Andin seorang anak tunggal yang harus bekerja keras karena orang tuanya jatuh miskin dan bangkrut. Ia juga akhirnya terpaksa mau di menikah muda karena kondisi ekonomi keluarga yang mendesak.
Sementara Bimo terpaksa mau menikah dengan sistem perjodohan, karena adiknya Silvia sudah hamil duluan. Karena orang tua Bimo yang baru akan memberi restu untuk menikah pada Silvia setelah Bimo menikah, akhirnya Bimo menyetujui perjodohannya dengan Andin yang ia anggap hanya sebagai menyewa pelacur.
Akankah Silvia akan ketahuan?
Akankah Bimo mampu merubah pandangannya soal Andin dan bisa menerima Andin sebagai istrinya?
Akankah Andin mampu bertahan dengan segala ujian hidupnya dan ikhlas dengan segalanya?
Penasaran? Temukan jawabannya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dasp.98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Andin terlihat sangat senang saat pertama kalinya ia boleh ikut ke kantor suaminya. Andin bahkan sangat gugup saat suaminya memarkirkan mobil dan jadi tidak mau ikut karena malu sudah pernah beli buku bajakan. Tapi tetap saja Bimo mengajaknya masuk. Meskipun Andin hanya mengikutinya dan baru pisah saat ke kamar mandi sementara Bimo menunggu sambil melihat beberapa desain covernya.
"Udah Mas... " ucap andin yang kembali duduk di samping Bimo.
"Eh! Kamu yang cari toilet tadi ya?" ucap editor naskah Bimo sok akrab dengan Andin.
Andin hanya mengangguk lalu tersenyum canggung sementara Bimo menatap editornya itu dengan tajam.
"Istri apa sepupu Mas?" tanyanya pada Bimo.
"I-istriku..." jawab Bimo canggung.
"Katanya kemarin dapet istri orang miskin, jelek, kampungan... Bidadari gini, kalo gak suka mending kemarin dari awal kenalin ke aku Mas..." ucapnya nyeplos begitu saja.
Andin hanya menatap Bimo lalu menundukkan kepalanya, sementara Bimo langsung menggenggam tangannya.
"Aku gak bilang gitu..." ucap Bimo menepis ucapan editornya yang tak pernah memakai filter sambil menggenggam tangan Andin.
"Alah, gak usah sok lupa. Tapi Alhamdulillah loh, sekarang dah mau nerima... Aku ikut seneng Mas..." ucapnya lagi yang lagi-lagi nyeplos tanpa filter.
Andin hanya diam lalu perlahan menarik tangannya dari genggaman Bimo meskipun Bimo masih menahan tangannya. Andin kembali menarik tangannya dan lagi-lagi Bimo masih menahan tangannya dan menggenggamnya makin erat.
"Kalo gak ada yang penting lagi, aku mau pulang..." ucap Bimo dengan wajahnya yang menyiratkan ke khawatiran.
"Aelah buru-buru amat..."
"Ayo pulang!" potong Bimo dengan menggandeng Andin keluar.
Andin hanya menunduk sambil mengikuti langkah Bimo yang cukup cepat berusaha mengimbanginya. Tanpa berkata apapun. Bahkan saat sampai di mobil Andin juga hanya diam, tanpa menatap suaminya.
"Jadi belanja gak sayang? " tanya Bimo lembut setelah mensetarter mobilnya.
Andin hanya mengangguk tanpa menatap Bimo sama sekali.
"Ke tempat biasa?" tanya Bimo masih basa-basi yang kembali hanya di angguki Andin.
Bimo langsung diam dan menyetir sambil berusaha mencari bahan pembicaraan dengan istrinya agar tidak dingin begini. Tapi sayangnya Bimo tak hangat itu untuk mencairkan suasana, bahkan sampai di supermarket ia masih belum bisa mencari pembicaraan yang pas dengan istrinya.
"Sayang, Andin..." panggil Bimo sambil menggandeng Andin.
Andin hanya diam lalu berjalan masuk ke supermarket setelah mengambil troli.
"Aku aja..." ucap Bimo lalu mengambil alih troli yang di bawa andin. "Andin, aku minta maaf... Dulu kan bilang gitu soalnya belum kenal kamu, belum cinta kamu kayak sekarang..." ucap Bimo sambil berjalan bersama istrinya.
Andin hanya mengangguk pelan lalu mengambil beberapa cemilan, krupuk mentah, dan beberapa bumbu.
"Andin jangan marah ya, ya sayang ya..." ucap Bimo sambil merengek pelan karena Andin masih belum bicara padanya.
Andin lagi-lagi hanya mengangguk, lalu kembali berjalan mengambil beberapa ceker dan menimbangnya, lalu berlanjut sosis dan olahan daging lain kesukaan suaminya. Andin juga mengambil beberapa sayur dan buah.
"Sayang... Kamu masih marah ya?" tanya Bimo yang kesal dan makin merasa tersudutkan karena permintaan maafnya hanya di jawab dengan anggukan. Belum lagi andin sama sekali tak bicara padanya.
Kali ini andin hanya diam mendengar ucapan suaminya, lalu lanjut membeli beberapa permen untuk di mobil, juga pembalut. Bimo hanya menghela nafas panjang karena istrinya masih tak mau bicara. Sampai akhirnya di kasir untuk membayar semua belanjaan.
rnya dan mulai menangis. "Kalo aku nikah, kakak nikah juga. Kalo aku cerai kakak juga harus cerai! " geram Silvia pelan.
kaciaaaan🤪
semoga hubungan pernikahan andin dan bimo bisa menjadi lebih baik lagi...
🤭🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰
😂😂😂😂