NovelToon NovelToon
Everything About You

Everything About You

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:457.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

"Bukan karena aku sudah bahagia, hanya saja aku sangat pandai dalam menyembunyikan luka"

Anisa Rahmawati

Tidak ada yang indah dari sebuah pernikahan tanpa cinta, begitulah yang di rasakan oleh Dimas Prasetyo hingga dia memilih menghadirakan kembali kekasihnya sebagai istri kedua di tengah - tengah pernikahannya dengan Anisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

** Anisa Pov's **

Aku membawa putriku yang sudah rapi menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur dimana mantan suami dan ibu mertuaku berada.

Mataku menyusuri rumah yang akan kembali aku tinggalkan besok. Rumah yang bisa di hitung dengan jariku berapa kali aku menyambangi ketika masih menjadi bagian dari keluarga ini.

"Ayah.." Suara melengking dari mulut mungil putriku membuat dua orang yang ada di dalam ruangan makan menoleh pada kami. Mantan Ibu mertuaku tersenyum hangat, sedangkan mas Dimas segera beranjak dari tempat dia duduk menuju kearah kami.

Tangan mungil putriku terulur, meminta agar ayahnya segera meraihnya dan tidak membutuhkan waktu lama tubuh gadis kecilku sudah terbenam di tubuh ayahnya.

Lagi-lagi hujaman ciuman sudah bersarang di seluruh bagian wajah putriku. Dadaku semakin sesak, karena mendapati pemandangan seperti ini di hadapanku.

"Kamu belum bersiap Nis ?" Suara ibu mertuaku mengganggu lamunanku.

Aku terdiam kebingungan.

"Bukannya hari ini kalian mau jalan-jalan ?" Tanya ibu mertuaku lagi.

Aku menatap ke arah mas Dimas, namun dia mengabaikanku dan terus fokus menyuapi makanan di mulut putriku.

"Nisa hanya akan dirumah bu, jadi tidak perlu bersiap." Jawabku.

Setelah mendengar kalimat singkat itu dari mulutku, mas Dimas segera menoleh dan menatap lekat padaku.

"Terus hari ini bagaiman ?" Tanya suara bariton yang tidak jauh dari tempat dudukku.

"Mas mau jalan-jalan sama Zia kan ? aku akan menunggu dirumah." Jawabku.

"Ckk," Mas Dimas bedecak lalu kembali menyuapkan sedikit demi sedikit makanan untuk Zia.

"Nak kalau kamu ngga ikut, terus siapa yang akan menjaga Zia disana." Ujar Ibu mertuaku dan aku terdiam sejenak.

"Habiskan sarapanmu, lalu pergilah bersiap." Sela mas Dimas tanpa ingin di bantah. Dan akupun mengangguk patuh, biarlah ini hanya sehari. Menghabiskan waktu bersamanya hari ini bukanlah masalah yang besar.

Kulihat ibu mertuaku tersenyum, dan aku memulai sarapanku dengan diam. Tidak ada lagi suara yang terdengar di ruangan makan, hanya bunyi dentingan sendok ketika bersentuhan dengan piring yang terdengar disini sampai kami menyelesaikan sarapan pagi ini.

***

Mobil yang di kendarai mas Dimas mulai melaju di jalanan ibu kota, tatapanku terus mengarah keluar jendela mobil. Melihat bangunan yang seperti ikut bergerak ketika mobil yang membawa kami melewatinya.

Suara Bariton milik laki-laki yang kini sedang fokus dengan setir mobil tidak lagi terdengar sejak kami meninggalkan pelataran rumah. Hanya suaraku dan Zia yang sesekali mengisi keheningan di dalam mobil.

"Nis." Akhirnya suara itu terdengar di telingaku. Aku menoleh, menatap wajah bagian samping mas Dimas.

Hening kembali mengambil alih, namun aku masih menatap wajah sampingnya dengan diam. Menunggu apa yang ingin laki-laki ini utarakan padaku.

"Kita mampir ke kantor dulu ya, Mall nya akan di buka pukul sepuluh pagi." Ujarnya. Aku terdiam sesaat melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku, lalu mengangguk mengiyakan.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang ingin mas Dimas katakan, tatapanku beralih pada mobil-mobil yang berdesakan di depan kami. Ini jam berangkat kerja, jadi aku tidak lagi heran jika mendapati jalanan macet seperti ini.

Hampir dua tahun aku melewati jalanan ini ketika pulang dari tempat kerjaku yang tidak lain adalah perusahaan milik mantan suamiku ini.

Meskipun memakan waktu yang lumayan lama di jalanan, mobil yang membawa kami sudah berhenti di depan kantor yang begitu familiar di ingatanku. Kantor yang memberiku banyak pengalaman dan pelajaran berharga.

Setahun menjadi karyawan dengan tenang, dan hampir tujuh bulan menjadi karyawan yang begitu banyak drama di setiap harinya. Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kini hubungan kami hanya sebatas Zia, mengenai tawarannya semalam aku belum ingin memutuskan.

Biarkan saja seperti ini, membiarkan hati dan fikiranku saling beradu. Hati yang ingin kembali, namun fikiran memintaku untuk tetap melangkah melanjutkan hidupku yang sudah mulai tertata dengan rapi sambil mengubur luka dengan perlahan.

"Ayo." Ajak mas Dimas smabil membuka pintu mobil yang ada di sampingku. Aku masih terdiam dan menatap kearahnya.

Putriku sudah mengulurkan tangannya, dan mas Dimas segera membawa Zia kedalam dekapannya.

Aku masih diam di dalam mobil, sungguh rasa tidak nyaman kini mulai menggangguku. Bertemu dengan rekan kerja dulu dengan status sebagai mantan suami dari bos perusahaan membuatku tidak nyaman.

"Ayo Nis." ujar Mas Dimas lagi. Langkah kakinya yang sudah menuju lobi perusahaan terhenti, lalu kembali membalik tubuhnya menghadap padaku yang masih duduk didalam mobilnya.

"Mas aku ngga enak." Kataku jujur.

Kulihat mas Dimas mengerinyit heran dengan perkataanku.

"Aku ngga nyaman kembali lagi kesini, kariyawanmu sudah banyak yang mengetahui aku adalah mantan istri kamu mas." Sambungku lagi menjelaskan apa yang menjadi kegundahan hatiku.

Mas Dimas kembali melangkah cepat kearahku lalu meraih tanganku agar keluar dari mobil miliknya. Setelah aku keluar dari dalam mobil, mas Dimas menutup pintu mobil menggunakan kakinya.

Genggaman hangat di tanganku membuat dadaku berdetak semakin cepat. Dulu selama aku masih menjadi istrinya, tidak pernah dia memperlakukan aku seperti ini.

Aku mengikuti langkahnya sambil menatap kearah jemarinya yang kini sudah mengisi sela-sela jariku. Entah setan apa yang merasukiku hingga membiarkan saja tangan yang bukan lagi muhrimku menggenggamku erat seperti ini.

Beberapa karyawan yang kami lewati memberi hormat pada mas Dimas lalu menatap kearah kami, bukan hanya menatap ke arah kami, namun lebih ke tangan kami yang beratutan.

Ting..

Lift terbuka, dan mas Dimas menarikku masuk kedalam lift. Ada beberapa orang kariyawan yang juga sedang menunggu, namun mengurungkan niat mereka untuk ikut masuk kedalam lift.

"Mas." Ujarku pelan saat memastikan tidak ada lagi orang lain yang berada di dalam lift. Aku mulai menarik tanganku perlahan agar terlepas dari genggamannya, namun tautan jemari itu semakin erat.

"Biarkan saja seperti ini Nis, aku ingin sehari ini saja kamu melupakan luka yang aku ciptakan. Aku ingin sehari ini saja bisa menikmati waktu bersama kalian tanpa rasa bersalah." Kata mas Dimas seolah mengerti apa yang ingin aku katakan. "Mungkin setelah kamu kembali besok, tidak akan ada lagi kesempatan ini." Sambungnya.

Aku mulai merasakan sesak, namun aku mengangguk menyetujui permintaanya. Biarlah, sehari ini saja aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki kehidupan yang bahagia bersamanya. Kehidupan yang hanya menjadi anganku dulu, saat dia memilih melanjutkan cinta lamanya dan menghadirkan di tengah-tengah pernikahan kami.

Aku kembali terdiam, hanya terdengar kekehan menggemaskan dari Zia saat ayahnya menghujaninya dengan ciuman.

***

"Selamat pagi pak" Sapa Laura sambil tersenyum kearahku, namun tidak bisa menutupi keterkejutan di wajahnya.

Dimas hanya mengangguk lalu menarik tanganku ikut masuk kedalam ruangannya setelah Laura membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan kami masuk.

"Mas," Panggilku lagi.

Mas Dimas mengerti, lalu melepaskan tautan tangan kami, dan menurunkan Zia di lantai marmer ruangannya.

Aku berjalan menuju sofa dan mendudukan tubuhku di sana, sedangkan mas Dimas kmbali membuka pintu ruangan dan meminta Laura membawakan minum kedalan ruangan.

"Jangan sayang." Ucapku sambil beranjak dari sofa tempatku duduk lalu menyusul langkah kecil putriku yang kini sudah berjalan ke arah kaca besar ruangan yang tirainya sudah terbuka dan menampakkan pemandangan pagi kota Jakarta.

Aku membawa tubub Zia kedalam dekapanku, lalu melangkah menuju kaca yang menjadi dinding ruangan. Menatap jalanan pagi hari kota Jakarta yang di penuhi kenderaan yang berdesakkan.

Setelah puas memandangi kota Jakarta dari ketinggian, aku kembali membalik tubuhku dan kini mas Dimas sudah berada tepat di hadapan kami. Entah sudah berapa lama dia berdiri di belakangku.

Zia merengek, meminta aku menurunkan tubuhnya ketika aku terdiam sambil menatap kearah pigura kecil yang ada di atas meja keraja mantan suamiku.

"Untuk yang satu ini aku tidak akan membuangnya." Ujar Mas Dimas saat tatapanya ikut tertuju pada benda yang menjadi fokusku.

"Apa aku dan Zia penting bagimu ?" Tanyaku sambil menatapnya sendu.

"Apa yang bisa membuktikan jika kamu dan putri kita sangat penting bagiku ? katakan, aku akan melakukan apa saja, asalkan kamu bisa memberiku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki segelanya." Ucap mas Dimas. Kini buliran bening mulai meluncur dari sudut mataku, dadaku bergemuruh, pertahananku runtuh, kini aku benar-benar ingin bersamanya.

1
falea sezi
g jelas ne novel pantes sepi like
falea sezi
tau agama tp kumpul. satu rmh ma mantan suami. yg buat novel gmna /Pooh-pooh/
falea sezi
males klo ujungnya balikan/Drowsy/ bekas rania aja. lu doyan nis begooo
falea sezi
goblok aja g bs. move on dr laki bekas jalang di kasih spek. baik kayak angga g mau oon
Annie Soe..
Cerita yg bagus thor, cuma tlg revisi typo nya ya..
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Yunior
typo lagi
Yunior
nama orang banyak yang typo
Saini Jamudin
anak sya sja suda 5 thn masi mnyusu
Jumadin Adin
jgn ada pelakor ya thooor kasian anisa
Jumadin Adin
akhirnya cinta yg menang....horee cinta
Jumadin Adin
perasaan mengalahkan luka
Jumadin Adin
Ya Allah ANISA kamu bkn muhrim,kenapa mau di gandeng
Jumadin Adin
cinta mmg tdk masuk akal,sesakit apapun pada seseorang tp di hadapkan dg hati yg masih bersamanya...perih itu tak terasa
Jumadin Adin
sakitnya hati ini thoorr..melihat nereka berdua sama² tersakiti
Jumadin Adin
lho dimas dan ANISA kan hidupnya di apartemen.kenapa melihatnya trenyuh di rumah Dimas
Jumadin Adin
pergumulan yg menyakitkan
Jumadin Adin
sesuatu baru terasa setelah kehilangan.Pada saat msh bersama sering terabaikan
Jumadin Adin
dimas betul² jomblo ngenes.Anisa menggugat ceria,Rania di cerai krn memilih hidup dg suami orang
Jumadin Adin
thooorrr banyak typo²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!