Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah yang ditunggu
Mahesa sedang duduk di kursi kerja, menyandar sambil memeriksa bekas di tangannya.
Marta datang dengan wajah yang begitu sumringah. Memberi kabar pada suaminya jika Gavin akan segera mengirim hadiah untuk mereka.
Marta juga sudah mengumbar pada semua orang galau Gavin adalah menantunya yang berharga.
Marta sudah tidak sabar menunggu kedatangan Gavin di perusahaan. Sejak tadi dia terus bergerak dengan gelisah, sesekali melihat ke jendela apakah ada mobil Gavin yang terlihat.
Kalaupun pria itu tidak datang secara langsung, dia pasti mengirim anak buahnya kemari.
Pasangan suami istri itu sudah tidak sabar untuk melihat hadiah apa kiranya yang akan diberikan oleh Gavin.
Tapi karena tak kunjung datang, Mahesa mulai tidak sabar. "Kau bilang Gavin akan ke sini? Kapan? Kau tidak sedang mengarang cerita, kan?"
"Aku serius, Mahesa! Dia sendiri yang bilang begitu. Mungkin dia juga masih sibuk. Sabar sedikit! Aku tidak mungkin membohongi mu. Lagi pula aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Gavin dan Azalia sudah tinggal bersama. Bahkan Alvin juga ada di sana. Sudah jelas, kan, mereka semua berhubungan dengan baik."
"Jangan sampai anakmu itu yang menggagalkan rencana Gavin kemari."
"Azalia? Mana mungkin."
"Kenapa tidak? Bukankah dia yang kabur dari Gavin sampai Gavin mencarinya ke mana-mana? Anakmu itu sangat menyusahkan! Padahal Gavin sudah baik padanya. Jika tidak, mana mungkin dia mencarinya selama ini. Anak itu tidak tahu diri!"
Martha mendengus, melipat tangannya di dada dan kembali menatap keluar jendela. "Yang penting sekarang dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan."
Lalu pandangannya jatuh pada dua mobil yang masuk ke halaman perusahaan bersamaan. Salah satu mobil itu dia kenali, itu milik Gavin.
"Mahesa, dia datang! Lihat, Gavin benar-benar menepati ucapannya. Sudah kubilang, aku tidak mungkin membohongimu."
Mahesa menegak seketika. Buru-buru dia pergi ke jendela, melihat dengan matanya sendiri.
"Kalau begitu kita harus siap-siap. Jangan sampai kita terlihat terlalu mengharapkannya. Dia adalah menantu, sudah sepatutnya dia yang menghormati kita."
Mahesa berdehem, merapikan rambut dan pakaiannya.
Berpura-pura sedang sibuk bekerja, pria itu kembali ke belakang meja. Pun dengan Marta yang langsung duduk di sofa, menyilangkan kaki, memasang postur elegan.
Gavin menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan mertuanya. Bangunan itu begitu Megah, tapi baginya, itu hanyalah cangkang kosong yang hampir runtuh.
Di belakangnya, sebuah mobil hitam berhenti, dan 4 anak buahnya turun dengan gerakan terlatih. Mereka tidak berbicara, hanya menunggu isyarat darinya.
Langkah Gavin lebar, cepat, tapi tidak buru-buru saat memasuki perusahaan.
Resepsionis menunduk, menyambutnya dengan ramah. "Selamat pagi, Tuan. Pak direktur sudah berkata jika Anda akan datang. Mari saya antar." Dia mempersilahkan dengan tangannya.
Pintu ruangan terbuka.
Saat Mahesa dan Marta melihat wajah Gavin dengan 4 pengawalnya di luar, mereka segera berdiri dan menyambut.
"Gavin, selamat datang di perusahaan kami." Ucap Marta. "Ayo, masuklah!"
Wajah mereka sudah berbinar-binar, tidak sabar mendengar hadiah apa yang akan diberikan Gavin.
Namun, Gavin berdiri tanpa ekspresi. Hanya tatapan matanya yang lebih tajam saat kedua kakinya melenggang masuk.
Pintu ruangan ditutup.
Gavin bergerak ke sisi, duduk di sofa tunggal dengan sikap mendominasi.
Sementara 4 anak buahnya, mereka terus bergerak maju, menyeret Mahesa keluar dari belakang meja tiba-tiba.
Sebelum Mahesa sempat bereaksi, salah satu dari mereka menarik dasinya dengan kuat, lalu menghantamkan sebuah tinju yang sampai membuatnya terjengkang ke belakang.
Marta memekik ketakutan.
Pukulan itu menghantam wajah Mahesa dengan keras, bertubi-tubi. Tanpa ampun.
Marta menggerang, terus memanggil nama Gavin. Tubuhnya gemetar ketakutan. "Gavin, apa yang kau lakukan? Tolong hentikan ini! Tolong suruh mereka berhenti.."
"Aku mengirim hadiah. Sesuai janjiku padamu."
Gavin benar-benar terlihat menakutkan.
Wajah Mahesa sudah berdarah-darah. Tapi masih belum ada perintah berhenti dari Gavin.
Satu tendangan di perut pria itu membuatnya terpelanting ke belakang hingga dia memutarkan seteguk darah.
Marta terus meraung. "Gavin tolong hentikan ini.... Tolong."
"Gavin... Hentikan! Hentikan!" Jerit Mahesa di sela-sela pukulan yang bertubi-tubi.
Marta juga terus merengek, meminta pada Gavin untuk menghentikan anak buahnya. "Jangan menyakitinya lagi, Gavin.. hentikan..."
Tapi pria-pria di hadapannya tidak pernah berhenti. Sampai pada saat satu dari mereka kembali datang, mencekik kerah kemeja Mahesa dan bersiap melayangkan tinjunya lagi.
Satu kata dari Gavin, membuat mereka berhenti seketika.
"Cukup."
Tubuh Mahesa dilepas dengan keras.
Marta bergegas mendekat, membantu suaminya. Namun karena ini, Mahesa mendorong Marta dengan marah.
"Gavin, kenapa kau melakukan ini pada kami? Apa salah kami?" Martha hampir menangis ketakutan. Dia merengek menuntut jawaban Gavin.
Salah satu anak buah Gavin menyerahkan dokumen padanya.
"A a apa ini?" Tangan Marta bergetar menerimanya. Dia tahu, apapun itu, pasti bukan sesuatu yang baik setelah apa yang dilakukan Gavin pada suaminya.
"Cepat tanda tangani dokumen itu. Mulai hari ini, istriku bukan lagi anak dari kalian."
Marta menggeleng dengan keras. "Tidak. Tidak! Apa-apaan ini? Azalia adalah anakku! Aku yang melahirkannya!"
Gavin mengulas senyum tipis menakutkan.
"Dan kau sudah menjual anakmu sendiri pada pria lain, padahal dia masih sah istriku. Aku hanya memastikan tidak ada hubungan darah lagi yang bisa kau manfaatkan di masa depan."
"Tidak, Gavin... Aku tidak melakukan itu! Itu hanya rumor!"
Gavin menyeringai tajam. "Masih tidak mau mengakuinya? Mau ku seret kasus ini ke pengadilan? Tidak masalah. Dengan begitu aku akan mudah menjeratmu atas tuduhan eksploitasi manusia."
Marta jatuh lemas ke lantai. Dia bersimpuh, menangis, membuat dirinya menjadi lebih menderita.
"Oh Tuhan.... Gavin, kenapa kau lakukan ini? Azalia adalah anakku, kenapa kau ingin memutus hubungan darah kami? Sampai kapanpun, Azalia adalah anakku, Dia anakku.. kau tidak bisa melakukan ini padaku, Gavin."
Muak sekali rasanya. Jika sudah seperti ini, Marta baru mengatakan bahwa Azalia anaknya. Lalu, saat dia terus memanfaatkan gadis polos itu, apakah dia tidak berpikir demikian?
Ekspresi Gavin semakin tajam dan jengah.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar sandiwaramu. Jika kau masih tidak mau menandatanganinya, mungkin kalian belum mendapat pelajaran dengan baik."
Seolah mengerti dengan lirikan dari bos mereka, anak buah Gavin yang memukuli Mahesa tadi bergerak kembali.
Tangannya yang masih berlumur darah hendak menghajarnya kembali.
Tetapi jeritan Mahesa membuat Marta kelimpungan.
"Bodoh! Apa kau ingin aku mati?" Bentaknya pada Marta.
Marta tidak bisa kehilangan Azalia. Dia adalah tambang emasnya, bagaimana dia bisa memutus ikatan ini?
Tapi melihat Mahesa kembali dipukuli.
Pikiran Marta kacau. Tubuhnya gemetar tak terkendali.
Anak buah Gavin menghajar suaminya tanpa ampuh, membantingnya ke tembok, sampai Mahesa kembali memuntahkan darah.
Martha berteriak dengan frustasi. Dia akhirnya menyerah dan setuju tanda tangan.
"Aku akan tanda tangan, tolong hentikan."
Sangking takutnya, Marta sampai terus mengulang ucapannya sendiri.
Tangannya masih gemetar, tidak rela saat dia menggenggam pena. Sampai salah satu dari anak buah Gavin menendang kursi kerja Mahesa dan berteriak, "Cepat!"
Marta tersentak dengan kuat.
"Ba-baik."
Akhirnya dokumen itu selesai ditandatangani. Anak buah Gavin memeriksanya, lalu mengangguk, memberi isyarat.
Gavin berdiri, berjalan dan berhenti tepat di hadapan Marta yang masih bersimpuh di lantai.
"Jika aku melihatmu mengganggu istriku lagi, itu bukan hanya akan menjadi peringatan. Di dalam sini juga termasuk perjanjian. Jika kalian melanggar satu saja, kalian harus membayar denda 200 miliar. Jadi, pikirkan langkah kalian selanjutnya jika tidak ingin berurusan denganku lagi."
Gavin meninggalkan perusahaan dengan langkahnya yang tegap, sementara di dalam ruangan Mahesa. Sepasang suami istri yang baru saja mendapatkan hadiah yang dinantinya. Tenggelam dalam kemarahan.
#######
Gimana... kalian ikutan seneng nggak Marta dapat hadiah dari menantu kesayangannya 😁😁