Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hadrian menuruni tangga rumahnya, dirinya sudah berpakaian rapi dan nampak sedang bersiap ke suatu tempat. Namun langkahnya terhenti saat melihat ibu dan ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga.
“Ayah kenapa?” tanyanya saat melihat wajah ayahnya yang pucat dan dipenuhi keringat.
Hadrian menolehkan wajahnya pada sang ibu untuk mendapatkan jawaban namun sang ibu juga masih diam sembari mengelus – elus punggung ayahnya. Wajah sang ibu juga tak kalah mengkhawatirkan pelipisnya dipenuhi oleh peluh.
“Ibu? Ayah? Tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku?” Tanya Hadrian lagi.
Ibunya menghentikan tangannya yang tadi mengelus punggung sang suami.
“Serangan panik, ayahmu kembali mengalami serangan panik”
“Ayah baik – baik saja sekarang?” Tanya Hadrian khawatir dengan membungkukkan tubuhnya dan memegang pundak sang ayah.
Sang ayah, Burhan Baskoro menganggukkan kepalanya pelan.
“Ayah yakin? Tidak mau ke rumah sakit?”
Sang ayah mengangkat tangan kanannya dan menggoyang dengan cepat, “Tidak perlu, ayah baik – baik saja. Tenanglah”
Hadrian menghela napas pelan, “Ayah selalu begitu, sudah terlalu lama ayah mengabaikannya akan lebih baik jika kita mengobatinya ayah”
Burhan menengadahkan kepalanya menatap sang anak tirinya yang begitu khawatir dengan keadaannya, “Tidak apa Hadrian, ayah baik – baik saja. Ayah janji” ucapnya dengan lembut mencoba meyakinkan sang putra.
“Baiklah, tapi ayah janji jika serangan panic ini datang lagi ayah harus mau untuk ke rumah sakit” ucap Hadrian kemudian
Dan sang ayah pun mengangguk, “Ahh andai Angkasa bisa seperhatian ini padanya” pikirnya saat menatap Hadrian.
“Ahh Hadrian mau ke rumah Angkasa, sudah lama rasanya tidak menjenguk Binar”
“Kamu ke sana sendirian?” Tanya sang ibu meyakinkan
Hadrian
mengangguk, “Iya sendiri, kecuali jika ayah dan ibu mau ikut aku juga tidak keberatan. Lagi pula sudah lama sekali kita tidak datang kesana bersama – sama kan”
Sang ibu tersenyum kikuk, “Ohh kalu itu sepertinya ibu tidak bisa, tapi kalau ayahmu mau ikut silahkan. Kalian bisa datang berdua kesana” jawabnya
“Aku tidak bisa, ayah rasa ayah mau istirahat saja di rumah”
Hadrian mengangkat kedua bahunya, “Oke, kalau begitu Hadria pergi dulu. Jangan lupa telponaku jika terjadi sesuatu” ucapnya dengan mimikwajah yang dibuat mengancap pada ayah dan ibunya yang ditanggapi dengan anggukan dari sang ayah dan ibu.
“Iya – iya, ibu pasti akan menelpon. Hati – hati dijalan sampaikan salam kami pada Angkasa dan Binar.”
“Siap” jawab Hadrian lalu berbalik melangkah keluar rumah menuju rumah Angkasa.
***
Binar mencoba berdiri dengan bantuan tongkat penyangga yang tadi berikan oleh Angkasa. Sementara mbok Sri memperhatikan dari belakang kegiatan Binar di taman, mencegah jika ada sesuatu yang tidak dingikan terjadi dan dia bisa langsung dengan segera lari dari tempat pengintaiannya.
Sebelumnya mbok Sri ikut menemani Binar di taman, namun Binar dengan segera memintanya untuk kembali ke dalam karena tidak ingin merepotkan.
“Mbok Sri ke dalam aja, gak apa – apa kok. Saya bisa sendiri kok mbok” begitulah kira – kira ucapan Binar saat meminta mbok Sri untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya.
“Tapi nanti kalo ada apa – apa mbok Sri bisa dimarahi sama tuan Angkasa non”
“Gak apa – apa mbok, Binar janji” dan akhirnya mbok Sri pun menyerah lalu memilih untuk memperhatikan dari kejauhan.
“Good morning, oh lihatlah ada yang sudah mengalami kemajuan disini”
Suara seseorang mengalihkan Binar dari kegiatannya yang tengah focus latihan berdiri menggunakan bantuan tongkat penyanggah. Dan di sana Binar dapat melihat Hadrian yang sedang berjalan ke arahnya dan Binar dapat melihat tangan kanan Hadrian yang tengah memengah sesuatu namun entah itu apa.
“Hadrian, Sejak kapan kamu datang?” tanyanya penuh semangat
“Barusaja” Hadrian mendekat pada Binar dan saat dirinya sudah benar – benar berada di depan Binar disitulah Binar dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dibawa oleh Hadrian.
“Kaktus?” Tanya Binar heran
“Ahh iya, ini kaktus untukmu”
Binar mengerutkan dahinya, “Kenapa?” tanyannya heran
“Aku juga tidak tau” jawab Hadrian sembari menggaruk – garukkan kepalanya yang membuat Binar terkekeh.
“Kamu memberiku kaktus, tapi kamu tidak tau kenapa?”
“Ahh sebenarnya aku hanya ingin memberikanmu sesuatu, tapi bingung mau memberikan apa. Sampai tadi mobilku melewati toko bunga jadi ku pikir aku bisa memberimu tanaman untuk mengurangi kebosananmu. Saat aku melihat kaktus ini aku tidak berpikir untuk kedua kali dan langsung mengambilnya, kupikir karena kaktus ini
sangat simple dan mudah untuk dirawat” jawab Hadrian kemudian
“Baiklah aku akan menerimanya dengan senang hati” jawab Binar lalu mengambil kaktus itu dengan angan kanannya sedang tangan kirinya tetap memgang tongkat penyanggah.
“Terima kasih untuk kaktusnya” ucap Binar
“You’re welcome, ngomong – ngomong dimana Angkasa? Biasanya dia akan langsung mengomel jika melihatku datang”
Binar terkekeh, “Kali ini kamu beruntung, karena hari ini dia sedang ada jadwal terbang”
“Sampai berapa hari?” Tanya Hadrian sembari membantu Binar untuk duduk kembali di kursi rodanya.
“Hmmm aku kurang tahu, mungkin tiga hari seperti biasanya”
“Kamu mau minum sesuatu?” Tanya Binar melanjutkan
Hadrian tampak memikirkan, “Hmmm, segelas orange jus sepertinya cukup menyegarkan” jawabnya
“Kalo begitu ayo kita masuk”
Setelah itu Hadrian mendorong kursi roda Binar dan membawanya masuk ke dalam rumah.
***
“Bagaimana? Menyegarkan?” Tanya Binar sesaat setelah Hadrian meneguk orange jus yang di buatkan oleh mbok Sri
“Mbok Sri memang tidak pernah mengecewakan” ucapnya sembari mengangkat gelas
Keduanya pun terkekeh dan kemudian setelah itu hening di antara keduanya.
“Bagaimana kabar Angkasa?” Tanya Hadrian memecahkan keheningan di antara keduanya.
“Baik, sangat baik”
Hadrian mengangguk,”Binar…. Bolehkah aku meminta sedikit bantuanmu?” Hadrian kembali bertanya namun dengan suara dan tatapan yang jauh lebh serius dibanding sebelumnya.
“Apa yang bisa kubantu?” Binar balik bertanya
“Kamu…bisakah membantu Angkasa untuk melunakkan sedikit egonya dan membuatnya berhubungan
baik kembali dengan ayahnya?” Tanya Hadrian dengan hati – hati
Binar mengerutkan dahinya, “Tapi kenapa aku? Aku baru mengenalnya jadi tidak begitu yakin jika aku bisa melakukannya” jawab Binar
“Karena ayahnya sedang tidak baik – baik saja, dia butuh pertolongan”
Tbc.
Sebel deh lihat nya