, jari telunjuknya menggaruk alis. "Ceritanya panjang, Raphael."

Raphael tersenyum samar, bak baru memahami sesuatu. "See? Aku selalu bilang, pernikahan bukan jalan yang tepat untuk pria seperti kita. Itu cuma formalitas bodoh yang membatasi kebebasan. Pada akhirnya, kau lebih senang bebas, bukan?"

Denzel menatapnya lekat, kemudian tersenyum hambar. "Tidak sesederhana itu, kawan. Kadang kebebasan juga bisa terasa sepi," sindirnya.

Sebelum suasana berubah lebih dalam, Denzel menoleh, matanya menangkap sosok Emily yang sedari tadi berdiri agak jauh, menatap mereka dengan ekspresi heran. "Ngomong-ngomong, kenapa kau di sini sepagi ini, Raphael?" tanyanya, lalu tersenyum menggoda. "Boleh ku tebak? Nona Cooper ini kekasihmu, atau klienmu yang sedang kau bela?"

Raphael membuka mulut hendak menjawab, tapi Emily segera memotong cepat, tahu betul arah pembicaraan pria itu selalu menjurus ke hal-hal yang tak menguntungkan baginya.

"Kami bukan sepasang kekasih, Tuan Osborn," ucap Emily sopan dengan senyum dibuat ramah. "Tuan Walter adalah pengacara saya."

Denzel tertawa kecil, menatap bergantian antara Raphael dan Emily, seolah sulit mempercayai apa yang baru didengarnya. Ia tahu betul reputasi Raphael—setiap wanita yang melintas di orbit pria itu hampir selalu berakhir di ranjangnya, lalu ditinggalkan tanpa ikatan. "Oh, begitu rupanya. Dunia memang sempit. Raphael teman baik saya. Dulu dia menolong saya keluar dari kasus rumit dan... bisa kukatakan, dia pengacara yang sangat hebat."

Emily hanya mengangguk pelan, memaksakan senyum kecil. Dalam hati, ia mendengkus tajam. Tentu saja Raphael tampak bangga dipuji seperti itu—lihat saja wajah sombongnya sekarang, dagu terangkat, mata menatapnya seolah ingin berkata lihat, aku memang hebat.

Bedebah, pikir Emily, menahan diri untuk tidak memutar bola mata di hadapan dua pria yang paling membuat harinya runyam.

...•••...

Entah bagaimana harus menjelaskannya, Emily benar-benar tak punya pilihan selain memaksakan diri untuk menerima kehadiran Raphael di dalam helikopter mereka menuju Hamptons. Meski tak ada sangkut pautnya, pria itu ingin bergabung katanya.

Ingin ikut sebagai pengacara Emily dan juga sebagai teman lama Denzel yang sudah lama tak bersua. Dalih yang tampak masuk akal, tapi tidak di benak Emily. Ia tahu betul tipe pria seperti Raphael tidak pernah sekedar ikut. Itu hanya alibi yang dibuat-buat sengaja. Selalu ada motif lain di balik tatapan matanya yang dalam dan senyumnya yang terlalu tenang untuk disebut tulus.

Sekarang, di dalam kabin sempit helikopter yang melesat di atas garis pantai timur, Emily berusaha keras menjaga fokusnya. Deru baling-baling di atas kepala dan kehadiran Raphael di sisinya membuat konsentrasinya sedikit goyah, tapi ia tetap berusaha profesional. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menunjukkan lembar peta besar pada Denzel. Dari jendela helikopter, lahan yang mereka bicarakan tampak jelas—hamparan hijau luas yang berakhir di pasir putih dan lautan biru keperakan.

"Area ini, Tuan Osborn, mencakup sekitar dua belas hektar tanah pribadi," ujar Emily, suaranya tenang pun tegas. "Di bagian tengah akan dibangun bangunan utama dengan arsitektur klasik Amerika Timur, yang tiga lantai, simetris, menghadap langsung ke laut, seperti yang Anda lihat di sini." Ia menunjuk sketsa mansion di tangannya yang mirip dengan pemandangan di bawah mereka.

Raphael yang duduk di sebelahnya memperhatikan dalam diam, mengamati kesungguhan Emily saat bekerja. Konsentrasi wanita itu bagaikan medan magnet yang menariknya tanpa sadar. Aura seriusnya justru membuatnya terlihat semakin menggoda, semakin seksi, membangkitkan gejolak dalam dirinya. Matanya tak pernah lepas dari wajah wanita itu, mempelajari setiap pergerakan bibir merah marunnya, setiap tarikan napas, bahkan terusik oleh setiap detik tatapan Emily yang terlalu lama terarah pada Denzel.

"Di sebelah barat properti akan ada kolam renang pribadi lengkap dengan gazebo untuk area santai, sementara di sisi timur kami rencanakan lapangan tenis dan guest house dua lantai yang juga bisa difungsikan sebagai studio pribadi."

Denzel menatap ke bawah, mengangguk puas, matanya menyipit bak tengah membayangkan dirinya di tempat itu.

Emily melanjutkan, "Kami juga menyisakan sekitar dua hektar untuk taman dan jalur privat menuju pantai. Tidak ada akses langsung dari jalan raya, jadi privasi Anda akan sepenuhnya terjamin. Di sisi selatan, kami akan membangun marina kecil yang kapasitasnya cukup untuk tiga hingga lima yacht pribadi dengan sistem keamanan otomatis."

Helikopter sedikit bergetar tatkala melintasi garis ombak. Denzel mengulas senyum. "Kau tahu persis apa yang kuinginkan, Nona Cooper. Kau sangat lugas dan meyakinkan. Pria mana pun akan sulit menolak kerja sama denganmu."

Emily membalas pujian itu dengan senyum sopan, meski rasa gugup mulai menjalar. Ia hanya berharap dedikasinya mampu meyakinkan Denzel untuk menjalin kerja sama.

Berbeda dengan Emily, pujian itu justru membuat rahang Raphael mengeras. Tatapannya berubah tajam, menusuk Denzel yang tanpa sadar tengah melirik ke arah kaki Emily, di mana rok mini wanita itu sedikit tersingkap karena posisi duduknya.

Hanya Raphael yang menyadarinya, sebab Emily kembali terfokus pada sketsa di tangannya. Tidak suka mainannya dipandang seperti itu oleh orang lain, Raphael sedikit bergeser, membuka kaki lebih lebar hingga lututnya dengan sengaja menghalangi pandangan ke arah paha Emily. Denzel yang menangkap sinyal itu menoleh sekilas, bertemu tatap dengan Raphael yang menatapnya dengan pandangan gelap dan mengancam.

Sementara Emily masih sibuk menjelaskan angka-angka, ia sama sekali tidak menyadari betapa tegangnya udara di antara dua pria itu, bak siap meledak kapan saja.

Helikopter mendarat mulus di atas hamparan rumput hijau luas yang terawat sempurna, tepat di dekat mansion yang berdiri megah menghadap laut. Begitu pintu terbuka, angin pantai Hamptons yang segar langsung menerpa tubuh mereka. Seorang associate dari tim pengembang sudah menunggu di bawah, menyambut Denzel dengan hangat dan mempersilakannya dengan ramah untuk berjalan lebih dulu. Raphael dan Emily turun belakangan.

Raphael mengepaskan jas, mengancingkan kancing depannya, lantas melirik sekilas ke arah Emily yang sedang menepuk-nepuk rok mininya agar tidak terlipat dan merapikan rambut yang sedikit berantakan karena angin.

Senyum miring muncul di bibir pria itu sebelum ia berkata rendah namun cukup untuk terdengar, "Next time, don't wear a skirt that short when you're working. It's... distracting."

Terhenti, Emily menatap Raphael dengan kerutan di dahinya. "Distracting? Untuk siapa? Kau?" lontarnya sarkas, dengan decih tajam yang mengejek.

"Untuk siapa lagi? Tentu untukku, dan kaum pria sepertiku." Tentu saja yang ia maksud bukan hanya dirinya—melainkan setiap mata lelaki yang berani menatap Emily seperti tadi Denzel menatapnya. Bayangan itu saja sudah cukup menyebalkan baginya.

"Lucu," balas Emily datar. "Sayang sekali, tidak semua pria berpikir pakai selangkangan seperti kau, Tuan Walter."

Raphael mencondongkan tubuh sedikit, menyejajarkan wajah mereka yang berjarak sejengkal. "You just don't know, sweetheart... Just listen to—"

Emily memotong ucapannya. "Mau aku bekerja hanya pakai bikini, celana kolor, atau bahkan jubah berumbai-rumbai sekalipun, itu bukan urusanmu, Tuan Walter," Ia lalu berbalik cepat, melewatinya dengan tengil, tumitnya berderap kilat di atas jalan berbatu, menyusul Denzel yang sudah mendekati pintu utama, membiarkan Raphael termangu di belakang.

Beberapa detik mematung karena ucapan itu, kini mata Raphael mengikuti punggung ramping wanita itu yang menjauh di bawah sinar matahari. Rahangnya mengeras, namun senyum kecil terulas di ujung bibirnya. "Girl, you love teasing me, don't you?" lontarnya pelan, menelengkan kepala sedikit sebelum menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi gemas.

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, ikut menyusul dengan langkah perlahan. Dari cara Emily berjalan cepat tanpa menoleh, Raphael tahu wanita itu sedang kesal karena kehadirannya, dan itu justru membuatnya semakin tertarik. "You keep teasing me like that, sweetheart, and I might just play a little rough next time."

1
Mita Paramita
Emily is annoying when she's drunk, but Raphael is busy pouncing on her while she's in that state.🤣🤣🤣
Syelaruzz: 🤭 Yoii
total 1 replies
Mita Paramita
Annoying day for Raphael🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk always
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Raphael 💪💪💪
Syelaruzz: Hehehe🙏
total 2 replies
Mita Paramita
jelas Emily nolak kn dia suka nya sama reynard 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk benar 👍😍
total 1 replies
Mita Paramita
jangan sampai dua saudara ini rebutan Emily 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Wkwkwk bau-baunya sih bakal begitu yaaa
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor yang banyak 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
Syelaruzz: Wkwk diusahakan terus ya kak..😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: Iya kak, thank you dukungannyaa
total 1 replies
Mita Paramita
Emily mulai naksir nih sama Raphael 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Hmm wait and see 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima
Syelaruzz: Panik dia karena udah kemusuhan wkwk
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Raphael licik nih menjebak Emily 🤣
Syelaruzz: Belum puas dia 🤣
total 1 replies
pinpin
ada udang dibalik batu nih rapael wkwk
Syelaruzz: wkwkwk iyaa nih
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: 😍 Yoi kak
total 1 replies
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Syelaruzz: Iya nih, gak mood dia hahaha🤣
total 1 replies
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Syelaruzz: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Syelaruzz: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Syelaruzz: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Syelaruzz: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Syelaruzz: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!