Selomitha tau Arsen hanya menganggapnya sebagai sahabat. Ya, pria yang lebih muda tiga bulan darinya itu adalah putra dari Tante Sarah dan Om Demian, sahabat orangtuanya, Grasian dan Desty (Novel "Mendadak Menikah").
Entah sejak kapan datangnya getaran di hati Mitha untuk pria itu. Mungkin karena sifat protektif dan posesif Arsen padanya, karena sejak kecil Arsen memang seakan sengaja ditugaskan oleh orangtua mereka untuk menjaga Mitha.
Yang pasti pada satu titik waktu, persahabatan mereka tak lagi sama. Mitha memutuskan melanjutkan program Magister-nya ke luar negeri demi melupakan perasaan terlarang yang sudah tumbuh bersemi untuk Arsen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Let me go.
Mitha dan Arsen sudah berada di dalam mobil. Mereka kebablasan main air dan tadi harus menunggu pakaian mereka sampai kering lagi. Mitha melirik jam di dashboard mobil Arsen. Pukul tujuh malam. Flight-nya ada di jam delapan malam. Hampir saja dia lupa kalau dia belum melakukan check in online.
"Mau makan di mana sayang?" tanya Arsen yang baru saja mengeluarkan mobil mereka dari area parkir.
Mitha kebingungan sekarang. Dalam waktu satu jam, tidak mungkin dia bisa pulang ke rumah, lalu berangkat lagi ke bandara. Sedangkan dari sini ke pusat kota saja sudah membutuhkan waktu setengah jam.
Mitha diam-diam mengirim pesan pada mamanya yang ternyata sejak tadi pun sudah menanyakan keberadaannya.
To : Mama
Ma, ini kita baru banget keluar dari pantai. Masih keburu nggak ya ke rumah?
Tidak ada lima detik, Desty langsung membalas. Sepertinya dia sudah sangat menunggu kabar dari putrinya. Pasalnya flight-nya sudah mepet.
Mama
Kita udah di bandara, Mit. Suruh Arsen antar kamu ke sini aja. Kalian juga ngapain lama-lama main di pantai?
Hah? Menyuruh Arsen mengantarnya ke bandara? Nanti dia tahu dong? Tapi memang nggak akan cukup lagi waktunya. Mitha membatin.
"Sayang?"
"Ee...eh?" Mitha sedikit kaget saat Arsen menyentuh pundaknya.
"Lo kenapa? Kayak kebingungan gitu. Tadi gue nanya kita mau makan apa..."
"Ohhh..." Mitha bengong lagi. Boro-boro mikirin makan. Dia lagi bingung sekarang.
"Ngg... eh, ini... gue harus ke bandara loh. Lo bisa antar gue nggak?"
Dahi Arsen mengkerut, "Ngapain? Siapa yang mau pergi?"
"Ee... nggak tau, mama sama papa lagi di sana. G... gue disuruh ke sana..."
"Are you ok? " Arsen keheranan melihat kegugupan gadis itu. Dia menarik jemari Mitha dan menggenggamnya.
"Oke, kita ke bandara ya..." kata Arsen sambil tersenyum menenangkan.
Seketika rasa bersalah memenuhi diri Selomitha. Dia tidak bisa menebak bagaimana reaksi Arsen kalau mengetaui kebenarannya.
Saat tangan Arsen sudah kembali fokus ke setir, Mitha cepat-cepat membalas pesan mamanya.
To : Mama
Oke. Kami ke bandara, Mam. Nanti Arsen langsung Mitha suruh pulang aja.
Setelahnya gadis itu memilih banyak diam. Hatinya tidak tenang. Dia hanya berdoa agar nanti Arsen tidak berlama-lama menunggu di bandara.
*****
Rencana Mitha menyuruh Arsen untuk segera pulang gagal total. Arsen bilang tidak sopan jika tidak bertemu dengan orangtua Mitha.
Gadis itu sudah pasrah. Sepertinya dia memang harus menghadapi amarah Arsen langsung daripada kalau pria itu mengetahui kepergiannya hari esok.
"Mit!" suara dari kejauhan membuat mereka menoleh. Varel melambaikan tangan ke arah mereka.
"Kenapa ada Varel juga?" Arsen sempat menahan Mitha sebentar untuk meminta spoiler.
"Kurang tau, coba kita samperin aja ya..." demi Tuhan jantung gadis itu sudah memukul kencang. Aura perpisahan sudah mulai terasa.
Akhirnya mereka sampai di tempat dimana ada Grasian, Desty, Varel, Zica dan Zico. Dua buah koper gadis itu pun sudah ada di sana.
Mitha langsung menghambur memeluk Desty. Menangis tersedu-sedu di pundak ibunya. Arsen yang melihat itu mengira Desty lah yang akan pergi. Entah ke mana.
"Om..." Arsen menyapa Grasian dengan sopan. Grasian mengangguk dan tersenyum kecil. Pria tua itu seperti biasa minim ekspresi.
Arsen juga mengacak rambut Zica dan Zico secara bersamaan. Sambil dia bertanya, "Tante Desty mau pergi kemana?"
"Hah? Bukan mama yang mau pergi, Bang," jawab Zico mengklarifikasi.
"Tapi si nenek sihir itu. Masak dia nggak cerita?" sambung Zica santai, sambil menunjuk Selomitha dengan cuek.
Arsen merasakan jantungnya seperti baru saja copot. Dia dengan cepat menoleh pada Mitha yang masih berpelukan dengan Desty.
Ingatan Arsen tiba-tiba saja melayang ke kejadian malam sebelumnya di vila. Mitha berulang kali mengatakan 'kalau kita jauh nanti' sementara jelas-jelas Arsen sudah mengatakan jika dia tidak jadi pindah ke Stanford. Jadi... maksudnya dia yang akan pergi.
Lalu saat Mitha tumben-tumbennya mengajaknya selfie sampai puluhan kali. Jadi... dia sedang berusaha membuat kenang-kenangan di antara mereka? Lalu tentang apa yang telah mereka lakukan tadi malam, apakah Mitha juga sengaja menggodanya sejak awal? Untuk apa? Apakah dia tidak takut jika kelak dia hamil di negeri orang?
Arsen yang masih terpaku di tempatnya seperti orang yang linglung. Zico dan Zica pun sekarang saling menendang kaki karena merasa sudah salah bicara.
Mitha yang sudah puas menangis meminta kekuatan dari mamanya pun perlahan berbalik. Dia antara siap dan tidak siap. Tega dan tidak tega. Apalagi tadi dia mendengar Zica sudah memberitahu Arsen soal kepergiannya.
Gadis itu menarik tangan Arsen dengan lembut menjauh dari keluarganya. Arsen menurut begitu saja sambil memandangi bahu Mitha yang bergerak naik turun.
Saat Mitha berhenti, dia pun berhenti. Kemudian gadis itu berbalik. Wajahnya sudah memerah karena tangisannya. Mitha tidak tega melihat wajah kebingungan pria itu.
"Jadi... kemarin d... dan hari ini... i... itu hanya acara perpisahan dari lo?" tanya Arsen memulai dengan sedikit terbata-bata. Kini suaranya sudah bergetar.
Mitha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak tega karena dia akan melukai hati pria itu.
"Gue mohon pergilah ke California. Kita sama-sama mengejar masa depan kita," Mitha langsung kepada intinya. Waktunya tidak banyak.
"Gue udah bilang gue nggak akan pergi!" suara Arsen sedikit meninggi. Mata pria itu pun sudah dipenuhi kilatan air yang siap jatuh ke pipinya.
"Bukannya lo bilang lo mau bikin perusahaan sendiri? Come on, Sen. Jangan sia-siakan kesempatan lo."
"Kapan lo merencanakan ini, hah?? Kapan, Mit! Lo ngebalas gue karena tadinya gue mau ninggalin lo? Iya?" Arsen mengguncang kedua lengan Selomitha dengan frustasi.
Mitha menggeleng-geleng, "Gue pengen kayak Mba Karenina. Itu aja, Sen. Dan gue dapat beasiswa di sana!"
"Kenapa lo nggak cerita ke gue?!"
"Alasannya sama persis seperti lo yang nggak kasih tau gue udah apply ke Stanford. Gue nggak mau liat lo marah."
"Lo benar-benar ngebalas gue kan?" tuduh Arsen lemah. Pria itu seperti kehilangan kekuatan kakinya.
Mitha menggeleng-geleng lagi. Justru kemarin dia ingin menghindar dari Arsen dan Prita. Mau ngebalas apanya??
"Lo dengar gue, Sen..." Mita memegang pundak Arsen, meminta pria itu fokus mendengarnya.
"Lo ingat kan semua kata-kata gue tadi malam? Gue cinta sama lo. Kalau nanti gue balik, gue dan lo masih sama-sama single dan masih sama-sama cinta, mari kita menikah seperti yang lo bilang tadi. Gue... elo... harus sukses, Sen. Ayo kita jadi apa yang kita mau seperti yang kita obrolin tadi siang."
Tatapan Arsen sudah berkabut. Lututnya gemetar hebat. Dia sedikit membugkuk untuk menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya sekarang.
"Gue... gue... entahlah, Mit. Gimana gue bisa hidup besok tanpa ngeliat lo di dalam mobil gue?"
Air mata Mitha mengucur lagi. Dia membuang pandang ke sembarang arah. Saat tak sengaja dia melihat ke arah keluarganya, mamanya seakan memberi kode untuk menyudahi obrolan mereka.
"Baby..." Mitha menangkup wajah Arsen lembut. Dia berusaha tersenyum di hadapan laki-laki itu. "Promise me, pergilah ke Stanford. Demi gue..."
Arsen diam, hanya memandangi wajah gadis cantik yang entah kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pergi darinya. Dia seakan ingin merekam semua wujud Mitha lekat-lekat di dalam pikirannya, sebelum mereka bertemu kembali, entah kapan.
"I love you, Baby," Mitha mendekatkan wajahnya, ingin memberi ciuman terakhir pada pria itu. Tapi Arsen menjauh.
"Jangan. Nanti gue makin sakit," katanya dingin dan pelan. Ditatapnya lagi wajah Selomitha dengan sendu. Dia berharap ini hanya mimpi. Bukannya tadi dia berencana akan menikahi gadis itu secepatnya? Tidak mungkin keadaan berbalik secepat ini.
Himbauan untuk memasuki ruang tunggu terdengar dari speaker. Mitha tersadar itu adalah nomor penerbangannya.
"Lo... mau ke Paris?" tanya Arsen linglung. Fix, Mitha akan mengejar mimpinya menjadi seorang designer di kota fashion itu. Dia pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke Indonesia. Arsen tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Mit, ayo..." tahu-tahu Varel sudah ada di sebelah mereka. Kesedihan Selomitha sudah mencapai level tertinggi. Dia memeluk Arsen namun pria itu tidak membalasnya. Bahkan saat Mitha akan menuju orang tuanya, Arsen bergeming, tidak berkutik. Tatapannya kosong. Tertumpu pada satu titik semu di pilar besar di hadapannya.
"Sen... ayo... liat gue pergi..." Mitha menarik-narik tangannya. Berharap pria itu mau berbalik dan melihat kepergiannya.
"Mit, nanti gue yang ngomong sama dia. Ayo, nanti lo ketinggalan pesawat..." Varel memberi pengertian dengan lembut.
Tangis Mitha semakin terdengar sendu. Akhirnya dia meninggalkan Arsen yang membelakanginya. Berjalan menuju keluarganya yang melihatnya dengan prihatin.
"Lo masih punya waktu kalau ingin membatalkan kepergian lo, Mit..." bisik Varel seakan mengerti kondisi mantan kekasihnya itu sekarang. Mitha menggeleng. Tekadnya sudah bulat. Dia ingin mengejar impiannya.
Sesudah selesai berpelukan melepas kesedihan pada semua anggota keluarganya, Mitha pun menarik kopernya. Lagi, dia menoleh ke arah Arsen berdiri. Ternyata pria itu sudah pergi. Berjalan menjauhi dirinya yang masih sangat berharap mendapat pelukan atau ucapan selamat tinggal yang tulus.
Mitha hanya bisa menahan isakannya sambil melihat punggung kekar Arsen yang bergerak semakin menjauh...
*****
NB : Readers, hari ini sudah up 3 bab yaa. Suka nggak sama ceritanyaa? Coba dikasih masukan dongg biar tulisanku makin bagus.
Btw VOTE yaaa!
Nuhunnn...🥰🥰🥰🥰
Casing bawaan ,🤭
lagian km gtu si sen...sukanya phpin anak orang🤭
visual selomitha cocok sama karater di novel.
aku ngikutin jg dr sarah demian,, crish amber, chalondra dominic, brandon, selomitha arsen. tngl baca yg arsy.
tp krn tll mendalami peran mereka kok ikut geli ya
dl aja nyuruh delia nyurangin.
bener jata mama sarah, arsen emg bege