Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!
Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.
Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.
Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.
Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kak Damar
"Har ini aku mau ajak Alea jalan - jalan ke taman, mas." Kata Delia.
Dia mengantar Bram yang akan berangkat ke kantor sampai didepan rumah.
"Jangan pergi berdua. Sebaiknya ajak Amel juga." Bram merasa cemas kalau membiarkan Alea hanya pergi beruda saja dengan Delia. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Alea. Setidaknya jika Amel ikut bersama mereka, dia bisa bergantian mengawasi Alea.
"Memangnya kenapa kalau hanya berdua.? Mas Bram tidak percaya aku bisa menjaga Alea.?!!" Ketus Delia
"Bukan begitu sayang,,," Bram merangkul pinggang ramping Delia, menariknya untuk semakin dekat. Padahal ucapan Bram tidak mengandung unsur sindiran, tapi entah kenapa jawaban Delia seakan menjelaskan jika dirinya tersindir dengan ucapan Bram.
"Paling tidak Amel bisa bergantian mengawasi Alea. Kamu juga tidak akan kerepotan nanti." Tutur Bram lembut.
Dia seperti sedang memberikan pengertian pada gadis kecil yang merajuk, harus secara lembut dan sabar.
Bram ingat jika Delia masih dalam masa PMS. Sedikit saja dia salah bicara, maka gadis cantik nan menggemaskan itu akan berubah menjadi serigala mengerikan.
"Aku tau.! Aku akan mengajak Amel. Sudah sana berangkat. Hardan sudah menunggu." Delia mengarahkan dagunya, menunjuk Hardan yang sedang berdiri disamping mobil untuk menunggu Tuannya.
Hardan adalah anak dari supir pribadi Bram. Dia baru saja menggantikan ayahnya dua minggu yang lalu. Karna ayahnya sedang sakit dan tidak bisa bekerja lagi.
"Jangan marah." Ujar Bram. Delia hanya menganggkat bahunya acuh dengan menyebikkan bibirnya. Bram tersenyum.
"Kenapa menggemaskan seperti ini." Katanya. Tanpa permisi dia meraih dagu Delia, menempelkan bibirnya pada bibir Delia yang menggoda. Delia membulatkan matanya, Bram menciumnya di depan supir pribadinya yang usianya seumuran dengan Delia.
...'Tega sekali mereka berciuman di depan jomblo sepertiku. Apa mereka pikir aku ini patung.!'...
Geram Hardan dalam hati. Rasanya dia ingin sekali menggigit jari - jari kakinya sendiri, melihat majikannya yang tidak punya akhlak itu. Bisa - bisanya melakukan adegan panas di depan seorang jomblo sejati.
"Mas.!!" Pekik Delia, dia mendorong dada Bram. Delia tidak berani lagi mengangkat wajahnya, rasanya sangat malu sekali pada Hardan. Suaminya itu tidak tau tempat.
Delia berlalu begitu saja dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan Bram yang sedang menahan senyumnya. Wajah Delia sangat merona, dia tahu jika Delia malu karna dia menciumnya didepan Hardan. Berbeda dengan Bram yang tidak punya malu itu. Dengan senyum yang menggembang dia masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan oleh Hardan.
...'Kejam sekalian kau Tuan. Membuat jiwa jombloku meraung - raung."...
Batin Hardan sambil menutup pintu kembali.
......*****......
Sesuai perintah dari kakak ipar sekaligus suamiku yang menyebalkan itu, aku mengajak serta Amel untuk jalan - jalan ke taman bersama Alea. Aku mencari tempat yang teduh, yang nyaman untuk Alea bermain.
Alea sudah berumur 8 bulan lebih, aku ingin mengenalkannya pada dunia luar. Tidak melulu selalu didalam dan disekitar rumah.
Aku menyuruh Amel menggelar kain diatas rerumputan, setelah itu mendudukan Alea disana. Beberapa mainan yang aku bawa, ku letakan di depan Alea. Aku membiarkan Alea bermain dengan mainannya. Sedangkan aku mengambil mangkuk makan Alea dan menyuapinya. Aku sangat bahagia melihatnya ceria seperti itu.
Aku berjanji pada diriku sendiri, selama mba Ditha koma, aku akan berperan sebagai ibu pengganti yang baik untuk Alea. Memberikan perhatian dan kasih sayangku sepenuhnya pada bayi malang ini. Aku ingin Alea tumbuh dengan dengan cinta dan kasih sayang seorang ibu.
"Amel, tolong lanjutin suapin Alea. Aku ingin ke toilet sebentar." Aku menyerahkan mangkuk pada Amel.
"Baik Non."
Aku segera beranjak dari sana dan pergi ke toilet dengan langkah cepat, rasanya sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil.
"Ternyata benar juga apa yang dikatakan oleh mas Bram." Gumamku.
Untung saja aku mengikuti saran mas Bram, juka tidak, pasti saat ini aku sedang kerepotan membawa Alea ke toilet. Aku merasa bersalah karna sempat kesal pada mas Bram. Walupun kekesalanku hanya sesaat, karna aku tidak bisa benar - benar kesal pada seseorang.
"Aduhh...!" Pekikku, aku tidak sengaja menabrak seseorang karna terlalu buru - buru.
"Maaf aku ti,,,, Kak Damar.???!" Seruku saat melihat wajah orang yang sudah aku tabrak. Aku sangat mengenalinya.
"Delia.?" Katanya. "Sedang apa kamu di,,,"
"Sebentar kak, aku ketoilet dulu. Udah nggak tahan." Aku memotong ucapan kak Damar, lalu segera berlali masuk kedalam toilet.
Saat aku keluar dari toilet, ternyata kak Damar masih berdiri ditempat semula. Aku langsung menghampirinya.
"Kak Damar apa kabar.? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Kataku.
Aku mengingat pertemuan terakhirku dengan kak Damar, saat itu aku datang kerumahnya untuk mengantarkan undangan pernikahan kak Ditha. Berarti sudah lebih dari 3 tahun yang lalu.
"Kabar ku baik. Bagaimana denganmu.? Sepertinya kamu terlihat lebih dewasa, apa sudah lelah jadi anak - anak.?" Ujar kak Damar.
...'Apa maksudnya.? Apa dia sedang memujiku sekaligus meledekku.?'...
"Baik juga. Tidak usah meledekku kak.!"
"Aku pikir sudah berubah, ternyata sama saja." Katanya. Aku langsung melotot menatapanya, tapi kak Damar malah terkekeh.
"Kamu sedang apa disini.?"
"Mengajak anak kak Ditha main di taman." Jawabku. Aku tidak bertanya balik, melihat baju yang dipakai kak Damar, aku sudah tau jika dia baru saja jogging.
"Anak Ditha.? Lalu dimana dia.?"
"Disana." Aku menunjuk ke tempat dimana Alea dan Amel berada.
"Kalau gitu aku kesana dulu kak,"
"Tunggu Delia, aku ikut. Aku ingin melihatnya." Aku mengangguk, menyetujui permintaannya.
"Ditha tidak ikut.?"
Pertanyaan Kak Damar membuat langkahku terhenti. Pasti kak Damar tidak tau keadaan mba Ditha. Aku mentap kak Damar yang juga iktu menghentikan langkahnya.
"Mba Ditha dirumah sakit, dia koma."
Kak Damar terlihat kaget, dia bertanya penyebabnya dan aku mejelaskan semuanya padanya. Terliha jelas raut kesedihan diwajahnya.
"Aku turut prihatin dengan kejadian yang dialamai oleh Ditha. Semoga dia bisa kembali sadar secepatnya."
"Aamiin, terima kasih kak."
Kak Damar ikut bergabung bersama kami, dia meraih Alea, meletakan Alea di pangkuannya.
"Dia sangat lucu dan menggemaskan." Katanya. Kak Damar mendekap Alea dengan gemas.
"Siapa namanya.?" Tanya padaku.
"Alea,,," Jawabku singkat.
Kami bertukar cerita sambil mengajak Alea bermain. Alea tampak bahagia, dia terus saja tertawa karna ulah kak Damar yang sedang menggodanya. Aku baru tau jika kak Damar sangat menyukai anak - anak, dia bahkan sangat pintar membuat Alea terbahak - bahak dengan ulah konyolnya.
Berbeda sekali dengan mas Bram yang, dia bahkan jarang mengajak Alea bercanda. Hanya mengajaknya mengobrol seperlunya saja. Mas Bram hanya pintar menggodaku dan membuatku kesal.
'Mas Bram.? Kenapa tiba - tiba aku memikirkannya.! Ayolah Delia, sadarkan dirimu. Jangan membuat dirimu terluka hanya karna mencintainya. Dia bukan milikmu.!'
Aku segera menepis pikiranku tentang mas Bram. Akhir - akhir ini mas Bram sering muncul dalam pikiranku. Sampai saat ini aku belum bisa mengikis perasaanku padanya, yang aku rasakan justru sebaliknya. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Kadang aku ingin menjadi orang yang egois, merebut semua cinta dan perhatian mas Bram agar hanya untukku tanpa membaginya pada mba Ditha. Tapi itu terlalu kejam, lebih baik aku yang terluka, dari pada harus melukai.
"Sudah siang dan semakin panas. Aku harus pulang kak, kasian Alea nanti kepanasan."
Aku mengambil Alea dari pangkuan kak Damar. Sejak tadi, kak Damar tak pernah melepaskan Alea. Kadang dia menggendong,memangku, dan mengajarinya berdiri.
"Pulang sama siapa.?"
"Tadi kami kesini di antar supir, tapi dia sudah aku suruh pulang agar tidak bosan menunggu. Kita akan pulang naik taksi."
"Tidak usah baik taksi. Biar aku saja yang mengantar kalian. Mobilku ada disana."
Kak Damar menunjuk mobil yang terparkir tak jauh dari tempat kami.
Akhirnya kami di antar pulang oleh kak Damar.
"Ayo mampir dulu kak." Kataku setelah turun dari mobilnya. Kak Damar juga ikut turun karna mengeluarkan kereta dorong milik Alea.
"Lain kali saja, aku ada urusan."
Kak Damar mendekat ke arahku, dia menundukan kepalanya dan mencium pipi Alea yang sedang berada di gendonganku.
"Sampai jumpa lagi anak cantik,,," Katanya.
Aku sedikit heran dengan sikap kak Damar pada Alea. Sebegitu sukanya dia terhadap anak - anak. Baru pertama kali bertemu dengan Alea, dia sudah terlihat sangat menyayangi Alea.
...*****...
Jangan lupa kasih VOTE nya😁 Dan tinggalkan like setelah membaca.
Makasih dukungan dan semangatnya. Di usahain up tiap hari, tapi ngga bisa banyak - banyak 🙏