Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Raka tidak pulang setelah meninggalkan pasar.
Ia berjalan menyusuri jalan besar dengan kantong belanjaan di tangan kiri. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya. Motor lewat. Pedagang kaki lima mulai menyiapkan dagangan sore. Kota Pontianak bergerak seperti biasa, seolah pagi tadi tidak ada petugas yang dipaksa berlutut di depan lapak Bu Lestari.
Dimas berjalan di sampingnya sambil terus melirik.
“Ka.”
Raka tidak menoleh. “Apa?”
“Kau serius mau cari tempat Hendra nyimpan dokumen?”
“Ya.”
Dimas menelan ludah.
“Dengan cara apa?”
Raka berhenti di depan penjual es. Ia membeli dua botol air mineral, lalu memberikan satu kepada Dimas.
“Dengan bertanya.”
Dimas menerima botol itu, lalu menatap Raka dengan curiga.
“Bertanya biasa?”
Raka membuka botolnya.
“Tergantung jawabannya.”
Dimas menghela napas.
“Aku tahu pasti bukan bertanya biasa.”
Raka minum beberapa teguk, lalu menutup botol.
“Pulang dulu.”
Dimas langsung mengangguk cepat.
“Nah, akhirnya ada keputusan manusiawi.”
“Maksudku kau yang pulang.”
Senyum Dimas hilang.
“Lah, aku ditinggal?”
“Ini bukan urusanmu.”
“Pak Harun dan Bu Lestari juga bukan urusanku, tapi aku tetap ikut panik dari awal.”
Raka menatapnya.
Dimas langsung mengangkat dua tangan.
“Oke, oke. Aku paham. Kalau ikut terus, nanti aku jadi target tambahan.”
Raka tidak membantah.
Dimas menggaruk kepala, lalu menatap kantong belanjaan di tangan Raka.
“Terus itu belanjaan?”
Raka menyerahkannya kepada Dimas.
“Titip di warung Pak Harun.”
Dimas menerima kantong itu sambil menghela napas.
“Jadi tugasku cuma jadi kurir sayur?”
“Lebih aman daripada menyambut mantan ketua RT dari dunia lain.”
Dimas terdiam sebentar.
Lalu ia menunjuk Raka dengan botol air.
“Kau mulai bisa bercanda. Itu malah lebih menyeramkan.”
Raka tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju arah lain.
Dimas menatap punggungnya beberapa detik. Senyum kecilnya perlahan hilang. Ia tahu Raka tidak sedang pergi untuk urusan ringan.
Dimas menggenggam kantong belanjaan lebih erat, lalu berbalik menuju warung Pak Harun.
Di jalan utama, Raka berjalan tanpa terburu-buru.
“Sistem.”
[Aku mendengar.]
“Cari jejak Hendra.”
[Jejak terdekat: tiga orang pembawa dokumen yang tadi meninggalkan pasar.]
“Mereka masih di jalan?”
[Benar.]
“Ke mana?”
[Menuju kantor arsip tidak resmi milik jaringan Wiranata.]
Raka berhenti di tepi jalan.
“Kantor arsip tidak resmi?”
[Tempat penyimpanan salinan dokumen, laporan palsu, data warga, berkas tanah, dan surat tekanan.]
Raka menatap kendaraan yang lewat.
“Lokasinya?”
[Bangunan dua lantai di belakang kompleks ruko lama. Jarak dari posisi Tuan: sekitar dua kilometer.]
Raka tersenyum tipis.
“Dekat.”
[Pengamanan manusia biasa terdeteksi. Tidak ada makhluk asing di dalam.]
“Bagus.”
Raka melangkah lagi.
Tidak lama kemudian, sebuah motor berhenti di dekatnya. Pengendaranya seorang pria muda dengan jaket ojek online. Ia menatap Raka.
“Mau ke mana, Bang?”
Raka menyebut nama jalan yang diberikan sistem.
Pengendara itu mengangguk.
“Naik, Bang.”
Raka naik ke motor itu tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan, ia memperhatikan jalanan Pontianak yang mulai ramai menjelang sore. Di kiri-kanan, toko, rumah, warung, dan ruko tua berdiri berdempetan. Beberapa orang tertawa di depan kedai kopi. Anak-anak pulang sekolah berjalan berkelompok.
Kota ini terlalu biasa untuk menjadi medan perang dunia lain.
Tapi justru karena itu, Raka tidak berniat membiarkan siapa pun menjadikannya tempat bermain.
Motor berhenti di depan sebuah gang kecil dekat kompleks ruko lama.
“Masuk situ, Bang. Kalau mobil susah, tapi motor bisa.”
Raka membayar, lalu turun.
“Terima kasih.”
Pengendara itu pergi.
Raka berdiri di depan gang.
Di ujung gang, ada bangunan dua lantai dengan cat krem kusam. Dari luar, bangunan itu tampak seperti kantor biasa yang sudah lama jarang dipakai. Papan namanya kecil, tertulis nama perusahaan jasa konsultan administrasi.
Namun Mata Dewa melihat lapisan lain.
Beberapa aura manusia bergerak di dalam.
Ada ketakutan.
Ada kesibukan.
Ada niat menyembunyikan.
Sistem berbicara.
[Target ditemukan.]
[Penjaga luar: empat.]
[Petugas dokumen: tujuh.]
[Koordinator lokasi: satu.]
[Dokumen terkait Harun, Lestari, Fadil, dan beberapa warga sekitar tersimpan di lantai dua.]
Raka masuk ke gang.
Dua pria yang sedang merokok di depan bangunan langsung menoleh.
Salah satu berdiri.
“Cari siapa?”
Raka berhenti beberapa langkah di depan mereka.
“Hendra Wiranata.”
Dua pria itu saling pandang.
“Kau salah tempat.”
Raka menatap pintu di belakang mereka.
“Kalau salah, kenapa kalian gugup?”
Pria pertama mengeraskan wajah.
“Bang, ini kantor pribadi. Kalau nggak ada urusan, pergi.”
Raka melangkah maju.
Pria kedua langsung menghadang.
Tangannya hendak menyentuh dada Raka.
Sebelum sempat, tubuhnya jatuh berlutut.
Duk.
Pria pertama terkejut.
“Apa-apaan—”
Ia ikut jatuh berlutut.
Duk.
Raka berjalan melewati mereka.
“Aku tidak punya waktu untuk penjaga pintu.”
Di dalam bangunan, beberapa orang langsung panik saat melihat pintu depan terbuka.
Seorang perempuan muda yang duduk di meja depan berdiri cepat.
“Pak, ada keperluan?”
Raka menatapnya.
Aura perempuan itu abu-abu muda.
Takut.
Tapi tidak jahat.
Ia hanya pegawai biasa.
“Pulang.”
Perempuan itu terdiam.
“A-apa?”
Raka menatap beberapa pegawai lain di ruangan depan.
“Kalian yang tidak tahu isi pekerjaan tempat ini, keluar sekarang.”
Beberapa pegawai saling pandang.
Seorang pria berkemeja biru mencoba berdiri dari meja.
“Maaf, Pak, tapi Anda tidak bisa—”
Raka menoleh kepadanya.
Pria itu langsung membeku.
Mata Dewa membaca niatnya.
Orang ini tahu.
Bukan bawahan biasa.
Raka menunjuknya.
“Kau tetap di sini.”
Wajah pria itu pucat.
Perempuan muda di meja depan menggenggam tasnya dengan tangan gemetar.
Raka berkata tanpa menatapnya lagi, “Pergi.”
Kali ini, perempuan itu tidak menunggu. Ia mengambil tas dan keluar cepat. Dua pegawai lain yang auranya tidak terlalu kotor ikut pergi dengan wajah ketakutan.
Tersisa empat orang di lantai bawah.
Pria berkemeja biru.
Dua staf laki-laki yang pura-pura sibuk di komputer.
Dan satu pria bertubuh besar yang berdiri di dekat tangga.
Raka menutup pintu.
Klik.
Suara kecil itu membuat empat orang tersebut menelan ludah.
Pria bertubuh besar maju.
“Siapa kau?”
Raka berjalan ke tengah ruangan.
“Orang yang namanya ada di dokumen kalian.”
Wajah pria berkemeja biru berubah.
Ia mencoba meraih ponsel di meja.
Raka mengangkat satu jari.
Ponsel itu retak.
Krak.
Pria itu langsung menarik tangannya.
Raka menatapnya.
“Di mana ruang arsip?”
Tidak ada yang menjawab.
Raka mengangguk kecil.
“Baik.”
Ia menatap pria bertubuh besar di dekat tangga.
“Kau.”
Pria itu menegang.
“Buka jalan.”
Pria itu menggertakkan gigi, lalu mengambil tongkat besi dari samping tangga.
“Keluar sekarang sebelum—”
Raka bergerak.
Tidak cepat menurut pandangan manusia.
Tapi sebelum pria itu sempat mengangkat tongkat, Raka sudah berada di depannya.
Satu tangan Raka menyentuh bahunya.
Duk.
Pria besar itu langsung jatuh berlutut. Lantai keramik di bawah lututnya retak.
Tongkat besinya jatuh ke lantai.
Raka menatapnya.
“Buka jalan bukan berarti bicara.”
Pria itu gemetar menahan sakit.
Raka berjalan menaiki tangga.
Pria berkemeja biru tiba-tiba berteriak, “Hapus file!”
Dua staf di komputer langsung bergerak.
Jari mereka baru menyentuh keyboard ketika cahaya emas tipis melintas di udara.
Tak.
Tak.
Dua keyboard retak bersamaan.
Layar komputer mati.
Dua staf itu langsung jatuh dari kursi.
Raka berhenti di anak tangga, lalu menoleh.
“Kalian benar-benar membuatku tidak sabar.”
Udara di lantai bawah menekan turun.
Empat orang itu langsung tersungkur.
Raka melanjutkan langkahnya ke lantai dua.
Di lantai dua, ada lorong pendek dengan tiga pintu. Satu pintu kaca buram di ujung lorong terlihat paling dijaga. Ada kamera kecil di sudut plafon, tapi begitu Raka menatapnya, lensa kamera itu retak halus.
Sistem berbicara.
[Ruang arsip utama berada di balik pintu ujung.]
[Kunci elektronik.]
Raka berjalan sampai depan pintu.
Ia meletakkan telapak tangan di permukaan kaca.
Cahaya emas menyebar seperti garis tipis.
Klik.
Kunci terbuka.
Raka mendorong pintu.
Di dalamnya, ada rak-rak besi berisi map. Beberapa lemari terkunci berdiri di sisi ruangan. Di tengah, sebuah meja panjang dipenuhi berkas. Ada komputer utama, mesin pemindai, dan beberapa kotak kardus yang belum sempat diberi label.
Raka masuk.
Mata Dewa langsung bergerak.
Nama-nama bermunculan di pandangannya.
Harun.
Lestari.
Dimas.
Fadil.
Bram.
Raka Pratama.
Keluarga Mahendra.
Keluarga Wiranata.
Berkas tanah.
Laporan palsu.
Rencana relokasi.
Foto pengawasan.
Daftar orang yang bisa ditekan.
Raka berhenti di depan meja panjang.
Di sana ada satu map hitam dengan tulisan kecil:
RAKA PRATAMA — ASAL-USUL