NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela Rumah Sakit Harapan. Lorong rumah sakit mulai ramai oleh langkah para tenaga medis yang bersiap menjalani tugas. Di antara mereka, seorang perawat muda bernama Anna berjalan dengan senyum yang sudah lama menghilang dari wajahnya.

Rekan-rekannya saling berpandangan.

"Anna, tumben ceria sekali pagi ini," goda Widya, dengan rekan lainnya sambil menyenggol pelan lengannya.

Anna terkekeh kecil.

"Memangnya aku biasanya murung, ya?"

" Bukan begitu sih... cuma lebih sering diam."

Anna hanya tersenyum. Ia sendiri tak mengerti mengapa pagi itu hatinya terasa begitu ringan.

Saat sedang menyiapkan berkas pasien, tanpa sadar ia teringat pada seseorang.

"Pasti karena dokter Arga, ya," sahut rekan lain. Anna tersentak saat nama itu terucap dari bibir temannya.

Pria itu berkali-kali menyatakan perasaannya, tetapi selalu ia tolak dengan halus.

Ucapan Arga beberapa hari lalu kembali terngiang di telinganya.

"Anna, aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sungguh mencintaimu. Aku akan menunggu sampai hatimu benar-benar siap."

Pipi Anna perlahan mengembang. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Aneh..." gumamnya lirih.

"Dokter Arga orangnya baik, ramah kepada siapa pun."

Namun, senyum itu perlahan memudar ketika bayangan masa lalunya datang menghampiri.

Bayangan Alvaro.

Lelaki yang pernah mengisi setiap lembar hidupnya.

Mereka saling mencintai selama bertahun-tahun. Anna begitu yakin bahwa Alvaro adalah pelabuhan terakhirnya. Namun kenyataan berkata lain.

Adiknya sendiri, Elizabets, jatuh cinta kepada Alvaro.

Keadaan menjadi semakin rumit hingga akhirnya Anna memilih pergi. Ia mengorbankan cintanya demi keluarga.

Sejak saat itu, Anna menutup rapat pintu hatinya.

"Cinta... Masih adakah cinta sejati di jaman sekarang," bisiknya seorang diri.

"Aku sudah terlalu lelah mengenalnya."

Lamunannya buyar ketika suara seseorang terdengar dari belakang.

"Perawat Anna." Anna menoleh.

Dokter Arga berdiri sambil membawa map pasien. Wajahnya tetap teduh seperti biasa.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Dok."

Arga memperhatikan wajah Anna beberapa detik.

"Hari ini kamu kelihatan berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Lebih cantik."

Anna langsung memalingkan wajahnya.

"Biasa aja Dokter."

"Aku serius."

Suasana mendadak canggung.

Arga lalu menyerahkan map yang dibawanya.

"Ini data pasien baru. Tolong siapkan ruangannya."

"Baik, Dok."

Sebelum pergi, Arga kembali menghentikan langkahnya.

"Anna."

"Iya?"

"Apa aku masih belum punya kesempatan?"

Anna menghela napas pelan.

"Dokter..."

"Aku tahu kamu akan menolakku lagi."

Anna menggigit bibir bawahnya.

"Bukan karena dokter kurang baik."

"Lalu?"

"Aku masih takut."

"Takut pada apa?"

Anna menatap lantai.

"Takut mencintai seseorang lagi."

Arga mengangguk pelan.

"Aku sudah menduganya."

Anna terkejut.

"Dokter tahu?"

"Aku bisa melihatnya dari matamu," hening beberapa saat.

Arga tersenyum hangat.

"Aku tidak akan memaksamu melupakan masa lalu."

Anna mengangkat wajahnya.

"Aku juga tidak akan memintamu langsung menerima cintaku."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin berjalan pelan bersamamu. Sampai suatu hari nanti kamu percaya bahwa tidak semua cinta berakhir dengan luka.

Kalimat itu membuat dada Anna berdesir.

Entah mengapa, kata-kata Arga terdengar begitu tulus.

Namun bayangan Alvaro kembali hadir.

Wajah pria yang pernah menjadi dunianya.

Seketika senyum Anna memudar.

Arga menyadari perubahan itu.

"Masih mengingat dia?" Anna tidak menjawab.

Keheningan sudah menjadi jawaban yang paling jujur.

Arga menghela napas tipis.

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Tapi, aku juga ingin tahu siapa pria b0d0h yang tega menyakiti wanita sebaik kamu.

Anna menatapnya heran.

"Tapi aku akan berusaha menjadi alasanmu tersenyum di masa depan."

Ucapan itu membuat jantung Anna berdetak sedikit lebih cepat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya yang membeku seolah mulai retak sedikit demi sedikit.

Ia belum siap membuka pintu hatinya.

***

Anna duduk di sudut ruangan sambil menikmati secangkir teh yang mulai kehilangan uapnya. Pandangannya kosong, seolah menatap sesuatu yang jauh melampaui dinding rumah sakit.

Windy, sahabat sekaligus rekan kerjanya, memperhatikan Anna sejak tadi. Ia tahu senyum yang sering menghiasi wajah perempuan itu hanyalah topeng yang menutupi luka lama.

Windy menggeser kursinya mendekat.

"Kapan kamu mau membuka hati untuk pria lain, An?"

Anna menoleh pelan, lalu tersenyum tipis.

"Aku belum tahu, Wind. Hati itu tidak bisa dipaksa."

Windy menghela napas. Ia benar-benar iba melihat perjuangan dokter Arga yang tak pernah menyerah mendekati Anna. Selama lebih dari setahun, pria itu selalu hadir dalam diam mengantar makan saat Anna lembur, menggantikan jadwal jaga ketika Anna kelelahan, bahkan diam-diam memastikan Anna tidak pulang sendirian jika hari sudah larut.

"Aku mengerti, Anna. Tapi alangkah baiknya kalau kamu memberi kesempatan pada dokter Arga."

Anna menunduk. Jemarinya memainkan cangkir di hadapannya.

"Aku belum siap."

"Karena pria itu, kan? Kamu masih berharap padanya?"

Pertanyaan itu membuat udara di sekeliling Anna terasa berat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Nama yang tak pernah disebut itu seakan bergema di dalam kepalanya.

Alvaro...

Nama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

Windy menggenggam tangan sahabatnya.

"Jangan sakiti dirimu sendiri, Anna. Mungkin dia sudah menikah."

Kalimat itu menusuk lebih tajam daripada yang Windy bayangkan.

Anna menggigit bibir bawahnya agar air mata tidak jatuh. Dada wanita itu terasa sesak. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa Alvaro hanyalah masa lalu. Berkali-kali pula ia berkata pada hati bahwa semuanya telah berakhir.

Namun setiap kali malam datang, bayangan pria itu selalu kembali.

Senyumnya.

Tatapannya.

Janji-janji yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.

Anna menarik napas panjang, berusaha mengusir seluruh kenangan itu.

"Bukan karena dia," ucapnya lirih.

Windy mengangkat alis, seolah tak percaya.

"Aku sudah bertekad untuk fokus bekerja. Itu saja."

"Benarkah hanya itu?

Anna sendiri tidak yakin dengan jawabannya.

Ia memilih menyibukkan diri sejak meninggalkan kota kelahirannya. Rumah sakit ini menjadi tempat pelarian sekaligus tempatnya membangun kehidupan baru. Setiap pasien yang ia rawat membuatnya lupa sejenak pada luka di hatinya.

Tetapi saat kesunyian datang, luka itu kembali terbuka.

Windy mengusap bahu Anna lembut.

"Kalau memang belum siap, aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan tutup semua pintu, An. Tidak semua laki-laki akan menyakitimu."

Anna tersenyum hambar.

"Aku tahu."

"Dokter Arga benar-benar mencintaimu."

"Aku juga tahu."

"Lalu kenapa kamu selalu menghindarinya?"

Anna memejamkan mata sejenak.

"Karena aku tidak ingin memberi harapan yang belum tentu bisa kubalas."

Jawaban itu membuat Windy terdiam.

Sebagai perempuan, ia memahami betapa sulitnya mencintai seseorang ketika hati masih dipenuhi bayangan orang lain.

Anna bergegas merapikan map rekam medis yang berada di pelukannya. Seolah sengaja tak ingin membahas perbincangan dengan Windy.

"Oh ya, Wind... aku dengar dokter Arga sedang bekerja sama dengan seorang dokter spesialis untuk menyembuhkan salah satu pasien. Makanya bulan lalu beliau sampai pergi ke luar negeri."

Windy langsung menoleh cepat.

"Serius? Bukannya beliau bilang hanya ada urusan seminar?"

Anna mengangkat bahu.

"Itu yang kudengar. Aku juga tidak tahu pasti."

"Pasien itu sakit apa? Dan siapa dokternya?" tanya Windy penuh rasa penasaran.

Anna terkekeh kecil.

"Mana aku tahu. Kebetulan aku lewat di salah satu ruang perawatan. Tidak sengaja aku mendengar Celin sedang berbicara dengan beberapa perawat. Katanya dokter Arga mencari metode pengobatan yang belum tersedia di sini."

Windy mengerutkan kening.

"Kalau sampai harus ke luar negeri, berarti penyakit pasien itu bukan penyakit biasa."

"Mungkin saja," jawab Anna pelan.

 "Tapi aku tidak ingin berspekulasi."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!