Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Si Rubah Betina Dan Kisah Si Singa
Dodik pun mengalah. Namun, saat melihat Citra menaiki sepeda motor itu, Dodik tidak terbiasa.
“Apa kamu benar-benar akan mengendarai sepeda itu?” tanya Dodik ragu. Jelas-jelas sepeda motor itu biasanya dinaiki laki-laki.
Citra menyisihkan rambutnya ke belakang telinga. Kini dia bertingkah manis. “Mau gimana lagi, hanya aku yang bisa mengendarainya. Tapi kamu tenang aja, aku bisa melakukan sesuatu yang hebat melebihi perkiraanmu,” timpal Citra.
Dodik menggeleng-gelengkan kepalanya. Tadi dia menyebut dirinya lugu, sekarang dia menyebut dirinya hebat. Apa dia sengaja merendahkanku? sewot Dodik dalam hati.
Terpaksa Dodik menaiki sepeda motor itu dengan wajah kesal, sedangkan Citra malah cekikikan tanpa sepengetahuannya. Citra berhasil menggodanya.
Setelah cukup lama, akhirnya kedua orang itu sampai di hutan. Hutan itu sangat gelap. Entah karena hari masih begitu pagi atau pepohonan yang rindang. Di bawahnya pun, rumput liar dan semak-semak begitu tinggi dan tak teratur. Seakan-akan ular yang membuatnya dan bersiap bertelur di sana.
“Apa kita sungguh akan mencari rumput di sini?” tanya Dodik khawatir.
“Enggak. Kita enggak akan cari rumput di sini,” jawab Citra.
Dodik bernapas lega. Kuharap ada tempat yang lebih baik dari sini, batinnya.
“Tapi aku yang akan mencari rumput di sini,” imbuh Citra.
Pyung!
“Kamu tunggu aja di motor. Tapi jangan sampai ibu tahu,” jelas Citra.
“Lalu gimana kalau ada ular di sana.” Dodik menunjuk semak-semak itu dengan matanya.
“Aku yang akan menggigitnya,” gurau Citra. Dia malah tertawa.
Padahal dia enggak lucu sama sekali, batin Dodik.
“Tenang aja. Aku enggak kesana, tapi ke situ.” Citra menunjuk pepohonan di atas. “Aku akan memanjatnya,” jelas Citra.
“Tapi memanjat pohon setinggi itu enggak mudah. Apalagi kamu perempuan,” tutur Dodik.
Citra menyisihkan rambutnya ke belakang telinga. Kini dia bersikap manis lagi. “Bukannya udah kubilang, aku bisa melakukan sesuatu yang hebat melebihi perkiraanmu. Sebenarnya aku pernah menjuarai lomba panjat pinang tiga tahun berturut-turut saat remaja,” kata Citra bertindak angkuh.
Apa itu sesuatu yang patut disombongkan? Apa dia lupa kalau dirinya perempuan? Sepertinya aku harus membuatnya mengandung agar dia tidak melupakan jati dirinya, batin Dodik dalam hati.
Dedaunan mulai berjatuhan dari satu pohon ke pohon lain. Dodik memerhatikan pergerakan Citra yang turun dari satu pohon, lalu menaiki pohon lainnya. Sangat lama Dodik menunggu Citra sembari berdiri di samping motor. Itu membuatnya kelelahan. Sedangkan Dodik tidak mau berjongkok, apalagi duduk di atas rerumputan. Itu akan membuatnya kotor.
Akhirnya Dodik bisa bernapas lega karena Citra terlah turun setelah sekian lama. Citra mulai memunguti dedaunan yang dijatuhkannya. Dodik pun mendekatinya.
“Apa kita akan pulang setelah ini?” tanya Dodik.
“Iya. Tapi sebelum itu, kita harus mengakut seluruh daun-daun ini. Seenggaknya kamu harus menunggu tiga kali aku kembali,” jawab Citra.
“Apa maksudmu aku harus menunggumu di sini?” tanya Dodik.
Citra meringis. “Mau gimana lagi, dedaunan ini tidak bisa dibawa bersama-sama,” jawab Citra menyesal.
“Lalu gimana kalau ada singa yang mendatangiku?” protes Dodik.
“Tenanglah. Dia enggak akan bisa ngelakuin banyak hal. Paling-paling dia hanya akan menelanmu,” gurau Citra lagi.
“Maksudmu aku harus mati mengenaskan sendiri di sini?” tanya Dodik.
“Apa aku harus menemanimu?” Citra menyalah-artikan maksud Dodik. “Baiklah. Aku akan menemanimu dan melihatmu mati mengenaskan di sini,” Citra menambahi gurauannya.
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik